Badan Gelya masih bergetar walaupun sudah turun dari pesawat.
Ini merupakan kali pertamanya ia naik pesawat, apa lagi ia sekarang sudah berada di luar negeri.
16 jam perjalan akhirnya ia telah sampai ke negara impian kedua kakaknya.
"Udah tenang ?" tanya Jimmy khawatir.
Nico memberikan coklat hangat agar Gelya tak lemas.
Gelya menerima coklat itu dan meminumnya.
"Enak banget" ucap Gelya senang.
Nico dan Jimmy tersenyum, ternyata gadis itu sudah baik- baik saja.
Mereka takut Gelya akan kelelahan, apa lagi dia sedang mengandung sekitar 4 bulan.
"Kuat jalan gak ?" tanya Jimmy.
"Kuat" ucap Gelya seraya berdiri namun ia sedikit terhuyung ke depan.
"Waduh gak bisa nih, beb urus Gelya. Koper biar aku yang urus" ucap Jimmy pada Nico.
Mereka memang hanya membawa 2 koper kecil dan 1 ransel milik Nico, karena mereka akan berbelanja baju dan kebutuhan lainnya di sini.
Maka dari itu mereka membawa sedikit baju.
Jimmy menarik 1 koper dan menenteng koper lainnya.
Tak lupa ransel dari Nico juga ia gendong di depan, membuatnya tampak macho dan seperti pria normal pada umumnya.
Sedangkan Nico menyuruh Gelya untuk segera naik ke punggungnya.
Gelya menolak namun Nico mengancam akan meninggalkannya jika ia tak segera naik.
Mau tak mau Gelya naik ke punggung Nico dan di gendong olehnya.
Jantung Gelya berdetak cepat, ia merasa tak aman karena kali pertama terlalu menempel pada seorang pria.
.
.
.
Sudah beberapa minggu mereka di Jerman, bahkan mereka sudah mempunyai beberapa kenalan di negara yang indah itu.
(obrolan memakai bahasa Jerman)
"Halo Mike" ucap Gelya pada seorang pria asal Jerman.
"Halo Gelya, bagaimana kabarmu ?" tanya Mike ramah.
"Sangat bagus, bagaimana denganmu ? Ah Mike apakah kita jadi ke kafe Janet ?" balas Gelya dengan semangat.
"wow wow bisakah kau tanya satu- satu ! Semangat sekali kau hahaha" Mike tertawa mendengar Gelya yang selalu ceria.
Mereka berkenalan saat Gelya, Jimmy dan Nico berjalan- jalan di pusat kota Jerman.
Wajah cantik dari gadis itu membuat Mike menyukainya.
Ia sangat kaget saat tau bahwa gadis itu tengah hamil, dan yang membuatnya lebih kaget bahwa gadis itu dengan sukarela menjadi ibu pengganti.
Ia sedih saat Gelya awalnya terpaksa karena ingin memperbaiki kehidupannya yang berantakan.
Ia ingin menata kembali mental dan jiwanya.
Mike sangat respect kepada gadis berdarah campuran Indonesia- Rusia itu.
"Tumben pasangan aneh itu tak ikut denganmu ? " tanya Mike sambil berjalan beriringan dengan Gelya.
Mereka berdua akan belajar bahasa Jerman di kafe Janet, adik Mike.
Selain cantik Gelya mempunyai otak yang cerdas, gadis itu dengan mudah dapat menguasai bahasa Jerman.
"ah kakak kakakku sedang melihat- lihat rumah disini, setelah anak ini lahir sepertinya mereka akan pindah ke negara ini" jawab Gelya.
"Dan kau ?" tanya Mike lagi.
Mike berharap gadis itu juga ikut berpindah ke negara Jerman.
"Aku ? Hmm aku ingin meneruskan kuliahku aku ingin menjadi wanita karir yang mandiri" jawab Gelya senang.
"Bagaimana dengan bayimu ?" tanya Mike penasaran.
"Anak ini akan baik- baik saja dengan mereka, mereka sangat baik aku yakin mereka dapat membesarkan anak ini lebih baik dariku" Gelya berbicara dengan nada sedikit sedih.
"Mungkin sekarang kau bisa berkata seperti itu" ucap Mike.
"Maksutmu ?" Gelya bingung dengan perkataan Mike.
Mike menghentikan langkahnya, Gelyapun ikut berhenti berjalan.
Mike menghadap ke arah Gelya.
"Kau tau ? Kau akan menjadi seorang ibu. Dan pasti kau tak akan pernah ingin berpisah dari anakmu" ucap Mike sambil tersenyum.
Gelya menggelengkan kepalanya.
"Sudahlah Mike, ini anak mereka aku tak berhak untuk itu. Dia akan bahagia dan aku rela melepasnya" ucap Gelya lalu berjalan meninggalkan Mike.
Mike pun mengikuti Gelya dari belakang.
Punggung gadis itu selalu terlihat rapuh di mata Mike, membuatnya ingin melindunginya apapun yang terjadi.
.
.
.
"Beb ini udah rumah ke empat, apa kamu masih gak suka ?" tanya Nico pada kekasihnya.
Ia terlihat kelelahan karena mengelilingi beberapa rumah yang akan mereka beli di Jerman.
"Duh sabar beb tinggal satu rumah lagi kayaknya yang terakhir bagus deh modern tapi klasik gitu yuk satu lagi"
"Habis ini kita nyusul Gelya" ajak Jimmy pada Nico.
"Semangat semangat" ucap Nico menyemangati dirinya sendiri yang sudah lelah.
Mereka mengikuti seorang makelar rumah yang berasal dari Indonesia bernama Indra.
Pria itu juga seorang penyuka sesama jenis, dia bekerja sebagai makelar rumah untuk orang yang ingin mencari rumah.
Khususnya untuk orang indonesia.
Nico dan Jimmy di buat takjub dengan rumah berwarna putih yang klasik namun ada kesan modern.
"Gue akan ambil rumah ini" ucap Nico senang.
Jimmy pun mengangguk setuju, ia melihat ada kolam renang dihalaman belakang membuatnya ingin berendam disana.
"Bagus ya ? Dulunya milik orang kaya tapi disita bank karna gak mampu bayar utang" ucap Indra menjelaskan.
"Yeee itu mah gak kaya dong" ucap Jimmy protes.
"Haha pernah kaya maksut gue" balas Indra.
"Yaudah gue urus dulu surat rumahnya, udah tau harganya kan ? Agak mahal sih" ucap Indra lagi sambil mengedipkan matanya.
Jimmy mengeluarkan black cardnya.
"Tenang gue orang kaya" ucap Jimmy sombong.
Dan Indrapun tersenyum senang dan jangan lupakan matanya yang berubah menjadi warna hijau.
.
.
.
Nico dan Jimmy telah sampai di kedai Janet dan masuk ke dalam untuk mencari Gelya.
Jimmy melihat Gelya yang sedang mengobrol seru dengan Mike dan Janet.
"Halo Mike dan Janet" sapa Jimmy, Nico di belakangnya mengangguk sopan. Seperti biasa dia selalu diam jika ada orang yang belum dekat dengannya.
"Halo Jimmy dan Nico, apa kabar ?" tanya Janet senang.
"Baik" jawab Nico dan Jimmy.
Mereka bergabung di meja itu dan ikut mengobrol, tepatnya Jimmy Nico hanya menjadi pendengar.
Dua pria itu telah lancar berbahasa Jerman, karena mereka belajar saat di Indonesia.
Mereka telah lama merencakan akan menetap di negara Jerman, maka dari itu mereka harus menguasai bahasa di sini.
"Dia pintar sekali" ucap Janet memuji Gelya.
Gelya sedang belajar menulis bahasa Jerman, ia menghafal dan menuliskannya.
Ia dirumahpun juga mempelajarinya.
"Apa kau ingin tinggal disini juga ?" tanya Nico penasaran karena gadis itu giat belajar.
"Tidak, aku suka belajar hal baru. Aku yakin suatu saat akan berguna kak" jawab Gelya.
"Jika mau kau bisa tinggal disini" ajak Jimmy, ia selalu senang dengan gadis itu.
"Aku akan berusaha kesini dengan caraku sendiri kak" jawab Gelya sambil tersenyum.
Nico, Jimmy, Mike dan Janet ikut tersenyum melihat kegigihan gadis itu.
"gadis baik" ucap Jimmy sambil mengelus rambut Gelya dengan sayang.
"Hehehe" Gelya tertawa senang.
Mereka berlimapun melanjutkan obrolan mereka dengan seru hingga siang berubah menjadi malam.