Kamu akan menyesal jika tidak di sampingku saat ini. Aku sangat membutuhkan kamu malam ini. Aku sangat menginginkan kamu mala mini. Tolong jadikan mala mini bekal untuk kita menyatu selamanya.
Chen gusar menunggu sopir yang tidak kunjung datang. Kakek dan Nenek Chen sudah menangkap ada yang tidak beres dengan cucu kesayangan. Chen sedari ditinggal oleh kedua orang tua tidak pernah menyembunyikan apapun dari Nenek dan Kakek. Nanek dan Kakek adalah sumber kebahagiaan bagi Chen. “Kamu kenapa sih Nak? Barusan jadi bahagia senyum-senyum sendiri masa sekarang murung lagi. Kamu kenapa?” Kakek bertanya pada Chen.
“Murung? Ah nggak Kek, siapa juga yang murung. Aku gak murung, aku lagi bahagia kok ini Cuma lama banget Pak Yono datang, takut ada masalah atau apa gitu.” Chen memberitahu keluh kesah kepada Kakek dan Nenek. Untuk malam yang akan b*******h tidak mungkin Chen murung. Chen justru sangat bahagia dan ingin segera pergi.
“Oh kirain ada apaan, Kakek sama Nenek tuh gak bisa dibohongin sama kamu. Kakek sama Nenek tahu kalau kamu lagi kesal atau kalau kamu lagi gelisah. Kakek kira ada apaan, Kakek sudah khawatir sama kamu.” Kakek tersenyum kepada Chen, Chen membalas senyuman Kakek.
“Nggak kok Kak, I’m fine. Hanya takut kemaleman saja nanti Kakek dan Nenek pulang. Ini kan udah hampir sore, aku gak mau kalau Kakek sana Nenek kemaleman di jalan. Perasaan aku gak akan tenang.” Chen tersenyum sangat manis. Nenek dan Kakek menjadi lega dan senang mendengar apa yang Chen katakan. Beberapa tahun lalu Kakek dan Nenek kehilangan satu-satunya anak kesayangan dan yang paling diandalkan yaitu Ayah Chen. Hadirnya Chen bukan hanya sebagai cucu tapi juga menjadi peran anak bagi Kakek dan Nenek.
“Bisnis proyek pembangunan jalan kamu gimana Chen? Semuanya lancar?” Kakek bertanya tentang proyek yang sedang Chen kerjakan.
Chen berpikir sebentar kemudian menyeruput sisa es jeruk yang ada di atas meja. “Baik Kek, tapi ya begitulah kalau jalan proyek sama pemerintahan, pembayaran lama dan banyak potongan. Ini pertama kali sih jalan proyek pembangunan kerja sama dengan pemerintah, biasanya gak pernah aku ambil.” Chen menjelaskan pekerjaan kepada Kakek. Sementara Nenek sibuk main game di HP.
Kakek mengambil nafas sangat dalam “Kamu harus hati-hati kalau mengerjakan proyek dengan pemerintah, Kakek sudah sering sekali menjalankan proyek dari pemerintah dan rata-rata semuanya ingin ambil bagian sementara dana ditekan sangat kecil. Sangat merugikan pihak swasta dan tentunya merugikan masyarakat karena yang mereka gunakan adalah uang rakyat.” Ujar Kakek.
Chen berpikir lagi sambil menatap Kakek. Chen sudah mulai merasakan ada sesuatu yang tidak beres di proyek kali ini, tapi Chen masih mencoba mencari tahu penyebab semuanya. “Aku juga agak ngeri sih Kek dengan proyek ini, terlalu banyak mafia yang terlibat. Hampir semua mafia minta jatah dan selalu ingin dikasih di luar kantor mereka. Tapi sekarang sudah beres semuanya, semoga saja proyeknya lancar sampai selesai nanti. Mungkin ini terakhir kalinya aku jalan proyek sama pemerintah.” Jawab Chen..
“Iyalah, lagian kamu aneh masa ambil proyek pemerintah. Biasanya kan kamu spesialis investor asing di Indonesia. Intinya kamu harus hati-hati ya kalau main sama pemerintah, Kakek selalu berdoa untuk kamu agar semua dipermudah.” Kakek memberikan semangat untuk Chen. Chen membalas dengan senyuman yang sangat manis.
“Kakek tenang saja, aku kan The Midas. Aku Chen si The Midas. Aku bisa membuat apapun yang sulit di dunia ini menjadi mudah. Aku bisa membuat bisnis apapun menjadi sukses, aku akan terus menjadi seperti yang Kakek dan Ayah, Ibu harap kan.” Chen tersenyum. Chen akan selalu menjadi orang yang beruntung semenjak kehilangan kedua orang tua dalam kecelakaan.
“Oh, jadi Nenek gak punya harapan sama kamu gitu?” Nenek yang lagi fokus main game di HP marah karena tidak Chen sebut dalam kalimat sebelumnya. Chen langsung memasang muka yang kaget dan meyakinkan Nenek “Dih, mana mungkin Nenenk gak kebawa. Kalau Nenek kan harapannya ingin cepet dapat cicit, jadi aku pisahin sama harapan duniawi haha.” Chen tertawa. Nenek juga tertawa mendengar jawaban dari Chen. “Cepetan makanya, nunggu apa lagi sih. Nenek sudah tidak sabar ingin momong cicit. Nenek kamu ini udah tua, mumpung masih ada umur jadi cepetan ya.”
“Nenek masih muda, masih delapan belas tahun. Baju yang Nenek pakai juga uhh… masih berwarna bercahaya.” Kakek menjawab Nenek, Nenek memperlihatkan ekpresi yang tidak suka dengan jawaban Kakek. Chen hanya tersenyum melihat tingkah laku Nenek dan Kakek.
“Benar apa kata Kakek, Nenek masih muda. Nenek gak akan pernah tua. Nenek orang yang paling awet muda di dunia. Nenek jangan pernah mikir aneh-aneh lagi ya, pokonya satu hal yang selalu aku inginkan dari Nenek dan Kakek. Kalian harus kuat dan sehat, ingat aku gak punya siapa-siapa lagi di dunia selain kalian.” Ujar Chen. Nenek dan Kakek sangat haru mendengar perkataan Chen. Nenek mengeluarkan air mata.
“Ini si Pak Yono kapan datangnya? Lama banget.” Nenek mengalihkan pembicaraan karena tidak mau larut dalam kesedihan. Chen melihat ke arah parkiran dan terlihat Pak Yono baru saja datang. “Tuh Pak Yono.” Chen memberitahu Nenek dan Kakek. Nenek dan Kakek langsung melihat ke arah Yono. Nenek bergegas membereskan semua barang dan memastikan tidak ada yang tertinggal.
“Nenek dan Kakek kabari aku langsung kalau sudah sampai Bandung ya.” Chen sangat khawatir dan ingin sekali Nenek dan kakek tinggal lebih lama. Tapi Chen tidak mau melewatkan malam bersama Kessy. Chen jarang meminta duluan meskipun ingin. Chen menunggu Kessy yang mengajak terlebih dulu. Chen tidak mau menjadi beban untuk Kessy dan Kessy merasa terpaksa. Layaknya laki-laki lain, saat ingin menghabiskan malam bersama pasangan namun tidak bisa maka yang Chen lakukan adalah mengeluarkan sendiri di pagi hari. Jadi kali ini Chen gak mau melewatkan kesempatan emas.
Yono datang menghampiri Chen, Kakek dan Nenek. “Yon, lo hati-hati bawa Kakek Nenek gue ya. Mereka berdua harta gue yang paling berharga. Lo jangan ngebut-ngebut di jalan tol, gunakan kecepatan yang standar meskipun mobil yang lo bawa bisa dipake balap. Jangan lupa juga jangan pernah main HP saat menyetir. Gue gak akan pernah maafin lo kalau lo main HP saat nyetir, satu lagi kalau lo lelah dan ngantuk lo harus langsung ke rest area. Lo istirahat. Intinya lo utamakan keselamatan.” Chen memberikan wejangan kepada Yono.
“Baik Pak, Insyalloh saya akan menyetir dengan hati-hati dan memastikan Kakek dan Nenek selamat sampe Lembang.” Jawab Yono.
“Kamu tuh kaya pertama kali aja nyuruh si Yono nganter Kakek sama Nenek.” Kakek tersenyum. “Aku harus selalu ingatkan Yono, kali aja Yono lagi nakal hari ini haha..” Chen tertawa dan Yono tersenyum mendengar apa yang Chen katakan.
Chen mengantar Nenek dan Kakek sampai ke dalam mobil. Chen memastikan Nenek dan Kakek sudah berangkat kemudian baru Chen pergi. Chen melambaikan tangan ketika Nenek dan Kakek berangkat. Chen sekarang sudah tenang karena Nenek dan Kakek sudah pergi.
Chen melihat ke arah jam tangan “Masih jam empat sore, masih banyak waktu menuju malam. Kayanya gue harus cari hadiah dulu buat Kessy baru ke Hotel.” Chen bicara sendiri sebelum masuk ke dalam mobil.
Chen berencana membeli bunga kesukaan Kessy. Kessy sangat suka mawar merah yang masih berduri dan segar. Kessy suka menata bunga, jadi kalau dikasih mawar merah maka akan Kessy tata dan disimpan di rumah.
Waktu sudah hampir menuju maghrib. Chen sudah bawa bunga dan satu kalung berlian model terbaru untuk Kessy. Chen sangat kenal Kessy, Kessy sangat suka bergelimang hart dan semua barang yang mewah. Chen ingin selalu memberikan apa yang Kessy mau.
Chen sudah berada di depan pintu Hotel. Sebelumnya Kessy sudah memberitahu Chen kalau sudah berada di Hotel. Chen menekan bell pintu kamar Kessy. Tidak lama pintu kamar terbuka. Kessy membuka pintu. Terlihat Kessy hanya mengenakan dress polos warna hitam yang sangat pendek. Baju dalam Kessy nyaris saja bisa terlihat. Chen sudah menelan ludah melihat pemandangan yang Kessy pertontonkan.
Chen masuk ke dalam kamar. Pintu Hotel tertutup. “Ini untuk kamu sayang?” Chen memberikan bunga kepada Kessy. Kessy mengambilnya dan mencium wangi bunga yang Chen berikan. “Kamu paling tahu apa yang aku suka.” Kessy kemudian meletakan bunga di meja kerja yang ada di Hotel.
“Kamu datang kecepatan Kak, aku bahkan baru sampai dan belum mandi.” Kessy memberitahu Chen. “Apa kita mandi bareng saja? Kaka juga belum mandi dan habis dari luar.” Chen tersenyum m***m. Kessy membalas dengan senyuman yang memburu dan mengangguk pelan. Chen langsung tersenyum cerah. Chen menyimpan barang-barang yang dibawa di meja kecil yang berada di samping tempat tidur kemudian bergegas menyusul Kessy masuk ke kamar mandi.