White musk

1207 Words
Suaranya pelan, lembut, membuat yoga terdiam sesaat. 'Kak Yoga.' Dua kata itu terdengar sangat manis di telinga Yoga. Dia hampir tersenyum, ya hampir. Sudut bibirnya terangkat sedikit, tapi segera ditahannya. Wajahnya tetap datar, hanya mengangguk tipis. "Halo." Satu kata yang pendek terkesan dingin, tapi di dalam dadanya, sesuatu berdebar tidak karuan. Jimmy mulai sibuk memotong sosis di piringnya. Dia makan dengan lahap, tidak peduli dengan suasana yang mulai terasa aneh di antara dua orang di hadapannya. "Lo tau Ga, Reina tuh pinter banget. Kuliah hukum, beasiswa. Gue sering sharing ke dia." Jimmy buka suara. Reina hanya tersenyum malu. "Enggak kak, biasa aja kok enggak pinter-pinter banget. Kak Jimmy lebay." "Lebay? Fakta Na." Tambah Jimmy Yoga hanya memerhatikan keakraban diantara keduanya. Jimmy melanjutkan, "Tapi jangan coba-coba deket, ya, Re. Temen gue yang satu ini terkenal dingin, cuek susah dideketin. Gue aja kadang males ngajak dia ngobrol." Dia tertawa sambil mengunyah sosisnya. Yoga melirik Jimmy dengan tatapan sedikit kesal. Matanya menyipit hampir tak terlihat. Bibirnya mengerucut tipis. Tapi Jimmy tidak sadar, mulutnya sibuk mengunyah, sesekali menyeruput jus jeruk. Reina menatap Yoga sebentar, dia sempat melihat tatapan tajam Yoga pada Jimmy, lalu setelah beberapa detik kemudian beralih ke arahnya. Lalu, tanpa banyak berpikir, dia sedikit menjauhkan tubuhnya dari meja. Bukan bangkit berdiri dan pindah Reina hanya menggeser kursinya beberapa sentimeter ke belakang. Seperti setuju denganperkataan Jimmy. Seperti membuat jarak dan jangan dekat-dekat. Yoga melihat itu, Reina bergerak kecil yang hampir tidak terlihat, tapi dia melihatnya. Dan dia merasa kesal bukan pada Reina, tapi pada Jimmy. Dengan suara tegas, Yoga berkata, "Saya enggak kayak gitu itu." Jimmy berhenti mengunyah, enatap Yoga. Matanya memerhatikan, terkejut dengan reaksi Yiga. "Lho, lo marah ya Ga?" "Enggak." "Tapi Lo kayak marah deh gue—" "Gue bilang saya enggak kayak gitu." Yoga menoleh ke Reina. Matanya bertemu dengan mata Reina untuk pertama kalinya pagi ini,ntatapannya tidak cuek dan dingin. Dia mencoba tersenyum meskipun kaku. "Jangan percaya omongan Jimmy." Reina agak terkejut, agak tidak menyangka Yoga akan bereaksi seperti itu. Alisnya terangkat, matanya berkedip dua kali. Lalu dia tersenyum mencoba meredam situasi. "Iya, Kak aku percaya sama Kak Yoga." Jimmy terkekeh sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal, heran, bingung, aneh. "Wih, Ga, lo hari ini kenapa? Biasanya diem aja." Yoga tidak menjawab, ia kembali sibuk dengan piringnya, meskipun konsentrasinya sudah buyar. Semua karena Reina ada di sampingnya meskipun sedikit menjauh. Tiba tiba —tercium aroma parfum manis, sweet baby —white musk. Wangi yang lembut, wangi yang tidak menusuk, tapi membuat seseorang ingin terus menghirupnya. Seperti bubuk bedak bayi dicampur vanilla dan sedikit bunga. Wangi yang terasa bersih, segar dan membuat dia merasa tergelitik sedikit. Yoga tidak tahu kenapa dia bisa menciumnya dari jarak hampir satu meter. Sepertinya karena angin dari jendela membawa aroma itu ke arahnya. Mungkin karena parfum Reina memang menyebar atau mungkin karena hidungnya yang terlalu peka. Apapun alasannya, Yoga sekarang tidak bisa tenang. Ternyata Reina duduk lebih dekat dari yang Yoga kira dan lebih dekat dari yang dia inginkan. Dan sekarang Yoga tidak bisa tenang. Setiap kali Reina mengangkat sendok ke mulutnya dengan gerakannya yang pelan dan , hati-hati; bibirnya terbuka sedikit sebelum menyuap—oga memperhatikan; Setiap kali dia menyentuh gelas airnya jari-jarinya yang gemas melingkar di kaca gelas itu —Yoga memperhatikan; Setiap kali dia tersenyum kecil pada Jimmy karena Jimmy melontarkan lelucon yang tak lucu menurut yoga—pipinya yang berisi memerah, matanya menyipit membentuk bulan sabit— segala hal tentang Reina membua Yoga memperhatikannya. Yoga benci ini, benci karena tubuhnya bereaksi tanpa izin, benci karena matanya terus tertuju pada gadis itu, tapi di sisi lain dia juga menikmati, suka menatap lama-lama. "Makannya kemarin kan gue bilang Lo di kampus enggak usah terlalu banyak belajar." Jimmy berkata. "Di kantor harus jadi Avatar kadang kerjaan enggak sesuai sama job desk." "Mana bisa gitu sih kak?" Reina menggeleng. Jimmy yang tidak sadar apa-apa terus makan dengan lahap, sesekali melontarkan cerita-cerita receh tentang pesta-pesta lama atau tentang bosnya yang pelit. Reina hanya mengangguk-angguk, kadang tertawa. Sekali-sekali dia menatap Yoga, dan Yoga selalu berpaling lebih dulu. Seperti anak kecil yang ketahuan mengintip. Sarapan berlangsung sekitar dua puluh menit. Tapi bagi Yoga rasanya lebih dari itu. Piring Reina hampir kosong. Tinggal beberapa butir anggur hijau yang. Dia menatap piringnya, lalu menatap jam di dinding, lalu menatap Jimmy. "Kak, aku pamit ke kamar dulu ya." Jimmy mengangkat alis. "Loh, lo mau ke kamar? Gue ambilin makanan dulu" "Iya, Hana sendiri dari tadi. Aku cemas kesian dia kak." Reina mulai merapikan piringnya, menyusun sendok dan garpu di atasnya. "Aku juga mau bawain sarapan buat dia. Kasian dia cuma muntah-muntah." "Oh iya, Hana. Masih sampe sekarang ya?" tanya Jimmy agak bersalah. Baru sadar dia hampir lupa pada pacarnya sendiri. "Masih mabuk laut, Kak, parah. Dari semalem muntah terus." "Ya ampun, gue cariin makanan nanti gue ke sana habis ngopo sebentar." Reina tersenyum lalu mengangguk. "Iya. Makanya aku balik dulu. Nanti aku bawain dia bubur atau sesuatu yang hangat tadi aku liat di sana ada bubur." Dia mendorong kursinya ke belakang. Kaki kursi bergesekan pelan dengan karpet. Lalu dia berdiri. Dari belakang yoga bisa melihat, Reina dengan dress baby doll soft pink-nya terlihat sempurna. Kuncir kuda poni di depan bergoyang sedikit saat dia membetulkan tas selempang kecilnya. Reina menoleh ke arah Yoga, Yoga sedang menatapnya tidak berpaling kali ini. "Kak Yoga, aku pamit dulu." Suaranya lembut, manis ada senyum kecil di—senyum sopan. L terbiasa Reina lakukan saat berbicara pada orang yang baru dikenal. Yoga mengangguk. "Ya. Hati-hati." Dua kata, masih pendek, dingin tapi sudah lebih akrab dibanding kata halo yang Yoga ucapkan tadi. Reina mengangguk balik, lalu berjalan meninggalkan meja sambil melambaikan tangan. Langkahnya pelan, tidak tergesa-gesa. Sepatu pantofel putihnya berbunyi pelan setiap kali menyentuh lantai. Di meja, Yoga mengikuti sosok itu, Dress pink yang bergerak mengikuti setiap gerak tubuh Reina. Rambut yang bergoyang setiap kali dia berjalan. Sampai pintu keluar Reina menghilang ia kehilangan sosok itu. Baru Yoga sadar bahwa dia sudah menahan napas. "Ga." Suara Jimmy membuat ia sadar. Yoga menoleh. "Ya?" "Ini perasaan gue apa dari tadi lo ngeliatin Reina mulu?" Jimmy bertanya. "Enggak." "Enggak apa? Mata lo hampir copot ngikutin dia." Jimmy katakan lagi sambil menatap oenasraan. Yoga mendesah. "Enggak gitu." "Terus gimana?" Yoga tidak menjawab, ia memilih mengambil cangkir kopinya, meminum kopi hitam yang sudah dingin, dan berusaha terlihat biasa saja. Jimmy tersenyum jahil. "Wah, jangan-jangan lo suka—" "Jimm!" "Ya ampun, bercanda." Tapi Jimmy tidak benar-benar bercanda. Dan Yoga tahu itu. Di kamar, Reina membuka pintu dengan pelan. Hana masih terbaring di kasur, wajahnya pucat, rambutnya acak-acakan. "Lo usah balik, Na?" Tanya Hana dengan suaranya yang serak. Reina meletakkan piring berisi nasi dan telur yang sudah dia bungkus rapi dari ruang makan. Juga segelas teh jahe hangat yang dia minta dari pelayan sebelum ke kamae. "Iya, ini udah gue bawain makanan buat lo." Reina duduk di tepi kasur, tangannya meraba keninh Hana. "Masih pusing ko?" Hana mengangguk. " Sumpah rasanya enggak enak banget. Perut gue kayak diaduk-aduk." "Yaudah gini Lo makan dulu sedikit aja. Terus gue kerokin lagi." "Enggaj!" Hana langsung membuka mata lebar-lebar. "Gue lebih milih mati daripada dikerokin Lo lagi." Reina tertawa. "Ya udah, kalau gitu lo harus makan." "Maaf ya gue ngerepotin, Na." "Udah jangan ngomong gitu, makan gih." Hana tersenyum lalu berusaha menikmati santap paginya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD