Film

1126 Words
Gelya terbangun lagi dari tidurnya, ia melihat jam di ponselnya. Jam 01.20 Ia masih mengantuk, Gelya masih ingin kembali tidur. Namun sebelum itu tenggorokannya, terasa sangat haus. Ia ingin minum air putih dingin. Dengan langkah malas ia turun, lalu memakai sandal bulunya. Ia menutup pintu kamarnya dengan hati- hati agar tak menimbulkan suara yang keras, takut membangunkan Nico. Namun bulu kuduknya kini malah merasa merinding. Ada seseorang yang menangis di sofa santai. Ia yakin itu bukan arwah Jimmy, karena Jimmy pasti sudah tenang di atas sana. Itu pasti Nico. Ia melangkah pelan ke arah sofa, setelah sampai benar Nico sedang menangis. Tak mungkin pria itu menangis karena melihat film yang di tampilkan di tv. Pasti dia teringat dengan Jimmy. "Kak are you oke ?" tanya Gelya, sebelum itu ia memegang pundak Nico. Takut pria itu malah kaget. "Haha oke banget, aku cuma nangis liat film di tv. Cengeng banget ya ? Tapi filmnya memang sebagus itu sih" jawab Nico pada Gelya. "Beneran ?" tanyanya memastikan. "Bener, liat aja sini sama aku pasti kamu bakalan nangis juga. Ini masih belum selesai kok. Tapi kalo mau aku ulangin dari awal" ucap Nico. Tangan pria menepuk- nepuk sofa, mengkodenya untuk duduk di sampingnya. "Aku buat teh dulu deh atau yang lain ? Kakak pengen minum apa ?" tanyanya pada Nico. "Hmmm soda ?" jawab Nico sambil berpikir. "Oke aku ambilin" Gelya segera menuju ke dapur dan membuka kulkas. Ia mengambil satu kaleng soda dan menuangkan s**u dingin untuknya. Ia merasa lapar, namun malas jika harus makan. Jadi lebih baik minum s**u saja. Gelya kembali lagi ke sofa, lalu menaruh minuman di meja. Ia duduk di sebelah Nico. "Kita tonton ulang ya" Nico memutar ulang film yang ia tonton tadi. "Ceritanya tentang apa kak ?" tanya Gelya penasaran. "Tentang sepasang kekasih yang satu pilot yang satu perawat" jawab Nico. "Terus itu pilotnya dikira mati eh perawatnya malah pacaran sama temennya terus, waduh kok aku spoiler" Nico menutup mulutnya. "Hahaha gakpapa kak lanjutin aja" Gelya tertawa karena Nico yang asik menceritakan film yang tadi di tontonnya. "Eh kamu tonton sendiri pokoknya ! Bagus banget ada sejarahnya". ucap Nico yang tak akan menspoiler isi film itu. "Jadi kakak suka sama tipe film kaya gitu ?" tanya Gelya ingin tau. "Ya gitulah, seru aja gitu kan bisa liat sejarah dari sudut pandang lain" jawab Nico yang fokus menonton film di depannya. "Yaudah aku nonton nih" Gelya mencoba fokus ke film yang di depannya, sesekali melihat ke samping. Melihat ekspresi Nico yang sangat ekpresif. Adegan kini menjadi panas, tokoh utama sedang berciuman. "Ciuman pertamamu siapa Lya ?" tanya Nico, matanya masih melihat ke adegan demi adegan di film. "Belum pernah" jawab Gelya melihat ke arah Nico. "Ya ampun, kamu itu gadis yang langka" "Kalo dimana- mana pada ngelakuin gratisan, kamu malah menjaga diri" ucap Nico. "Ya kalo kita sendiri yang jaga siapa lagi kan kak ?" Gelya masih menonton adegan berciuman itu. Lalu menengok ke arah Nico. "Kalo kakak ?" Gelya bertanya balik ke Nico, padahal sudah pasti seorang laki- laki yah karna dia penyuka sesama jenis. "Aku kenapa ?" tanya Nico pura- pura tak mengerti. "Hmmmmm ciuman pertamamu lah" tanya Gelya blak- blakan. "Ada deh hahaha" Nico tak manjawab pertanyaan itu, dia tertawa karena mengingat ciuman pertamanya dengan seseorang. Mereka kembali fokus melihat film, hingga hening. Hanya ada suara aktor dan aktris di film itu yang terdengar. "Kak tapi apa kakak kira- kira bisa suka sama cewek ?" tanya Gelya memecah keheningan. Nico tak menjawab pertanyaan dari Gelya. Gelyapun melihat ke samping, karena Nico hanya diam. Ia pikir pria itu marah kepadanya. Namun ternyata Nico tertidur, tangan kanannya menompang berat kepalanya. "Ehh ? tidur ?" Gelya menghela napasnya. Ia berdiri lalu mematikan televisi. Ia berjalan dan kembali ke kamar, namun begitu sampai kamar ia kembali ke keluar lagi. Gelya kembali lagi melihat Nico yang masih memejamkan matanya. "Kak" Gelya mengcoba memanggil Nico. Ia ingin membangunkan Nico, ia kasihan jika Nico harus tidur sendirian di sofa. Namun pria itu tak kunjung bangun juga, mungkin terlalu lelah. "Kak aku mau bobok disini juga" ucap Gelya pada Nico yang tertidur. Entah kenapa gadis itu ingin tidur di panguan Nico malam ini, apa karena bayi yang di kandungnya ? Gelya duduk di sofa lalu mulai membaringkan badannya. Paha Nico ia gunakan sebagai bantal. Perlahan ia mulai mengantuk, lalu tertidur dengan sendirinya. "Ia menghadap ke arah Nico, lalu memeluk perut pria itu tanpa sadar. Nico membuka matanya. Ia mengelus- elus rambut gadis itu, lalu mulai ke bawah mengelus- elus perut yang kini sudah mulai membesar itu. Di perut itu ada kehidupan yang tak pernah Nico pikirkan sebelumnya. Tuhan memang maha baik, menciptakan sebuah bayi dari sebuah benih lalu menjadi manusia kecil seutuhnya. Tuhan jika kau memang baik, boleh kah aku menjaga dua orang ini ? Boleh kan kau sembuhkan aku dengan menyakit, yang kata orang ini adalah penyimpangan ? Benarkan lah iman ku agar aku kembali ke jalan yang lurus. Nico menangis, mengingat dosa- dosanya. Apa ini adalah suatu kejadian atas dosanya ? Apa itu karmanya ? Gelya gelisah dalam tidur, mungkin tak terlalu enak jika tidur di sofa sempit seperti ini. Pria itu pelan- pelan memindahkan kepala Gelya, lalu berdiri. Ia mulai mengangkat badan Gelya yang tak seenteng yang ia pikirkan itu. "Hupp" Dia menggendong Gelya dalam dekapannya, lalu menidurkan kembali ke ranjangnya. "Kak jangan tinggalin aku" Gelya mengigau dari tidurnya. Nico yang tak tegapun ikut membaringkan badannya di sebelah gadis itu, toh mereka sudah suami istri di mata agama dan hukum. Biarpun itu salah satu muslihat untuk mengadopsi anak. Ia pun ikut memejamkan mata dan tertidur pagi itu. . . . Gelya membuka matanya lalu menengok ke sebelah kiri. Semalam ia berasa di peluk oleh seseorang yang hangat hingga membuatnya nyaman. Lalu bukannya semalam ia tidur di sofa ya ? Mungkin Nico yang menggendong dan memindahkannya kemari. Masih jam setengah 6 pagi, ia keluar untuk menyiapkan sarapan dan teh hangat. Nico yang mendengar suara dari dapur juga ikut bangun dan keluar dari kamarnya. "Eh kak ? Semalam kamu gendong aku ke kamar ya " ucap Gelya sambil menggoreng telu mata sapi. "Idih enggaklah, kamu berat mana kuat. Semalem kamu ngelindur terus masuk kamar" "Paha ku sampe kram banget kamu tidur disana" jawab Nico sambil mengejek. "Eh iya kah ?" Gelya cemberut mendengar jawaban dari Nico. "Padahal semalem aku mimpi bagus banget" ucal Gelya lagi. "Mimpi apaan ?"tanya Nico basa basi. "Di cium pangeran hahaha ciuman pertamaku di mimpi" jawab Gelya sambil tertawa. "Haha masa ?" Nico hanya tersenyum misterius. Lalu mulai membantu Gelya memanggang roti. Tadi subuh, ketika Gelya belum bangun. Nico bangun duluan. Ia lalu ingin kembali ke kamarnya, namun sepertinya Gelya bermimpi mencium seseorang. Dengan usia Nico menempelkan telapak tangannya ke mulut Gelya yang sedang memonyongkan bibirnya. Kemudian ia terkikik geli karena hal itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD