Bertahun-tahun Kemudian
Pagi ini diawali dengan menghirup napas panjang menahannya di paru-paru lalu menghembuskan udara itu perlahan-lahan ku ulangi kegiatan ini berkali-kali. Ini adalah cara aku menenangkan hati, pikiran dan jiwaku. Kini kesibukan di mulai dengan perkuliahan.
Sungguh ini sangat berat buat aku harus terpisah dari keluarga ku, sahabat dan seseorang yang selalu punya tempat tersendiri dihatiku yaitu cinta pertama ku. hehe masih aja ya, namanya tersimpan di dalam hatiku padahal udah disakiti hatinya berkali-kali.
Aku tidak bisa lagi melihatnya lagi seperti masa SMA. Kini jarak sudah terbentang di antara kami.
Untuk kuliah di Bandung aja aku perlu perdebatan sangat panjang sama papa dan pada akhirnya di izinkan juga, kuliah sesuai dengan keinginan hati ku walaupun nantinya harus janji bisa kembali memimpin perusahaan Papa.
Ya aku anak dari pengusaha di bidang Properti kerja keras papa selama 30 tahun ini membangun usahanya tersebut sangat patut di acungi jempol. Apakah kalian pernah main golf nah salah satunya lapangan golf itu pengembangan dalam proyek Papa masih banyak lagi. Aku rasanya gemetar menerima untuk memimpin perusahaan Papa terlalu dini makanya aku kabur ke Bandung, Sungguh alasan konyol. Wah Bandung saya datang kembali.
Sebagai Mahasiswi Psikologi dan akan Mengambil Psikologi klinis juga nanti semoga papa ku setuju sepertinya agak sulit Papa tidak akan setuju aku menempuh S2 Psikologi. Tapi yang penting aku mewujudkan impian ku menjadi Psikolog. Jangan tanyakan seberapa sibuknya aku sungguh sangat sibuk dengan tugas yang menumpuk, harus magang juga nantinya.
Oh ya soal tempat tinggal di Bandung aku tinggal di apartemen yang cukup nyaman untuk ku, tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil. Soal tempat tinggal aja harus ada perdebatan juga sama papa dan akhirnya jatuhlah ke apartemen tersebut dengan keamanan yang bagus padahal aku pengen tinggal di kosan gitu, sayangnya tidak bisa terwujud pokoknya pengen ngerasa menjadi orang yang biasa-biasa aja. Intinya aku orangnya nggak ribet soal tempat tinggal, namanya juga orang tua khawatir dan pengen yang terbaik untuk anaknya.
Papa juga menawarkan aku untuk membeli mobil untuk aktifitas ku tapi aku tolak mentah-mentah karena aku takut macet yang awalnya pengen cepat jadi lama. Aku memilih sepeda motor untuk kegiatan ku pergi ke kampus.
Apakah kalian percaya pada jatuh cinta pada pandangan pertama ? sejujurnya sih aku orangnya penganut percaya Cinta pada pandangan pertama. Terserah orang menganggap aku lebay contohnya aja aku jatuh cinta sama kak Adit.
Aku tuh Tipikal orang yang menganggap pentingnya sebuah First impressions (kesan Pertama) untuk berteman aja tuh aku pengen seseorang itu menerima aku apa adanya tanpa embel-embel oh dia anak orang kaya ya dan bla - bla - bla, jadi seseorang itu benar-benar tulus berteman sama aku. Aku bisa beradaptasi dengan mudah ketika aku harus melakukannya itulah prinsip yang aku pegang selama ini.
Soal Cinta pandangan pertama, aku tidak menyukai orang karena tampan atau pintar atau menurut pendapat orang-orang lain di luar sana, ini dia ganteng banget sama seperti oppa-oppa Korea duh meleleh.
Dan sama seperti sebuah film juga, aku tidak menonton film karena orang mengatakan film itu bagus, ratingnya juga oke, review alurnya menarik banget dan aku harus menyukai film tersebut ? tentu saja tidak semenarik apa pun film horor atau pun genrenya yang di review orang -orang Jika kamu nggak suka ya gimana lagi. Dan aku tidak menonton film sesuai dengan pendapat orang lain Karena pendapat seseorang itu tidak bisa membuat aku bisa suka atau mencintai sesuatu jika bukan dari hati aku sendiri yang mendapatkan momen suka tersebut. Pada intinya aku tidak mau dipaksa aku punya pemikiran dan dan pilihan ku sendiri.
....
"Anin.. aku panggil- panggil dari tadi kok nggak menyahut sih ? Kamu melamun nya panjang banget kayaknya." Amanda datang dan duduk di bangku tepat didepan ku.
Aku mendongak, "Maaf nggak denger." pose nyengir.
"Ayoo melamun apa, jangan melamun yang jorok lho."
"Apaan sih, mana ada.. Lo aja yang kek gitu. Aku lagi rindu aja sama orang di Jakarta. Eeh kok Lo tumben pagi-pagi Udah datang biasanya datang paling lambat pulang paling cepat. Aku terkekeh melihat ekspresi Amanda melotot ke arah ku..
" Ya ampun An Lo perhatian banget sih. haha.. Nah itu yang aku mau jelaskan kenapa aku datangnya pagi hari ini, kemarin pak Imran Rosyadi memberikan tugas Konstruksi Alat Ukur Psikologi kepada kita nah aku lupa ngerjain An please kali ini aja, aku mau nyontek sama kamu An please.... Dengan puppy eyesnya dan muka lemes dan tangan di depan d**a.
"Hm, kali ini boleh lah, tapi lain kali nggak ada yang seperti ini lagi, maksudnya biar lebih pintar kalau usaha dari kita sendiri, bentar aku cari dulu di ranseku."
"Nih tugasnya, cepatan di salin keburu Pak Imran datang lho."
"Duh bersyukur banget aku berteman sama kamu An, udah cantik, baik hati dan nggak pelit lagi."
Bentar lagi ada dua orang lagi yang datang bakalan akan mendengarkan kata-kata pujian yang bikin eneg kalau di dengar.
"Bodoamat, aku terkekeh pelan, dan Amanda dengan senyum manisnya. ini dia teman terbaik aku di Bandung. Amanda itu namanya simpel seperti orangnya dia mudah bergaul sama siapa aja, dia ini anak dari orang berada juga ayahnya berkerja di BMKG, Ibunya adalah apoteker. Masih ada lagi 2 orang teman dekat ku nanti aku kenalkan.
"Eh, an kamu tahu nggak__ ??"
"Nggak...
"Ya ampun An sensi amat aku belum lanjutin omongan aku lho an..!"
"Haha, ya apa Amanda ?"
"Pas kegiatan kuliah umum beberapa hari yang lalu bersama pak Hadi Rudyatmo English For Psychology, kamu tau nggak An, pas kamu bertanya dan menjawab pertanyaan dari pak Hadi tuh semua mata melihat ke arah mu loh An dan binar-binar mata mereka tuh terpesona melihat mu. Emang Spek Bidadari auranya terpancar kemana-mana ya.
"Oh"
"Dari tadi gue ngomong panjang lebar jawabmu cuma oh doang, gue nggak habis Fikri eh pikir dech sama Lo An." Amanda menatap kesal.
"Ya terus aku harus bilang MasyaAllah Tabarakallah dan jingkrak-jingkrak senang gitu Amanda, terserah dia mau suka sama aku itu hak masing-masing."
"Hm kalau berani dia kan bisa lah samperin aku langsung loh, jangan cuma berkoar-koar aja dibelakang bilang suka doang nih pesan di hape penuh ajakan kenalan banyak banget lho, tapi mereka cuma berani di hape doang nggak ada yang berani nyamperin aku kan.!?"
"Itu tugas cepetan di kerjakan, nggak pengen kena gantung di pohon sana sama pak Hadi kan ?"
"iish kamu An nggak asik kalau pembahasan kek gini pasti selalu menghindar. " Amanda menatap ku kesal lagi.
"Bodoamat" aku terkekeh kearah Amanda.
Akhirnya Amanda melanjutkan kembali menyalin tugasnya kembali. Ini anak ya kalau bahas cowok aja semangat banget giliran tugas malah nomor kesekian.
Ckck.. Aku menatap ke arah Amanda kembali, makasih ya Manda udah menjadi sahabat aku tanpa embel-embel dan memandang privillage ku. aku berbicara dalam hati dan sambil tersenyum.
***