1. Terperangkap Gelap

1663 Words
Gelap. Kenapa hanya itu yang Gara tangkap? Mengerjap-ngerjapkan mata, ia tetap tak menemukan setitik pun cahaya. Apa yang sebenarnya terjadi? Apa sekarang, dirinya masih berada di dunia mimpi? Tapi ... Tunggu! Meski yang tertangkap penglihatan Gara hanya kegelapan. Tapi pendengarannya masih bisa menangkap suara-suara. Suara apa itu? Seingatnya, suara alarm ponselnya tak seperti itu. Bunyi itu terdengar konstan. Seperti ... Ah, ya, Gara ingat, itu Patient Monitor. Seperti yang pernah dilihatnya dalam salah satu adegan di sebuah film. Kenapa ada bunyi Patient Monitor? Apa Mamanya sedang menonton tv? Gara membuka mulut, bersiap memanggil sang Mama. Tubuhnya terasa sakit sekali. Apa ini efek pertandingan futsal sewaktu di sekolah? Tapi kenapa rasa sakitnya kian menjadi-jadi, tubuhnya seperti remuk. Apa perlu memanggil tukang urut? Ma? Tunggu! Kenapa tak ada suara yang berhasil keluar dari sela bibirnya yang terbuka. Setidaknya, Gara ingin meminta tolong agar sang Mama menyalakan lampu. Kegelapan ini terasa menyesakan untuk Gara. Mungkin, karena terlalu lelah usai bermain futsal, ia ketiduran hingga menjelang malam. Sampai kamarnya menjadi gelap gulita seperti sekarang. Ma? Lagi-lagi tak ada suara yang berhasil tercuri keluar dari sela bibirnya yang terasa lemah untuk digerakkan. Gara ingin bangkit dari pembaringannya. Tapi tubuhnya begitu kaku bak seonggok batang kayu. Dia hanya mampu terlentang pasrah dengan napas tersengal-sengal. K—kenapa, rasanya ada yang salah di sini? Dia bukan sedang ketindihan kan? Seperti cerita horor yang pernah diceritakan salah seorang teman sekelasnya. "M—Ma?" Berhasil. Akhirnya Gara mampu mengeluarkan suara. Tapi ... Kenapa suaranya begitu kecil? Dia bahkan sangsi, ada seseorang yang bisa menangkap suaranya yang bak bisikan. "M—Ma? Ma? Mama?" Gara terus mencoba memanggil sang Mama. Berharap wanita itu datang ke kamarnya yang tampak menyeramkan, karena hanya ada gelap yang Gara temukan. Tak apa jika harus mendapat omelan panjang dari wanita tersayangnya itu.  Ah, dan kemana si kecil cerewet? Biasanya, jika dia tidur sore menjelang magrib, akan mendapat tugas dari sang Mama untuk membangunkannya. Wanita itu tak memperbolehkan tidur menjelang magrib. Pamali katanya. Tapi ini, sudah sampai gelap gulita, kenapa tak ada yang membangunkannya? "M—Mama?" Memanggil sekali lagi, Gara berusaha menggapai sesuatu. Tapi keningnya mengernyit, saat tangannya terasa sakit saat coba digerakkan. "Kamu sudah sadar?" Suara itu? Yang jelas bukan suara sang Mama. Lalu siapa? Kenapa ada orang asing yang masuk ke dalam kamar—tunggu! Gara terdiam, mencoba mencerna suara asing yang kini terdengar jelas, karena mungkin, sosok itu berdiri di dekatnya. Kamu sudah sadar? Apa maksudnya? Kenapa melempar pertanyaan seperti itu? Memangnya dia baru saja pingsan? Bukankah dia baru bangun tidur? Gara tak sempat menanyakan apa-apa, saat suara-suara asing kian intens terdengar. Bahkan ada percakapan yang tak dimengertinya. Tapi yang jelas, ia terkejut saat ada seseorang yang mengaku sebagai Dokter, berkata akan memeriksanya. Dokter? Kenapa ada Dokter? Bukankah dia berada di kamarnya? Atau ... Bukan? Lalu, di mana sebenarnya dia berada? Astaga Gara, kenapa otaknya berubah jadi lambat? Jika ada Dokter dan perawat, sudah pasti dia berada di rumah sakit.  Dan lagi, dia baru sadar akan aroma ruangan yang memang ciri khas rumah sakit. Berbau obat-obatan, jadi jelas, dia bukan berada di kamarnya. Gara hanya diam saat dilakukan pemeriksaan terhadapnya. Setelahnya, dia di pindahkan dari ruang ICU ke ruang perawatan. "Dokter," panggil Gara setelah sebelumnya hanya mampu diam dengan rasa bingung yang merongrong. Tapi, ada satu yang mengganjal. Kenapa sejak tadi, gelap belum juga lenyap dari pandangannya?  "Iya, ada yang di rasa sakit? Atau tidak nyaman?" Suara seorang pria yang merupakan Dokter yang sudah memeriksanya terdengar. "Hm ... Ya, tubuh saya, masih terasa sakit semuanya. Tapi, ada satu hal yang ingin saya tanyakan." "Tentu, kamu ingin bertanya apa?" "K—kenapa gelap?" Akhirnya, Gara melempar pertanyaan yang sejak tadi mengusik pikirannya. "Apa mati lampu?" Gara tau, mungkin tebakannya tadi terasa konyol. Lagipula, kalau memang mati lampu, kenapa Dokter dan perawat yang mengurusnya terdengar bisa beraktivitas normal? Semisal menggunakan bantuan lampu emergency atau semacamnya, bukankah Gara bisa menangkap cahaya itu? Tapi kenapa, dia tetap tak menemukan apa-apa, selain gelap? Terdengar elaan napas panjang, sebelum kemudian, suara Dokter membuat Gara bersiap mendengarkan dengan seksama. "Kedua mata kamu terkena serpihan kaca jendela mobil yang hancur," mulainya, dan membuat pemuda yang kini berbaring dengan mata diperban hanya diam. Gara terhenyak. Dengan tangan gemetar, ia meraba kedua matanya yang tertutupi perban. Kenapa tak dilakukannya sedari tadi? Pantas saja tak bisa melihat apa pun, matanya ditutupi perban. "Lalu, apa bisa sem—" Tunggu! Bak sebuah film yang tengah diputar ulang dengan gerakan cepat dikepalanya. Gara mulai mengingat apa yang sebelumnya terjadi, sampai tiba-tiba dia berakhir di rumah sakit. Wajah cantik adiknya yang tersenyum lebar, menduduki perutnya agar bisa bangun dan ikut ke kebun binatang, merayakan ulangtahunnya yang ke tujuh.  Sang Mama yang hanya bisa tersenyum melihat pertengkarannya dengan Lily—sang adik. Pembicaraan seru di meja makan bersama keluarganya. Antusias Lily sewaktu berada di kebun binatang. Menariknya ke sana-kemari hanya untuk bisa berfoto dengan berbagai hewan. Sampai kemudian ... Sewaktu menuju jalan pulang. Gerimis menguyur, membuat sang Papa berhati-hati mengendarai mobilnya. Tapi ... Di tengah obrolan yang terjadi, Gara ingat, teriakan ngeri Mama-Papanya. Ketakutan Lily dan jerit tangis kesakitan sang adik yang berada di dalam pelukannya. Beradu dengan suara hantaman keras yang seolah meremukkan tubuhnya.  Lalu segalanya menggelap. Gara tak lagi mampu mengingat apa pun. Sebelum kemudian dia terbangun dengan kegelapan yang tak mau melepaskannya. Gara memaksakan diri untuk bangun. Dia mulai hilang kendali, berteriak-teriak memanggil keluarganya. Mendorong Dokter dan perawat yang berusaha menenangkannya. Tapi Gara tak bisa! Mana mungkin dia bisa tenang, saat nasib Mama, Papa, dan Adik perempuannya belum diketahui. "Lepas! Saya mau bertemu Mama, Papa, dan adik saya! Di mana mereka?! Tolong antarkan saya pada mereka!" Selang infus yang tertancap ditangannya terlepas, membuat darahnya mengalir. Tapi Gara tak peduli. Ia bahkan tak merasakan secuil pun rasa sakit. Hatinya jauh lebih sakit, saat peristiwa mengerikan yang menimpanya dan anggota keluarganya terus terputar seperti kaset rusak di kepalanya. Buk! Gara terjatuh dari atas ranjang rawatnya. Tapi tak mempedulikan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Pemuda itu merangkak, di atas lantai kamar rawatnya yang terasa dingin. Terus berteriak hingga tenggorokannya yang sejak bangun tadi terasa kering, kini terasa sakit. Tapi sekali lagi, dia tak peduli. Yang diinginkannya sekarang hanya keluarganya. Lalu, sebuah pelukan Gara rasakan. Sayangnya, ia tau, itu bukan pelukan dari sang Mama, Papa, apalagi adik kecilnya yang kini sangat ia rindukan. "Gara, Nak, tenang sayang, tenang." Suara lembut dan terdengar parau itu membuat napas Gara yang sebelumnya memburu, perlahan-lahan berangsur membaik.  "N—Nenek?" "Iya, ini Nenek, Gara tenang ya." "M—Mama, Papa, sama Adek mana, Nek? Gara mau ketemu mereka, nggak mau sendirian di sini. Gara takut, Nek, semuanya gelap." Diusianya yang sudah menginjak enam belas tahun, Gara selalu merasa jika dirinya telah dewasa. Terlebih, di depan Lily. Ia berusaha menjadi sosok Kakak yang tangguh dan mandiri. Agar sang adik yang bergantung padanya. Tapi sekarang, dia merengek di pelukan Neneknya dengan tubuh gemetar ketakutan. Di tengah usaha menenangkan Gara, diam-diam wanita sepuh itu mengangguk, saat sang Dokter memberi aba-aba memberi suntikan berisi obat penenang. Agar Gara tak lagi mengamuk seperti sebelumnya. Entah karena dekapan hangat sang Nenek dan elusan lembut dikepalanya, membuat Gara tak bereaksi apa pun, saat mendapat suntikan dari Dokter.  Dan pelan-pelan, rasa kantuk membuatnya jatuh tertidur dalam dekapan sang Nenek. ***  Puspita menatap lekat sang Cucu yang tampak tertidur pulas. Entah karena pengaruh obat yang disuntikkan oleh Dokter, atau memang Gara kelelahan, setelah tantrum. Bergerak serampangan, bahkan merangkak sembari berteriak-teriak memanggil anggota keluarganya.  Hal itu menjadi pemandangan yang menyakitkan bagi Puspita. Dia sendiri masih kepayahan menenangkan diri. Dengan kabar buruk yang datang begitu tiba-tiba. Mobil yang dikendarai putra sulungnya mengalami kecelakaan, dihantam truk besar yang pecah ban hingga hilang kendali, keluar dari jalurnya, dan naas, menghantam mobil yang ditumpangi Farzan dan keluarganya. Meraih tangan Gara yang tak terpasang infus, Puspita mengelus lembut. Malang sekali cucunya. Tak hanya kehilangan semua anggota keluarganya. Tapi juga harus hidup dalam kegelapan.  Kedua mata Gara terkena serpihan kaca, hingga membuatnya buta.  Gara menjadi satu-satunya yang bisa selamat. Kedua orangtuanya meninggal di tempat. Sementara Lily, gadis cantik itu tak bisa bertahan seperti sang Kakak. Setelah sehari mendapat perawatan intensif di tengah keadaannya yang kritis. Gadis itu akhirnya mengembuskan napas terakhir. Menyusul kedua orangtuanya. Meninggalkan Gara yang menjadi satu-satunya yang kini selamat, meski harus menerima kenyataan, hidup dalam dunia baru yang hanya ada gelap. Suara pintu yang terbuka membuat Puspita menolehkan kepala. Membekap mulut, agar tangisnya tak pecah, wanita sepuh itu segera bangkit dari tempat duduk. Berderap menuju pintu, di mana ada putra keduanya yang juga menghambur ke dalam pelukannya. "Bu," melepas pelukan, Wira menatap keadaan sang keponakan. Entah sebuah kebetulan atau memang sudah ditakdirkan, dia yang tengah pulang ke kampung halaman untuk urusan pekerjaan. Tiba-tiba mendapat kabar yang membuatnya limbung karena kedua kakinya melemas. Usai diberitahu sang Ayah dengan suara parau. Jika Kakaknya mengalami kecelakaan parah, mengakibatkan Farzan dan Aida meninggal di tempat. Sementara kedua anaknya dalam kondisi kritis. Tapi berselang satu hari Wira bersiap-siap mendatangi rumah sakit, ia kembali mendapat kabar, jika keponakan cantiknya tak bisa bertahan. Dan sekarang, hanya menyisakan Gara yang tampak tak berdaya di atas ranjang perawatan. Dengan kedua mata yang diperban. Tak bisa Wira bayangkan, seberapa hancur keponakannya itu karena harus kehilangan anggota keluarga begitu cepat. Tak ingin mengusik tidur Gara, Puspita mengajak Wira untuk bicara di luar. Duduk berdampingan di kursi tunggu, Puspita menggenggam tangan putra keduanya itu. "Ibu—" terisak, ia usap pipi basahnya yang kembali dialiri air mata kesedihan. "Ibu seperti mimpi, Wir. Kakakmu sudah tidak ada." Usai pemakaman Lily, Puspita masih harus menguatkan diri mendatangi rumah sakit, untuk menjaga Gara yang sendirian. Sementara sang suami mengurus rumah duka, dibantu beberapa kerabat. Hanya dalam kurun waktu dua hari, dia bolak-balik ke pemakaman. Pertama, untuk menyaksikan putra sulung dan menantunya dikuburkan. Lalu hari berikutnya, cucu perempuannya. Puspita sempat khawatir akan kondisi Gara, hingga bergegas ke rumah sakit. Dan, ia kembali hancur, melihat cucunya itu tantrum. Mengamuk hingga membuat Dokter serta perawat kewalahan. Wira kembali memeluk sang Ibu yang tak bisa menahan tangisnya. Membiarkan wanita sepuh itu meluapkan kesedihan karena kehilangan orang-orang tersayang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD