Menjalin hubungan dengan Elvan dalam beberapa hari ini sudah lumayan banyak yang ku ketahui tentang nya, tentang keluarganya, begitupun tentang keseharian nya.
Elvan bekerja disebuah Kapal di kota Malta, saat ini sedang libur, tetapi dua hari kedepan ia akan kembali kekota Malta. Berarti jarak kami akan semakin jauh, apalagi jika ia sudah dilaut, besar kemungkinan kami akan jarang berkomunikasi.
Awalnya ku kaget ternyata Elvan seorang pelaut, tetapi tidak masalah bagiku melakukan hubungan long distance relationship dan jarang berkomunikasi, yang terpenting saling percaya saja.
Hari keberangkatan Elvan pun tiba, hari ini dia akan singgah ke kota Cotana, tanpa ku sangka, hari ini pun hari pertemuan pertamaku dengannya. Elvan memberi tahu bahwa dia akan menjumpai ku, sangat kaget tetapi rasa senang juga ada, karena sudah hampir satu bulan kami bersama akhirnya hari yang ku tunggu pun tiba. Aku akan melihat dirinya, wajahnya, apakah sama dengan yang selama ini kulihat difoto.
Kami janji bertemu disalah satu cafe dekat kantorku. Sudah pukul sepuluh aku pun bergegas minta izin keatasan sebentar. Jarak yang kutempuh tidak jauh, cukup berjalan kaki dan menyebrang saja, terlihat cafe itu dari depan kantor. Ku sampai dan menunggu, kukirim pesan kepadanya.
Apakah sudah sampai?
Tidak ada jawaban, sudah hampir lima belas menit menunggu tapi tidak ada tanda-tanda Elvan akan sampai. Kucoba menghubungi nya beberapa kali, tetapi tidak ada jawaban.
"Apa dia membohongi ku ya" batinku dalam hati. Rasa kecewa dan kesel bercampur menjadi satu. Tetapi ku tetap tenang, mencoba menghubunginya sekali lagi. Dan akhirnya ia menjawab.
"Apa kamu membohongi ku Van?" tanyaku.
...
"Udah lama aku nunggu, tapi sampai sekarang gak kelihatan batang hidung mu" jawab ku kesal.
...
Segera kubalikkan badan saat ia mengatakan aku sudah dipintu masuk. Tetapi ku tidak melihat seseorang yang mirip dengan nya yang seperti di foto. Hanya seorang bapak-bapak sekitaran empatpuluhan, sedang menelepon. Pikiran ku entah kemana-mana, rasa takut muncul tiba-tiba.
"Kamu yang mana, gak kelihatan" tanya ku ketus. Saat tidak ada jawaban darinya, tiba-tiba kursi didepanku ada yang menarik. Kutoleh kehadapanku, aku kaget karena seseorang yang hampir mirip foto itu ada didepanku.
"Hai" sapanya kepadaku.
"Elvan?? " jawabku tidak percaya.
"Siapa yang kamu lihat disana, sampai begitu kali mukanya" tanya nya sambil senyum.
"Eeee..itu.. tadi kamu bilang dipintu masuk, jadi pas ku liat sana yang ada cuma bapak-bapak" jawabku malu.
"Sayang, pintunya kan ada dua, kenapa kamu berpikir aku disana, sedangkan aku masuk dari sini" Elvan menjawab sambil menunjuk pintu yang ada dibelakangnya.
Saat mendengar Elvan memanggilku sayang secara langsung hatiku serasa bergelitik, seperti terbang dibawa kupu-kupu. Sepertinya pipiku udah mirip udang direbus, pikirku.
" Kamu tau gak bapak-bapak tadi itu siapa?" tanya Elvan.
Sedikit bingung dengan pertanyaannya, kenapa menanyakan bapak yang tadi, apa hubungannya. Aku pun menggelengkan kepala, lalu melihat kearah bapak tadi.
"Itu ayahku" ucapnya.
Aku sangat kaget, Elvan bertemu dengan ku membawa ayahnya.
"Dia yang akan mengantarku ke bandara, makanya ikut kesini" lanjutnya.
Aku hanya mengangguk mengerti. Tidak banyak yang kami obrolkan, hanya saling tatap karena tidak percaya akan bertemu.
"Hari ini aku tidak bisa berlama-lama, karena keberangkatanku nanti jam satu siang, maaf yaa gak bisa lama menemani kamu hari ini" ucapnya tiba-tiba.
"Iyaa tidak apa-apa" jawabku.
"Maaf yaa, lain waktu kita jumpa lagi sayang, jaga diri disini ya, jaga kesehatan, nanti jika aku kembali kita pasti sama-sama lagi kok" ucapnya menyenangkan ku.
Aku hanya mengangguk mengatakan aku mengerti.
Ia pun bergegas menjumpai ayahnya yang menunggu diluar cafe, kelihatan sibuk menelpon dari tadi.
Akupun bergegas kembali ke kantor.