Chapter 10 ** ** Ia beranjak, mengambil handuk dan baskom berisi air hangat. Dengan tlaten ia bersihkan tubuh suaminya yang tampak kumal. Air matanya tak henti-hentinya mengalir deras. Seolah sungai kecil di pipinya sudah tak lagi sebagai perumpamaan, kini di pipinya sudah terbentuk lautan luas. "Mas, bangun..." lirih Syadza. "Aisya minta maaf Mas, bangun..." Hati wanita tak perlu diragukan kelembutannya. Ia sehalus sutra dan seindah jagad raya. Meskipun terluka namun tetap mencinta. Itulah realitanya. Setelah selesai membersihkan beberapa anggota tubuh Syauqi, Syadza menyelimuti kekasihnya dan beranjak pergi. Namun cekalan tangan menahannya. Ia tersenyum seketika. "Alhamdulillah..." ia tersenyum sembari menitikan air mata. Ia hendak berdiri namun dicekal, matanya tak sanggup mel

