"Besok kita pulang ke Indonesia" ucap Nico pada Gelya.
Jimmy mengajak mereka pulang kembali ke tanah air mereka karena ingin menghadiri pernikahan Vivi.
Mereka ingin memberi kejutan di hari bahagia temannya itu.
"Aku belum membeli kado untuk mereka" ucap Gelya kaget karena hal yang mendadak itu.
"Memang kamu ingin memberi kado apa ?" tanya Nico penasaran.
"Hmmm menurutmu apa kak ?" tanya Gelya pada kedua kakaknya.
"Selimut ?" jawab Jimmy memberi usul.
"Kak mereka orang kaya, selimutku tak akan berguna untuk mereka" ucap Gelya menolak saran Jimmy.
"Benar juga" ucap Jimmy merutuki sarannya yang bodoh.
"Bagaimana jika mobil ?" Nico memberikan usulan yang membuat Gelya menganga.
"Kak, aku tak punya uang sebanyak itu" ucap Gelya.
"Terus apa ? Aku akan memberinya amplop saja aku pusing jika harus mencari kado" ucap Nico.
"Aku samaan sama kamu deh beb" Jimmy yang pusing memikirkan kado pernikahan Vivipun memilih untuk menyumbang uang saja.
Toh biarpun mereka kaya mereka juga pasti butuh uang kan.
"Ah aku tau" Gelya tersenyum senang karena berhasil mempunyai ide.
"Apa ?" tanya Nico dan Jimmy bersamaan.
Gelya mengetikkan sesuatu di handphonenya, lalu memperlihatkan gambar dilayar handphonenya ke Jimmy dan Nico.
Wajah Jimmy bersemu merah sedangkan Nico menepuk jidatnya.
"Ya ampun kamu ini, itu terlalu seksi" komentar Nico.
Di layar handphone itu Gelya memperlihatkan wanita seksi memakai lingerie.
Gadis di layar itu berpose menggoda, lingerinya sangat kurang bahan membuat pria yang normal akan sangat bernapsu.
Ah memang itu kan kegunaan dari lingerie itu.
.
.
.
Gelya mendorong kopernya yang kini telah berganti dengan koper yang besar.
Di Jerman ia berbelanja banyak baju, tentu dengan paksaan dua kakak laki- lakinya.
"Capek ya ? Aku dorongin deh siniin kopermu " ucap Jimmy menawarkan bantuan.
"Gak usah kak sekalian olahraga kok ini" jawab Gelya menolak tawaran Jimmy.
Namun dengan sigap Nico merebut koper yang itu.
"Nice beb" ucap Jimmy senang karena tindakan Nico.
"Dih kok pada ngeyel sih kalian berdua" omel Gelya.
Nico mengabaikan omelan gadis itu.
Mereka telah sampai kembali di bandara tanah air mereka.
"Mampir ke butiq dulu ya ambil baju aku udah pesenin baju formal untuk kita" ajak Jimmy.
"Aku telepon taksi dulu kak" ucap Gelya karena pasti mereka belum ada tumpangan untuk pergi.
"Gak usah aku udah bilang sama sopir untuk anter mobil tadi" balas Jimmy.
Gelya melihat Jimmy dengan tatapan kagum.
"Keren ya, aku mau juga sukses dan jadi kaya raya kaya kak Jimmy " ucap Gelya kagum.
"Iya makanya belajar sampe pandai ! Terus jadi sukses biar beli gak usah mikir lagi" ucap Jimmy sombong.
"Lewat jalur orangtua yang juga kaya sih tepatnya" Nico mengejek Jimmy yang terlihat sombong itu.
"Hehe" Jimmy menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Memang tak salah, orangtuanya sangat kaya.
Tak bekerjapun rekeningnya penuh dengan uang, ingat dia adalah anak tunggal tuan muda kaya raya.
Mereka menaiki mobil menuju butiq langganan Jimmy yang berada di kota sebelah.
Memang sedikit jauh namun butiq itu adalah butiq yang selalu Jimmy datangi jika ingin membuat baju.
"Emang kakak gak capek nyetir ?" tanya Gelya pada Jimmy.
"Enggak Lya, nanti gantian sama Nico pas pulangnya tenang aja aman kok" jawab Jimmy menenangkan gadis yang duduk di kursi belakang itu.
"Kalo capek istirahat gak usah di paksain" ucap Gelya lagi.
"siap boss" jawab Nico dan Jimmy kompak, membuat mereka bertiga tertawa karena itu.
Akhirnya beberapa menit mereka telah sampai didepan butiq bernama 'JESSICA AZALEA BUTIQ'.
Selain tulisan di baleho itu juga ada foto gadis cantik dan beberapa gambar gaun yang indah.
'Apa itu pemiliknya ? masih muda banget' pikir Gelya.
Mereka bertiga masuk kedalam butiq dan disambut hangat oleh karyawan disana.
"Selamat siang tuan Jimmy, ingin mengambil pesanan anda ?" tanya karyawan bername tag Anne itu.
"Iya An, eh Jessi dimana ? Kok gak keliahatan " tanya Jimmy pada Anne.
"Nona Jessica sedang menjahit disana, anda ingin menemuinya ?" tanya Anne pada Jimmy.
"Tidak usah pasti dia sibuk sekali" jawab Jimmy.
"Baiklah kalau begitu, mari ikuti saya" Anne berjalan ke arah lemari pakaian.
Ia mengambil dua jas formal berwarna hitam dan satu gaun berwarna hitam.
"Silahkan dicoba dulu" ucap Anne.
"Aku akan memakainya sekalian An, bisa tolong bantu adik perempuanku ?" tanya Jimmy menunjuk Gelya.
"Dengan senang hati, silahkan ikut saya nona" ajak Anne dengan nada yang sangat ramah.
Gelya mengikuti Anne dari belakang menuju ke fitting room.
Anne membantu memakaikan gaun hitam yang tak berlengan itu.
"Agak terlalu sempit dibagian perut, ah maaf nona gaub ini tak bisa masuk lagi"
"Aku akan melonggarkan gaun ini sebentar "
"Benar kata tuan Jimmy, mungkin gaun ini akan tak muat ukurannya sekarang sudah berbeda " Anne melihat perut Gelya yang terlihat membuncit.
Ia tau Gelya tengah hamil, yang ia tahu Gelya adalah istri dari teman baik Jimmy yaitu Nico.
"Tunggu sebentar ya nona" ucap Anne pada Gelya.
"Ah biarkan aku ikut aku ingin melihat kamu menjahit" ucap Gelya.
Anne mengangguk setuju, Gelyapun senang lalu mengikuti Anne menuju sebuah ruangan.
"Jessi, aku akan melonggarkan gaun ini 10cm untuk berjaga- jaga" ucap Anne pada Jessica.
Ia ingin menggunakan mesin jahit yang digunakan oleh Jessica,sepertinya gadis itu telah selesai menjahit sebuah gaun.
"Biarkan aku saja An, kau bisa melayani tamu yang lain" ucap Jessica tanpa melihat ke Anne, gadis itu sibuk memasukan benang ke jarum.
"Oki doki boss" jawab Anne lalu segera pergi.
Gelya duduk melihat gadis bernama Jessica itu, ia kagum melihat gadis cantik itu.
Wajahnya sama dengan yang di baleho.
Jessica menatap Gelya yang juga menatapnya, ia tersenyum ramah.
"Aku akan membesarkan gaunmu nona" ucap Jessica ramah.
"Terimakasih nona Jessica" ucap Gelya malu- malu.
"Iya sama- sama, ini akan cepat" ucap Jessica lagi.
Dengan cepat namun teliti Jessica membongkar dan menjahit gaun milik Gelya.
Gaun itu tampaknya telah selesai di perbaiki.
"Mari saya akan membantu anda memakai gaun ini" ajak Jessica.
Gelya mengangguk lalu mengikuti Jessica menuju kembali ke fitting room.
Gelya kembali menanggalkan bajunya lalu mamakai gaun yang kini sudah pas di tubuhnya itu.
"Anda sangat cantik" ucap Jessica memuji Gelya.
"Yang cantik itu nona Jessica" balas Gelya ramah.
"Benarkah ? Menurutmu begitu ?" tanya Jessica tak percaya.
"Iya kau cantik, pintar dan sukses ah dan juga berbakat" Gelya terus memuji Jessica.
Wajah Jessica bersemu merah.
"Jika aku sebagus itu kenapa ya aku tak beruntung dengan urusan cinta ?" tanya Jessica yang tak sengaja curhat kepada Gelya.
"Benarkah ? Aku tak percaya" jawab Gelya.
"Ya, aku ditinggal oleh cinta pertamaku setelah itu aku ditinggal selama- lamanya oleh kekasihku yang sekarang" ucap Jessica sedih.
"Aku yakin akan ada kebahagiaan untukmu nona, kau masih muda dan cantik aku yakin kau pasti bahagia" Gelya terus memberi semangat pada Jessica.
"Haha aku tak yakin, maaf ya aku malah curhat padamu. Kau bisa keluar nona, Jimmy pasti menunggumu. Aku tak bisa menemuinya aku banyak kerjaan sekarang" ucap Jessica lalu kembali ke ruangannya.
Saat berbicara tadi Jessica mengelus perutnya, mungkinkah gadis itu tengah hamil ?
Gelya menyingkirkan pikiran liarnya itu.
Namun jika di lihat lihat perut Jessica memang sedikit buncit dan wajahnya sedikit pucat.
Bukankah katanya kekasihnya telah meninggal ? Lalu dengan siapa ia hamil ?
Gelya menggelengkan kepalanya, ia berhenti memikirkan hal itu.
Ia melihat Nico dan Jimmy yang telah rapi.
"Make up dimobil ya Lya, pakai lipstik sama bedak aja udah cantik kok" ucap Jimmy sambil berjalan keluar dari butiq.
"Buru- buru amat sih kak" tanya Gelya.
"Iya acaranya udah di mulai soalnya" jawab Nico.
Mereka masuk ke dalam mobil, mereka berhenti sejenak menunggu satu mobil yang masuk ke halaman butiq.
Dari spion Gelya melihat seorang pria berpakaian tentara membawa bunga.
Pria itu masuk ke dalam butiq.
'Mungkin pria itu jawaban dari pertanyaan nona Jessica selama ini' ucap Gelya dalam hari.