Anak pembantu

701 Words
. Reina masih diam, berdiri di sana diam dan santai, ia tidak banyak gaya, tidak juga sambil senyum. Hanya berdiri sambil memegang tali tas selempangnya, menatap pemandangan kolam renang di sampingnya, tapi entah kenapa, Yoga merasa ada sesuatu yang aneh dalam hatinya. Wajah itu, bukan hanya familiar pernah. Yoga mengernyit, di mana ia pernah melihat gadis itu? Jimmy menyadari tatapan Yoga. Ia menepuk bahu temannya. "Ga, lo kenal Reina?" Tanya Jimmy mengikuti arah tatap sahabatnya itu. Yoga tersadar, lalu ia menoleh ke Jimmy. "Itu— siapa Jim?" Jimmy tersenyum, melirik Reina sebelum menjawab. "Oh, itu Reina, dia bukan anak rekan bisnis kita, ya. Santai aja, aman aja kalau Lo enggak kenal." Yoga menatap Reina, lalu Jimmy lagi. "Terus siapa?" "Reina, dia itu anak pembantu di rumah Hana orang tuanya udah meninggal. Tapi, dia Udah dianggap kayak anak sendiri sama orang tua Hana." Yoga hanya mengangguk pelan. Tidak bereaksi banyak. Tapi matanya kembali melirik ke arah Reina. Anak pembantu? Batin yoga, rasanya ia mengingat sesuatu. Dua tahun lalunaaay ada pesta di rumah Hana. Yoga baru saja mulai masuk ke perusahaan keluarga, belum menjabat sebagai CEO. Ia datang sendirian, sedikit canggung di antara para petinggi lainnya. Lalu ia memilih menjauh, ke taman belakang. Di sana ia melihat seorang gadis gemuk duduk di kursi taman. Rambutnya cepol berantakan. Wajahnya tanpa riasan, badannya yanh gemuk dibalut kaos oblong longgar dan celana pendek, di tangannya, ada sebuah buku tebal. Gadis itu sedang membaca. Serius. Tidak peduli dengan pesta di dalam rumah. Yoga sempat bertanya-tanya, "siapa dia?" Tapi ia tidak berani mendekat. Wajah gadis itu terlalu serius saat membaca, membuat ia berpikir kalau gadis itu menolak siapapun yang mendekat terutama dirinya. "Lebih baik jangan diganggu," gumam Yoga ia masih memerhatikan beberapa saat sebelum akhirnya ia meninggalkan tempatnya berpijak. Dan saat itu, Yoga belum punya posisi. Belum jadi CEO. Belum punya kepercayaan dir yang cukup untuk mendekati seseorang gadis yang terlihat luar biasa seperti Reina. Sekarang, di kapal pesiar ini, Yoga melihat gadis yang sama, tapi jelas berbeda. Rambut Reina bukan dicepol berantakan, tapi rambut setengah terurai rapi tertata, pakaiannya bukan kaos oblong longgar, tapi kemeja cream ala Korea dan rok A-line yang membuat tubuh pear shape-nya terlihat proporsional. Wajahnya, ada riasan tipis ala Korea yang membuat fiturnya semakin cantik dan menggemaskan. Dari gadis kumal di taman belakang, menjadi seseorang yang, lebih menarik perhatiannya. Jimmy tiba-tiba memotong lamunan Yoga. "Han, baby, sayangku, kamu ke kamar dulu aja. Ambil kunci dari resepsionis. Aku sama Yoga di sini dulu ya, mau ngobrol bentar." Jimmy katakan pada Hana. Hana mengangguk. "Oke sayang. Na, ayo ikut gue, kita ke kamar." Reina yang tadinya diam menatap kolam renang, menoleh. "Iya ayo." Hana meraih tangan Reina, dan mereka berdua berjalan meninggalkan lounge. Sementara tatapan mata Yoga masih mengikuti sosok Reina dengan matanya sampai benar-benar menghilang di balik pintu lift. Jimmy menepuk bahu Yoga lagi, lebih keras. "Ga, lo kenapa sih? Kayak liat apaan gitu." Yoga menggeleng, mengalihkan pandangan ke ponsel dihadapannya. "Enggak kenapa-kenapa." Jimmy menatap dengan curiga lalu mengikuti arah tatap Yoga. "Lo tadi juga nanyain Reina." "Cuma penasaran." Yoga katakan masih berusaha menghindari tatapan mata Jimmy. Jimmy terkekeh. "Hati-hati, Ga. Gue tau banget dia bukan tipe lo. Jangan aneh-aneh dia sahabat sejatinya Hana, kalau dia kenapa-kenapa gue yang bisa habis di gorok sama Hana." Yoga tidak menjawab, ia meminum espresso-nya sampai habis. Mencoba menghilangkan rasa penasarannya. Setelah hening beberapa saat, Jimmy bertanya lagi. "Lo kamarnya di mana, Ga? Nanti malem gue mau mampir." Yoga menggeleng. "Gue gak mau jawab." "Lho kenapa?" Tanya Jimmy merasa ditolak ia harus tau alasannya. "Takut lo gangguin gue pas mabuk. Kebiasaan buruk lo tuh kalau mabuk gangguin gue sama yang lain. Lo krnkamr Abi aja lah." Yoga tak mau sahabatnya itu mengganggu tidurnya ketika mabuk. Itu menyebalkan. Jimmy tertawa keras. "Wih, enggak ada salahnya kan mabuk sedikit di kapal pesiar? Kapan lagi kita happy happy. Gue juga enggak bakal mabuk berat, kan ada Hana dia pasti larang gue Ga." Yoga hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala, tapi pikirannya masih belum berhenti memikirkan Reina. Kini dia bersama gdis itu, berada di kapal yang sama. "Ga," panggil Jimmy lagi. "Hmm?" Sahut yoga singkat. "Ayo kasih tau gue kamar lo." Jimmy bertanya lagi setengah memaksa. "Enggak," kesal Yoga karena Jimmy terus memaksa.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD