detak jantung.

1168 Words
Gelya berjalan beriringan dengan Nico. Mereka memarkirkan mobil di supermarket dekat rumah sakit dan memutuskan berjalan dari sana. "Katanya jalan- jalan seperti ini bagus untuk ibu hamil" ucap Gelya pada Niko ketika memintanya berjalan dari supermarket. "Lya, menurutmu anak kita perempuan atau laki- laki ?" tanya Niko pada Gelya sembaru berjalan di trotoar. Gelya sedikit senang ketika Nico berkata 'anak kita'. "Hmm aku tidak tau kak, yang penting sih sehat saja" jawab Gelya malu- malu. Nico hanya mengangguk- anggukan kepalanya mengerti. Mereka berdua berjalan dalam keheningan. Nico pindah di sebelah kiri sisi Gelya, menjaganya di dalam trotoar. "Hmm kamu gak ngidam lagi ?" tanya Nico memecah keheningan. "Sebenarnya ada" jawab Gelya sembari memalingkan wajahnya ke sebelah kanan. "Apa ?" Nico bertanya karena penasaran, asal tak aneh- aneh Nico mampu menyanggupinya. Gelya mengangkat tangannya sambil memekaran jemari tangannya. Nico yang paham juga mengangkat tangannya, lalu menyatukan jemarinya dan jemari dari Gelya. Mereka berdua berjalan sambil bergantengan tangan, sembari memasuki kawasan rumah sakit. "Gimana senang ?" tanya Nico pada Gelya. Gelya mengangguk mengiyakan. "Udah gitu doang ngidamnya ? Gampang banget lain kali yang susah dong" ucap Niko bercanda. "Biar aku pikirin dulu deh kak" Gelya berekpresi seperti orang berpikir. "Aha !". Nico melirik Gelya 'cepet banget' pikirnya. "Mau buah naga..." "Itu mah gampang banget" sela Nico. "Tapiii......." "Tapi ?" tanya Nico penasaran. "Tapi petiknya di luar angkasa" lanjut Gelya dengan wajah yang jail. Nico mengangkat sebelah alisnya. "Gak lucu" ucapnya. "Gak usah ketawa lah " balas Gelya sambil memeletkan lidahnya. "Ehem ehem" sebuah suara laki- laki mengintrupsi obrolan Gelya dan Nico. Nico dan Gelya lantas berhenti dan berbalik ke belakang. Di depan mereka kini, terpampang wajah Cakra yang cemberut. "Mesranya" ucap Cakra sambil tersenyum. "Biasa aja" balas Nico yang menarik tangan Gelya untuk melanjutkan jalan mereka. Cakra mengikuti mereka dari belakang. Lalu mulai mempercepat jalannya agar beriringan dengan Nico dan Gelya. "Lya kamu gak cek hp ya ?" tanya Cakra pada Gelya. "Duh gak tau kak, aku gak cek hpku" jawab Gelya. Nico tersenyum mengejek. Cakra langsung mengacungkan jari tegahnya, namun hanya sebentar. Karena para perawat yang berjaga melihatnya. "Lain kali cek ya bales chatku" ucap Carka lagi. Gelya mengangguk mengiyakan. Nico bermuka masam karenanya. Dia bukan cemburu namun tak rela Gelya di dekati oleh Cakra. Gelya adalah gadis dan polos, Cakra yang playboy tak pantas mendekati Gelya. Ya. Semua pria. Termasuk dirinya. . . . Nico izin ke toilet sembari menunggu antrian dokter kandungan. Sebenarnya ingin sekali Nico pindah ke rumah sakit lain yang lebih bagus dan mewah. Bukan karena rumah sakit milik Cakra jelek, namun antriannya sangat lama. Apa lagi dokter- dokter disini sangat tampan, membuat dirinya tergoda. Dia belum sepenuhnya dapat melupakan pria, apa lagi Jimmy. Maka dari itu sebisa mungkin Nico menjaga jarak antara perempuan dan laki- laki, dengan Gelya. Menganggap Gelya hanya sekedar adik, dan Nico adalah sekedar kakak laki- laki yang menjaga adik perempuannya. Ya walaupun terkadang di matanya, Gelya tampak cantik. Dan memang dia adalah gadis cantik. Kebetulan dia bertemu Cakra di kamar mandi. "Eh bapak Nico" sapa Cakra senang. Nico balas menyapa Cakra "Eh dokter". "Nic, gue bilang sesuatu nih" ucap Cakra mengawali obrolan yang sepertinya sangat penting. "Kenapa ?" sepertinya Nico tau arah pembicaraan ini. "Gue mau deketin Gelya" Cakra berbicara dengan lega karena berhasil mengatakan tujuannya. "Terus?" tanya Nico seakan tak perduli. "Ya gue cuma mau bilang aja, lo gak perduli ?" "Emang ya lo kalo sama cewek" Cakra tertawa karena perkataannya sendiri. Nico menahan bahu Cakra yang akan pergi dari toilet. "Tapi gue mau nanya" ucap Nico, wajahnya lurus ke depan tak berekpresi. Cakra menjawab "tanya apa ?" Nico menghembuskan napasnya terlebih dahulu. "Kenapa Gelya ?" tanya Nico pada akhirnya. "Ya suka aja" jawab Cakra sambil menepuk- nepuk tangan Nico di bahunya. "Lu tau kan dia surrogacy gue" Nico melihat tepat ke arah Cakra. "Tau, tapi gue jatuh cinta mana bisa di paksa. Kalo gue mau gue bisa cari yang lebih" "But gue suka dia dan kepribadiannya" ucap Cakra menjelaskan. "Jangan deh ! Lu cari yang lain, lagian nyokap bokap lu gak bakal restuin kalo tau masa lalu Lya" Nico mencoba mengatakan apa ha yang ada di otaknya. "Itu bisa di atur" "Lagian lo kenapa sih ? Cemburu lo ?" tanya Cakra penasaran. Nico menggelengkan kepalanya. "Iya sih, lu kan gay gak mungkin bisa suka cewek" ucap Cakra. Hal itu entah kenapa membuat kepala Nico mendidih. 'brak' "Bajin*an ngapain mukulin gue b*****t" teriak Cakra yang kini tergeletak di lantai toilet. Untung saja toilet ini berada di pojok dan jarang di kunjungi orang, jadi sepi. Kalau ramai mereka pasti menjadi bahan tontonan dan tentu saja di jadikan konten. "Gapapa lo jelek banget soalnya" ucap Nico lalu berjalan pergi dari toilet. Cakra memegang pipinya yang perih, ujung bibirnya sobek. Pasti sangat keras tonjokan Nico padanya, Nico memang semasa sekolah adalah atlet tinju. Sementar itu Nico yang sudah berada di koridor tengah berjalan menuju ruangan dokter kandungan. Ia melihat Gelya yang sedang mengobrol akrab dengan ibu muda di sebelahnya. "Lya" Nico menyapa Gelya. "Oh ini suami kamu ?" tanya ibu muda itu. Mau tak mau Gelya dan Nico mengangguk. Ibu muda itu tersenyum menggoda melihat Nico menarik tangan Gelya. "Ayo pergi aja, cari rumah sakit lain aja" ajak Nico. "Eh tapi..." belum sempat Nico mengajak Gelya pergi, perawat memanggil nama Gelya. "Nyonya Gelya Ivanna" "Udah di panggil ayuuk masuk aja" Gelya bergantian menarik Nico untuk segera masuk ke dalam ruangan pemeriksaan kadungan. Nico dan Gelya mengangguk sopan, dokter tampan bernama V itu juga ikut mengagguk sopan. "Halo selamat sore ibu dan bapak, gimana adakah keluhan yang terjadi di kehamilan yang ke 5 bulan ini ?" tanya dokter V. Gelya mengangguk. Lalu mulai menceritakan tentang dirinya yang selalu tidak bisa tidur tengah malam. Dokter V mendengarkan dengan penuh minat, perawat mengecek tekanan darah dan lain- lain lalu mencatatnya. "Baik ibu, saya beri vitamin ya karena tensi ibu rendah sekali. Berbanyak minum air putih dan jangan begadang" "Silahkan timbang berat badannya lalu berbaring ya. Saya akan lakukan Usg" ucap dokter V. Nico hanya melamun, dia masih merasa emosi karena Cakra tadi. Padahal Cakra tidak salah. Dia memang tak normal seperi pria lain. Tenggelam dalam pikirannya, Gelya memanggi Nico. "Kak dengerin" ucap Gelya. Dan kemarahannya pun sirna. Dia mendengar suara degupan jantung dari anaknya. Tepatnya anak dari Jimmy. 'dugdugdugdug' Air matanya terjatuh karena terharu, Gelya juga ikut terharu. "Dengarkan pak bu, suara kehidupan" ucap dokter V sembari tersenyum tulus. . . . Jane berkata "Jika setelah ini kita putus kayaknya aku mau jadi kaya mamiku aja, jadi dokter biar sibuk.Biar gak inget kamu lagi". Stephen mengeratkan pelukannya, ia sangat mencintai Jane mana mungkin bisa melepaskan gadisnya itu. "Kalo sampe putus aku gak tau harus gimana" ucapnya sembari membingkai wajah Jane dengan tangannya. "Aku bakal jadi Ceo ? terus sibuk sampai lupa sama kamu. Eh sakit terus di operasi sama kamu. Kita bisa jatuh cinta lagi". Mereka tertawa karena hal yang mereka kira tak akan pernah terjadi itu. Dua remaja itu sedang di mabuk cinta, mana bisa lepas. ( BACA DI CREATING MY OWN SHUNSHINE )
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD