Gelya terus melihat wajahnya dari kaca, takut wajahnya aneh karena ia memakai eyeshadow berwarna ungu di kelopak matanya.
"Kau cantik kok tenang aja" ucap Nico, ia memperhatikan Gelya dari spionnya.
"Kak mataku kayak habis di tonjok orang sekampung" ucap Gelya dengan nada bercanda.
"Hahaha enggak kok bagus ada bakat dandan juga kamu" komentar Jimmy.
"Jangan ngejek ya" Gelya cemberut karena mengira Jimmy mengejeknya.
"Dibilangin ngeyel" ucap Jimmy.
"Kak kok perasaanku dari tadi gak enak ya" ucap Gelya pada Jimmy dan Nico.
"Kenapa ? Bayinya ya ?" tanya Jimmy sedikit khawatir.
Ia sangat sayang dengan bayi yang di kandung Gelya, yang juga merupakan anak biologisnya.
"Bukan kak perasaanku gelisah aja sih sehabis turun dari pesawat tadi" ucap Gelya lagi.
"Paling jetlag" Nico berusaha menenangkan Gelya.
"Hooh itu" Jimmy juga ikut menenangkan gadis itu.
"Semoga aja deh kak" Gelya berusaha menghilangkan rasa gelisahnya itu.
Mereka hening untuk sementara.
"Eh kita telfon Citra yuk ? Pasti dia di acaranya Vivi kan" ucap Jimmy.
Ia mancari handphonenya namun ia lupa bahwa handphonenya berada di tas di bagasi mobil.
"Pake hpmu dong beb, hpku di bagasi lupa ambil tadi" ucap Jimmy sambil meringis.
Nico memberikan handphonenya pada Jimmy.
Jimmypun segera menelepon Citra.
"Halo ? Cit lu dimana ?" tanya Jimmy pada Citra.
"Oke deh" Jimmy memencet icon vidio call.
Terpampanglah wajah cantik dari Citra, wajahnya yang di makeup tipis membuatnya tampak lebih cantik dari biasanya.
Jujur wajah Citra membuat Jimmy iri.
Wajah Vivi juga muncul di layar, wanita yang tengah hamil itupun tak kalah cantik.
Pesona ibu hamil memang luar biasa.
"Selamat ya Vivi" suara Gelya membuat Jimmy tersadar akan pikiran liarnya.
"Selamat ya semoga langgeng sampai mau memisahkan" ucap Jimmy tulus, ia tersenyum bahagia melihat temannya menikah.
Tiba- tiba Nico menyeletuk.
"Udah selesai belum tuh acara ? Gua on the way" pria itu keceplosan.
Jimmy membekap mulut Nico.
"Yaah gak jadi surprise" ucap Gelya, ia tertawa melihat Jimmy yang kesal dan Nico yang meringis karena keceplosan.
Nico lalu tertawa karena Jimmy ngambek padanya.
"Lu udah balik kesini" dari suaranya Citra terlihat senang.
"Asiikkk ada temen untuk belanja baju bayi nih" suara Vivi juga terdengar senang.
"Ucapan selamatnya aku simpen sampai kalian udah kesinii yaaa" lanjut Vivi.
"Iya ini dijalan" balas Gelya.
Tiba- tiba ada truck yang terlihat oleng kekanan dan kekiri.
Truck itu menyalip mobil mereka.
"Eh itu trucknya apa- apaan sih" Jimmy menunjuk marah pada truck yang tadi menyalip mereka.
"Eh awas awas" Nico terlihat kepayahan menghindari truck yang tiba- tiba berbalik arah menuju ke arah mereka.
Jimmy menutup matanya takut, membuat tak sengaja mematikan vidio call Citra.
Gelya melakukan hal yang sama ia merasa dirinya akan mati sekarang, ia sangat takut untuk membuka mata.
Sedangkan Nico berusaha membanting setirnya ke arah kanan menghindari truck itu.
Namun tak sampet truck itu menabrak mobil mereka.
BRAKKKKKKK !!!!!!
Suara keras dari tabrakan itu adalah hal yang terakhir di dengar oleh Gelya pada hari itu.
Ia tak sadarkan diri.
Orang- orang berhenti berkendara untuk melihat kecelakaan itu.
Beberapa orang berusaha mengeluarkan Nico, Jimmy dan Gelya dari dalam mobil yang rusak parah itu.
Nico berhasil di keluarkan lukanya terlihat parah di bagian kepala, untung ia memakai seat beltnya.
Airbagnya berhasil juga menahan wajahnya dari tubrukan setir.
Gelya yang memakai seat belthnya juga tak terluka terlalu parah, hanya ada beberapa luka kecil di tubuhnya.
Jimmy adalah korban yang paling parah.
Kakinya dan kanan kirinya hancur, namun ia masih bernafas.
Ia tertabrak truck yang menabrak di sisi kiri mobil.
Mungkin kini pria itu berusaha bertahan hidup di tengah keadaan sekaratnya.
Ambulance telah datang dengan cepat setelah mendengar ada kecelakaan.
Dengan segera petugas segera membawa korban menuju rumah sakit.
.
.
.
Nicocdi obati dengan segera, ia sedikit menderita gagar otak ringan.
Namun ia tak kunjung sadar, mungkin tubuhnya masih syok.
Sedangkan Jimmy telah melewati masa kritisnya.
Kaki dan kanannya terpaksa di amputasi karena hancur.
Wajahnya penuh lebam, ia kini tengah koma.
Gelya yang sedang hamil 3 bulan lebih juga tak sadarkan diri.
Dia dan janinnya baik- baik saja.
Tubuhnya juga baik- baik saja, hanya ada beberapa kaca melukai tubuhnya sehingga meninggalkan goresan di kulitnya.
Ia pun belum juga sadar.
Di dalam tidurnya, ia bermimpi bertemu dengan ayahnya.
"Pa ?" Gelya memanggil seorang pria baruh baya.
Wajah pria itu mirip dengannya.
Pria itu tersenyum.
"Halo nak, lama tak bertemu denganmu. Papa lega kau sudah bahagia sekarang" ucap pria bernama Afon ivanova.
"Bahagia apa pa, aku sangat menderita hidupku kacau" sesal Gelya pada ayahnya.
"Menurutmu begitu ? Itu lah jalan yang kau jalani nak"
"Tuhan mengujimu karena tau kau kuat" ucap Afon pada anaknya.
"Aku tak kuat pa" Gelya menangis sambil melihat ayahnya.
"anak papa kuat, papa hanya ingin memberitaumu kehidupanmu akan bahagia nak" ucap Afon sambil tersenyum.
"Apakah aku memilih jalan yang benar pa ?" tanya Gelya ragu.
"Yang kau yakini itu adalah jalan yang terbaik untukmu nak" jawab Afon.
"Tapi sekarang Gelya sudah bersama papa, Gelya akan bahagia" ucap Gelya lagi.
"Tidak kau belum bisa bersama dengan papa, jalanmu masih panjang nak" balas Afon.
Ia memeluk anaknya dengan erat, ia mencium rambut Gelya.
Gelyapun balas memeluk ayahnya ia sangat rindu pada pria baik itu.
"Anak ini akan memberimu banyak kebahagiaan " ucap Afon sambil mengelus perut Gelya.
"Tapi anak ini milik orang lain pa, Gelya hanya dititipi " ucap Gelya pada Afon.
"Itu anakmu Lya" suara seorang pria yang Gelya kenal membuatnya mencari si pemilik suara.
"Kak Jimmy ?" Gelya berusaha mencari Jimmy.
Jimmypun bejalan mendekat ke arah Gelya dan Afon.
"Kak Jimmy disini juga ?" tanya Gelya senang.
"Iya nih kayaknya aku kena sial" jawab Jimmy dengan nada bercanda.
"Aku juga nih" balas Gelya.
"Dasar truck ugal- ugalan" omel Gelya mengingat ia menjadi seperti ini karena truck itu.
"Kayanya kamu belum deh" balas Jimmy sambil tersenyum.
"Maksutnya ?" Gelya masih bingung.
Namun Jimmy malah pergi, Afonpun juga pergi bersamanya.
"Udah ya Lya, aku pergi sama papamu. Nitip Nico ya" ucap Jimmy.
"Nico jangan suruh sedih ya. Kamu harus bikin dia kuat terus jagain Zico ya" lanjut Jimmy.
"Eh kalian mau kemana ? aku ikut" Gelya berusaha mengejar dua pria itu.
Namun ia malah berjalan mundur menuju cahaya.
"Tunggu aku kak, papa"
"Siapa Zico kak ? Kak jawab aku" teriak Gelya.
Dia sudah berada di ujung cahaya, sedangkan Jimmy dan Afon berada jauh naik ke atas langit.
Mereka terbang sepertinya.
Gelya masuk ke dalam lubang cahaya.
Lalu Gelya membuka matanya.
Ia tak berada di lubang cahaya manapun, ia berada di ruangan berwarna putih.
Bau obat menyeruak masuk terhirup ke dalam hidung mancungnya.
Ia melihat ke samping, ia melihat Nico yang masih tertidur.
Ia juga melihat ibu dan ayah dari Nico yang langsung berlari khawatir ke arahnya.
Cakra juga berada disana.
"Jimmy mana ? Apa dia dia udah udah ?" Gelya terbata- bata, ia teringat mimpinya sebelum bangun.
Dengan terpaksa Cakra mengangguk, pria itu tak mau menyembunyikan apapun.
Dengan histeris Gelya menangis meraung- raung meneriakan nama Jimmy.
Dan lalu kembali pingsan karena tak bisa menerima kenyataan.
Pria baik yang membuatnya merasakan kebahagiaan.
Kini telah pulang kepangkuan tuhan.