Sudah beberapa hari berlalu sejak sarapan pagi itu. Hana yang tadinya lemas dan muntah-muntah, kini perlahan pulih. Sudah mulai kembali pulih, tidak lagi mabuk laut, dan nafsu makannya perlahan kembali normal.
Dan meksipun Hana menolah, tapi Reina sampai tiga kali mengeroki punggung Hana, dan setiap kali Hana berteriak kesakitan sambil mengumpat, tapi setelahnya dia selalu mengaku enakan. Dan hari ini adalah malam yang ditunggu-tunggu, pesta.
Bukan pesta biasa ini pesta yang memang sengaja dibuat oleh teman-teman Jimmy. Aturannya juga dibuat oleh mereka semua. Tidak termasuk Yoga, dia sibuk dan hanya setuju saja.
"Nanti pokoknya kita harus nikmatin party ini. Kenalan sama banyak orang biar banyak relasi." Hana katakan karena ia ingin Reina berkembang.
"Lo juga kenalan?" tanya Reina.
"Enggak ah, gue kan mager."
"Hmm dasar," kata reina.
Reina sebenarnya tidak tahi acara ini, tapi ia jadi tahu karena Hana tidak berhenti bicara tentang acara ini sejak semalam. Dari tema, dress code, sampai aturan main yang aneh-aneh. Reina hanya mengangguk-angguk mendengar, sesekali bertanya, tapi tidak terlalu tertarik.
"Tunggu, gue ada sesuatu." Hana menuju koper besarnya. Lalu Hana mengeluarkan kotak besar dari lemari.
Reina memerhatikan.
Hana bangkit, berjalan menuju Reina dan memberikan kotak itu pada Reina. "Ini buat lo."
Reina menatap kotak berwarna krem dengan pita satin yang dipegang Hana. "Apaa nih?"
"Buka aja."
Reina membuka kotak itu Dnegan hati-hati. Di dalamnya, tersimpan rapi sebuah gaun berwarna champagne— earna keemasan muda yang lembut . Kainnya lembut, pasti akan jatuh dengan sempurna jika dipakai, dengan kilau tipis yang tidak norak.
"Bagus banget Han, gila." Reina menatap dengan kagum gaun itu cantik terlalu cantik untuknya menurut Reina.
Hana tersenyum bangga. "Gue yang beliin, gue yang pilih. Lo harus pake ini malam ini."
Reina mengeluarkan gaun itu dengan hati-hati. Potongannya sederhana. Rok A-line—model yang sama seperti rok favorit Reina, tapi versi gaun panjang sampai mata kaki. Bagian bahu terbuka, hanya dua tali tipis yang menahan gaun itu di pundak Reina. Bagian dadanya dirancang pas, tidak ketat tapi tidak longgar, cukup untuk menonjolkan apa yang perlu ditonjolkan.
Reina menatap gaun itu lama sambil memutar ke kanan dan kirim "Han, ini pasti mahal banget deh."
"Gue beli, gue yang bayar. Lo pake aja enggak mahal kok." Hana katakan sambil sibuk ngemil.
"Tapi—"
"Na, lo sahabat gue. Lo jagain gue selama sakit. Ini hadiah, gue siapin sebelum kita berangkat Lo harus pakai."
Reina menatap Hana terharu. Dia tidak pernah punya gaun semewah ini. Selama ini dia hanya memakai baju-baju biasa, yang penting sopan dan rapi. Tapi gaun ini sangat berbeda terlalu mewah.
"Malam ini gue mau lo keluar dari zona nyaman lo," kata Hana lagi, tangannya memegang pundak Reina. "Di sana tuh banyak cowok-cowok ganteng kaya juga . Secara value mereka juga tinggi. Lo bisa ikut, siapa tahu dapat jodoh."
Reina tertawa kecil. "Gue cuma sadar diri, Han. Gue ini anak pembantu."
"Anak pembantu yang kuliah hukum, dapat beasiswa pula. Lo pinter, lo cantik. Jangan pernah rendah diri, Na. Yang ada orang lain yang harus sadar diri di depan lo." Hana coba meyakinkan.
Reina diam. Ada hari di dadanya mendengar itu. Hana memang sering manja dan kadang menyebalkan. Tapi saat seperti ini, dia tahu Hana tulus.
"Iya deh pake." Reina katakan.
Hana bertepuk tangan kegirangan. "Ye gitu dong! Ayo deh kita dandan."
Keduanya kemudian menyibukkan diri dengan merias wajah mereka titik Reina lebih suka hiasan ala Korea atau douyin China. Sementara Hana lebih suka yang sedikit bolt riasan fresh Thailand atau riasan Indonesia.
Setelah hampir 2 jam keduanya selesai setelah merias wajah mereka berganti pakaian lalu berjalan menuju lemari besar yang ada cermin di sana.
Reina berdiri di depan cermin kamar, tidak percaya dengan bayangannya sendiri. Dia terdiam tak menyangka seperti melihat orang lain.
"Cakep banget bajunya Han."
Gaun champagne itu jatuh sempurna di tubuhnya. Rok A-line yang melebar di bawah membuat pinggulnya yang lebar terlihat proporsional, tidak terlalu mencolok. Bagian bahu yang terbuka memperlihatkan lekuk leher dan tulang selangkanya yang ternyata, cantik. Tapi yang paling menonjol adalah bagian d**a.
"Tapi t***t gue gede banget anjir, malu." Reina katakan sambil menutupi dengan tangan.
Reina tahu dadanya besar. Selama ini dia selalu menyembunyikannya dengan baju longgar atau jaket tebal. Tapi malam ini, dengan gaun ini, tidak ada yang bisa disembunyikan. Gaun itu pas di d**a, tidak berlebihan, tapi cukup untuk membuat siapa pun yang melihat tahu: Reina bertubuh gemuk dengan segala keindahannya.
"Enggak ah, cantik, biasa aja anggap kita princess, gak usah mikir orang Lo cantik banget." Hana katakan sambil merapikan rambut.
Dan entah kenapa setelah mendengar Hana bicara, untuk pertama kalinya, Reina merasa cantik. " Iya, gue cuek. Gue cantik." Reina merasa cantik bukan karena dipaksa. Bukan cantik karena dibandingkan dengan standar orang lain. Tapi cantik karena dia melihat dirinya sendiri dan berpikir, kalau ia layak dan pantas tampil seperti itu.
Reina juga merias diri. Bukan sekadar riasan tipis seperti saat naik kapal. Kali ini dia mengeluarkan semua skill makeup yang dia pelajari dari YouTube selama bertahun-tahun. Foundation dipakai tipis tapi merata. Eyeshadow warna peach lembut di kelopak mata. Eyeliner tipis yang membuat matanya terlihat lebih besar. Bulu mata palsu—yang tadinya dia pikir akan norak—ternyata membuat matanya semakin cantik dilihat. Lipstik warna dusty rose yang membuat bibirnya terlihat montok dan segar.
Hana yang sudah berdiri di pintu dengan gaun merah marunnya, hanya bisa terpana.
"Kann Lo sumpah."
"Kenapa?" tanya Reina
"Kita sama-sama kayak model anjir." Hana Kemudian terkekeh.
Reina tertawa. "Udah, jangan gitu Lo kan sering juga ikut acara begini."
"Gue sering tapi kan beda, biasanya gak ada lo! Gue yakin cowok-cowok nanti bakal ngeliatin lo semua."
"Ya sudahlah. Ayo, kita nanti telat." ajak Reina.
Hana mengangguk kemudian berjalan bersama Hana.