mabok laut

1007 Words
Hoek Hoek Hoek! "Han oke kan?" tanya Reina. "Oke apaan! Mual banget gue kayak orang ngidam." Kamar Reina dan Hana besar di buat meriah oleh suara Hana yang mual mual karena mabuk laut. Kamar mewah itu berisi, dua tempat tidur ukuran queen dengan seprai putih, jendela yang menghadap laut, kamar mandi marmer, dan bahkan balkon kecil dengan dua kursi santai. "Yaudah tdur aja biar gak mual lagi," kata Reina. Hana sudah tidur sejak jam delapan. Dia benar-benar karena mabuk laut. Seharian dia bolak-balik ke kamar mandi, muntah sampai suaranya serak. Wajahnya pucat, bibirnya kering, dan badannya lemas kayak karung basah. "Gue benci kapal," gumam Hana sebelum akhirnya terlelap dengan posisi meringkuk di atas kasur. Reina duduk di tepi tempat tidurnya, menatap Hana sebentar. Kasihan juga, padahal baru hari pertama. Dia sibuk mengusap-usap punggung sahabatnya itu. Reina sendiri merasa baik-baik saja. Mungkin karena tubuhnya yang gemuk dan stabil—entahlah. Dia tidak merasakan apa-apa selain sedikit gemetar di bawah kaki, itu pun masih bisa diabaikan. Jam menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. Reina tidak bisa tidur. Dadanya terasa sesak karena seharian di dalam kabin. Dia butuh udara. "Cari angin ah." Dia mengambil buku tugasnya, buku tebal, penuh dengan catatan hukum dan kasus-kasus yang harus dibaca—lalu keluar dari kamar. "Di sini aja kali ya." Ia bergumam pada diri sendiri mencari posisi yang tidak jauh dari kamar. Dek kapal sepi di sana hanya ada beberapa orang yang masih terlihat, itupun hanya sekadar lewat. Kebanyakan penumpang sudah masuk ke kabin masing-masing sepertinya. Reina berjalan pelan, mencari tempat duduk yang nyaman. Akhirnya dia memilih bangku panjang di dekat pagar pembatas, tepat di bawah salah satu lampu jadi dia bisa membaca dengan bantuan lampu itu. Reina segera duduk kemudian membaca bukunya membalik lembar per lembar dengan wajah yang serius. Angin malam berhembus, sebagian rambutnya yang terurai bergerak terkena angin. Reina menarik napas panjang merasakan udara laut yang menyegarkan, lalu membenamkan dirinya kembali ke dalam bacaan. Sesekali dia mengangkat ponsel, memotret pemandangan. Langit malam dengan bintang-bintang yang terlihat lebih canrik dari pada di kota. "Cantik banget, sayang Hana gak bisa lihat ini," ucap Reina. Di dek atas, tepat di balkon suite pribadinya, Yoga berdiri. Dia tidak bisa tidur, bkan karena mabuk laut sama seperti Hana—dia sama sekali tidak mabuk laut. Tapi kepalanya terlalu memikirkan tentang pekerjaan padahal harusnya dia menikmati momen ini. Rapat-rapat yang ditinggalkan, pesan-pesan dari kantor yang belum dibalas. "Lupain dulu lah," gumam yoga. Dia lalu berjalan ke ujung balkon, menyandarkan siku di pagar, lalu menatap ke bawah. Dan dia melihatnya, Reina. Gadis itu duduk sendirian di bangku panjang, membaca buku di bawah lampu. Dari atas, Yoga hanya bisa melihat puncuk kepala Reina—rambut hitam panjang yang diikat setengah, terurai lembut di bahu. Sekali-sekali gadis itu mengangkat ponsel, memotret sesuatu, lalu kembali membaca bukunya. Yoga tidak bergerak. Dia hanya berdiri di sana, memerhatikan. Ada sesuatu yang aneh. "Masih kayak dulu," gumam Yoga. dia ingat beberapa tahun lalu di taman belakang rumah Hana. Gadis gemuk dengan kaos oblong, rambut cepol berantakan, membaca buku tebal padahal saat itu rumah Hana sibuk dengan pesta. Sekarang dia di sini. Berbeda penampilan. Tapi terlihat sama, susah didekati. Yoga terus memerhatikan. Tanpa sadar waktu demi waktu berlalu. Gadis itu tidak bergerak dari tempatnya. Kadang dia tersenyum kecil saat membaca sesuatu, sesekali terlihat mencetak di sisi buku terlalu serius dan itu justru mengusik. Lalu Yoga mengambil keputusan. Dia berbalik, masuk ke kabinnya, mengambil jaket tipis, lalu keluar menuju lift. Dia akan turun ke dek bawah, ia akan mendekati gadis itu. Tapi saat lift terbuka dan Yoga melangkah keluar, bangku panjang di bawah lampu temaram itu sudah kosong. Reina sudah pergi, Yoga berhenti. Matanya mencari di sekitar tempat itu. Tidak ada siapa-siapa. "Ke mana dia?" Ponsel Reina bergetar. Sebuah pesan dari Hana: Hana: Na lo dimana gue muntah lagi Reina menghela napas, ia sudah mulai masuk ke dalam bacaan, tapi ya sudahlah. Temannya butuh bantuan. Dia menutup buku, merapikan barang-barangnya, lalu berjalan cepat menuju kabin. Pintu kabin terbuka. Hana sedang duduk di tepi tempat tidur, wajahnya pucat pasi. Rambutnya acak-acakan, bajunya kusut, dan matanya sembab seperti habis menangis. "Lo kemana aja, Re? Gue muntah dua kali lagi," rengek Hana. Reina meletakkan buku dan ponselnya di meja. "Ke dek. Cari angin gue sambil baca Lo gimana udah mendingan?" "Enggak, boro-boro mendingan gue malah makin parah. Gue pikir perjalanan ini bakal menyenangkan. Taunya bener-bener sial."kata Hana kesal. Reina tersenyum lalu duduk di samping Hana. "Udah, coba gue kerokin dulu. Sini." Hana mengerutkan dahi. "Kerokan? Di kapal pesiar mewah? Lo gila?" "Emang kenapa?" "Gak banget, Re. Ini kapal mahal masa gue kerokan" "Masuk angin, mabok air, gak kenal kapal mahal, Han." Reina sudah mulai merogoh tas kecilnya, mengeluarkan satu koin receh yang selalu dia bawa untuk keadaan darurat seperti ini. "Udah, buka baju. Gue kerokin gue jamin sehat lo." "Gak mau ah pasti sakit." "Ya emang sakit, tapi abis itu lo enakan." "Gak mauuu." "Han." "Gak—" "Hana ih." Hana mendesah. Dia tahu nada suara Reina, kalau sudah kayak gitu, tidak ada gunanya berdebat. Dengan ogah-ogahan, Hana membuka kemejanya sedikit, memperlihatkan punggungnya . Reina duduk di belakangnya, memegang koin, lalu mulai mengerok pelan di sepanjang tulang belakang. "AW! Sakit bener, Na! Asli!" pekik Hana. "Masih pelan ini tuh tahan dikit." "Pelan apaan? Rasanya kayak di silet!" Reina terkekeh, lalu ia melanjutkan mengerok, kali ini dengan tekanan yang lebih merata. Hana terus berteriak kecil setiap kali koin melewati titik-titik tertentu di punggungnya. "Aduh! ANAK SIALAN! Sakit banget!" "Ya elah, Han, lo kayak orang mau melahirkan." "GUE GAK PEDULI! BERHENTI!" "Belum." "REINA!" Satu kali tarikan lagi. Hana menjerit. Reina tertawa sampai matanya berkaca-kaca. "Awas lo, Re. Gue LEMPAR LO KE LAUT," ancam Hana sambil terus mengaduh kesakitan. "Udah, udah, selesai." Reina meletakkan koin dan menepuk punggung Hana pelan. "Sekarang tidur. Besok pagi lo pasti enakan." Hana masih menggerutu, tapi tubuhnya sudah lemas. Dia merebahkan diri di kasur, menarik selimut sampai ke dagu. "Lo jahat sumpah serius," gumam Hana dengan mata terpejam. "Iya, iya. Gue jahat." "Jahat banget." "Udah tidur sana." Hana tidak menjawab, dalam hitungan menit, napasnya sudah teratur, tidur.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD