Satu perempuan dan dua pria

1136 Words
Gelya keluar dari kamar mandi, di tubuhnya hanya terlilit handuk berwarna putih. Dengan cuek Gelya melangkah keluar kamar, walaupun aku telanjangpun mereka tak akan bernapsu dengannya. Dia melirik dua orang pria yang masih bermesraan di sofa, mereka saling berciuman satu sama lain. Gelya menghiraukan kedua pria itu, itu adalah pemandangan biasa untuknya. Ia tak merasa jijik apa lagi aneh melihat hal yang tak lazim itu. Dia sudah sekitar 3 bulan lebih tinggal bersama mereka. sebenarnya wal pertama melihat mereka berciuman membuatnya malu dan canggung. Merekapun juga merada malu karena ketawan olehnya. Namun lambat daun Gelya merasa harus terbiasa melihat hal itu, karena mereka tinggal bersama sekarang. Gadis yang kini tengah hamil itu berbicara agar mereka bersikap seperti biasanya saja, seperti hari- harinya saat dulu tidak ada dirinya. Dan mereka pun setuju akan hal itu, itu juga membuat mereka senang. Merekapun bersikap seperti biasanya, saat dulu masih tinggal berdua. Hal itu lah juga yang membuat ketiga orang dua itu menjadi dekat satu sama lain dan tak lagi canggung. Bahkan Nico yang tadinya dingin dengan Gelya kini menjadi lebih cerewet dari biasanya. Jimmy dan Nico telah menganggap Gelya menjadi adik mereka, menjadi bagian dari keluarga kecil mereka. "Kak jus jambunya habis ya ?" Tanya Gelya dari dapur, setelah mandi ia ingin sekali minum jus jambu dingin. "Udah aku minum tadi, kamu mau Lya ? Aku pesenin online ya ?" jawab Jimmy dengan nada bersalah. Entahlah Jimmy ayah atau ibu dari anak yang di kandungku itu juga mengidam yang sama denganku. "Pake baju dulu Ge, nanti kamu sakit" kini Nico yang berucap dengan nada khawatir. "Sumpah deh kak, aku tadi pas mandi langsung pengen banget minum jus jambu" ucap Gelya sangat mengidam. "Aku sampe ngecess" lanjut Gelya. "Udah aku pesenin nih tunggu 5 menit" ucap Jimmy lagi. "Botol bekasnya mana kak ?" Tanya Gelya mengiraukan Jimmy yang sudah memesankan jus itu. "Ini" ucap Jimmy menunjuk botol jus jambu yang sudah kosong. Gelya yang sudah tak tahanpun berjalan ke arah botol itu. Ia berusaha menyedot sisa sisa sari jus dari botol itu. Nico dan Jimmy melihat Gelya dengan mata melotot, kaget. Sepertinya gadis itu memang sangat ingin. Gelya mengecap rasa segar dan manis dari jus jambu yang tersisa di botol itu. "Ah lega banget kak, makasih ya" ucap Gelya pada dua pria itu. Nico hanya bisa menganga melihat wanita itu. Sedangkan Jimmy menunjuk nunjuk handphonenya yang masih menampilkan aplikasi pengantar makanan. "T-t-api ini udah aku pesenin" ucap Jimmy terbata- bata. "Hehe udah lega kak" ucap Gelya cengengesan lalu masuk ke dalam kamarnya untuk berganti baju. "Aneh banget ya sayang" ucap Jimmy pada Nico. "Ga ngerti lagi" jawab Nico masih melihat pintu kamar yang sudah tertutup. . . . tak sampai 5 menit Gelya keluar lagi dari kamarnya. Ia melihat Nico telah berbicara dengan seseorang di depan pintu, Gelya menghirukannya dan duduk bersebelahan dengan Jimmy. Pria yang selalu terlihat cantik itu tertawa terbahak- bahak melihat salah satu pelawak yang kini sedang booming di televisi. "Hahaha tu orang ngapain sih pake nylungsep segala" teriak Jimmy. "Apaan sih ? orang gak lucu" ucap Nico yang kini menghampiri dua orang yang sedang menonton tv dengan membawa beberapa bungkus makanan. "Lucu banget tau" ucap Jimmy masih tertawa melihat tontonannya. "Eh passport kamu udah jadi minggu depan kita ke jerman ya" ucap Jimmy pada Gelya. "Aku harus ikut ya ?" tanya Gelya tak yakin. "Harus ! Kamu gak boleh sendiri di sini. Aku takut kamu kenapa- kenapa" jawab Jimmy dengan nada khawatir. "Betul, kita gak bisa pantau" kini Nico yang berbicara pada Gelya. Dia membawa beberapa paperbag berisi makanan dan minuman yang jumlahnya banyak. Gelya melihat Jimmy dan Nico, lalu menghempaskan nafasnya gusar. "Tapi kak" Gelya menggantungan ucapannya. Jimmy dan Nico menunggu Gelya melanjutkan kata- katanya. "Tapi.. Hmmmm" Gelya terus menggantungkan ucapannya sambil menggulungkan- gulungkan rambutnya. Nico yang tak sabar menunggu Gelya melanjutkan kata- katanya segera memotong perkataan gadis itu. "Tapi apa ?" tanyanya tak sabar. Jimmy mengelus- elus lengan pacaranya itu "sabar beb sabar". "Hehe aku takut naik pesawat" lanjut Gelya akhirnya. Jimmy dan Nico saling berbandangan. "Hahahahhaha ya ampun gue kira apa" ucap Jimmy pada dirinya sendiri. "Hahaha" Nico masih saja terus tertawa. "Ketawa terus aja, aku emang gak pernah naik pesawat" ucap Gelya memelas. "Haha maaf maaf" Nico meminta maaf karena dirinya tertawa sangat keras mendengar Gelya. "Tenang aja naik pesawat tidak semenakutkan itu" ucap Jimmy yang menyudahi tertawanya. "Beneran ?" tanya Gelya tak yakin. "Bener" jawab Jimmy. "Tapi aku liat di tv tv kalo jatuh 95% tuh pasti meninggal kak" ucap Gelya lagi. "Ya kan masih ada kemungkinan 5% selamat" ucap Jimmy lagi menenangkan Gelya yang ia sudah anggap sebagai adiknya. Pria itu mengelus- elus rambut Gelya agak tak terlalu berpikiran negative. "Iya 5% biasanya pramugarinya yang selamat" lanjut Nico membuat Gelya yang sudah tenang menjadi panik lagi. Jimmy mencubit pinggang Nico. "Aw aw aw sakit" ucap Nico pada Jimmy, ia menarik tangan Jimmy agar berhenti mencubitnya. "Udah deh gak usah di pikirin kamu makan aja sekarang nih beb bebek kesukaan kamu" ajak Nico pada kedua orang di sebelahnya. Nico mengeluarkan satu persatu makanan yang masih terbungkus alumunium oil. Ia juga mengeluarkan beberapa jus dengan jumlah banyak. "Nih biar gak ibu- ibu ngidam gak rebutan" ucap Nico menyindir dua orang di sampingnya. Jimmy dan Gelya selalu mengidam hal yang sama. Gelya dan Jimmy melihat satu sama lain dan saling meringis. "Kayanya enak banget bebeknya, wanginya enak banget" ucap Gelya memuji masakan di depannya. "Coba deh kamu makan kasih rating ya" ucap Jimmy sambil memakan bebek panggangnya. Gelya memakan bebek itu, lalu mulai menggoyang- goyangkan kepalanya karena enak. "Buset enak banget beli dimana ? Pinter banget sih ini yang masak" ucap Gelya sambil terus makan. "Yang jenius itu yang bikin resepnya" ucap Nico dengan nada bangga. "Emang kakak tau siapa yang bikin ?" tanya Gelya pada Nico. "Ya jelas tau banget" jawab Jimmy dengan nada bangga lalu melihat ke Nico. "Kak Nico ?" ucap Gelya tak percaya. "Hehe jelas, ini restaurant aku" jawab Nico, ia juga memakan bebek panggang yang sama. "Wih gila diem diem kakak ini chef ya ?" tanya Gelya pada Nico. Nico memang sedikit tertutup padanya dulu, maka dari itu Gelya tak terlalu tau apa pekerjaan dan aktifitas Nico sehari- hari. Sedangkan Jimmy selalu bercerita tentang pekerjaannya bahkan mengajari Gelya untuk berinvestasi sejak dini. Gelya mempunyai beberapa saham sekarang, karena Jimmy menyuruhnya. Investasi itu penting, kita tidak tau apa yang akan terjadi pada masa depan. Maka dari itu uang haruslah di olah dan di tabung dengan sebaik- baiknya. "Chef, pelukis, investor film" jawab Jimmy bangga pada pacarnya. "Hebat" ucap Gelya. Gadis itu bertepuk tangan ikut bangga. "Besok kamu harus lebih sukses dari kita" ucap Nico memberi semangat pada Gelya. "Doain aku kak !" Ucap Gelya semangat. Nico dan Jimmy bangga bisa membuat Gelya bersemangat seperti itu. Mereka ingin Gelya mandiri jika suatu saat gadis itu ingin pergi dari sisi mereka.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD