2. Bimbang

2373 Words
Siang atau pun malam, kini semuanya sama. Tak lagi ada pembeda yang Gara rasakan. Pada akhirnya, hanya gelap yang terlihat. Menyesakkan, melelahkan, dan ... Menakutkan. Biasakah, Gara mengharap, jika apa yang kini terjadi padanya, sekadar mimpi buruk? Lalu, saat dia terbangun, semuanya akan kembali baik-baik saja. Termasuk ... Keluarganya. Ck! Astaga ... Siapa yang ingin Gara bod*hi di sini? Oh, tentu saja dirinya. Kenapa? Ah, lagi-lagi, kata itu berjejal dikepalanya. Kenapa kecelakaan itu harus terjadi? Kenapa keluarganya pergi? Kenapa, hanya ada dia yang tersisa sendiri? Gara ingin ikut. Sekalipun berakhir di alam baka seperti yang lainnya. Tapi, setidaknya, dia tak merana seorang diri seperti ini. Papa, Mama, dan Lili, kenapa mereka tak mengajaknya pergi? Untuk apa Gara di sini? Bertahan dalam dunia yang hanya terisi kegelapan. "Nak, Gara?" Suara lembut yang familiar itu tertangkap pendengaran Gara. Sayangnya, bibirnya tetap terkatup rapat alih-alih menjawab. Bahkan sekarang, sekadar bersuara pun terasa melelahkan untuknya. Usapan lembut dibahu kanannya membuat tubuh Gara tersentak. Tapi tetap tak mengatakan apa pun. Gara tak bermaksud mendiamkan sang Nenek. Wanita sepuh yang sudah merawatnya satu bulan terakhir, seusai tragedi itu terjadi. "Masuk yuk, di luar dingin." Tersenyum hangat, sekalipun sang cucu tak bisa melihat ekspresinya, Puspita mencoba untuk menanggalkan kesedihan demi Gara yang kini seolah kehilangan semangat hidupnya. Tragedi yang merenggut putra sulung, menantu, serta cucunya yang paling kecil, membuat dunia Puspita bak runtuh di bawah telapak kaki. Tapi, ketika Gara terselamatkan, ada pecutan dalam dirinya yang membuat hatinya kembali dikuatkan. Puspita harus kuat. Demi Gara yang kini menjadi tanggung jawabnya. "Sepertinya mau hujan—" Puspita tercenung, lalu mengigit pelan lidahnya, saat tak sengaja mengatakan hal yang sangat sensitif untuk Gara setelah kecelakaan itu terjadi. Hujan. Hal yang dulu Gara sukai, tapi kini membuatnya selalu dirundung gelisah. Setiap mendengar keriuhan yang mereka timbulkan. Membuat memori ketika kecelakaan terjadi, kembali bergentayangan di kepalanya. Berdeham untuk meluruhkan rasa gugupnya, Puspita menempatkan diri di belakang Gara yang duduk di kursi roda. Karena kaki sang cucu masih dalam pemulihan setelah mengalami cidera. "Kita masuk ya, Nenek buat donat kentang kesukaan kamu." Tak menunggu jawaban dari Gara, karena kemungkinan sang cucu pun enggan bicara, Puspita segera mendorong kursi roda Gara yang sebelumnya berada di halaman belakang, untuk masuk ke dalam rumah, sebelum hujan menjamah mereka. "Nek," suara Gara terdengar serak dan pelan, tapi hal itu sudah membuat Puspita merasa bersuka cita, setiap kali sang cucu mau berbicara. Meski sekadar memanggilnya atau pun bicara satu patah kata. "Iya, Nak? Kenapa?" "Mau ke kamar." Mengangguk, Puspita memilih untuk menurut. Mendorong kursi roda Gara kearah kamar yang kini ditempatinya. "Bisa sendiri." Sergah Gara, ketika sang Nenek berniat membantunya untuk naik ke atas tempat tidur. Tak mau membuat wanita sepuh itu kepayahan menopang bobot tubuhnya—yang ... Meski mulai mengurus, tetap cukup berat jika sang Nenek yang memapahnya. Kaki kanannya sudah membaik, tinggal bagian kiri yang kadang masih berdenyut sakit jika terlalu lama berdiri. Meraba-raba tempat tidur, secara perlahan, Gara merangkak naik. Dengan Puspita yang tak mungkin hanya berdiam diri. Jadi, wanita sepuh itu tetap membantu Gara mendapat posisi nyaman. "Mau bawakan kudapannya ke kamar?" Dengan posisi terlentang, Gara menggelengkan kepala, "nanti saja." Mengela napas, Puspita memilih untuk menyelimuti tubuh sang cucu hingga sebatas perut. Meski hari sudah menjelang sore, tapi keadaan sudah terasa dingin. Mungkin ... Efek kedatangan hujan yang sekarang mulai riuh menjatuhkan diri. "Kalau ada apa-apa, panggil Nenek atau siapa pun di rumah ini ya, Nak?" "Iya, Nek." Membungkukkan tubuh, Puspita memberi kecupan sayang dikening Gara, mengelus lembut kepalaanya. Sebelum kemudian menegakkan posisi berdirinya. Lalu mengayunkan langkah meninggalkan kamar. Ketika meyakini sang Nenek telah pergi, Gara mencengkram erat selimutnya, ketika pendengarannya menangkap suara hujan yang menghantam atap rumah. Gara selalu kepayahan menenangkan degup jantungnya yang tiba-tiba berdetak lebih kencang, dengan napas memburu bak baru saja berlari mengelilingi lapangan. Hanya karena mendengar suara hujan. Meringkuk sembari menutupi kedua telinga, Gara memejamkan mata, dan tentu saja, gelap yang kembali memerangkapnya. Sementara itu, Puspita yang berbalik dan hendak mengayunkan langkah seketika berjengit. "Astaghfirullah!" Mengelus dad*, wanita sepuh itu dikejutkan dengan kehadiran sang suami—yang entah sejak kapan, sudah berdiri di belakangnya? "Bu?" Panggil Arief, tak mengindahkan keterkejutan sang istri karena kemunculannya yang tiba-tiba. "Kenapa, Yah? Mau dibuatkan kopi?" Arief menggeleng, lalu tatapannya jatuh pada kamar Gala yang sudah tertutup. "Gala tidur?" "Tadi sih belum. Dia sedang istirahat." Atau mungkin, menyembunyikan diri agar tak merasakan kedatangan hujan? Walau suara keriuhan di luar sana, nyatanya kian terdengar ribut. Mengangguk pelan, Arief mengela napas panjang. Sebelum kemudian meletakkan atensi sepenuhnya pada Puspita. "Ada Wira," lapornya yang seketika membuat sang istri terbelalak. "Loh, kok nggak ada bilang mau datang? Kasih kabar sama Ayah?" Tanyanya yang mendapat gelengan kepala sebagai jawaban. "Ck! Anak itu," Puspita bukannya tak suka putra keduanya itu pulang, hanya saja, Wira kadang tak bilang akan datang dan lebih suka muncul tiba-tiba. "Wira sama keluarganya." Informasi tambahan yang Puspita dapat membuatnya mengerjap. "Ada Aida sama Daniel?" Kali ini, senyumnya merekah lebar, sebelum kemudian berderap pergi. Meninggalkan Arief yang hanya menggelengkan kepala. Sesampainya di ruang tengah, Puspita berseru riang, menyambut keluarga putra keduanya. "Kok nggak ada bilang mau ke sini?" Bangkit dari duduknya, mereka semua menyalami Puspita secara bergantian. "Daniel, Nak, ya ampun, cucu Nenek makin menggemaskan." Meringis, Daniel berusaha memperlihatkan senyuman. Meski sebenarnya sedikit dongkol pada ucapan sang Nenek yang memujinya menggemaskan alih-alih tampan. Oh, ayolah, dia sudah kelas dua SMA. Masa dijuluki menggemaskan seperti balita? Memanggil asisten rumah tangga untuk menyiapkan minuman dan kudapan, Puspita duduk di samping Arief yang sudah datang dan ikut bergabung bersama mereka. Usai berbincang santai sembari menikmati teh dan kudapan, Wira melirik sang istri yang membalas tatapannya dengan senyuman menenangkan. Lalu memberi anggukan kepala sebagai persetujuan. Meraih cangkir teh dan meneguk cukup banyak demi melegakan tenggorokan yang tiba-tiba terasa kering. Wira berdeham-deham beberapa kali. Sekaligus, meminta atensi secara tersirat. Terutama pada kedua orangtuanya. "Yah, Bu," mulai Wira dengan suara pelan, tapi masih mampu tertangkap pendengaran kedua orangtuanya. "Kenapa, Wir? Ibu minta Bibik bersihkan kamar buat kalian ya. Nginep kan di sini?" "Nanti saja Bu," cegah Wira saat sang Ibu hendak bangkit dari duduknya. "Ada ... Hal penting yang ingin Wira sampaikan lebih dulu." Menemukan gurat serius di wajah putra keduanya itu, membuat Puspita akhirnya urung pergi, dan mendudukkan diri ketempatnya semula. "Mau bicara apa? Sepertinya serius sekali? Ibu jadi deg-degan ini." Gurau Puspita, meski sejujurnya, dia memang tengah mengendapkan rasa cemasnya. Setelah peristiwa yang menimpa putra sulungnya, Puspita terkadang takut jika ada yang berniat bicara dengan suasana tegang. Menelan ragu, Wira tatap bergantian kedua orangtuanya. Sebelum kemudian, menyampaikan hal yang menjadi alasannya mendatangi kediaman mereka, dan tak sekadar berkunjung seperti biasanya. "Aku ... Ingin merawat Gara." Senyap seketika meraja. Sebelum terinterupsi suara kunyahan dari Daniel yang segera mengatupkan bibir. Berdeham, pemuda berusia 16 tahun itu meringis sembari menggaruk belakang kepala. "A—aku mau nonton tv." Membawa kudapannya, Daniel bergegas pergi. Tak mau terlibat pembicaraan serius para orang dewasa. "Bukankah kita sudah membicarakannya?" Seusai kepergian Daniel, Arief akhirnya angkat bicara. Wira mengangguk, menatap pria yang paling dihormatinya, "ya, dan ... Aku berubah pikiran, Yah." Sebelumnya, Wira sudah berniat untuk mengurus Gara, karena sekarang, mendiang kakaknya tak lagi ada. Tapi, kedua orangtuanya memilih untuk merawat Gara. Terlebih, Wira sendiri selalu sibuk. Bahkan memberi waktu untuk Daniel—putranya yang seusia Gara pun kepayahan. Belum lagi, Gara mungkin canggung jika bersama Aida. Yang hanya bertemu di saat acara keluarga. Sayangnya, semua berubah. Ketika Wira mendapat kabar jika kondisi Puspita sempat drop. Walau akhirnya bisa kembali beraktivitas. Wira tak mau sang Ibu kelelahan. Mengurus Gara diusia Puspita yang sudah senja, pasti tak mudah. Belum lagi, kondisi mental keponakannya yang masih belum stabil setelah peristiwa kecelakaan itu terjadi. "Kenapa?" Kali ini, Puspita yang angkat bicara. "Kenapa tiba-tiba kamu membahas soal ini lagi, Wir?" "Bu," meletakkan atensi pada wanita yang telah melahirkannya, Wira berusaha untuk membujuk secara halus, "aku rasa, Gara butuh suasana baru untuk memulihkan kondisinya. Baik secara fisik, maupun psikis." Apa yang Wira ucapakan membuat Puspita maupun Arief membisu. "Di sana, Gara tak hanya mendapat suasana baru. Tapi ada Daniel yang bisa menjadi temannya supaya tak kesepian." Tambah Wira yang berusaha untuk melakukan persuasif. Meremasi tangan yang berada di atas pangkuan, Puspita termenung. Teringat pada Gara yang memang lebih banyak diam dengan tatapan kosong. Hal yang ia takutkan, cucunya itu masih terbayang-bayang tentang kecelakaan itu. "Sebelumnya, saya minta maaf karena menyela." Usai berdeham pelan, Aida tersenyum sungkan pada kedua mertuanya. "Jika saya yang menjadi pertimbangan, karena sebelumnya Mas Wira sudah cerita." Jelas wanita itu, sebelum kemudian kembali melanjutkan, "Ayah sama Ibu tidak perlu khawatir. Keberadaan Gara, sama sekali tak membuat saya merasa terganggu. Saya justru senang, apalagi dengan Daniel yang antusias. Meski sekarang hanya diam malu-malu. Tapi dia yang paling semangat saat kami membicarakan tentang hal ini padanya. Dia senang jika Gara bisa tinggal bersamanya." Sebagai anak tunggal. Apalagi sosoknya yang memang tak terlalu pandai bergaul. Membuat Daniel lebih sering menghabiskan waktunya seorang diri di rumah. Selepas sekolah, anak itu akan mendekam di kamar, lalu keluar saat perutnya keroncongan. Kadang, Aida tak tega pada putranya yang terlalu menutup diri. Dia bahkan bertanya-tanya, apa Daniel tak memiliki satu pun teman? Meski gatal ingin melontarkan pertanyaan tersebut secara langsung, Aida akhirnya memilih untuk mengurungkan niat tersebut. Tak mau membuat Daniel merasa malu apalagi tertekan. Lalu, ketika Wira terlihat murung. Aida yang awalnya mengira tentang pekerjaan, tapi ternyata berkaitan dengan sang mertua. Suaminya itu memikirkan kedua orangtuanya yang bersikeras ingin mengurusi Gara. Padahal kondisi mereka pun sewaktu-waktu bisa drop karena memiliki beberapa riwayat penyakit. Sampai akhirnya, Aida dan Wira terlibat pembicaraan panjang dengan satu kesimpulan. Yaitu, ingin mengambil alih tugas untuk menjaga dan merawat Gara. "Dari dulu, Daniel tampak bebas saat bersama Gara. Dia cukup sulit untuk dekat dengan orang lain." Aku Aida dengan senyuman tipis. "Tapi, dengan keadaan Gara yang sekarang, apa Daniel masih bersedia? Maksud Ibu, dia mungkin menginginkan teman. Sayangnya, kondisi Gara yang sekarang, jelas sudah berbeda dan tak seperti dulu." Aida sudah membuka mulut, bersiap menjawab pertanyaan ibu mertuanya, tapi suara lain sudah lebih dulu menginterupsi. "Daniel tidak keberatan, Nek." Cowok itu ikut bergabung setelah sebelumnya memilih untuk menepikan diri. Tapi, ketika mendengar namanya terus-menerus mengudara, dia akhirnya memutuskan ikut serta dalam pembicaraan serius tersebut. "Bagaimana, Bu?" Arief yang sebelumnya terdiam memerhatikan situasi, kini menoleh dan melempar tanya pada sang istri. "Bapak rasa, apa yang Wira katakan ada benarnya." Bukan bermaksud berubah pikiran. Hanya saja, setelah mendengar beberapa poin yang putra bungsunya jabarkan tadi, Arief kembali terser*ng bimbang. Ada benarnya, mencari tempat tinggal yang baru untuk Gara. Bukan sekadar rumah, tapi suasana yang membuat anak itu sejenak melupakan peristiwa mengerikan yang tejadi hingga berakibat fatal padanya. Sekali pun sudah pindah bersama mereka. Gara tampak masih terbayang-bayang akan orangtua dan adiknya yang sudah tiada. Tak jarang, anak itu tantrum. Menjerit-jerit menyebut nama Mama-Papa serta adiknya sembari melempar apa pun yang teraba oleh tangannya. Mengela napas panjang, Puspita membalas tatapan suaminya, sembari menggeleng lemah, "Ibu bingung, Yah. Apalagi, ini kan tentang kenyamanan Gara juga. Mungkin lebih baik, tanyakan langsung sama anaknya. Apa dia mau ikut pindah dan tinggal sama pamannya? Atau menetap di sini sama kita?" Mengangguk setuju, Arief membiarkan Puspita untuk beranjak dari duduknya. Mengayunkan langkah menuju kamar Gara, sembari memeriksa kondisi cucu mereka. "Sejak kecelakaan, Gara selalu diam dan tampak murung. Kadang, dia nekat melakukan aktivitasnya sendiri tanpa meminta bantuan. Dua hari yang lalu, sikunya kena pecahan gelas. Tidak sengaja menyenggol gelas yang ada di nakas samping tempat tidur. Bukannya memanggil orang rumah, dia nekat turun tapi terpeleset dan akhirnya jatuh dari tempat tidur, lalu sikunya terkena pecahan gelas. Untungnya tak menghantam kepala atau anggota tubuh lainnya yang cukup vital." Bukan tanpa alasan Arief menceritakan hal tersebut. Dia hanya ingin, jika memang nantinya Gara tinggal bersama keluarga putra keduanya itu, bisa lebih mengawasi Gara agar tak kecolongan seperti mereka. "Jadi sekarang, jika meletakan minuman atau makanan di kamar Gara, kami menghindari penggunaan peralatan makan dari bahan beling atau yang mudah pecah dan bisa membahayakan Gara." Aida menganggukkan kepala. Dalam hati mencatat baik-baik informasi yang baru saja di dapatkannya. Sementara itu, Puspita menatap gamang pintu kamar Gara yang masih tertutup rapat. Apa mungkin ... Cucunya itu sudah tidur? Menelan ragu, wanita sepuh itu mengetuk pintu beberapa kali, "Gara? Nak? Nenek masuk ya?" Seperti biasa. Tak ada jawaban apa pun. Entah memang Gara yang tertidur, atau enggan menjawab seperti biasanya. Ketika pintu terbuka, tampak keberadaan Gara yang masih bergelung di tempat tidur. Tapi kedua matanya sama sekali tak terpejam. Di luar, hujan masih terdengar, meski intensitasnya tak sederas sebelumnya. Memasuki kamar, Puspita mendudukkan diri di samping tempat tidur. Mengulurkan tangan untuk membelai lembut kepala sang cucu. "Gara," memanggil dengan suara menggantung, Puspita memerhatikan wajah Gara yang cukup d*minan mewarisi wajah seperti mendiang putra pertamanya. Hal yang kadang membuat Puspita tercekik sesak ketika rindu itu menggedor hatinya. Meski begitu, ia ikhlas. Pada garis takdir yang membuat putra sulungnya lebih dulu pergi ketimbang dirinya yang jelas sudah renta. Tapi, bukankah kematian tak mengenal usia? "Gara senang tinggal di sini?" Mengerutkan kening, Gara tak mengatakan apa pun, meski ekspresi wajahnya memperlihatkan raut bingung. Merasa janggal pada pertanyaan tak biasa yang Puspita lontarkan. Tunggu! N—Neneknya, tak berniat untuk mengusirnya dari sini kan? Apa mungkin, sikapnya yang selama tinggal di sini—harus diakui begitu menyebalkan dan merepotkan, pada akhirnya, membuat semua orang merasa muak? A—apa, dia akan dibuang? Ada sudut hati Gara mengolok-olok pemikiran yang tiba-tiba bercokol di kepala. Mana mungkin Nenek dan Kakeknya tega membuangnya? Sayangnya, entah kenapa. Isi kepala Gara selalu terisi hal-hal yang berbau over thinking sekarang. Tapi kenapa, sang Nenek berbicara seperti itu? Rasanya tak mungkin jika sekadar untuk berbasa-basi. Meski rasa penasaran sudah menggerogoti hati. Bibirnya masih saja terasa berat untuk melempar tanya. Tapi kali ini, Gara memilih untuk memaksakan diri. Tak mau tersiks* pada rasa penasarannya. "Sebenarnya ada apa, Nek?" Kedua sudut bibir Puspita tertarik hingga membentuk senyuman. Selalu merasa senang, setiap kali mendengar suara sang cucu yang sekarang seolah begitu langka. "Paman kamu, Wira. Datang ke sini, bersama keluarganya." Menarik napas panjang sejenak. Puspita tatap lekat sosok Gara, sebelum kemudian, melanjutkan ucapannya yang sempat terjeda. "Dia, meminta kamu untuk tinggal bersamanya. Apa ... Gara bersedia?" Apa dia bersedia? Entahlah. Karena semuanya begitu tiba-tiba. Lagipula, untuk apa pamannya meminta dirinya tinggal bersama keluarga pria itu? Dengan bibir yang masih terkatup rapat. Gara masih berusaha mencerna informasi yang baru saja Neneknya suguhkan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD