Bertemu

715 Words
"Wah gede banget," gumam Reina kagum diikuti anggukan oleh Hana. Reina mengangkat wajahnya, menatap kapal pesiar raksasa yang tertambat di dermaga. Dari luar saja sudah terlihat kemewahannya—jendela-jendela besar, tingkat tinggi bersusun, dek kayu, dan orang-orang berseragam dan berpakaian mewah berjalan hilir-mudik membawa koper. "Sumpah ini gede banget, Han," gumam Reina, matanya masih menatap kapal pesiar di hadapannya itu. "Ya iyalah, namanya juga kapal pesiar mewa. Come on, jangan melongo kayak orang kampung, nanti malu." Reina menyipitkan mata. "Emang gue anak kampung." "Ya enggak, Lo kan dari kecil di jakarta sama gue. Lo aja sekarang udah kece begini." Reina tertawa kecil. Ia memang sengaja memilih penampilan yang berbeda hari ini. Memakai baju yang lama tak ia gunakan hanya dibeli saja. Kemeja cream berpotongan crop top ala Korea—agak longgar di lengan, sedikit cropped di pinggang, tapi tetap sopan. Padu padan dengan rok A-line berwarna krem gelap yang jatuh tepat di bawah lutut. Rok itu memang membuat tubuhnya yang pear shape terlihat lebih ramping dan proporsional. Sepatu Marie Jane putih melengkapi penampilannya clear, simpel, elegan. Rambut hitam panjangnya yang biasa diikat kuda poni atau cepol, hari ini ditata setengah ikat setengah terurai. Sebagian rambut dikumpulkan ke belakang dengan jepit sederhana, sisanya dibiarkan jatuh membingkai wajah bulatnya. Ditambah riasan tipis ala Korea—foundation ringan, alis natural, lipstik warna nude, dan sedikit blush on di pipi. "Iya mumpung gue keluar rumah." Reina katakan. Tapi sedikit tak nyaman karena beberapa orang sejak tadi menoleh, mungkin hanya perasaannya saja. "Lo cantik, Re," kata Hana tiba-tiba, serius. Reina menoleh. "Hah?" "Gue bilang lo cantik. Sekarang cuekin aja kalo ada yang ngeliatin." "Iya," sahut Reina. "Udah, ayo naik. Gue tadi di chat, Jimmy udah di dalem." Di dalam kapal, semuanya terasa lebih mewah dari yang Reina bayangkan. Karpet merah di lantai di lorong, lampu kristal bergantungan di langit-langit, oang-orang di dalam lebih spesial lagi, berpakaian rapi berjalan dengan senyum ramah. Ada kolam renang di lantai atas, bar di sudut, dan restoran dengan aroma makanan yang tercium samar. "Jim!" teriak Hana begitu melihat kekasihnya berdiri di dekat lift. Jimmy menoleh, ia berusia 28 tahun. Kini tersenyum lebar rambutnya sedikit panjang, agak berantakan, tapi keren dengan tatapan matanya yang sayu, kesukaan Hana. "Baby kamu akhirnya dateng!" Jimmy membuka tangan, dan Hana langsung melompat memeluknya. Reina berdiri di samping, tersenyum kecil. Ia sudah terbiasa jadi "orang ketiga" di antara Hana dan Jimmy, tidak masalah sudah biasa. "Kamu udah ketemu sama Yoga temen kamu yang lain?" tanya Hana setelah melepas pelukan. Jimmy mengangguk. "Udah, dia di dalem. Lagi minum kopi sendirian di lounge deket kolam renang. Aku baru aja dari sana, terus nunggu kamu di sini. Emang kamu inget yoga yang mana?" Jimmy mengetes ingatan kekasihnya. "Yoga yang mana ya, yang kmu kenalin dulu?" "Iya, Yoga, temen aku, CEO Amore Corp sekarang, inget?" Hana mengangguk-angguk. "Oh, yang pernah dateng ke rumah pas pesta ultah aku dulu, pas kemarin acara perusahaan papi kamu dia juga datang kan?" "Iyas itu inget kan." "Ya inget dong, mukanya kayak oppa Korea." Hana katakan dengan antusis Jimmy mencubit pipi Hana pelan. "Jangan puji cowok lain di depan aku dong." "Ya ampun, cemburu buta." Mereka bertiga berjalan menuju lift. Reina di belakang, diam. Ia tidak ikut nimbrung karena tidak kenal dengan "Yoga- Yoga" itu. Biarlah Hana dan Jimmy yang ngobrol. Di lounge lantai 7 dekat kolam renang, Yoga duduk sendirian di sofa. Satu tangan memegang cangkir espresso, tangan lainnya sibuk memainkan ponsel. Penampilannya rapi, kemeja hitam, jam tangan mahal melingkar di pergelangan. Wajahnya tajam, dengan rahang tegas dan alis yang sedikit tebal. Matanya serius tatapan dingin dan tegas. Jimmy muncul pertama kali, diikuti Hana. "Ga!" sapa Jimmy sambil mengacungkan kepalan tangan. Yoga mendongak, lalu menyambut kepalan tangan Jimmy dengan senyum kecil. "Lo dari mana? Gue kira Lo kabur?" "Enggak lah, gue lagi nungguin Hana tadi." Yoga mengangguk ke arah Hana. "Hai Han." "Hai, Yoga. Lama gak ketemu," balas Hana ramah. Yoga mengangguk lagi, lalu matanya bergerak ke belakang Jimmy dan Hana. Ke arah sosok yang berdiri agak jauh, di dekat pintu masuk lounge.bSosok dengan kemeja cream, rok A-line, dan rambut setengah terurai, tatapan Yoga berhenti, tatapan matanya tidak bisa berpaling. "Iya terakhir di rumah Lo kan?" tanya Yoga. Hana menggeleng. "Di acara perusahaan papinya Jimmy deh seinget gue Ga." "Ah, Iya," sahut Yoga seadanya tapi dia kembali menatap Reina.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD