Rengekan Hana
"Enggak pokoknya papi bilang enggak."
Ruang tamu rumah yang besar dengan desain minimalis moderen itu ramai oleh rengekan Hana Putri Gemapraja.
"Papi, please dong, sekali ini aja."
Hana duduk bersila di sofa empuk krem besar, kedua tangannya meremas bantal sofa yang ada di pangkuannya. Wajahnya yang mungil dan manja itu kini berkerut seperti anak kecil yang tidak diberi perman. Tatapannya kesal menatap ke arah sang ke Papi— Teo Gemapraja, yang duduk di seberang sambil memegang ponsel.
Teo mendesah pelan. "Sayang, udah tiga kali dalam seminggu ini kamu minta. Jawabannya tetap tidak. Pokoknya tidak, titik!"
"Tapi Papi belum kasih alasan yang jelas, kenapa enggak boleh."
"Alasannya jelas Nak," potong sang ibu, Ranti, yang masuk dari dapur sambil membawa secangkir teh hangat.
Ranti adalah tipe wanita elegan dengan rambut sebahu dan tatapan lembut menatap sang putri. "Mami sama Papi enggak mau kamu jalan-jalan sendirian tanpa pendamping yang tepat. Apalagi naik kapal pesiar ke Jepang selama dua puluh lima hari, itu terlalu jauh."
"Tapi aku ditemani Jimmy. Mumpung libur kuliah q6ku," protes Hana.
Ranti mengangkat satu alis. "Jimmy pacar kamu, Nak. Apalagi sama Jimmy mami makin was-was ."
"Jimmy bisa jagain aku mi, percaya deh."
"Jimmy laki-laki, dan dia seusia kamu yang juga hobi senang-senang. Bukan tipe yang bisa Papi dan Mami percaya untuk jagain kamu di tengah laut selama hampir sebulan" timpal Teo tanpa mengangkat wajah dari ponselnya sibuk menatap angka-angka di sana.
Hana menghela napas keras. Ia tahu Papi dan Mami-nya tidak akan pernah setuju kalau ia hanya berdua dengan Jimmy. Mereka terlalu protektif, terlalu cemas. Apalagi setelah kasus anak teman Bram yang kabur dengan pacarnya waktu keduanya liburan ke Bali.
Tapi kali ini Hana punya rencana. " Yaudah kalau begitu."
Satu jam kemudian, Hana duduk di teras depan rumah sambil memainkan ponselnya. Matanya terus melirik ke arah gerbang, menunggu. Sosok gadis gemuk dengan ransel merah muda muncul dari balik pagar, Reina pulang.
"Perasaan aku enggak enak," gumam Reina.
Gadis itu berjalan santai dengan wajah sedikit lelah. Ia baru saja pulang dari kampus. Baju kaos longgar dan celana jeans hitam membalut tubuhnya yang gemuk. Rambut hitam panjangnya diikat kuda poni sederhana, Hana langsung berdiri.
"REINA!"
Reina menoleh. "Aduh, kenceng banget suara lo. Kenapa sih, Han?"
"Ke sini, cepet! Gue butuh lo!"
Reina mendekat dengan langkah malas-malasan. Matanya menyipit curiga. "Lo lagi main drama apa lagi nih? Jangan-jangan lo minta gue temenin ke mall lagi, belanja lagi? Gue capek ah, mager, baru pulang kuliah."
"Bukan mall. Lebih gede dari itu."
"Lebih gede dari mall?" Reina mengernyit.
"Iya."
"Lo mau ngajak gue ke istana negara kah?"
"Yaelah, Reina! Seriusan! Ayo ikut gue dulu!" Hana segera meraih tangan Reina dan menariknya masuk ke dalam rumah tanpa menunggu jawaban.
Teo dan Ranti masih di sana, begitu melihat Reina masuk, Teo mengangkat alis sepertinya dia tau apa yang akan terjadi. Ranti juga ikut menatap, tapi dengan ekspresi lebih ramah, Reina sudah seperti anak kedua di rumah ini sejak kecil.
"Han, kenapa sama Reina?" tanya Ranti curiga.
Hana menarik napas panjang. Ia mendorong Reina sedikit ke depan, lalu berkata, "Papi sayang, Mami sayang. kalau aku pergi sama Reina, Papi Mami pasti setuju kan?"
Keheningan sejenak menyelimuti ruangan. Reina menoleh ke Hana dengan tatapan seolah berkata "Lo lagi ngomongin apa?" Tapi Hana hanya menyengir. Hal itu membuat Teo dan Ranti saling pandang.
Hana melanjutkan, "Reina kan anak baik, lihat nih anak kampus hukum, pinter, dan paling penting, dia bisa jagain aku. Kalau sama Reina, aku aman." Hana katakan karena orang tuanya cukup percaya pada Reina.
Ranti mengernyit. "Reina ikut?"
"Iya dong! Kan selama ini Reina juga udah bantuin aku di mana-mana. Aku sama Reina udah pasti aman." Hana tersenyum lebar.
Reina berbisik pada Hana. "Eh, bentar. Gue ikut apa?"
"Liburan kapal pesiar ke Jepang dua puluh lima hari, gratiss," jawab Hana cepat.
Mata Reina membelalak. "Serius?"
"Serius."
Teo menghela napas. Ia menatap Reina. "Kamu mau ikut, Na? Jagain Hana selama dua puluh lima hari di kapal?"
Reina menoleh ke Hana dari i mata sahabatnya itu, ia melihat sesuatu yang selalu muncul berharap dia mau dan sedikit kepanikan. Hana benar-benar takut Papi Maminya tidak mengizinkan. Lagi pula, ini kapal pesiar mewah ke Jepang. Gratis. Siapa yang nolak?
Reina mengangguk. "Boleh, pi. Nanti saya jagain Hana. Janji."
Ranti masih ragu. "Terus kuliah kamu gimana?"
"Liburan semester kok, Mi. Aman."
Teo menghela napas panjang. Ia menatap istrinya, lalu menatap Hana, lalu menatap Reina. Kalau begini semakin tidak bisa menolak Hana. "Kamu yakin bisa jaga Hana?"
"Yakin, Pi."
Keheningan lagi, Hana menahan napas. Ia takut ditolak.
Teo menutup matanya sejenak, lalu mengangguk pelan. "Oke kalau gitu. Tapi kalau ada apa-apa, kamu langsung hubungi kami. Satu masalah saja, kalian berdua langsung Papi jemput di pelabuhan manapun, ngerti?"
Hana langsung melompat kegirangan. "YES! THANKS PAPI MAMI!"
Ranti hanya menggeleng, pasrah. "Ya sudah, kalian siap-siap aja dari sekarang"
Reina berjalan ke kamarnya yang ada di ujung lorong belakang. Bukan kamar pembantu kamar ini memang disediakan khusus untuknya sejak kecil, karena ia sudah seperti saudara bagi Hana. Kamarnya sederhana, tapi nyaman, tempat tidur single, lemari kayu, dan meja belajar penuh tumpukan buku-buku miliknya.
Reina baru saja meletakkan ranselnya ketika pintu kamar terbuka tanpa ketukan.
Hana masuk, kemudian memanggil. "Na."
Reina menoleh sambil melepas sepatu. "Kenapa, Han?"
Hana duduk di tepi kasur Reina. Untuk pertama kalinya hari ini, wajahnya terlihat serius.
"Makasih ya."
Reina tertawa kecil. "Makasih buat apa? Lo ngomong kayak kita orang asing aja."
"Buat tadi, lo ngomong 'saya jagain Hana, janji.' Gue tau lo mungkin sebenernya enggak mau ikut—"
"Eh, siapa bilang gue enggak mau?" potong Reina. "Kapal pesiar ke Jepang gratis, Han. Gue juga mau liburan kayak gitu?"
Hana terkekeh. "Syukurlah gue pikir Lo terpaksa."
"Enggak Lagian," Reina duduk di samping Hana, "lo sahabat gue dari kecil. Kalo lo butuh gue, ya gue ada, simple."
Hana menepuk paha Reina. "Gue janji bakal buat liburan bakal ini asik buat lo. Oke?"
"Buat kita berdua harus menyenangkan. Gue bawa tugas juga, tapi."
"Yaelah, lo tuh kutu buku banget."
"Lo tau gue bisa pusing kalau enggak baca."
Hana bangkit dan berjalan ke pintu. Sebelum keluar, ia menoleh sekali lagi. "Yaudah nanti gue kabarin soal jadwal kapalnya nanti, ya. Lo siap-siap aja"
"Okey."
Pintu tertutup. Reina lalu duduk di kasurnya, menatap langit-langit kamar membayangkan hari hari menyenangkan yang akan dia lewati di kapal pesiar.