_HIDDEN_
Rafa menatap sorot mata Alia yang redup, sejak makan siang tadi semangat Alia seolah hilang begitu saja, Alia sudah menceritakan alasannya. Rafa nampak tak terlalu terkejut, beberapa rumah sakit bahkan sebagian besar rumah sakit mungkin melakukan hal yang sama, disaat seperti inilah keimanan dan kesabaran seorang muslim diuji.
"Allah ingin lihat keikhlasan kamu Al, apa kamu akan lebih memilih masalah dunia atau akhirat. Sekarang Mas tanya, kamu ingin lepaskan cadarmu demi mimpimu jadi dokter, atau mencari rumah sakit lain."
Alia menatap tangan Rafa yang dengan lembut menggenggam kedua tangannya, sedikit mengelusnya, tatapan teduh itu sejak dulu tak berubah. Biasanya Thomas yang akan menenangkan Alia ketika Alia kesusahan, kebingungan. Tapi melihat bagaimana Rafa membantu Alia menyelesaikan masalahnya dengan cara kembut dan dewasa membuat Alia tersenyum "Al yakin ada jalan lain tanpa Al harus lepaskan cadar Al, Mas."
Rafa tersenyum bangga, ia tau Alia pasti kecewa, tapi keputusan yang diambil Alia membuat Rafa yakin kalau Allah juga akan membantu Alia nanti menemukan jalan lain.
Keduanya duduk di depan kolam renang, Alia menyodorkan teh hangat kepada Rafa, pria itu mengucapkan terimakasih lalu menyeruput teh hangat yang Alia buat.
"Bagaimana ceritanya Mr Edgard mengenal kamu Al?" Rafa meletakan cangkirnya di meja, lalu menatap Alia yang menatap lurus ke arah kolam yang nampak tenang tersorot lampu taman.
Alia mengerjap, nampak mengingat-ingat "Dosen pembimbing Al, Mr Paul. Dia merekomendasikan Alia karena saat praktik Mr Paul mengagumi kinerja Al, Satu minggu kemudian, Mr Edgard datang ke kampus bersama Mr Paul."
"Saat itu Al bertemu Mr Edgard, Al belum bercadar waktu itu. Mungkin itu sebabnya Mr Edgard langsung menyerahkan Alia. Mungkin kalau sejak awal Al bercadar, Mr Edgard tidak akan menyerahkan kontrak kerjasama pada Al."
"Kamu hanya bertemu Herdin kan Al, bagaimana kalau bujuk Mr Paul langsung, bicara langsung dengannya dan pastikan semuanya."
Alia berfikir lamat, benar juga. Alia kan hanya bertemu Herdin, kemungkinan jika Al langsung bertemu Mr Paul akankah ada yang berubah, Alia tidak akan tau jika Alia tidak mencobanya.
Alia tersenyum lebar dibalik cadarnya, matanya menyipit membentuk bulan sabit, nampak tak asing dimata Rafa.
"Akan Al coba, makasih ya Mas sarannya."
Rafa terkekeh "Senang membantu kamu Al,"
"Ini sudah malam, ayo tidur."
Jantung Alia sepertinya sudah terbiasa berdegup kencang setiap waktu, sejak Alia tinggal bersama Rafa, pria yang saat ini menjadi suaminya saat ini benar-benar pintar membuat Alia melayang, setiap tindakannya membuat Alia merasakan perasaan membuncah, perasaan yang dulu Alia juga rasakan pada orang yang tetap sama. Alia menatap tangannya yang tengah digenggam Rafa. Tangan yang begitu hangat dan memberi perasaan terlindungi bagi Alia.
Alia tau Rafa mencoba mencintainya, membuat Alia merasa nyaman, melindungi Alia, memperhatikan Alia.
Pukul tiga malam, suara Rafa terdengar samar, lama kelamaan menjadi sangat jelas, Alia membuka matanya, menatap Rafa yang meneteskan airmatanya dalam tidurnya, menyebut nama Amira berulangkali, seperti merintih memanggil nama Amira berulang-ulang.
Mungkin Rafa merindukan Amira, Alia rasa begitu, Alia menghempas segala rasa sesak yang tiba-tiba menyeruak, mencoba tidak mempertanyakan hal yang sama berulang-ulang.
Apakah Rafa bisa mencintainya?
Alia berdiri, memperbaiki jilbab dan cadarnya. Iya, Alia masih tidur dengan cadarnya, tak ada perintah dari Rafa untuk membukanya, jadi Alia putuskan tetap memakai cadarnya didepan Rafa, Alia duduk di ujung sofa berwarna biru muda di ujung ruangan, menatap bantal guling ditengah-tengah mereka. Penghalang mereka.
Alia menarik nafasnya dalam-dalam. Mencoba berfikir jernih, jika Alia sudah terbangun, Alia tidak akan bisa tidur lagi. Alia memilih ke kamar mandi, berniat menunaikan solat tahajudnya, ketika Alia keluar dia mencoba membangunkan Rafa, pria itu sudah kembali tidur pulas.
Rafa mengucek matanya dengan pelan, Alia duduk didepannya, "Solat tahajud yuk Mas?"
Rafa menatap jam dinding di atas kepalanya, dengan langkah pelan Rafa berdiri mengambil air wudhu.
Alia menggelar sajadah untuk Rafa dan dirinya, menyiapkan baju koko untuk Rafa dan sarung, Rafa tersenyum ketika melihat semua kebutuhannya sudah tersedia diujung ranjang, sementara Alia sudah menunggu di shaf belakang siap diimami.
Keduanya melaksanakan ibadah sholat tahajud, mengaji, kemudian Rafa mengimami Alia untuk solat subuh, semua ini terasa indah jika dilihat, tapi masing-masing dari mereka ada yang membuat ilusi, dan satu lagi memilih diam untuk tidak menyakiti diri sendiri.
Rafa duduk di sofa, setelah rapat selesai, Rafa memilih beristirahat sebentar. Rafa ingat semalam, ia menemukan Alia duduk di ujung sofa, menatap kosong kearah Rafa, ia sadar apa yang Rafa lakukan. Rafa tak bermaksud menyakiti Alia, sungguh.
Ini juga sulit untuk Rafa, ia kehilangan Amira dan calon anak mereka. Menghilangkan rasa cinta dan mencintai orang yang baru sangat sulit untuk Rafa.
"Raf." Sosok Zakry berdiri diambang pintu, menatap Rafa yang nampak kusut.
"Ada apa Raf?"
Rafa tidak tau apa ia harus menceritakan kegelisahaannya pada Zakry yang notabenenya adalah sekertaris sekaligus sahabat Rafa sejak SMA. "Kamu tau Alia kan Zak?"
Zakry mengangguk, ia ingat Alia "Yaiyalah, dia kan istri kamu Raf."
"Sampai saat ini aku tidak membiarkannya melepas cadarnya Zak." Zakry mengerutkan dahinya bingung "Alasannya?"
"Agar aku bisa menganggapnya sebagai Amira."
Keduanya diam membisu, Zakry tidak pernah tau Rafa yang nampak ikhlas menerima pernikahannya ternyata berlaku demikian pada Alia "Kamu menyakiti istirmu Raf. Kamu mendzoliminya, jika dia tau. Sakit hatinya luar biasa."
Rafa tau itu, sangat tau. Dia sangat jahat. "Aku memimpikan Amira semalam, didepan Alia."
"Astaga Raf, kenali dia. Hidup dengannya sebagai suami Alia bukan Amira Raf."
Rafa mengangguk, harus dimulai darimana semua ini, kesalahan ini. Sejak awal sejujurnya Rafa tak pernah ikhlas, tak pernah. Alia yang memakai cadar, entah bagaimana bisa membuat Rafa dengan mudah menganggapnya sebagai Amira.
HIDDEN
"Mr Edgard." Alia berdiri dihadapan pria paruh baya yang masih nampak sangat bugar dengan setelan serba putihnya "Saya Alia. Mahasiswi kedokteran Oxford yang di rekomendasikan Mr. Paul."
Mr Edgard diam, ia ingat Paul sahabatnya merekomendasikan Alia, tapi ia tidak ingat kalau Alia adalah perempuan muslim dengan cadar "Kamu bercadar sekarang?"
Alia mengangguk "Herdin, saya menemuinya kemarin. Apa benar alasan saya ditolak karena saya bercadar."
Mr Edgard menghembuskan nafasnya pelan, "Sudah jelas, saya rasa." Mr Edgard hendak menjauh sebelum suara Alia kembali terdengar "Beri saya waktu untuk bekerja di rumah sakit anda, jika kinerja saya mengecewakan anda, maka anda boleh melupakan kontrak yang anda tawarkan."
Kali ini Mr Edgard terkekeh "Rumah sakit saya, bukan tempat percobaan anda Miss Alia."
Alia mengangguk "Maka anda juga tak seharusnya bercanda ketika menawarkan sebuah kontrak."
Mr Edgard mengangguk "Kalau begitu, tolong lepaskan cadar anda selama bekerja di rumah sakit saya."
"Terdengar seperti anda meminta saya meninggalkan ajaran Tuhan saya."
Mr Edgard diam, Alia adalah gadis yang cerdas seperti yang Mr paul katakan. "Saya pastikan banyak pasien yang akan menolak ditangani anda." Mr Edgard berbicara faktanya. Bukan hanya karena masalah pribadi, tapi pasien sendiri yang tidak akan mempercayai Alia nantinya.
"Satu bulan Mr Edgard?" Tawar Alia.
"Baiklah," Setidaknya Mr Edgard perlu bertanggung jawab atas kontrak yang ia tawarkan pada Alia.
Aria tersenyum merekah, hendak meloncat-loncat saking senangnya, namun ia harus tetap terlihat santai saja, Alia mengangguk "Terimakasih Mr Edgard, Alia akan menyiapkan dirinya untuk bekerja besok.