Cahaya Rembulan

2084 Words
Larrisa terus membayangkan bahagia hidupnya sebelum bertemu dengan b******n gila yang sudah memaksanya untuk bersandiwara menerima perjodohan ayahnya. Rasanya ingin menangis sekaligus murka. Bercampur menjadi benalu dalam hatinya. Tak payah baginya menerima takdir itu. Hanya saja jika pria yang dihadapinya seperti Eliot William. Dia angkat tangan. Pria mana yang belum dia taklukkan. Dia berhasil membuat banyak pria ketir dengan keangkuhannya, namun berhadapan dengan Eliot, dia menciut tak berdaya, dan malah sering ditindas. Banyak kekesalan yang tak dapat dia balaskan. Sejak awal hingga hari ini, Larrisa telah menumpuk kekesalan pada Eliot. Sudah dia lontarkan, dan diungkapkan seluruhnya langsung pada Eliot, tapi apa akhirnya? Yang kalah tetap dirinya, dia selalu kalah beradu dengan pria itu. Bahkan yang paling parah, pria itu dua kali lipat menyiksa batin Larrisa. Sekarang ini, kekesalannya semakin bertambah ketika Eliot dengan lancang menggantikan pakaiannya. Sungguh dia tak bisa membayangkan bagaimana pria itu membuka bajunya, lalu memasangkan dengan pakaian lain. Siapa yang akan tahu jika dia berbuat sesuatu yang menyimpang. Keadaannya begitu mendukung. Hanya ada mereka berdua di villa besar, dan jauh dari perkotaan. Belum lagi Larrisa tengah tertidur. Tak ada yang menjamin tangan pria itu mulus hanya mengganti pakaiannya. Yang membuat Larrisa bingung adalah mengapa Eliot dengan gratil menggantikan pakaiannya? Jika dipikirkan secara logis alasan Eliot tidak masuk akal. Jika dia risih melihat Larrisa, dia bisa saja memindahkan Larrisa. "Aku curiga padanya," gumam Larrisa dengan pipi merah merona tak padam padam. Kepala Larrisa tak henti membayangkan malam itu. Asumsi kotornya bermunculan. Seolah dugaannya adalah kenyataan malam menjengkelkan. Dia terbayang bahwa ketika membuka pakaian yang dikenakan Larrisa, Eliot berwajah m***m dan dengan mata lebar memandangi lekuk tubuhnya. Bayangannya kembali ditambah dengan lidah terjuntai bersama dengan air liur yang menetes. "Argh!" Larrisa menggaruk kepalanya karena pikiran gila itu terus-menerus meneror dirinya. "Eliot, katakan yang jujur. Aku hampir gila sekarang ini," pinta Larrisa merasa tersiksa. Eliot diam berusaha tak bergidik melihat gadis itu. "Hmm?" Larrisa menarik nafas dalam-dalam. Dia mengepalkan tangannya dan menutup matanya sebelum membuka suara. "Kau tidak m*****i ku, kan?" Dia berdiri menahan malu telah mengatakan pertanyaan bodoh itu. Eliot tertawa. Dia begitu puas hingga tak sadar senyum mempesona terpancar dari wajah tampannya. Dia tak hentinya tergelitik mendengar pertanyaan yang tampak menuduh itu. Sampai tiba-tiba dia berhenti dan wajahnya secepat kilat berubah kaku dan datar. Bahkan perubahan milik wajahnya lebih cepat dari kedipan mata. "Kau bercanda?" Larrisa terdiam. Dia semakin memanas karena reaksi Eliot yang secara langsung telah menghina dirinya. Tawa itu membuat Larrisa down dan jatuh hingga ke dasar. "Kau memang kurang ajar! Bagimana aku harus menjalani hidupku jika terus melihatmu! Aku sudah capek, aku mohon berhenti!" ucap Larrisa dengan pasrah. Dia sudah tak tahan lagi. Dia benar-benar menyesal karena di awal telah menghina pria itu. Tak seharusnya dia berurusan dengan Eliot. Karena di ujung cerita, yang menjadi tawanan adalah dirinya. "Aku akan menjalankan semua sesuai isi kontrak itu. Namun aku juga memohon, untuk tidak berurusan satu sama lain di luar dari kepentingan kontrak." Larrisa pergi begitu saja dengan wajah murung. Eliot sedikit terketuk. Hatinya tergerak ingin menenangkan gadis tersebut. Hanya saja dia menahan niatannya. Benaknya merasa bersalah karena terlalu menindas gadis itu. Jika ditanya mengapa Eliot nekat menggantikan pakaian Larrisa adalah murni karena dia hanya ingin agar gadis itu tidur dengan nyenyak dan nyaman. Dia pun tidak tahu mengapa dia bisa berpikir begitu, karena dalam hatinya dengan sendirinya menginginkan hal itu. Eliot tak berpikiran kotor sama sekali. Dia juga tak sedang membalas gadis itu karena telah tega menunjang dirinya dari ranjang. "Apa aku sudah keterlaluan?" tanyanya pada diri sendiri. Dia membereskan meja sekalian mencuci semua perabotan yang kotor. Dia risih dengan kondisi yang tidak rapi. Setelah itu dia menata beberapa konsep ruangan karena merasa janggal ketika memandang. *** Sejak kejadian itu, Larrisa terus mengurung dirinya di dalam kamar dan tak kunjung keluar. Seperti perangai dan kebiasaannya, ketika sedang sedih atau merajuk, dia akan mengurung diri dalam penjara buatannya. Matahari sudah terbenam, bahkan malam mulai menyapa. Detik jam terus berputar menyambut indahnya cahata rembulan. Awan semakin menghitam, tapi Larrisa tak juga kunjung keluar dari kamarnya. Eliot merasa ada yang aneh. Walaupun enggan melakukannya, karena takut dinilai baik oleh gadis itu. Eliot mendekati pintu kamar tempat Larrisa tertidur. Dia mencoba mendengarkan suara dari balik pintu itu, meraba pergerakan di dalam sana. Eliot tak mendengar apa pun, dia hanya membayangkan kesunyian dari balik kamar itu. Begitu tenang, hingga khawatir timbul di benaknya. "Larrisa!" panggilnya dari luar sambil mengetuk pintu dengan lembut. Berulang kali dia memanggil tapi tak ada sahutan dari dalam sana. Dia mencoba membuka dengan mendorong pintu, sayangnya terkunci. "Larrisa!" panggilnya sekali lagi. Eliot semakin cemas. Dia mengambil kunci cadangan kamar itu yang sebelumnya sudah disisihkan untuknya oleh kakeknya. Kemudian dia membuka pintu kamar Larrisa tanpa persetujuan gadis itu. Meski dia tahu Larrisa akan sedikit marah dengan kelancangannya, dia tetap menerobos masuk karena risau menyesak dadanya. Trek! Dia berhasil masuk dengan mudah. Ketika melihat gadis itu, tak satu pun yang perlu dikhawatirkan. Larrisa tengah tertidur pulas dengan selimut tebal yang membungkus badannya dan menyisakan kepalanya saja. Eliot mendekat. Dia mencoba menyentuh gadis itu untuk memeriksa keadannya. Dia berdiri tepat searah dengan wajah gadis itu. Dia memegang kening Larrisa mencoba mengukur suhu tubuh gadis itu. Tak ada yang aneh sama sekali. Dia tak demam, juga masih bernafas normal. Tapi sejak tadi tak terdengar suara riuh dari dalam. Eliot membuka selimut itu, dan melihat bahwa pakaian Larrisa masih sama seperti yang dikenakan sebelumnya. Gadis itu tak mandi sama sekali, atau bahkan mengganti pakaian. Dia begitu pemalas dan jorok. Bahkan rambutnya tak disisirnya sejak kejadian tadi. Matanya masih terlihat bengkak dan sembab. Hidungnya merah karena terlalu lama menangis. Untungnya nada dan ketukan nadinya normal. Setidaknya keadannya sedang baik-baik saja. "Kau luar biasa," decak Eliot kagum melihat gadis itu dapat tertidur selama itu dengan kondisi tak mandi sama sekali. Eliot baru kali ini menemukan manusia selangka Larrisa, dia tak menduga bahwa masih ada wanita yang sanggup hidup seperti cara Larrisa itu. "Pantas tidak ada yang mau denganmu," tambah Eliot mengejek Larrisa. Eliot kembali menutup tubuh Larrisa kembali, dan membiarkan gadis itu tertidur. Dia mengambilkan air segelas untuk gadis itu, dan meletakkannya di atas rak meja kecil samping gadis itu. "Sampai kapan dia akan tidur?" benaknya bertanya. Eliot dengan penasaran mendekatkan wajahnya ke wajah Larrisa. Dia memandangi gadis itu dengan dalam. Sampai tak sadar bahwa dia sudah melampaui batas. Jarinya mengusap wajah mungil gadis itu, dan menyapunya dengan lembut. Tak sampai disitu saja, perlahan tangannya mulai membelai kepala gadis itu dan tak sadar tersenyum dengan sendirinya. Tak sengaja matanya menoleh ke arah bibir penuh berisi milik Larrisa dan terhenti sejenak memandanginya. Dengan sengaja dia menyentuh bibir gadis itu lalu menikmati betapa lembutnya bibir indah yang dilapis sisa lipstik setengah luntur itu. "Cantik," ucapnya sambil tersenyum. Tak pernah sekalipun dia merasakan gejolak sehebat yang dia alami sekarang ini. Hatinya bergetar terus-menerus ketika melihat gadis itu. Meksi banyak sisi buruk dari gadis itu yang menurut Eliot tak sesuai dengannya, dia malah menyukai hal itu. Tak ingin mengganggu Larrisa, Eliot meninggalkan gadis itu, dan membiarkan Larrisa beristirahat. *** Jam suduh menunjuk pukul sepuluh malam. Angin kala itu terasa dingin sekaligus sejuk meniup rambut tebal hitam milik Eliot, dia tengah berdiri di depan balkon kamarnya sembari memandangi jalan sepi yang dipagari rumput hijau yang menjulang tinggi dan bunga mekar warna-warni. Dia begitu menikmati dinginnya bulan penuh dengan secangkir kopi panas di sebelahnya. Matanya yang indah itu berlabuh jauh hingga menjumpai gadis dengan pakaian tipis terkibas deruhnya angin. Rambutnya teriris gaduh dibawa angin yang sedang melintas. Dia larrisa, tengah berdiri di pinggir kolam sembari menatap bulan yang sama dengan Eliot. Mereka menikmati malam yang sama di tempat yang berbeda, namun di waktu yang sama pula. Sayangnya, Eliot berhenti memandang langit gelap dan menoleh ke arah yang sejajar dengan bulan. Ada seorang gadis yang mengalahkan panorama bulan, bahkan bintang yang bersinar saat itu malu ketika Eliot berhenti memandang mereka. Eliot menggenggam pagar besi yang melingkar membatasi balkon kamarnya. Dia memusatkan perhatian dan manik hitamnya pada Larrisa. Dia tersenyum tipis sambil memandangi kibasan hasil tiupan angin di atas pakaian gadis itu. "Belum ganti baju juga?" Eliot tersenyum. Tak lama setelah itu, Larrisa merasakan bahwa ada seseorang yang sedang memperhatikan dirinya sejak tadi. Dia menoleh ke kanan dan kiri tapi tak melihat apa pun. Kemudian dia berbalik ke belakang dan mendapati Eliot sudah berdiri di sana, tepat di belakang punggungnya. Entah sejak kapan pria itu berdiri di sana, sejak tadi tak seorang pun berada di sekitarnya. Namun tiba-tiba saja pria itu sudah berdiri dengan sebelah tangan masuk ke dalam saku celana. Dia terkejut hingga tersentak. Sedikit posisinya berpindah karena terlalu kaget melihat keberadaan Eliot. "Se-Sejak kapan kau di situ?" tanya Larrisa sambil menepuk dadanya. "Sedang apa kau?" tanya Eliot mengalihkan pertanyaan. "Bukan urusanmu," jawabnya ketus. Larrisa langsung membuang mukanya dan berjalan menjauh dari Eliot. Dia duduk di atas ayunan kayu karena tak senang dengan kedatangan Eliot. Meski tak disambut hangat oleh Larrisa, Eliot masih tetap berada di sana tanpa terusik dengan wajah Larrisa yang terus merengut. "Kenapa kau masih di sini?" tanya Larrisa lagi. Dia tidak dapat menikmati pemandangan malam karena ada Eliot di tempat. "Kau keberatan?" "Tentu saja!" sahut Larrisa dengan nada tinggi karena kesal. Eliot menyeringai. Dia mendekat dan duduk di samping Larrisa, bersama di atas ayunan kayu panjang itu. Dia lurus menatap sejajar dengan tatapan Larrisa. Ternyata pemandangan dari titik ini lebih terlihat cantik dan memuaskan. Larrisa menggeser duduknya, menjauh dari Eliot. "Karena ini villa mu, kau berhak mengusir ku," kata Eliot dengan pandangan mata lurus menatap sang rembulan. "Kenapa belum tidur?" tanyanya. "A-Aku tidak bisa tidur," jawab Larrisa. Eliot melirik Larrisa dari ujung kaki hingga rambut gadis itu. Sampai Larrisa makin risih dan menutup badannya dengan tangan yang di silangkan. Dia meminggirkan tubuhnya hingga ke sudut ayunan. "Apa yang kau lihat?" Larrisa khawatir. Dia tidak tahu apa yang sedang dipikirkan pria itu. Dia harus berhati-hati, menjaga diri dari pemangsa di sampingnya. "Ck," decak Eliot sesudah puas melirik Larrisa dengan tajam. "Makanya mandi!" sorak Eliot ke dekat telinga Larrisa. Spontan tangan Larrisa memukul wajah Eliot. "Ups!" Larrisa menutup mulutnya. Dia sontak kaget karena tangannya yang lancang itu mengenai wajah Eliot yang mulus. Dia tak sadar melakukannya, tangannya dengan lantang bergerak ke arah sana, tanpa kendali darinya. Dia terbiasa melakukannya sehingga terbawa-bawa. Semuanya diam. Eliot masih menutup matanya mencoba meredam amarah yang sudah memuncak. Dia menarik nafas panjang, menahannya hingga amarahnya redam. Lalu dia menoleh ke menatap Larrisa dengan wajah dingin kaku, dan tentu saja berekspresi garang. "Maaf, aku tidak sengaja." Larrisa merengis merasa bersalah. Dia memelas belas kasih dari Eliot. Berulang kali dia meminta maaf dan menjelaskan bahwa dia tak sengaja melakukannya. Eliot dengan muka dipenuhi amarah, mencengkram dagu Larrisa pelan lalu menariknya hingga tepat di dekat wajahnya. Dia memandangi wajah gadis itu dengan mata dingin itu, lalu mendengarkan nafas Larrisa yang memburu. Dia menyeringai tipis hingga Larrisa merinding melihat senyuman itu. Tidak ada kata-kata yang terlontar dari mulut Larrisa. Dia hanya diam dengan mata yang terbuka lebar, sembari berharap bahwa nyawanya tidak akan habis di tangan Eliot. Di bawah sinar rembulan yang penuh dengan gemercik aingin berhembus, Eliot dengan lembut menjatuhkan ciuman indahnya kepada Larrisa. Dia menutup matanya menikmati alunan daun yang bergoyang. Perlahan tangannya menggenggam tangan gadis itu, dan menikmati jari-jemari yang terasa bergetar. Dia menikmati tiupan nafas gadis itu. Merasakan aliran darah yang terus menjalar ke setiap pembuluh darahnya. Tak henti dia melumat bibir gadis itu, hingga tak sadar bahwa dia menginginkan sesuatu yang lebih bersama gadis itu. Dia menikmati betapa lembut bibir itu, dia menikmati sentuhan dingin dari tangan gadis itu, dan dia juga menikmati hembusan nafas yang sangat terburu-buru dari gadis itu. Ketika dia hampir melewati batasnya, Eliot langsung membuka matanya. Dia menatap lembut lingkaran mata Larrisa yang sejak tadi tak berkedip sama sekali. Dia tanpa rasa tahu malu langsung berdiri dengan wajah tidak menyesal sama sekali. Dengan bangga dia tersenyum lebar ke arah Larrisa. "Habis ini kau mandi. Badanmu bau sekali," katanya dengan nakal. Dia berjalan meninggalkan tempat itu dan dengan senyum yang tak kunjung luntur dari wajahnya. Larrisa yang masih kaku melihat Eliot, masih duduk diam seolah jiwanya telah hilang. Dia dengan tatapan kosongnya kembali teringat dengan Eliot. Dia menyentuh bibirnya, dalam hati dia bertanya," Apa yang terjadi? Ada apa dengan senyuman itu?" Larrisa membenturkan kepalanya pelan ke tiang ayunan kayu itu. Kembali ia teringat dengan kalimat terakhir yang di lontarkan Eliot. Dia mengangkat kedua tangannya, lalu mencium ketiaknya satu persatu secara bergantian. Ternyata memang benar, dia sedikit bau. Mungkin karena keringat yang mengendap ketika tidur tadi. Dia langsung berlari ke arah kamar mandi untuk membenahi dirinya. Betapa malu Larrisa karena cemoohan nyata dari mulut Eliot.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD