Piyama

2024 Words
Cahaya mentari yang begitu hangat memancar sinar dan menyeruak masuk melalui ventilasi kamar dari balik dinding villa mewah itu. Larrisa terbangun dari lelapnya malam yang sejak tubuhnya berbaring ditemani kapas kasur lembut dan nyaman. Dia membuka matanya yang bulat berbarengan dengan mulut terbuka lebar karena menguap. Dia langsung bangkit dari tidurnya sambil meregangkan tubuhnya yang ramping. Dia menoleh ke sisi kiri, hendak melihat penampakan Eliot bekas tunjangan kakinya malam itu. Dia ingin menikmati pemandangan menyedihkan dari pria angkuh itu. Saat mata hitam itu sampai menoleh hingga ke lantai, tak ada apa pun di tempat. Seingatnya pria itu jatuh tepat di sisi ranjang. Larrisa turun dari atas kasur itu lalu memeriksa ke bawah kasur, memastikan keberadaan pria itu. Dengan jelas dia melihat Eliot berada di bawah. Tidak mungkin pria itu pindah, mengingat betapa pulasnya Eliot tidur malam itu. Larrisa melihat jam dinding yang tergantung di sisi dinding, dan melihat angka jarum tepat pukul enam pagi. "Tidak mungkin dia sudah bangun," decak Larrisa meyakinkan diri. Hanya mereka berdua yang menempati villa indah itu, namun sejak pagi bahkan sebelum dia terbangun, dia sudah mendengar suara berisik dari arah dapur. Tentunya bukan pelayan yang sibuk dari tadi. Gadis yang dipenuhi banyak tanya dan rasa penasaran, langsung melangkah ke arah dapur, tanpa membasuh wajah terlebih dahulu, atau hanya sekedar ber kumur-kumur pun tidak. Rambut bekas ikatan model ponytail semalam itu berbekas hingga sangat kusut. Sungguh dia tak sedap dipandang mata. Sesampainya di dapur, Larrisa sudah dihidangkan pemandangan yang menyejukkan mata. Dia terpaku sejenak menikmati wajah tampan Eliot yang tengah mengutak-atik teflon berwarna abu-abu. Badannya yang tinggi dan kokoh begitu menggemaskan dengan celemek kotak-kotak berwarna abu-abu pula. Celemek itu tampak pendek saat dikenakannya, karena tinggi badannya yang terlalu ideal. Tangannya tampak lihai mengayunkan gagang teflon dan sebelahnya lagi menggenggam sendok goreng. Wajah Larrisa terasa panas dan memerah karena terlalu lama memandangi sosok pria tampan di pagi hari. Jika terus begini, dia akan terlena dan jatuh hati pada Eliot. Untungnya dia segera tersadar. Mengingat bagaimana pria itu mencekam dirinya dan telah lancang merebut ciuman pertamanya. Batinnya terus bertarung. Terkadang dia sudah merasa kagum dan sesaat kemudian merasa kesal. Bagai dua karakter berbeda membisik secara berganti di telinga gadis itu. "Sampai kapan kau berdiri di situ?" Eliot mengetahui kedatangan Larrisa meski tak menoleh ke arah gadis itu. Tak! Mata Larrisa beralih secepat kilat menjauhi pemandangan yang sejak tadi dia nikmati. Dia mendeham meski tak terjadi apa pun pada tenggorokannya. Mengeluarkan suara batuk kecil berulang kali karena merasa gugup sudah tertangkap basah memandang Eliot. "Ekhem." Larrisa berjalan pelan tidak tahu arah. Dia berputar-putar sangking gugupnya. "Ngomong-ngomong kamu sedang apa?" tanya Larrisa sembarang. "Tidak lihat?" Eliot menunjuk teflon dengan sendok hingga berbunyi suara denting sekali. "I-Iya." Larrisa terdiam. Dia tak berkutik tak tahu harus melakukan apa. Suasana cukup canggung dan tegang. Belum lagi karena kejadian malam itu, membuat dia malu menatap pria itu. Sifatnya yang penakut telah ditampilkannya dihadapan musuh. Sungguh Larrisa tak sanggup membayangkan tanggapan Eliot terhadapnya. Sudah cukup lama suasana itu mencekam, Eliot membuka mulutnya sembari meletakkan hasil masakannya di atas meja makan, lalu kemudian membuka celemek yang diikatkan di pinggangnya. Eliot menarik kursi itu lalu duduk hendak menikmati hidangan masakannya sendiri. Tak lupa dia juga menatap Larrisa dengan niat untuk mengajak. Namun melihat tampilan Larrisa, dia sedikit ragu untuk mengajak makan bersama di meja yang sama. Dia berpikir dua kali. "Kau tidak berniat merapikan rambut itu?" Eliot menatap sinis keadaan Larrisa yang begitu gaduh. Larrisa menyibakkan rambut panjangnya, lalu memperbaiki ikatan yang hampir lepas dari rambutnya. Dia menggulung rapi rambutnya, hingga sebuah celah memperlihatkan tengkuk gadis itu. Glek! Eliot menelan ludah melihat cara gadis itu mengikut rambut. Dia berselera saat menatap tengkuk leher putih mulus dan sedikit menggoda itu. Entah mengapa dia teramat tertarik dengan Larrisa. Mulai dari sikap, wajah, tubuh, bahkan setiap kata yang keluar dari mulut gadis itu, dia menyukainya. Hingga dia tak ingin melewatkan satu kesempatan pun untuk dekat dengan gadis itu. Meski dia tak tahu mengapa hal itu terjadi, Eliot tetap mengikuti kehendak hatinya, dan melakukan apa pun yang membuat dia merasa puas. Dia tak sadar bahwa semakin dia memperhatikan gadis itu, semakin ingin pula Eliot untuk lebih dekat dengan Larrisa. "Badanku sangat sakit," ungkap Eliot mengeluh, walau wajahnya masih tetap datar dan kaku. Tak berekspresi sama sekali. Bahkan terlihat sedang menyindir Larrisa. "Ya? Ke-Kenapa menatapku begitu?" Larriss mengalihkan pandangannya. Dia sadar bahwa Eliot bisa sampai merasa pegal karena ulahnya. Terdengar malam itu, suara hentakan tubuh Eliot begitu keras. Bahkan sampai Larrisa merasakan betapa sakitnya jatuh dari atas ranjang. "Tadi malam seseorang mendorongku tanpa perasaan dari ranjangju sendiri. Sangat lucu, aku ingin sekali memotong kaki yang sudah berani menunjang ku." Eliot mengeraskan rahangnya dan melemparkan tatapan mematikan pada Larrisa. Bibirnya tampak mayun ke depan karena kesal sembari menyipitkan kelopak matanya yang indah. Larrisa terdiam. Dia tak menyangka bahwa Eliot menyadari perbuatannya malam itu. Padahal jelas-jelas dia sudah memastikan Eliot tertidur cukup pulas. "Hahaha… mungkin kau mimpi buruk, makanya sampai jatuh dari ranjang sendiri." Larrisa tertawa canggung untuk menghindari tuduhan. "Aku tidak mungkin berani melakukannya," tambahnya berbohong. "Tentu saja kau tidak berani," sambung Eliot. Dia menatap Larrisa tanpa berkedip sama sekali. "Anehnya, ketika bangun, badanku sudah diselimuti. Tentu saja bukan kau yang menyelimuti. Kau tengah tidur," katanya lagi. "Karena kau tidak pakai selimut dan kelihatannya kedinginan, aku dengan inisiatif menggantikan dress mu dengan piyama hangat." Lantas Larrisa langsung melihat pakaiannya. Dia mendapati tubuhnya sudah mengenakan piyama tipis dan hampir menerawang. Untungnya saja menutupi hingga tulang keringnya, hingga sedikit badannya tertutupi. Dia kaget tak bisa berkata-kata. Ingin sekali dia marah, tapi entah mengapa mulutnya tak bisa terbuka. Dia masih terpelongo melihat pakaiannya sudah bertukar. Siapa lagi yang bisa mengganti pakaiannya disaat sedang tidur selain daripada Eliot? Hanya mereka berdua di sana, sudah jelas bahwa pelakunya adalah Eliot. "Kau!!!" Larrisa menghentakkan kakinya dengan kuat, bersama dengan lengkingan amukan itu. Eliot tersenyum licik saat melihat Larriss merasa terhina. Dia menikmati amukan gadis itu bak sedang menonton drama televisi. "Jangan bilang kau yang melakukannya?!" Larrisa mendekat ke arah Eliot. "Tentu saja tidak," jawab Eliot tak merasa bersalah. "Apa? Tidak katamu?" Dia mengernyit dahi karena tak mendapat pengakuan jujur dari Eliot. "Jelas-jelas hanya kita di villa ini. Kalau bukan kau siapa lagi?" Dia melotot mematikan keyakinan Eliot yang terus berbohong di balik topeng dusta. Drek! Gesekan kursi terdengar saat Eliot menggeser kursi tempat ia duduk, lalu berdiri menghadap Larrisa. Tinggi badannya tak sepantaran dengan Larrisa. Gadis kecil itu dengan berani menunjuk bersamaan tuduhan mata melotot. "Itu yang ingin kukatakan. Siapa yang menunjang ku malam itu? Kau tak mau mengaku, kita impas." Eliot tersenyum licik. "Apa? Impas katamu? Kau berlebihan kali ini Eliot, kau seharusnya tahu batasan. Aku ini wanita, tapi kau … cih, kau malah menggantikan pakaianku," kata Larrisa sambil menutup wajahnya malu. "Aku tidak selera melihatmu, lagian kau bukan wanita bagiku. Datar seperti itu dibilang perempuan, ck, kau bercanda?" Betapa Eliot sangat tega merendahkan Larrisa. Dia tak menyesal sama sekali. Dagu Larrisa perlahan mengerut. Bibirnya mengerucut kemudian bergetar. Matanya berair sekaligus pipi yang memerah. Sudah cukup dia menahan, akhirnya air matanya menetes dengan sangat cengeng. Dia meraung keras sampai seisi villa menggema. "Huaaa…." Larrisa terus menangis seperti anak kecil yang tak dibelikan mainan. Eliot sampai kebingungan hendak melakukan apa pada gadis itu. Dia teramat cengeng dan manja. Tentu Eliot kesulitan akan hal itu. Dia pikir gadis itu tak mudah untuk ditindas, ternyata hatinya seperti anak kecil. "I-Iya, aku minta maaf. Jangan menangis lagi," bujuk Eliot lalu menyanggah tangannya di pinggul. Kemudian sebelau tangannya lagi di gunakannya untuk menutup gendang telinganya yang hampir pecah karena raungan keras mulut Larrisa. "Kenapa kau terus menindas ku? Apa salahku, hu hu hu." Suaranya tak jelas karena dibarengi dengan tangisan cengeng yang menggema. "Ti-Tidak, kau tidak punya salah. Aku yang salah. Maafkan aku, yah." Eliot terus membujuk gadis itu. Perlahan dia memegang pundak Larrisa lalu menuntunnya untuk duduk di atas kursi. Dengan pelan dan hati-hati, dia berusaha untuk tidak mengusik raungan Larrisa lagi. Berhasil luluh, akhirnya gadis itu tak menangis lagi. Meski suara sesenggukan masih terus berbunyi. "Jangan lagi. Wajahmu kelihatan jelek kalau merungut," tambah Eliot yang mulai meyakini bahwa gadis itu sudah tenang sepenuhnya. Namun apa dikata, mendengar kalimat itu Larrisa malah menangis kembali. Hatinya yang rapuh kembali dirobohkan oleh kata-kata menyakitkan. Padahal jelas Eliot tak bermaksud demikian. Larrisa malah menangkap hal yang berbeda. "Huaaaa!" Eliot kembali pusing, dia tak tahu harus melakukan apa selanjutnya. Gadis itu semakin menjadi-jadi dalam tangisannya. Mungkin lidahnya terlalu tajam, hingga setiap yang keluar dari mulutnya teramat melukai Larrisa. "Aku hanya…." Eliot putus asa. Dia membiarkan gadis itu terus menangis. Dia hanya menunggu sampai lengkingan suara Larrisa berhenti dengan sendirinya. Sembari menunggu, tak lupa kedua tangannya ia gunakan untuk menutupi telinganya. Setelah menunggu sekian lama, akhirnya Larrisa kewalahan sendiri. Dia berhenti menangis dan berusaha menghentikan sesenggukan yang tiada reda. "Sudah?" tanya Eliot lalu menjauhkan telapak tangannya dari telinga. Kini keadaan sudah kembali tenang setelah gadis itu berhenti meraung. Betapa senang perasaan Eliot. Saat itu juga, bibir Larrisa kembali manyun dan bergetar. Tampaknya gadis itu akan menangis lagi. Untungnya Eliot cepat tanggap. Dia langsung menenangkan Larrisa dan menahan agar Larrisa tak menangis lagi. Dia sudah cukup tersiksa dengan gadis itu. "Matamu bisa gembung karena menangis, lihat! Sudah sembab begitu," katanya tegas. "Benarkah?" Larrisa memijat matanya pelan dengan jarinya. Eliot kemudian dengan inisiatif sendiri mengambil minuman kaleng dari dalam kulkas. Dia memberikan kaleng dingin itu pada Larrisa. "Untuk apa?" tanya Larrisa keheranan. "Biar tidak bengkak," kata Eliot. "Ehm." Larrisa langsung menempelkan minuman kaleng bersoda itu ke dekat matanya. Memang dia sendiri pun merasakan kalau matanya bengkak karena menangis. Tapi dia baru sadar kalau ternyata di balik sikapnya yang kasar dan keras, Eliot adalah sosok pria yang perhatian. Buktinya saja pria itu memberikan minuman kaleng itu pada Larrisa. "Makanlah ini." Eliot meletakkan lauk ke atas piring putih yang berada di depan Larrisa. "Ehm," jawab Larrisa. Larrisa mengambil sendok dan mulai menyuapi makanan di depannya. Saat masakan itu masuk ke dalam mulutnya, kunyahan Larrisa terhenti. Matanya langsung terbelalak mencicipi hasil hidangan masakan Eliot. Dia tak menyangka, ternyata masakan Eliot seenak dan selezat itu. Dia bahkan belum pernah merasakan masakan rumahan seenak itu. Bahkan masakan Bibi Su, pelayan di rumahnya, kalah saing dan tak sebanding. Dengan lahap, Larrisa memakan habis makanan di piringnya. Berkali-kali dia menambah porsi dan tiada henti menyuapi setiap macaman masakan di meja itu. Eliot keheranan melihat Larrisa makan sebanyak itu. Dia tidak tahu, gadis itu lahap karena memang kelaparan atau karena masakannya yang terlalu lezat. "Kau kelaparan?" tanya Eliot dengan muka bingung. "Uhuk-uhuk!" Larrisa tersedak nasi yang baru saja disulangkannya ke dalam mulut. Segera dia meneguk air dengan terburu-buru. "Kenapa kau tidak bisa pelan?" Eliot membantu Larrisa menuangkan air ke dalam gelas itu. "Terima kasih." Larrisa merasa lega. Dia penepuk perutnya merasa puas dengan hidangan itu. "Sudah makannya?" tanya Eliot lagi. "Iya, aku kenyang sekali," jawab Larrisa sambil mengipas-ngipasi wajahnya yang kegerahan. Karbohidrat terlalu banyak masuk ke dalam tubuhnya, hingga dia merasakan gerah teramat. Dalam hati Eliot bergumam, "Kalau tidak dilerai, dia akan terus lanjut makan." Larrisa tidak sanggup lagi berdiri, bahkan menggerakkan tubuhnya dia sudah tak sanggup. Dia hanya bisa menunggu hingga perutnya plong agar bisa berjalan. Sembari menunggu perutnya kosong, Larrisa malah asik menonton Eliot yang begitu lambat dan rapi saat makan. Dia begitu teratur dan perlahan saat menyuapi makanan yang masuk ke dalam mulutnya. Jauh berbeda dengan dirinya yang urakan dan tak senonoh untuk dipertontonkan. Larrisa menunduk. Lalu wajahnya kembali menerah, dengan malu dia mulai membuka pembicaraan. "Eliot," panggilnya. "Ehm?" "Kenapa kau menggantikan pakaianku?" tanya Larrisa . Meski sebenarnya dia sangat malu menanyakan hal itu. Eliot berhenti mengunyah. Dia meletakkan kedua sendok yang dia genggam sebelumnya, lalu fokus menatap Larrisa. "Aku risih dengan dress itu," jawabnya enteng. "Kau kan bisa membangunkan ku? Kenapa harus susah payah menggantikan sendiri?" Eliot menyipitkan matanya. Lalu mendekatkan wajahnya ke arah Larrisa. "Membangunkanmu?" tanya Eliot memperjelas. "I-Iya." Larrisa menjauhkan kepalanya hingga tegak lurus. "Lalu kau ketakutan mendengar suara gagak itu? Siapa yang repot?" jelas Eliot. Larrisa terdiam. Dia menundukkan kepalanya merasa bersalah karena sudah sangat merepotkan Eliot. Meski pria itu sudah jahat padanya, dibeberapa momen, Eliot sudah banyak membantu dirinya. Jika bukan karena paksaan ayahnya, Larrisa mungkin tidak akan pernah mengalami hal sial. Semenjak bertemu Eliot, Larrisa merasa hari-harinya begitu berat untuk di lalui.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD