Dulu sekali, semua yang terjadi hari ini hanya bayangan, hanya angan. Tidak pernah Alia coba untuk buat jadi nyata, ia takut. Imjainasinya terlalu tinggi, hingga bisa jadi boomerang bagi dirinya sendiri. Pernahkah kalian bayangkan, mencoba berangan ketika mimpi terbesar kalian menjadi nyata. Rasanya sulit untuk digambarkan, lebih dari bahagia, lebih dari sempurna. Hal itu membuat Alia menjadi orang paling bahagia hari ini, mungkin setiap hari.
Rafa mengecup dahi Alia setelah selesai mengimami Alia sholat subuh. Rutinitas baru yang amat Alia sukai. Meski Alia tidak tau alasan Alia tidak diijinkan melepaskan cadarnya di hadapan suaminya sendiri. Alia berfikir positif, Rafa mungkin butuh waktu untuk menerima Alia secera perlahan, tidak mungkin secara instan.
"Hari ini kamu mau kemana Al." Alia meletakan peralatan solat yang sudah ia rapikan di atas meja, lalu menatap Rafa yang tengah menyiapkan perlengkapan kantornya.
"Al mau ke rumah sakit kak, boleh?" Alia menyerahkan baju yang sudah ia siapkan untuk Rafa, kemeja berwarna biru muda dan celana kain "Ada perlu apa?"
"Alia ada janji, membahas kontrak kerja. Alia kan rencananya mau kerja di rumah sakit Medistra kak." Alia menatap Rafa khawatir "Kalau Al tidak boleh kerja juga tidak apa-apa kok kak."
Rafa tersenyum kecil "Kamu kan susah payah kuliah jauh-jauh. Masa ilmu kamu tidak dipergunakan dengan baik. Kerjalah Al. Mas ijinkan."
Alia mendongak menatap Rafa dengan mata mengerjap penuh haru. Rafa sangat pengertian.
"Makasi Kak, kalau begitu Alia akan siapkan sarapan dulu."
"Al," Rafa mengusap kepala Alia "Panggil saja Mas, aku kan sudah suamimu."
Alia menunduk, tak berani menatap wajah teduh dengan segala pancaran kebaikan di sana. Sekali lagi, betapa beruntungnya Alia memiliki Rafa.
"I-iya Mas."
Alia berjan dengan langkah lebar, menghindari Rafa dengan debaran jantung menggila yang diakibatkannya, ini masih pagi dan Rafa sudah membuat Alia kalang kabut menghadapi jantungnya.
Alia mengambil beberapa bahan makanan, berencana membuat sayur asem dan menggoreng tempe dan sambalnya. Dari Bu Fatma, Alia tau bahwa Rafa adalah pecinta masakan rumahan, Rafa suka masakan yang masih hangat, dan suka makanan pedas, jadi, Alia coba memasak masakan terbaik yang sudah ia pelajari hari ini.
" Masak apa Al?" Rafa duduk di dekat pantry, menunggu Alia memasak. Dengan baju yang sudah kerja yang lengkap. Alia berani bertaruh, banyak sekali perempuan yang menyukai Rafa, melihat betapa tanpan cowok itu. Serta karisma yang Rafa punya.
"Sayur asem, tempe plus sambal, kata Bu Fatma, Mas Rafa suka makanan rumahan. Jadi Alia coba buat."
"Iya Mas suka masakan rumahan sederhana. Tapi masak saja makanan yang kamu suka, Mas juga mau tau masakan kesukaan kamu."
"Al suka pasta."
"Kapan-kapan, mau makan di restoran kesukaan kamu?"
"Boleh Mas."
"Mau Mas antar ke rumah sakit?"
"Alia naik Taxi aja Mas."
"Tidak Al, masa Mas naik mobil kamu naik Taxi. Mas antar saja."
Alia mengangguk tidak mau membantah, Alia mengambilkan nasi untuk Rafa, meletakan lauk untuk Rafa.
"Terimakasih." Al lalu duduk di depan Rafa, mereka makan berdua, duduk berhadapan. Alia masih ingat kalau Rafa adalah orang yang tidak suka bicara kalau makan, jadi Alia coba menikmati makanannya, meski ia ingin bercerita banyak tentang dirinya. Atau ingin mengenal Rafa lebih banyak.
Mereka selesai makan, Alia dibantu Rafa mencuci piring, Rafa sudah menggulung lengan kemejanya "Mas kemejanya jadi kusut, biar Al aja yang cuci piringnya."
"Selagi Mas bisa bantu, Mas bantu kamu Al."
Alia sangat bahagia, jelas aura kebahagiaan itu tak bisa disembunyikan, Alia naik ke atas kamarnya, mengambiil tas selempang berwarna putih yang sudah diisi Alia dengan beberapa perlengkapan pentingnya. Sekaligus membawa kontrak yang sempat di ajukan oleh Herdin.
Kini Alia dan Rafa sudah berada didalam mobil, hari ini Jakarta tidak macet, syukurlah, pukul tujuh pagi, Alia sudah bilang pada Rafa kalau yang akan Alia temui adalah Herdin, seorang pria, Rafa bilang tak apa, Rafa tau Alia tau batasan.
Alia menyalimi tangan Rafa "Sampai ketemu nanti malam Mas."
"Kamu pulang jam berapa."
"Alia belum tau,"
"Nanti bilang ke Mas kalau mau pulang, Mas jemput."
"Alia tidak mau merepotkan."
"Tidak Al, Mas sudah biasa. Dulu Amira ju-"
Rafa diam, tau kalau topik seputar Almarhum istrinya bisa menyinggung Alia, Rafa meminta maaf, sorot matanya nampak bersalah.
"Tidak apa Mas, nanti Alia kabari kalau Alia pulang. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam Al."
Rafa diam, cukup lama, memperhatikan punggung Alia, dengan gamis berwarna peach yang tertiup angin. Dalam sekejap Alia hilang, masuk kedalam rumah sakit itu.
"Saya masih mencoba Ra, Saya coba." Rafa mengusap rambutnya kebelakang. Siap pergi.
Alia tidak mau berfikir kemana-mana, Amira adalah Amira, dan Alia adalah Alia, itu wajar kan kalau Rafa masih mengingat almarhum istrinya, Amira baru saja meninggal, jelas Rafa butuh waktu. Meski begitu, Alia tau Rafa mencoba mencintainya. Sungguh, Alia tak masalah, karena Rafa mencoba. Tidak hanya diam.
Herdin, adalah wakil direktur di rumah sakit ternama di Jakarta ini. Menghubungi Alia karena rekomendasi dari direktur utama, Edgar. Alia bertemu Mr Edgar ketika masih berkuliah. Mr Edgard adalah sahabat dari dosennya Mr Paul. Mr Edgard nampak tertarik dengan keahlian Alia, menurut Mr Edgard Alia memiliki potensi besar sebagai dokter bedah.
"Herdin." Herdin bukanlah pria muslim, dia beragama Kristen, syukurnya mereka berkomunikasi dengan baik tanpa pandang bulu. Ketika Alia bertemu Mr Edgard dulu, Alia masih belum bercadar, Herdin beberapa kali mengerjap. Jelas nampak kebingungan, bertanya-tanya apa Herdin mengenal perempuan bercadar yang baru saja memanggilnya.
"Saya Alia Atmaja. Atau Aleah Atmaja."
Herdin tertawa, tersenyum ramah setelahnya "Astaga Ms Alia. Saya kira siapa."
"Ah maaf. Saya lupa bilang kalau saya sudah bercadar." Herdin mangut-mangut. Raut wajahnya berubah, sedikit bingung dan merasa bersalah "Bisa kita ke ruangan saya."
Alia mengangguk, mengekori Herdin yang berjalan menuju ruangannya, beberapa suster menyapa Herdin, memberi hormat.
"Silahkan duduk Ms Alia."
"Alia saja." Alia duduk dihadapan Herdin, ruangan itu ruangan pribadi, cukup besar dengan kursi putar dan beberapa lemari, "Mr Edgard yang menawarkan kontrak kerja kepada kamu kan Al."
"Iya, Mr Edgard menawarkan kontrak kerja sama ketika saya masih kuliah."
Herdin diam untuk beberapa saat "Begini Al, saya sangat minta maaf menyinggung hal seperti ini, tapi saya rasa Mr Edgard tidak menjelaskan soal kriteria dokter yang harus berada di rumah sakit ini."
"Ya, Mr Edgard hanya bilang beliau tertarik atas kinerja saya dan menawarkan kontrak."
"Saya sungguh minta maaf. Tapi rumah sakit ini tidak menerima dokter bercadar." Alia diam, mencerna apa yang baru ia dengar, bukankah itu konyol " Maaf, tapi saya rasa rumah sakit sebesar ini membutuhkan kinerja. Seharusnya penampilan tidak menjadi tolak ukur." Alia merasa kecewa, apa yang salah jika ada dokter bercadar di rumah sakit.
"Saya tau, ada beberapa dokter wanita yang melamar pekerjaan disini, beberapa diantaranya ditolak mentah-mentah. Mungkin ini konyol bagi anda tapi semua perempuan bercadar itu ditolak."
"Harus anda ketahui, Mr Edgard punya alasan telak mengapa beliau tidak menerima perempuan bercadar di rumah sakitnya. Pertama, alasan keamanan. Pasien harus mengenali dokter yang merawatnya, melihat wajahnya, hingga mereka merasa nyaman dan tidak merasa terancam. Kedua, beliau punya pengalaman buruk, putrinya meninggal ditangani dokter bercadar ketika beliau berada di Turki bersama keluarganya disana. "
Herdin menghela nafas "Ini privasi, tapi saya tau anda dipilih Mr Edgard sebab potensi yang anda punya. Saya tidak bisa membantah, ini perintah beliau. Saya hanya bawahan."
Herdin nampak amat menyesal, ia tau betul atasannya memilih Alia pasti karena perempuan dihadapannya ini memang memiliki kemampuan yang baik, Mr Edgard tak pernah salah. Beliau bukannya tak memiliki toleransi, menentang perbedaan agama atau semacamnya. Hanya saja, alasan pertama memang benar, pasien harus tau bagaimana wajah dokter yang menangani mereka hingga mereka merasa aman.
Alia menghembuskan nafas pelan, menatap Herdin meminta maaf "Baik, terimakasih atas tawaran yang Mr Edgard berikan, saya permisi."
Herdin berdiri mengantarkan Alia kedepan pintu.
Air putih itu mengalir di tenggorokan Alia, menyegarkan rasanya. Alia memilih pergi ke kantin rumah sakit. Alia tidak tau, kenapa bisa seseorang memandang pribadi orang lain dari penampilan, Alia menunduk. Sadar sejak tadi ia jadi bahan perhatian. Alia tau sebabnya, Alia biasa menghadapinya jika Alia masih di Inggris.
Tapi Alia sedang di Indonesia. Dimana harusnya mereka terbiasa dengan pemandangan muslimah yang bercadar, mengenakan gamis lebar atau semacamnya. Negara tempatnya tinggal sekarang adalah Negara dengan mayoritas muslim terbanyak. Tapi kenapa, rasanya Alia seolah dihakimi.
Ini salah, jelas salah. Kemana semua toleransi, menghargai perbedaan.
Alia meraih ponselnya, memilih menelepon Rafa. Hari sudah agak siang, ini adalah jam makan siang. Tidak ada salahnya jika Alia makan siang dengan Rafa.