Larrisa berendam sudah hampir satu jam di dalam bath up dengan busa melimpah menutupi tubuhnya. Dia masih memikirkan Eliot sejak tadi. Meski sudah dipaksa untuk lupa, dan berusaha menyingkirkan pikiran tentang Eliot, tapi tak berhasil, wajah itu terus mengusik pikirannya tanpa jeda.
Malam semakin larut, air yang semula hangat berubah menjadi dingin. Dia segera mengguyur tubuhnya dengan shower dan segera bersiap untuk tidur. Meski sebenarnya dia tak mengantuk sama sekali.
Seharian dia sudah berbaring di atas ranjang, badannya serasa pegal karena tidur terus. Ditambah karena ciuman tadi, Larrisa semakin enggan untuk tertidur. Pikirannya masih terus tertuju pada Eliot. Benaknya bertanya-tanya mengapa Eliot memberikan ciuman tadi padanya?
"Dia tidak suka padaku, kan?" tebaknya dengan muka kaget.
Larrisa berlari ke cermin lalu melihat sisi kanan dan kiri wajahnya. Dia mendekatkan mukanya yang masih basah ke arah cermin.
"Aku memang cantik," pujinya sombong sambil tersenyum. "Tapi tidak mungkin dia jatuh cinta padaku. Wajahku terlalu pasaran," katanya lagi merendah. "Seleranya bukan aku. Datar begini tentu bukan idamannya."
Dia terus mengoceh tak henti-henti. Terus berhipotesis sesuai dugaannya. Terkadang dia memuji dirinya, dan sekejap kemudian merendahkan dirinya. Sungguh dia begitu plin-plan.
"Ah aku tidak tahu!" Larrisa melompat terjun ke atas ranjang empuk itu lalu berguling secara berulang. "Aku bisa gila!"
Dia bangkit kembali lalu berdiri di dekat jendela untuk menghirup udara yang segar. Sambil dia mengeringkan rambutnya yang basah dengan memanfaatkan angin malam yang terus menyentuh helai rambut tebal Larrisa.
Saat dia tengah asik mengibaskan rambutnya itu, tiba-tiba perutnya mulai bergemuruh meminta asupan. Dia lapar hingga suara itu berbunyi keras.
Terakhir kali, dia hanya makan pagi tadi bersama Eliot. Seterusnya dia tertidur dan tak ada yang masuk ke dalam perutnya. Untungnya saja dia lahap makan di pagi hari, kalau tidak tidurnya pun tak akan senyaman siang tadi.
Tidak bisa menahankan lapar di perutnya. Larrisa turun ke bawah melihat isi kulkas atau sesuatu yang dapat dimakannya untuk mengganjal perut. Dia tak ingin jika sampai Eliot melihat dirinya. Dia tak ingin bertemu dengan pria itu karena masih merasa malu perihal kejadian baru saja.
Pelan-pelan dia menutup pintu kamarnya lalu berjalan dengan hati-hati ke dapur tanpa menghidupkan lampu yang sudah dipadamkan. Dia meraba-raba jalan karena memang tak ada pencahayaan sama sekali.
Sesuai usaha dan kerja kerasnya berjalan ke dapur, sampailah dia. Langsung Larrisa membuka kulkas dan melihat isinya.
"Kenapa tidak ada apa pun di sini?" umpatnya kesal. Hanya ada beberapa minuman soda dan juga sayuran di dalam sana. Untungnya ada satu papan telur ayam di kulkas itu. "Setidaknya ada mie instan juga," tambahnya terus mengumpat. Dia memang banyak mengoceh ketika sedang lapar. Terus menggerutu adalah kebiasaannya.
Dia berjalan ke rak dapur melihat sisa makanan pagi tadi. Tapi karena gelap gulita, Larrisa terpaksa harus menghidupkan lampu dapur. Meski dia takut jika Eliot sampai tahu, terpaksa ia harus menghidupkan lampu demi perutnya yang hampir kempes karena kelaparan.
Tek!
Bunyi stop contact lampu. Seisi dapur langsung terang benderang dan Larrisa dapat melihat sekeliling dengan jelas.
"Begini kan jadi terang," ucapnya dengan bangga. "Astaga!" Dia terkejut setengah mati. Antara ketakutan dan panik. Jantungnya hampir copot melihat Eliot sedang duduk di kursi meja makan dengan botol minuman soda di tangannya. Tampak pria itu sudah lama berada di sana, dilihat dari beberapa botol minuman kosong di depannya.
"Apa yang kau lakukan?!" Larrisa mengelus dadanya sambil berucap syukur ternyata yang ada di sana adalah Eliot. Dia sudah khawatir jika sosok hantu berada di sana.
"Harusnya aku yang bertanya begitu," balas Eliot yang tetap lanjut meminun botol kaleng di genggamannya.
"A-Aku cuma cari makanan. Lalu kau sedang apa di sini?"
"Kau tidak lihat?"
Larrisa terdiam mendengar jawaban Eliot. Memang tak salah dengan sahutannya, tapi setidaknya Eliot menjawab dengan lembut. Hingga Larrisa kembali mengumpat dalam hati," Cih, tidak mungkin dia menyukaiku."
Larrisa membuang muka dan berbalik membelakangi Eliot. Dia membuka rak makan dapur dan mencari makanan di sana.
"Apa tidak ada makanan?" tanya Larrisa tanpa menoleh ke belakang. Dia terus melihat seisi rak mencari seuatu yang dapat ia makan.
Tidak ada sahutan dari Eliot. Larrisa kembali jengkel dengan sikap pria itu." Apa susahnya menjawab?" gerutu Larrisa sambil menyudutkan sisi bibirnya sebelah.
Dia menghidupkan kompor mulai untuk menggoreng telur ayam. Perutnya sudah sangat lapar, dia tak punya tenaga lagi untuk memasak makanan yang lebih enak. Dia butuh sesuatu yang instan.
Ketika tangannya baru memasukkan mentega ke dalam teflon, Eliot merenggut gagang teflon itu lalu menyuruh Larrisa meminggir dengan isyarat tangannya.
"A-Apa yang kau lakukan?" tanya Larrisa Keheranan.
"Duduk sana!" perintah Eliot dengan satu kata.
Larrisa hanya menurut pada Eliot, tak banyak bicara, dia langsung duduk dengan tertib di atas kursi. Dia hanya diam memperhatikan Eliot dari belakang. Meski hanya punggung yang dapat dia lihat, namun ketampanan Eliot masih tetap terpancar.
"Uh, kenapa dengan kepalaku?" Larrisa memukul dahinya lalu menggelengkan kepalanya. Sejak tadi isi kepalanya hanya Eliot, dia hampir frustasi karena pria itu.
Larrisa sudah lama menunggu sampai dia bosan karena tidak ada kerjaan. Dia typical orang yang aktif, tak bisa diam dan harus terus bergerak. Akhirnya dia inisiatif ingin membantu Eliot.
"Ada yang bisa kubantu?" tanya Larrisa dengan suara yang terdengar sengau.
Tapi Eliot tak menjawab. Seperti biasanya, dia sangat cuek dan acuh. Hal itu memaksa Larrisa untuk berdiri dari kursinya untuk mendekati Eliot.
Dia tak masalah jika harus menunggu dan diam di kursi selama apa pun itu, tapi setidaknya ada percakapan diantara mereka. Sungguh suasana begitu senyap dan canggung, ditambah lagi karena Larrisa sudah begitu bosan.
"Mau ku bantu?" tanya Larrisa yang tepat berdiri di samping Eliot.
Pria itu melirii Larrisa. "Duduk sana! Kau hanya membuat ku susah saja," suruh Eliot.
Dengan muka masam merengut, Larrisa berjalan dengan kekesalan yang terus ditahannya. Dia kembali duduk dan menunggu Eliot selesai dengan pekerjaan itu.
Dia sampai menopang dagunya dan mengangkat kakinya sebelah ke atas kursi. Larrisa menidurkan kepalanya ke atas meja, dan terus bergerak tanpa henti. Dia tak bisa diam sama sekali.
"Kapan kita akan pulang?" Larrisa mencoba mengurangi kebosanannya. Meski tak ada sahutan dari Eliot, Larrisa terus berbicara." Bosan sekali. Aku sudah rindu rumahku." Katanya random. "Aku merasa waktu sangat lama berputar. Rasanya sudah hampir sebulan tinggal di sini." Lagi-lagi Larrisa mencoba mengajak Eliot berbicara." Hey, Eliot! Apa masih lama? Aku sudah lapar. Bisa tidak dipercepat. Aku hampir mati," sambungnya. "Ngomong-ngomong kau tidak ada kerja? Kenapa rela dua hari libur di sini? Padahal aku dengar kau ini gila kerja. Memang sangat mirip dengan kuda."
Tek!
Api kompor mati setelah sekian lama hidup. Artinya Eliot sudah selesai dengan masakannya.
Pria itu langsung menghidangkan di atas meja.
"Kau berisik," kata Eliot menyumbat mulut Larrisa yang tidak bisa dia dari tadi.
Larrisa tidak peduli dengan hinaan Eliot, dia sudah tergila-gila dengan teflon yang dibawakan oleh Eliot. Sangat wangi dan menggugah selera. Dia sampai menelan ludah karena melihat masakan itu.
"Wah hot plate!" Larrisa langsung mengambil sendok dan garpu untuk menyantap masakan itu.
Tak ragu-ragu, Larrisa menyulangkan masakan itu dengan hanya meniup tiga kali, dia mengunyah tanpa tahu bahwa masakan itu baru masak dan sangat panas.
"Tu…." Baru saja ingin mengingatkan, Larrisa sudah lebih dulu memasukkan masakan tersebut ke dalam mulutnya. "Tunggu dingin baru makan," nada menurun keluar dari bibir Eliot.
"Anas( panas)!" Larrisa berlari ke wastafel untuk memuntahkan isi mulutnya. Dia menghidupkan keran air lalu mengalirkannya langsung ke arah lidahnya. Lidahnya terbakar masakan hot plate buatan Eliot.
Bukannya tidak sabaran, tapi dia sudah sangat lapar. Dia tak bisa menunggu hingga hot plate itu mendingin. Toh lagian hari cukup dingin, Larrisa kira akan berpengaruh pada indra pengecapnya.
Tiba-tiba tangan Larrisa ditarik oleh Eliot, dan membalik badannya hingga berhadapan dengan pria bertubuh tinggi itu. Eliot mengernyitkan dahinya sembari memegang kedua pipi Larrisa. Dia menunduk sedikit lalu dengan fokus melihat lidah Larrisa.
"Ulurkan lagi!" suruh Eliot dengan suara pelan karena terlalu fokus melihat kondisi lidah Larrisa.
Bodohnya saat itu Larrisa malah mengikuti perintah Eliot. Dia menjulurkan lidahnya dan membiarkan pria itu melihat dengan jarak sedekat itu. Larrisa juga pada saat itu tengah heboh dengan lidahnya yang terbakar, dia murni tak memikirkan hal apa pun selain daripada lidahnya yang hampir gosong.
"Lain kali hati-hati. Kenapa kau bodoh sekali?" Eliot tampak emosi tapi dengan nada cemas. Tampak wajahnya panik tak karuan ketika gadis itu berlari sambil menjerit kepanasan karena hot plate panas itu.
"Aku juga tidak tahu, jangan memarahiku," jawab Larrisa membela diri. Dia menepiskan tangan Eliot lalu duduk kembali ke kursinya. Lidahnya sudah tidak apa-apa setelah tangan hangat Eliot menyentuh wajahnya. Sempat hatinya tergerak, tapi langsung dicegatnya.
"Tunggu dingin dulu," nasehat Eliot yang juga ikut duduk di kursi.
"Aku tahu," balasnya judes.
Dengan hati-hati, Larrisa meniup masakan itu setiap kali ingin memasukkan ke dalam mulutnya. Sungguh dia tak ingin mengalami hal yang sama dua kali. Lidahnya benar-benar panas saat itu, membayangkan saja dia sudah minta ampun. Dia setidaknya terkena karma karena terus mengoceh pada Eliot. Akhirnya lidahnya langsung terkena hukuman instan.
Selepas semua disantap oleh Larrisa, barulah dia merasa mengantuk. Jam sudah menunjuk angka tiga pagi. Waktu terasa cepat berlalu malam itu. Hingga tak sadar bahwa dia berjalan menuju kamarnya lalu melepaskan penat di atas ranjang.
Setelah dia tertidur, tak ada satu pun yang dia ingat lagi. Ketika badannya berbaring, matanya sudah langsung tertutup dan pulas dalam mimpinya.
***
Keesokan harinya, hari berjalan dengan mulus. Tak ada pertengkaran antara Larrisa dan Eliot. Mereka tampak damai karena sibuk dengan kegiatan masing-masing.
Eliot kala itu bersama Dion, managernya melalui telepon mengurusi pekerjaan perusahaan yang tak dapat ditinggalkan. Jika pria itu tak menganggu Larrisa, dijamin dunia gadis itu akan baik-baik saja.
Ketika siang tatkala matahari sedang terik teriknya. Mobil sedan berwarna hitam mewah menjemput keduanya setelah dua hari membiarkan mereka di villa hanya berdua. Sungguh akhir dari penderitaan Larrisa telah selesai. Setidaknya dia tak perlu melihat keberadaan Eliot. Betapa lega hatinya, sampai dia sedikit menari kecil ketika mobil sedan tersebut membunyikan klaksonnya.
"Akhirnya!" decak lega Larrisa dengan senyum lebar tak pernah luput. Dia menyandarkan badannya di kursi mobil dengan bangganya. Senyumnya begitu khas seolah baru saja keluar dari penjara.
Berbeda dengan Eliot. Wajahnya teramat kusut tak enak dipandang mata. Dahinya berkerut dan matanya begitu tajam. Dia tidak memandangi siapapun sejak tadi. Tangannya terus sibuk mengutak-atik laptop yang sengaja dibawanya sebelum ke villa. Tampaknya dia telah memprediksi kekacauan yang terjadi selama dia tak ada di perusahaan.
"Tidak peduli, yang penting aku pulang," ucap Larrisa dalam benak dengan egois. Dia sangat riang gembira. Mulai dari mobil berangkat hingga hampir tiba di halaman rumahnya, Larrisa terus bersenandung dan sejenak bernyanyi dengan suara kecil. Meski dia tahu bahwa Eliot terganggu dengan suara itu, dia tetap bersenandung, bahkan sengaja mengeraskan suaranya semakin mengganggu pria yang sedang dipenuhi kabut itu. "Rasakan, cih, harusnya karyawanmu resign semua biar kau tahu rasa," sumpah kotor Larrisa dengan hati yang dengki. Meski dengan suara yang pelan, mulutnya sudah keterlaluan.
Tidak lama, sampailah dia ke halaman rumahnya.
"Sampai sini saja!" perintah Eliot kepada supir yang membawa mereka. Dia menyuruh supir itu berhenti tepat di depan pagar rumah Larrisa. Entah apa maksud dan tujuannya bertindak begitu, namun wajahnya sangat menjengkelkan hingga Larrisa geram ingin mencabik mulut pedas pria itu.
"Aku turun di sini saja, Pak," balas Larrisa menerima perkataan tak sedap Eliot. Dia tersenyum meski hatinya kesal. Turun dengan anggun berusaha tak menunjukkan amarahnya pada Eliot. "Terima kasih, Pak," lambai Larrisa dengan ramah pada supir itu.
Ketika pintu sudah di tutupnya. Larrisa mengetuk kaca mobil itu dan menunduk sedikit. Dia mengisyaratkan agar Eliot menurunkan kaca mobil sedan tersebut.
Dengan tatapan tidak peduli, Eliot membukanya. Meski tangannya sangat malas untuk menekan tombol otomatis menurunkan kaca mobil tersebut.
"Kalau sudah menyerah dengan perusahaanmu, kau bisa membuka bisnis baru denganku. Tampaknya pria pekerja keras sepertimu sangat cocok diajak banting tulang," kata Larrisa mengejek Eliot. "Menjadi kuda untukku, bagaimana?" tambahnya lagi.
Eliot dengan acuh menyuruh supir untuk jalan. "Ide bagus." Dia langsung menaikkan kaca mobil itu. Ekspresinya sangat datar, seolah dinding tebal membentengi wajahnya. Dia tak terkecoh dengan perkataan Larrisa.
Melihat mobil itu bergerak menjauh Larrisa merasa gagal karena tak berhasil membuat Eliot merasa direndahkan. Padahal dia sudah berharap pria itu membencinys atau sekedar memarahinya. Ternyata dugaannya salah. Entah mengapa hari ini Eliot sangat cuek dan tak peduli dengan sekitarnya. Larrisa menjadi kesal meski dia tak tahu mengapa dia kesal dengan sikap Eliot.
"Kita lihat sampai kapan kau akan bertahan dengan gadis liar ini," ungkap Larrisa dengan senyum licik.