Chapter 9
** ** **
Keduanya berpisah setelah menyerahkan Fatimah pada ibunya. Syadza berjalan menuju kamar tamu. Setelah sampai, tubuhnya langsung ambruk di atas ranjang berukuran besar. Matanya menerawang jauh, bagaimana kabar Syauqi? Apa suaminya sudah makan? Apa dia baik-baik saja? Apakah dia tidak apa-apa?
Pikirannya berkecamuk. Untuk mengurangi rasa khawatirnya, ia membuka ponsel melihat beberapa pesan dari Syauqi yang dominan menanyakan keberadaannya dan perlu waktu bicara. Lupakan saja, ia ingin sendiri malam ini.
Sementara di sisi lain. Seorang pemuda yang kini tengah menangis terlihat begitu pucat. Semenjak pukul tiga sore ia tak kunjung beranjak dari masjid baik untuk makan, bersih diri dan sebagainya. Sampai pukul sembilan ini, ia hanya menghabiskan waktu untuk menangis dan memohon ampun pada Allah. Ia begitu menyesal. Sangat menyesal.
Dengan mengharap pertolongan Allah, ia kembali berikhtiar. Ia menghubungi seseorang yang sekiranya tau keberadaan wanita yang begitu ia cintai.
"Assalamualaikum," suaranya begitu parau. Terdengar lemah dan tak b*******h.
"Waalaikummusallam Qi, ada apa?"
Pemuda yang berwajah pucat dengan kantung mata hitam, rambut acak-acakan dan kemeja yang berantakan tersenyum kecil.
"Bang, afwan jiddan kalo ane menghubungi jam sembilan gini."
"Nggapapa Qi, kenapa ente?"
"Afwan bang, ane mau nanya. Istri ane ada dirumah ente?"
Seseorang di seberang telepon sedikit bingung.
"Bang Hafidz, jawab jujur bang. Bohong dosanya ngga bagi-bagi loh,"
Syauqi menghela nafas sekejap ketika tak ada jawaban.
Ia bershalawat sembari berdoa kepada Allah supaya diberi petunjuk dimana istrinya. Ia percaya sekalipun orang itu berbuat maksiat ribuan kali, maka dengan shalawat doanya akan qobul. Insyaallah...
"Istri ente ada disini. Barusan bareng istri ane di kamar. Kalo kalian ada masalah sebaiknya diselesaikan baik-baik. Ikuti cara Rosulullah SAW supaya kalian berdua senantiasa mendapat perlindungan Allah. Tak tutup teleponnya ya Qi. Assalamualaikum,"
Dengan berat hati dan lidahnya seolah kelu untuk menjawab salam, ia menjawabnya di hatinya yang kini tak punya raga.
Kehilangan separuh dalam dirinya ternyata begitu meresahkan, lalu bagaimana jika Allah yang pergi dari kehidupannya. Naudzubillahmindzalik.
Syauqi yang tengah tak bertenaga mencoba berdiri, ia bertekad untuk menjemput dan membawa kembali separuh jiwanya. Tapi baru saja ia mencoba berdiri, tubuhnya sudah ambruk dan beruntungnya seorang lelaki tua berumur menolongnya.
"Hati-hati anak muda," nasihat singkatnya.
"Jazzakallah sudah menolong saya kyai,"
"Sama-sama nak," dengan telaten, sang Ustad membantu Syauqi duduk kembali.
"Dari wajah antum, sepertinya sedang gelisah."
"Alhamdulillah," entah jiwanya yang begitu sensitif atau memang sedang berduka. Mendangar pertanyaan sederhana seperti itu membuat Syauqi menangis tersedu. Ia menutup matanya di hadapan lelaki tua.
"Menangis saja, jika itu bisa membuat antum lega."
"Kyai...bagaimana jika Allah tak mengampuni saya... allahuakbar. Saya telah mendzolimi istri saya," Syauqi berkata terbata. Ia tak sanggup menahan isakannya tak perduli malu.
"Jika antum berkenan katakan saja pada saya nak, insyaallah saya bisa memberikan nasehat."
Karena Syauqi merasa percaya dan Allah yang mengirimkan perantara untuknya. Ia bercerita bagaimana kronologisnya hingga ia menangis seperti ini.
"Saya menikah lagi tanpa sepengetahuan istri saya yang saya nikahi satu tahun yang lalu.
Tapi demi Allah, saya tidak berniat poligami dan mengkhianati istri saya. Saya dihadapkan dua pilihan antara menyelamatkan nyawa seorang bayi atau menyelamatkan rumah tangga kami.
Allah begitu adil terhadap saya, Kyai. Saya tidak mengingkan orang lain hadir dalam rumah tangga kami tapi ternyata Allah menginginkannya.
Dua minggu yang lalu saya bertamu di rumah rekan bisnis saya yang ternyata sedang ada pertengkaran. Putri rekan bisnis saya hamil di luar nikah dan mengancam bunuh diri jika ayahnya tidak menyetujui menggugurkan kandungannya.
Hari itu saya benar-benar memohon perlindungan kepada Allah, saya berpasrah kepada Allah, saya berusaha semampu saya. Saya tidak mengingikan itu terjadi, tapi dengan kuasa Allah. Allah menggerakan hati saya untuk menyelamatkan dua nyawa itu. Saya menikahinya saat itu juga. Tanpa sepengetahuan istri saya.
Saya tidak mencintainya, Kyai. Saya menolongnya namun saya juga menikam hati istri pertama saya, saya mendzoliminya. Apa yang harus saya lakukan Kyai. Saya benar-benar tidak tau lagi, saya merasa ingin pulang tapi tidak sanggup melihat wajah wanita yang saya cintai terluka. Astagfirullah..."
"Anak muda, aku hanya lelaki tua yang sudah tubuhku sudah bau tanah. Tapi dengarkan yang aku katakan. Setelah menangis sepuasmu. Susul istrimu.
Tapi ada satu hal yang perlu kamu pahami nak, Allah Maha Baik dan ia perencana terbaik. Dari penampilan dan tutur katamu, aku percaya jika istrimu bukan wanita sembarangan. Ia akan menerima lapang d**a. Jadi pulanglah, katakan pada istri yang begitu kau cintai itu semuanya. Itu saja, aku tau kalau kau sudah tau apa yang harus dilakukan. Tapi karena sedihmu itu, kamu enggan melakukannya. Pulanglah!"
Mendengar wejangan Kyai. Syauqi mengucapkan terimakasih dan mencium punggung tangan Kyai lalu beranjak pergi. Ia menempuh perjalanan tiga jam. Lelah memang, tapi tidak di pedulikan.
Tok tok tok...
Suara ketuka pintu pukul satu malam menghentikan dzikirnya. Tania yang sudah terlelap tidak mungkin mendengar ketukan pintu dari luar.
Dengan takut yang luar biasa karena ketukan pintu tak hentinya selesai. Ia berjalan perlahan. Masih mengguanakan mukenah, ia menutupi wajahnya sebisanya. Perlahan suara ketuka pintu semakin keras, batinnya siapa yang datang malam-malam seperti ini. Mungkin Haikal? Tapi tidak, Haikal sedang Coas dan punya apartement sementara.
Perlahan, ia tarik knop pintu dan membukannya. Betapa terkejutnya dan berduka hatinya melihat lelaki berpenampilan lusuh dan wajahnya yang pucat.
"Aisya," lirih Syauqi yang langsung ambruk. Syauqi tak sadarkan diri dalam pelukan istrinya.
"Mas!!"
Syadza panik. Ia menangis.
"Abangg! Tolong... hiks.
Mas, bangun. Aisya minta maaf Mas. Demi Allah, Mas Bangun."
Hafidz yang mendengar teriakan langsung terbangun karna kebetulan ia tertidur di ruang Tv dan mencari sumber suara. Ia membantu adiknya memindahkan Syauqi ke kemar tamu.
"Selesaikan urusan kalian, Abang tidak ikut campur." pesan Hafidz singkat bergegas pergi.
Syadza merasa seolah langit runtuh bebas menimpanya yang tengah berlayar di laut lepas. Ia ditenggelamkan hingga tak bisa bernapas. Sesak, menyakitkan dan tak mampu berkata meskipun setipis kapas.
Hanya bisa menangis tersedu disamping kekasih yang kini hampir menjadi bayangan.
Pelabuhannya tengah retak, hancur dan tak mau menerima sampan sekalipun indah selain dirinya. Tapi sekali lagi ia tengah tenggelam dalam sesak. Tak bisa mendekat.
Perumpamaan itulah yang Syadza rasakan ketika melihat Syauqi terbaring pucat tak kunjung bergerak.
Ia hanya bisa menangis tersedu sembari menggenggam tangan Syauqi, memohon ampun pada Allah karena tidak berbakti pada suaminya. Padahal masih banyak jalan keluar untuk masalah keduanya, tapi mengapa ia memlihih pergi tanpa menoleh kebelakang. Syadza merasa sangat menyesal.
** ** **
BERSAMBUNG