Perkuliahan siang ini berakhir dengan indah kami berempat merencanakan pergi ke hangout ke Caffe.
Aku, Amanda, Alya, Fiola memutuskan untuk menikmati suasana di Bandung, masing-masing kami pergi dengan motor kami dan menuju ke Caffe Bene Dago. Sesampai disana kita pesan menu yang hits banget menu Korea dan tidak lupa dengan gelato dan es ginsu.
"Suasana disini tuh adem banget ya !!" celetuk Alya.
"Cocok banget dech buat healing, menenangin pikiran, di suguhkan pemandangan yang hijau kayaknya di Bandung ini solusinya." Amanda ikut nimbrung.
"Bagus sih konsepnya klasik, menu Korea, cuma rame banget wajar sih lagi nge-hits di kalangan anak muda kalau untuk healing menikmati view sepertinya ke tempat aku dan keluarga ku kunjungi beberapa tahun yang lalu itu baru oke."
Cukup lama kami ngobrol dan makan, dan bersiap-siap untuk pergi. Tiba-tiba ada yang memangil aku.
"Anin.. ?"
Aku menoleh dan kaget, "i-yaa.. oh ya ampun Mass Mas Dikta" aku langsung berdiri menghampiri mas Dikta dan memeluk mas Dikta dengan erat aku nggak peduli dengan keadaan di cafe ini sungguh aku kangen sama Mas ku yang satu ini, aku melepaskan pelukan ku.
"Kamu kayak orang hilang aja sih dek, jauh amat larinya ke Bandung tanpa kabar, Nomor udah diganti lagi, minta sama om katanya nggak dibolehin sama Anin pula."
"Duh jahat banget nggak sih main sembunyi segala dan harus banget menyendiri sampai Ke Bandung sini ?" Dia menyetil jidat Anin.
"Nggak ada yang gersak gersuk nyusahin Mas mu lagi, iih kangen tahu." Kemudian satu usapan lembut di kepala ku.
Aku nyengir, dengan pertanyaan bertubi-tubi dari Mas Dikta lontarkan kepada ku.
"Aku juga kangen tapi di tahan-tahan aja kangennya, siapa juga lari,orang kuliah disini. Gimana kabar jakarta baik-baik ajakan walaupun tanpa aku ya mass." Aku terkekeh.
"Hm, sepi, dan nggak asik.. adek sama siap ke sini, ?
"Eh lupa ini sama teman aku Mas rencana kita mau balik." aku memperkenalkan teman-teman ku sama Mas Dika. "Eh bentar ya gaees aku mau ngobrol sama Mas aku dulu bentar aja." dan dapat anggukan dari teman-teman ku, Aku dan Mas Dika berjalan menuju kursi pilihan Mas Dikta.
"Mas s-saam" omongan ku terputus tiba-tiba saat cewek menghampiri kami.
"Oh, Mas udah pilih tempat ?" sambil duduk di sebelah ku berhadapan sama Mas Dikta, Mata ku melotot ke arah mas Dikta, meminta penjelasannya.
"Eh sayang kenalin ini Anindia adek sepupu aku yang kabur dari Jakarta".
"Iiih, Maas enak aja bilang kabur". Aku lebih dulu mengulurkan tangan untuk salaman sama kekasihnya Mas Dikta walaupun dia nggak konfirmasi tapi tadi dia udah keceplosan sendiri panggil sebutan sayang, nanti aku tanyain lebih detail sama Mas Dikta.
"Aku Natasya.."
"Aku Anindia, panggil aja Anin Mbak, eh boleh kan aku panggil Mbak sepertinya kita nggak seumuran kan..? Mbak Tasya menganggukkan kepalanya tanda boleh.
"Eh bentar Dek, kalian ngobrol dulu Mas mau kesana bentar."
Aku ngobrol sama Mbak Tasya sambil menunggu Mas Dikta kembali.
Mas Dikta pun kembali "Mas sepertinya aku melewati beberapa chapter nih butuh penjelasan, maaf ya Mas aku nggak bisa lama-lama ngobrolnya kangen-kangenan nya di lanjutkan part berikutnya ya nggak enak sama teman-teman aku udah nunggu.
Bye Mas, Mbak... aku berdiri dari tempat duduk ku dan melangkah pergi.
"Eeh bocil main kabur aja nomor mu, Mas Dikta menyodorkan Hp nya.
"Haha iya lupa". aku save nomer aku di hp Mas Dikta begitu juga di hp aku juga dan aku menyerahkan hp sama Mas Dikta kembali.
Tiba-tiba Mas Dikta berdiri dan merentangkan tangannya lagi dan memeluk ku kembali dan membisikkan sesuatu kepada ku. " jangan kabur lagi, Adit pernah nanyain kamu An ! rambut ku diacak sama Mas dikta
"Mass, rambut ku jadi berantakan, iish kebiasaan dech." maaf ya mbak Tasya jangan marah ya, Mas ini kebiasaan nggak lihat tempat gue dikirain selingkuhan mu lho Mas."
"Haha.. Dasar bocil, udah sana tuh teman mu udah nungguin, uang jajan masih ada nggak, kalau nggak ada kabarin aja."
"Sombong mentang-mentang jadi bos sekarang.. dah ah bye." aku pergi dan menghampiri teman-temanku dan kami menuju kasir untuk bayar makanan kami dan tiba-tiba mbak kasirnya bilang udah di bayar dan menunjukkan ke arah mas Dikta. Aku menghampiri mas Dikta sekali lagi.
"Maass, makasih." Aku memeluk Mas Dikta sekali lagi.
"Iya, hati-hati pulangnya jangan lupa nanti telepon Mas.
"Siap.. aku melangkah pergi meninggalkan Mas Dikta.
Kami pun langsung menuju ke parkiran, menuju ke tempat motor kami masing-masing.
"An masih ada stok di rumah mu nggak yang seperti Mas mu itu lho ganteng banget An sumpah gue nggak bohong Lo aja cantik banget apalagi mas mu Masyaallah.." Amanda terpesona.
"Tolong bilang sama mas mu An aku mau jadi yang kedua" Alya juga ikut terpesona
"Masnya anin yang nggak mau sama kalian berdua" Fiola terkekeh.
"Haha.. masih ada kok tenang aja nanti aku kenalin sama sepupu-sepupu aku tapi jangan mas Dikta ya, Mas ku udah ada gandengnya tuh lihat aja mbak Tasyanya cantik bangetkan.
"Iya cocok banget mereka berdua".
"Yuk kita pulang takut kehujanan di jalan nanti".
Sekali lagi aku menoleh ke tempat Mas Dikta dan Mbak Tasya, aku tersenyum melihat interaksi Mas Dikta dan mbak Tasya. Aku berdoa untuk mu Mas sepertinya Mas akan berusaha lebih keras mendapatkan restu dari bude.
***