Chapter 7
** **
Syadza menjalani hari-harinya dengan lemah. Seolah-olah tak ada lagi harapan untuk hidup. Dan disaat ini, ia menatap lautan awan yang begitu memikat tak takut apabila guntur datang menghilangkan keindahan yang hadir ia teringat apa yang dialaminya fajar tadi...
Ya allah, mohon ampuni dosaku. Apa yang terjadi pada suamiku semoga menjadi pahala untukku...
Flashback...
"Aku berangkat,"
Ucap Syauqi melewati Syadza begitu saja yang sudah menanti di meja makan.
"Mas, tidakah lebih baik sarapan terlebih dahulu, aku sudah membuatkan masakan kesukaan Mas," lirih Syadza menatap punggung Syauqi yang kemudian berhenti.
"Tidak perlu, assalamualaiku..."
"Mas!!" teriak Syadza setelah melirik jarum jam yang masih menunjukan pukul enam lebih lima belas menit. Biasanya Syauqi berangkat pukul tujuh kurang lima belas menit.
"Ini masih terlalu pagi, makanlah dulu. Sudah lama kita tidak makan bersama Mas. Aku mohon,"
Syauqi tak menghiraukan. Ia menuju garasi mobil, menaikinya dengan santai seolah tak perduli ada kekasih yang menatapnya terluka.
"Baiklah, aku tidak apa jika Mas tidak mau makan bersamaku setiap hari. Tapi kali ini antar aku Mas. Aku akan mengisi kajian selepas dzuhur..."
Syadza mengatakan semua itu di depan kaca kemudi, ia mengketuk-ketuk kaca memohon agar Syauqi mendengarkannya.
Karena merasa jengah dengan tingkah istrinya, Syauqi menunrukan kaca samping kemudi.
"Aku tidak bisa. Suruh saja pihak yang mengundangmu mengirim jemputan," tukas Syauqi dingin melihat arlojinya terus menerus.
"Tapi Mas," lirih Syadza nelangsa.
Mobil Syauqi bergerak mundur, mau tak mau ia harus menyingkir sebelum ia terluka.
"Mas, aku mohon!" teriak Syadza sekali lagi saat roda ban mobil suaminya sudah menghadap serong kanan menandakan ia akan keluar dari gerbang istana keduanya.
"Mas, aku mohon antar aku..."
Lirih, sangat lirih. Syauqi sudah melaju kencang dengan mobil Fortunernya. Syadza tak bisa menggapainya.
Tak lama, ponselnya berbunyi. Satu pesan masuk dari Syauqi.
From Suamiku
now at 6.25
Jangan keras kepala, pergilah sendiri. Aku mengizinkanmu keluar tanpa aku saat ini dan seterusnya. Bahagialah.
Jantungnya berdesir pilu, hatinya seolah-olah di remas kencang hingga hancur. Tangisnya yang ia tahan selama ini tak lagi terbendung.
Ia menangis tersedu bersandar pada pintu. Tubuhnya lemas, hatinya hancur.
Pesan singkat dari Syauqi menghancurkannya seketika. Ia merasa tak lagi ditatap dan dicinta. Memang benar adanya.
Apa yang terjadi sebenarnya...
Mengakhiri tangisnya, ia melakukan aktifitasnya membersihkan rumah, menambah hafalan, murojjah , shalat dhuha dan lain-lain hingga adzan dzuhur dengan lemas. Tak ada lagi gairah dalam dirinya.
Bergegas ia berwudhu dan melaksanakan Shalat. Setelah selesai, ia menyempatkan mendatangi kantor Syauqi untuk memberikan makan siang. Ia tau, Syauqi bukan tipe yang suka makan di kantin perusahaan. Setiap hari Syauqi membawa bekal makan siang, kecualk terhitung saat itu hingga saat ini.
Sebelum mengisi kajian ia menyempatkan nengunjungi Syauqi.
Langkahnya berat dan hatinya gelisah. Tak hentinya ia beristigfar takut berprasabgka buruk dan menerka takdir.
Syadza memasuki lobi dengan sopan, matanya menunduk penuh kehati-hatian. Menaiki lift sampai ke lantai sembilan tepat suaminya berkerja.
Ia berdiri di depan meja resepsionis.
"Assalamualaikum, permisi. Apa Syauqi ada di dalam?" tanya Syadza pada resepsionis yang menjanya tertulis nama Sarah.
Sarah menatap aneh wanita bercadar dengan style tidak kuno namun megerikan karena serba hitam baginya. Matanya terlihat sendu dan menenangkan, matanya indah. Sarah menerka jika wanita ini pasti begitu cantik.
Tanpa mengurangi rasa hormat, Sarah menjawba dengan sopan.
"Maaf, sebelumnya bisa perkenalkan nama anda. Kebetulan Pak Syauqi berpesan untuk tidak mengizinkan siapapun masuk karena beliau sedang menerima tamu."
Syadza tercengang. Apakah resepsionis ini baru? Mengapa tidak kenal sipaa dirinya.
"Saya Aira Syadza. Saya istrinya," jawab Syadza lembut.
Sarah tampak terkejut, ia gelagapan. Aneh batin Sarah.
"Baiklah silahkan masuk," kata Sarah ragu.
"Terimakasih banyak mbak Sarah..."
Sarah membalasnya dengan senyuman.
"Kasian sekali dia," kata Sarah setelah Syadza berjarak jauh dari tempatnya berdiri.
Di depan pintu, mendadak ia gelisah. Detak jantungnya tak normal. Tangannya gemetar.
Lailahailallah, lailahailallah, lailahailallah... Tengkan hatiku dengan dekapanmu ya Rabbi... Hamba mohon,
Cekrek...
Knop pintu terbuka. Sepasang kekasih yang tengah berbahagia diam seketika melihat siapa yang tengah berdiri di depan pintu.
Syadza gemetar, kotak makan yang ia bawa jatuh tak sanggup ia genggan lagi. Matanya tak kuasa menahan tangis, bibirnya bergetar tak bisa memanggil nama kekasih yang begitu ia cinta.
Wahai Rabb... Apalagi yang tengah kau ujikan padaku. Tak cukupkah dengan tak kunjung memberiku buah hati. Ya allah. Ampuni hambamu ini yang kurang bersyukur atas nikmatmu. Mohon senantiasakan hamba agar tetap tabah dengan cintamu. Batin Syadza sembari memejamkan mata.
Bibirnya tertutup rapat gemetar...
"Mas..." lirih Syadza pada sepasang kekasih yang tengah saling memeluk menikmati hidangan mewah dari resto khas italia.
Syauqi terkejut, ia merasa bersalah sekaligus membenarkan kata pepatah jika bangkai yang dipendam akan tetap tercium bau busuknya. Dan inilah, Istrinya sudah melihat apa yang membuatnya dingin. Ternyata Allah begitu mengasihi Istrinya itu.
Dengan cepat Syauqi melepaskan dekapan wanita bernama Clara itu. Ia berlari mengejar istrinya yang sudah lebih dulu pergi dengan wajah penuh air mata.
"Aisya!!" panggil Syauqi memenuhi lantai sembilan. Membuat seluruh karyawannya bingung.
"Siapa yang melihat istriku katakan!!!" teriak Syauqi mengacak-acak rambutnya frustasi.
Tak ada yang menjawab.
Ia bergegas turun menuju parkiran, ia yakin istrinya datang dengan mobil seperti yang ia mau.
"Aisyaa! Dimana kamu," teriak Syauqi dengan nafas tersenggal.
Sementara Syadza yang sudah berada di dalam mobil terisak mendengar teriakan Syauqi.
"Ustadzah tidak apa?" tanya mahasiswa yang mengantarnya dari pihak penyelenggara kajian.
"Alhamdulillah, saya baik-baik saja. Segerakan kita pergi... Saya sudah tidak sabar," kata Syadza menahan isakan yang memilukan.
Sepanjang perjalanan batinnya bergemuruh. Dalam relung hatinya tengah terjadi hujan deras dan tanda tanya yang mengerikan bak guntur.
Syauqi mengkhianatinya. Itulah yang terjadi dan itulah kenyataannya.
Flashback off...
"Ustadzah," panggil salah seorang akhwat dari panitia yang mengadakan kajian.
Syadza yang tengah melamun dengan mata dan cadar yang sudah basah oleh air mata terkejut.
Batin Hanin, sudah kali kedua semenjak di mobil dan saat ini Ustadzah Aisya menangis dalam diamnya. Hanin pikir, menangis tanpa suara adalah tangisan paling pilu, pasti dalam jiwanya ada luka yang tak sanggup di definisikan, bibir terkunci rapat tak punya kata untuk bertanya, luka terlanjur membutakan bahagianya sehingga duka begitu menjamah keseluruh raga membuat sang Tuan lemah tak bernyawa.
Sebenarnya apa yang menganggu pikiran wanita berstatus istri pengusaha ini? batin Hanin.
** ** **
BERSAMBUNG