Chapter 6
**
Sejilid kisah sudah aku serahkan
Sebongkah hati tak perlu kau pertanyakan untuk siapa ia bertuan
Tapi mengapa raguku seolah tak mau ditentang
Untuk mempertanyakan perlihal tatapan matamu yang memandangnya indah mengkhawatirkan
-Aira Syadza-
***
"Asiyah RA adalah salah satu orang yang paling dicintai Rosulullah. Para sahabat mengetahui dan mengakui hal itu. Rasa cinta Rosulullah Saw kepada Aisyah membuat istri-istri beliau yang lain merasa cemburu. Hingga suatu hari, salah seorang istri Rosullullah SAW mengutus Fatimah RA menemui Rosulullah SAW dan mengadukan kepada beliau kecemburuan yang mereka dapati.
Begitu istimewanya Aisyah RA di sisi Rosulullah SAW. Meskipun begitu, ketaatan Aisyah RA dan istri beliau yang lain tak perlu diragukan lagi. Karena sejatinya mereka memanglah wanita pilihan Allah untuk mendampingi Rosulullah...
Taat pada suami adalah suami adalah satu kewajiban penting untuk seorang istri. Aisyah adalah teladan yang baik untuk kita semua dalam hal ini. Tak pernah ia menentang keputusan Rosulullah sekalipun Aisyah adalah wanita yang keras kepala sepanjang sembilan tahun keduanya hidup bersama. Jika Aisyah merasaakan ada sesuatu yang mengganggu perasaan Rosulullah SAW meski ia mengetahuinya hanya melalui isyarat maka ia pasti akan menghindar atau menyingkirkannya. Maasyaallah.
Aisyah RA menuturkan aku pernah menggunakan sarung bantal bergambar. Ketika beliau melihatnya, beliau tidak mau masuk dan hanya berdiri di pintu. Aku tau ada sesuatu yang tidak beliau sukai. Maka kutanyakan 'Wahai Rosulullah, aku bertobat kepada Allah dan Rosul-Nya. Dosa apa yang telah kulakukan' beliau menjawab 'Untuk apa bantal ini?' ku jawab 'agar engkau bisa duduk di atasnya,' lalu beliau berkata
"Orang-orang yang menciptakan gambar-gambar seperti ini akan diazab di hari kiamat. Mereka akan diperintahkan untuk menghidupkan apa yang telah mereka gambar itu. Sungguh, sebuah rumah yang di dalamnya terdapat gambar-gambar semacam ini tidak akan dimasuki malaikat..." (HR. Bukhari dan Muslim)
Demikianlah sedikit kisah Aisyah, kekasih Rosulullah yang selalu mematuhi dan mentaati perintah suaminya meskipun hanya hal kecil dalam rumah tangga keduanya. Yang terpenting, bahwa kita harus menyadari jika ketaatan yang sejati harus diwujudkan dengan menjalankan perintah-perintah kekasih kita. Tak hanya ketika suami masih hidup, tapi tetap sama menjalankan dan mentaatinya seperti kala suami masih hidup walapun suami telah berpulang ke rahmatullah terlebih dahulu. Dan ketaatan itu tak berlaku hanya pada seorang suami, melainkan berlaku juga terhadap orang tua, dan Allah... Mari, bersama-sama ibu-ibu dan pemudi di sini mencari ridho Allah dengan mentaati perintah dan menjauhi larangannya.
Hidup di dunia bukan untuk meminta hal yang kita inginkan pada Allah, melainkan mencari ridhonya. Percayalah, apabila Allah telah ridho maka Allah akan memberikan yang terbaik untuk kita. Subhanallah walhamdulillah laillahailallah allahuakbar, sekian dari saya... Afwan apabila apa yang saya sampaikan tidak berkenan dihati Shalihah semua..."
Syadza mengakhiri cerita tentang kekasih Rosulullah yang memiliki kulit putih kemerah-merahan di hadapan jama'ah kajian bada Dzuhur di masjid alun-alun pusat kota. Begitu jauh, menarik rindu kepada sang kekasih.
Taujih atau kultum sudah selesai, satu persatu santri dan jama'ah keluar kembali ke rumah masing masing. Syadza yang sudah berada di ruang VVIP tamu undangan menyesap coklat hangat dengan sendu.
Pikirannya pilu, hatinya penuh kabut kelabu dan jiwanya tak melekat pada raga yang begitu sendu.
Adzan Ashar menggema bersahut-sahutan. Burung-burung yang bertengger di atap-atap dan ranting pepohonan berterbangan mengiringi adzan yang syahdu.
Ratusan jamaah berbondong-bondong menuju masjid, begitupula Syadza. Ia melangkah dari satu petak keramik putih ke petak keramik putih lainnya. Dadanya berdesir. Panggilan cinta itu datang menghapus dukanya yang basah. Hatinya terpanggil untuk segera mungkin berbincang dengan Allah.
Dengung bacaan Al Quran menggema menanti iqomah, berlomba-lomba memperoleh dan mecari ridho Allah dengan cara membaca Al Quran dan menghafalkannya. Melihat semua itu, Syadza yang berada di tengah semua jama'ah yang insyaallah menjadi tamu allah trenyuh, hatinya nelangsa. Susai kumandang iqomah, takbir dilanjutkan lantunan Al Fatihah membuatnya semakin trenyuh sekaligus tenang. Pikirannya terasa lebih plong sampai ia tersungkut dan larut dalam ayat-ayat Allah yang ia harap dapat menjadi Syafaatnya kelak. Selain lantunan ayat-ayat Allah, udara segar yang masuk melalui celah-celah masjid menambah khusyuk suasana. Relung hatinya yang berduka kini merasa tertutup oleh ribuan tangan malaikat yang menyusup kedalam hatinya dengan halus, jiwanya yang tak tenang ini begitu damai saat merasa ribuan malaikat turut mengamini apa yang ia dambakan.
Selepas shalat, Syadza meminta waktu sebelum kembali ke rumah sederhananya bersama Syauqi. Ia meminta waktu tiga puluh menit dan mengkosongkan roftoop masjid dengan pemandangan menghadap ke arah taman kota yang asri.
Ia berdiam diri, ditemankan shalawat dan segelas coklat hangat. Ia hanya butuh waktu berpikir dan memohon petunjuk Allah tentang apa yang terjadi dalam rumah tangganya. Ia begitu nelangsa ketika menceritakan Aisyah yang begitu dicintai Rosulullah SAW, ia nelangsa ketika tak bisa mematuhi perintah Syauqi yang menyakiti batinnya. .
Terhitung dua minggu setelah peristiwa bertemu gadis yang tak ia kenal, Syauqi berubah. Syauqi kembali dingin seperti saat kali pertama mereka bertemu, obrolan mereka selalu formal, tak lagi sarapan dengan apa yang ia masak dan tak lagi duduk berhadapan sembari suap menyuapi satu sama lain dalam satu meja makan, tak lagi berbaring dipangkuannya sembari menceritakan lelahnya bekerja demi mencari berkah, tak lagi mendekap sembari dibacakan surah Al Mulk sebelum tidur, tak lagi memeluk punggung Syauqi selepas shalat Tahajud, sampai ia tak lagi mendapat nafkah batin dalam dua minggu dan tak ada lagi hal-hal kecil yang membahagiakan antara keduanya saat ini.
Syauqi yang dingin, Syauqi yang menyakiti batinnya, dan Syauqi yang tak lagi menatap kearahnya kembali. Ia kembali, begitukan?
Syadza sudah mecoba tabayun dengan Syauqi, membicarakan apa yang membuatnya seperti itu, namun usahanya gagal. Syauqi tampak tak mau berbicara.
Ia mencoba berbicara lewat Tuhannya. Setiap malam ia isi dengan shalat tahajud, bermunajat pada Allah, memohon ampun atas kesalahannya, memohon petunjuk untuk kebaikan rumah tangganya. Dua minggu yang sama, Syauqi tak pernah membangunkannya untuk melaksanakan Shalat tahajud bersama. Suaminya lebih memilih itikaf dimasjid sampai pukul enam pagi lalu bergegas pergi mencari nafkah. Do'anya tak kunjung mendapat jawaban, Allah diam kali ini.
Ia sempat bepikir, apakah karena dalam satu tahun pernikahan mereka ia tak kunjung dikaruniai seorang anak. Apakah kesabaran kekasihnya mengkikis dalam satu tahun?
Dalam satu tahun menanti buah hati dengan kekasih yang senantiasa mencintainya tak begitu terasa duka, dalam dua minggu kekasih tak lagi menatapnya ia merasa hidupnya jatuh dan tenggelam dalam duka.
Apakah karena ia belum dikaruniai buah hati? Apakah benar...
** **
BERSAMBUNG