“Deg… deg… deg…” Jantungku berdetak tidak karuan. Dokter yang sedang memeriksa Ajeng belum juga keluar dari ruangannya. Sedangkan, jantung ini masih belum tenang. Padahal, aku belum juga bertemu dengan perempuan yang bernama Ajeng ini. “Srrreeetttt….” Tiba-tiba, tirai tempat Ajeng diperiksa terbuka. “Bagaimana keadaanya Dok?” tanyaku kepada dokter yang sedang merawatnya. “Sedikit terluka. Dan perlu tiga jahitan,” jelas sang dokter. “Makasih Dok,” kataku sebelum dokter dan asistennya pergi dari sini. “Tiga jahitan.” Aku mengulang perkataan dokter barusan. Berarti, aku melempar tubuh mungilnya dengan sangat kencang. Atau mungkin, pinggiran mejanya menang sangat tajam. “Farale.” Aku langsung menghubungi orang kepercayaan ku itu. “Ya Bos,” jawabnya dengan siap sedia. “Siapkan satu k

