Gelya membersihkan semua perabotan di apartement karena Nico akan pulang hari ini.
Sebenarnya ia sudah bersiap- siap untuk kerumah sakit.
Namun Yunus, ayah dari Nico habis menelfonnya untuk mengabarkan Nico akan pulang ke apartement.
Gelya senang pria itu sudah siap untuk pulang.
Senang namun juga sedih sih, pasti Nico akan selalu terbayang- bayang kenangannya bersama Jimmy.
Karena bagaimanapun juga ini adalah tempat tinggal mereka berdua.
Gelya menyiapkan berbagai kudapan.
Dari kue, roti dan buah yang ia beli online.
Dia sudah mendapatkan uang dari investasinya, walaupun tak terlalu banyak.
Dia bermain aman. Karena kata Jimmy invertasi itu bagai bermain judi, ada untung dan ada rugi.
Kadang naik dan kadang turun.
Yang penting uang itu bisa ia putar kembali, bisa ia tabung dan bisa menghidupinya.
Akhir- akhir ini ia tak lagi menangis.
Sudah tak banyak melamun.
Sudah sibuk dengan kegiataannya, entah itu membaca novel atau belajar.
Namun terkadang air matanya keluar sendiri jika tak sengaja mengingat Jimmy.
Seperti saat ini.
Ia telah selesai menyiapkan kudapan dan membereskan rumah.
Gelya menunggu air mendidih untuk membuat teh hangat sembari melamun.
Air matanya menetes melihat sofa putih itu lagi.
Namun suara dari teko membuatnya tersadar.
"Haduuh ya ampun sampai kapan ya sedih gini, kasihan anak ini" ucapnya sambil mengelus- elus perutnya yang kian membesar.
Kandunganya akan berumur 5 bulan, ia bisa melihat apa jenis kelaminnya.
Gelya masih belum menuangkan teh itu ke gelas, takut mendingin jika ia tuangkan sekarang.
Jimmy dan orantuanya tak kunjung datang, membuatnya cemas.
Apa mereka baik- baik saja ? Kenapa lama sekali ?
Sepertinya gadis itu trauma, takut ia akan ditinggal lagi.
Namun kekhawatirannya berhasil hilang ketika pintu apartemen di buka.
Memperlihatkan wajah Nico yang masih membiru akibat terbentur mobil, mungkin ?
Dan juga Yeni dan Yunus yang melihat seluruh isi apartement anaknya.
Mereka segera masuk ke dalam dan menutup pintunya.
Gelya menghampiri mereka dan mencium tangan kedua orang tua itu.
"Kamu baik- baik saja kan sendiri ? Maaf ya bunda gak nengok kamu. Kemarin magh bunda malah kambuh" ucap Yeni menyesal.
Wanita paruh baya itu mengelus rambut Gelya dan mengelus perutnya.
"Aduh cucu nenek sudah besar" ucapnya lagi ke bayi yang ada di perut Gelya.
Gelya merasa senang, begitu juga bayi itu ia seperti bergerak di dalam rahimnya.
Yunus tersenyum melihat istrinya yang kembali semangat seperti dulu.
Ia menyayangi menantunya itu, walau dari awal ia berbohong pada mereka.
Nico hany diam saja, ia melihat kesekeliling ruangan.
Ia rindu sekali dengan apartement ini.
Nico melangkah masuk lebih dalam, ia duduk di meja makan.
Melihat Gelya telah menyiapkan makanan untuknya dan kedua orangtuanya.
Gadis itu pasti lelah, perutnya juga kian membesar.
Ia pasti juga sedih karena ditinggal Jimmy.
Ia berusaha ceria kembali, ia tak boleh egois. Kasihan Gelya nanti jika tidak ada suport sistem untuknya yang lagi mengandung.
"Wiih makasih ya udah disiapin makanan" Nico mencomot kue kesukaannya.
Gadis itu memang tau apa saja kesukaannya.
Yunus dan Yeni saling memandang satu sama lain, mereka terheran- heran melihat anaknya berbeda.
Di rumah sakit ia sedih dan terus murung, namun di sini ia terlihat tenang dan senang.
Nico anaknya telah dewasa, anaknya kini telah menjadi pria seutuhnya.
Pasti ia tak ingin membebani Gelya jika ia sedih.
Gelyapun sama herannya, ia berpikir Nico akan menangis meraung- raung ketika sudah sampai di apartemennya.
"Kalian ngapain ? Ayo duduk disini kita makan" ajak Nico.
"Lya tehku mana ?" tanyanya pada Gelya.
Gelya kaget, Lya adalah nama panggilan Jimmy untuknya.
Namun ia mengabaikan rasa kagetnya itu, ia kembali ke dapur dan menuangkan teh yang masih panas.
Ia menghidangkan teh itu ke Nico dan orangtuanya.
"Terimakasih nak" ucap Yeni dan Yunus padanya.
"Iya bun, yah" balas Gelya.
Nico senang melihat bunda dan ayahnya yang tersenyum hangat pada istri palsunya itu.
"Ayah bunda nginep kan ?" tanya Gelya pada orangtua Nico.
Nico melirik ke arah orangtuanya, menunggu jawaban mereka.
"Eh ? enggak kita cuma anter Nico aja. Dia usah baik- baik aja. Kami tenang kok" jawab Yeni.
Yunus mengangguk, ia mengelus pelan rambut anak laki- lakinya.
"Eh iya kak tadi koki kakak kesini nganterin steak, mau di panasin kak ? Kalian belum makan kan ?" tanya Gelya pada semua orang disana.
"Koki ?Kamu nyewa koki ?" tanya Yunus pada anaknya.
"Loh ayah gak tau ? Kak Nico kan buka restaurant. Enak banget tau yah, aku panasin ya" Gelya langsung pergi dan mengambil steak yang masih terbungkus di kulkas.
Ia memanasi steak itu sebentar agar hangat.
"Ayah baru tau, sukses ya kamu ? Kamu hebat banget ternyata tanpa ayah . Maafin ayah ya gak bisa ngajarin kamu apa- apa" Yunus terlihat sedih sekaligus bangga.
"Ah enggak juga, semua itu kan karna bunda sering masak enak" balas Nico berusa membuat Yunus tak sedih.
"Apapan bunda gak bisa masak kali" balas Yeni sambil tertawa.
Yunus dan Nicopun ikut tertawa.
Dari jauh Gelya memperhatikan keluarga yang sedang bahagia itu.
Ia iri sekaligus senang.
Ia senang karena Nico dapat melupakan kesedihannya sejenak dan dapat kembali akrab dengan orangtuanya.
Iri karena ia tak pernah seakrab itu dengan orangtuanya ketika dia sudah dewasa.
Ia melamun hingga membuat steak yang terakhir ia panasi gosong.
"Yaah gosong hmm gapapa deh" Gelya membawa satu demi satu piring berisi steak ke meja.
Dan terakhir untuknya.
"Maaf ya kalo overcook, soalnya memang kalo di panasin jadi gini" ucap Gelya meminta maaf.
"Gapapa justru mateng kan" Yunus memakan steak itu.
"Enak banget bun" ucap Yunus memuji Nico dan Gelya.
"Iya nih, justru tambah enak loh" Yeni ikut memuji.
Nico melihat steak di piring Gelya yang gosong.
Tanpa pikir panjang ia menukar steaknya dengan steak Gelya.
Gelya ingin protes, namun di potong oleh Nico.
"Aku suka yang gosong" ucap pria itu.
Gelya bingung.
Yunus dan Yeni juga bingung.
Seingat mereka Nico selalu benci makanan yang gosong.
Orangtua itu saling melihat satu sama lain, mereka tersenyum penuh arti.
.
.
.
"Gak usah di anter kalian pasti capek" ucap Yeni pada Nico dan Gelya.
Sudah sore, mereka pamit untuk pulang.
"Beneran gak nginep ?" tanya Nico memastikan.
"Enggaklah kita punya rumah sendiri kali" jawab Yunus bercanda, mereka berempat kembali tertawa.
"Aku anter sampe basement ya ?" Gelya sedikit memaksa.
"Ya gakpapa" balas Yunus membuat Gelya tersenyum.
"Tapi nanti kami antar lagi ya kesini" lanjut Yunus yang membuat Gelya mengerucutkan bibirnya.
"Udah ya kami pulang, daa" Yeni segera menggandeng suaminya, dia menyeret Yunus agar segera meninggalkan anak- anaknya.
Ya, mereka telah menganggap Gelya juga merupakan anak mereka.
Kini Gelya dan Nico masuk kembali ke apartement setelah memasikan kedua orang tua itu telah pergi dari pandangan mereka.
Mereka berdua sangat kikuk, tak tau akan mengobrol apa.
"Aku mau mandi deh Lya" ucap Nico malu.
Gelya menangguk, ia membereskan sisa makanan di meja makan.
Nico masuk ke dalam kamar, sebelum masuk ia menyempatkan melihat Gelya yang mencuci piring di wastafel dapurnya.
Ia merasa gadis itu kian cantik hari ini.
Guys ! baca novelku yang lain ya.
1. Menantang Citra.
2. Gaun untuk Jessica.
3. Truth ( Kode 1154 )
4. Sagitarius Girl.
5. Roro mendut dan pranacitra.
6.Gelya dan Nico.