Menjadi ibu pengganti.

1048 Words
Gelya yang berada di mobil mewah milik Jimmy, merasa sangat nyaman duduk di kursi yang sangat empuk itu. 'Ini mah kayaknya mau kerja sampe seratus tahun juga gak bakal mampu deh gue beli' batin Gelya yang masih tak terbiasa menaiki mobil mewah. Dari kaca mobil, Nico memperhatikan Gelya yang sedang melamun. "Kalo mau di gugurin gue gak keberatan kok" ucap Nico, ia beranggapan mungkin Gelya belum siap jika mempunyai anak. Gadis itu juga masih perawan, belum pernah merasakan hubungan seks. Nico merasa tidak adil untuk gadis itu sebenarnya, dia terlalu baik dan polos untuk melakukan hal ini. "Eh ?" Jimmy terlihat kaget mendengar perkataan Nico. Ia menengok kebelakang, melihat Gelya yang juga kaget mendengar perkataan Nico. "Aku siap kok kak, cuma agak grogi aja soalnya baru pertama kali", jawab Gelya pada perkataan Nico. Gelya memang sangat gugup ketika ia di nyatakan hamil. Tubuh kecilnya mungkin beberapa bulan lagi akan membesar, perutnya akan membuncit. Di tubuhnya terdapat anak yang tumbuh kian membesar selama 9 bulan. Jimmy merasa lega, Nicopun juga merasa lega karena Gelya tak menolak anak yang di kandungnya. "Mereka tadi ramah banget ya" ucap Gelya, tadi dia menjenguk gadis dan menjadi teman dengan gadis bernama Citra. Dari yang Gelya dengar dari Jimmy, gadis itu baru saja di tusuk oleh teman sekantornya. Hanya karena Citra yang sedang mendengarkan musik lewat earphone, tak mendengar perkataan teman kantornya itu. Padahal bisa saja di tegur dengan baik- baik, kenapa harus sampai di tusuk. Untung saja hanya dengan pensil, bukan pisau. Namun tetap saja itu bisa di jadikan sebagai upaya percobaan pembunuhan. Gelya menjadi bergidik karena bisa saja hal itu terjadi dengannya jika masih tinggal bersama kakak tirinya. Mungkin dia tak hanya di perkosa nantinya, namun bisa bisa dia di bunuh dan mayatnya di buang di hutan atau di laut. "Iya Citra dan Cakra emang sebaik itu" ucap Nico tulus, pria itu memang selalu lembut jika membicarakan orang yang ia sayangi. Gelya juga sedikit tenang karena Nico perhatian dengannya di apartement Citra tadi. Andai Nico normal dan berpasangan dengannya, mungkin dunia yang kejam ini tak akan semenakutkan itu. Atau Jimmy yang baik hati ? Ah andaikan ia bisa memilih satu dari dua pria baik itu. Dia hanya bisa mengandai- andai. "Apa kamu gak nyidam Lya ? Gak pengen makan apa gitu ? " tanya Jimmy yang berada di kursi depan. "Hmm enggak sih kak, aku lagi gak pengen apa- apa" jawab Gelya. "Masa sih ?" tanya Jimmy tak percaya. "Iya kok, aku gak pengen apa- apa, bayinya baik banget ini beneran " jawab Gelya meyakinkan Jimmy. "Tapi kok aku malah yang pengen makan mangga muda ya?" Ucap Jimmy. Ia berbicara sambil melihat Nico, berharap pacarnya peka dengan ucapannya. Nico yang tau tempat dimana ada pedagang mangga muda lantas membatir setir, ia menuju ke arah jalan yang penuh dengan kaki lima. . . . Gelya takjub melihat berbagai makanan dan minuman yang tersaji di depannya. Saat Nico memutar balikan mobil menuju jalan yang penuh dengan pedagang. Nico dan Jimmy turun berdua dari mobil dan meminta Gelya untuk menunggu saja di dalam. Di karenakan di luar sangat panas dan berdebu mereka khawatir dengan keadaan Gelya, terlebih bayi yang di kandungnya. Sekitar 30 menit kemudian, mereka datang kembali dengan membawa seplastik penuh dengan makanan dan minuman. Tak hanya satu macam, namun bermacam- macam. Kini Gelya melihat Jimmy yang sedang memakan asinan mangga. Mereka duduk di karpet sambil menonton drama korea. Jimmy sangat menyukai drama dari negeri kpop itu. Dia kini terlihat menikmati satu persatu mangga yang di kunyahnya, sambil menonton film yang tersaji di depannya. "Enak banget ya ?" tanya Gelya pada Jimmy. "Enak banget, kayaknya yang nyidam malah aku deh" ucap Jimmy, ia meminum kuah dari asinan itu. "Nih makan " Nico memberikan asinan yang sama untuk di makan Gelya. Nico tau Gelya pasti ingin memakan asinan mangga itu karena melihat Jimmy. "Makasih kak, kayaknya enak. Aku makan ya ?" tanya Gelya malu- malu. "Lya, apapun yang ada di rumah ini kamu boleh makan dan minum, kecuali racun yaa" ucap Jimmy dengan nada kemayu. Pria tampan itu memang terlihat melambai ketika sedang berada di dalam apartement, jika sedang di luar dia seperti pria normal yang macho. Nico memakan makanan yang ia beli juga, sebuah gulali berwarna pink. Wajahnya sedikit menyiratkan kesedihan, ketika memakan gulali itu. Gelya ingin bertanya, namun ia tak berani karena takut Jimmy salah paham dan berpikir Gelya ada perasaan pada Nico. Yang Gelya tau, orang seperti Jimmy dan Nico sangat pecemburu. Maka dari itu ia memilih untuk diam dan memendam semua rasa ingin tau dan juga perasaannya. Gelya mulai memakan satu potong mangga yang sudah di iris berbentuk bulan sabit. "Seger banget" ucap Gelya senang. "Ya kan ? Enak banget. Besok kita kudu beli lagi !" Ucap Jimmy bersemangat. "Biasanya kita cuma berdua aja ya sayang, sekarang ada Gelya lumayan ramai" ucap Jimmy sambil melihat Nico. Nico tersenyum lalu mengelus- elus rambut Jimmy dengan senang. Gelya juga ingin sekali di perlakukan lembut seperti itu, sudah lama rambutnya tak di usap oleh seseorang. Semenjak Dani datang rambutnya hanya selalu di jambak dan kepalanya sering di toyor. Untung saja dia keluar dari rumah itu. "Kak kira-kira, aku boleh kerja kapan ?" tanya Gelya yang membuat dua pria itu melihat ke arahnya. "Tunggu seminggu dulu, lihat kesehatanmu Lya. Kakak takut kamu kecapekan" pinta Jimmy pada Gelya. "Justru harus banyak gerak kak kata dokter, cuma jangan terlalu capek juga sih " ucap Gelya dengan nada memohon. Ia sangat ingin bekerja, ia tak mau terlalu menyusahkan pasangan itu. "Nanti kakak pikir lagi" ucap Jimmy pada akhirnya. "Apa aku coba cari kerja yang gak terlalu capek ya ?" tanya Gelya pada Jimmy. "Kerja mana ada yang gak capek, udah tunggu aja. Lihat kesehatan kamu" kini Nico yang menasehati Gelya. Akhirnya Gelya menyerah, ia mengangguk pasrah. Tak ingin membuat mereka jengkel. Mereka sudah terlalu baik padanya, mungkin dengan menuruti kemauan mereka dia bisa sedikit membalas budi pada mereka. "Kak tadi orangtua dari dokter Cakra sama Citra ya ?" tanya Gelya ingin tau. "Iya mereka mama papanya Cakra" jawab Jimmy. "Kaya ga asing ya, kaya pernah ngeliat" ucap Gelya lagi. "Pasti lah mereka itu sering di wawancarai di televisi" ucap Jimmy. Gelya mengangguk- anggukan kepalanya mengerti. Pantas sekali orang kaya seperti mereka berteman dengan orang kaya lainnya. Ia yang sadar lantas merasa minder, karena dia orang yang tak punya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD