"Tapi gua sama dia gak pernah akur dari awal!"
Anggara mengingat keluhannya pada Aarav kemarin.
"Ya, elunya jangan terlalu sensi. Jangan kayak bapak lagi marahin anak, ingat! Istri lo itu Gen-Z, kalau lu masih pakai cara komunikasi bapak-bapak yang kolot, yang gak bolehin ini itu, gak heran kalau tabrakan terus. Coba deh, elu pakai jurus soft spoken, squishi gemesin... Nah, bini lu juga bakal jadi bakpao yang enak buat dilahap pas lagi anget-angetnya."
Panjang lebar sang psikolog menjelaskan namun Anggara tetap bergeleng kepala mengelaknya.
"Tetep gak mempan, malah sekarang dia ngiranya gua selingkuh!" sanggah Anggara, sepertinya ia lupa soal penyebab Agnia murka.
"Nah apalagi kalau sudah begitu, jelas-jelas dia cemburu... Please bro,lu harusnya lebih mengerti, hargai usahanya, keagresifannya selama tiga bulan ini. Sebenarnya itu harta karun!"
Jelas Anggara semakin bingung dengan konsultasinya yang kacau. Aarav tentu masih belum bisa memecahkan permasalahannya, sebab dari sumber informasinya saja sudah carut marut, bisa dipastikan Aarav masih belum mengerti tentang percobaan kegiaatan intim yang sebenarnya dilakukan bersama Jesika. Semua itu tak mungkin bisa disatukan dengan hubungannya dengan Agnia yang masih butuh pendekatan.
"Om, udah!"
Disaat Anggara frustasi memikirkan dirinya, Jesika muncul dengan senyuman sangat lebar, bagaimana tidak, sang sugarbaby baru saja selesai membeli beberapa barang mahal di mall yang mereka kunjungi. Ia juga sudah mendapatkan jenis ponsel keluaran terbaru yang didambakan, terlebih Anggara tak pernah perhitungan saat ia merengek ingin.
"Yakin udah?" Anggara memastikan. Ia benar-benar memanjakan gadis muda itu.
Jesika pun terlihat melirik keatas sembari berpikir, alangkah mubazir jika tawaran sang Daddy tidak dipergunakan dengan sebaik-baiknya, lagipun ia beralasan karena tak ingin Anggara merasa diremehkan. Kekayaan seorang direktur takkan habis hanya dengan membeli beberapa barang itu, bahkan Anggara bisa saja membeli mall tersebut jika, karena harta kekayaannya pasti tidak kaleng-kaleng.
"Satu lagi deh, Om?" gadis itu akhirnya kembali bergelayut manja dilengan Anggara.
"Satu sampai sepuluh!" tegas Anggara makin membuat Jesika berbinar.
Keduanya akhirnya melenggang santai ke sebuah toko kosmetik dengan brand ternama, disana Jesika pun kembali sibuk dengan belanjaan bahkan tak segan melibatkan Anggara dalam meminta pendapat, sekalipun interaksinya langsung dinotice oleh pengunjung lain bahwa hubungan mereka memang sepasang kekasih beda usia.
Saat Jesika merasa disurga, Anggara tiba-tiba malah membayangkan jika Agnia yang berada disana saat mereka tengah makan bersama. Anggara merasa seolah-olah gadis berhijab yang cantik itu sedang memilih menu makanan dengan senyuman dan tingkahnya yang riang. Namun, Anggara sadar bahwa sang istri takkan sesibuk Jesika dengan barang mahalnya. Bahkan saat didalam khayalanpun standar kebahagiaan Agnia sangatlah sederhana.
Akan tetapi, khayalan itu tak berlangsung lama sebab ia teringat dengan keadaan si istri yang berangkat kekampus dalam keadaan kurang fit.
Pria itu menepikan diri dari Jesika lalu meraih ponsel untuk memastikan keadaan Agnia.
.
.
.
"Beneran pak, anaknya langsung diem loh waktu saya kasih lato-lato!" cerita Agnia menggebu-gebu.
"Masa sih, kok saya gak percaya!" Aarav malah meragukan gadis itu.
Saat ini keduanya sedang makan dicafe yang tak jauh dari tempat praktek Dokter Aarav.
Demi menghormati pria dewasa yang menjadi narasumbernya, Agnia tak bisa menolak ketika Aarav mengajaknya makan-makan, terlebih Aarav malah sengaja meminta dirinya untuk menemani, padahal Agnia sadar betul, bahwa perutnya yang keronconganlah sebab sebenarnya.
"Serius pak!"
"Ada juga anak perempuan yang saya ceritain soal ratu ular, eh malah ketiduran!" Agnia makin antusias menceritakan tentang teori Aarav yang ternyata sudah pernah ia praktekkan meski secara otodidak.
"Saya tetep gak percaya!" kilah Aarav yang makin membuat Agnia terheran.
"Lah, padahal masuk akal semua loh pak!"
"Kalau saya gak mau percaya, gimana?"
"Aduuh, gak ngerti lagi deh, perasaan yang saya lakuin udah sesuai teori anda loh!"
"Pokoknya saya gak percaya!"
"Dih, aneh banget si bapak, dikiranya saya bohong apah. Emang ada nih muka saya tampang penipu? Liat baik-baik donk pak!" Agnia yang mulai frustasi karena tak berhasil meyakinkan Aarav akhirnya menunjuk wajahnya agar sang narasumber percaya.
"Hemm, cantik!"
"Eh.."
Wajah Agnia mendadak memerah salah tingkah mendengar gumaman dokter Aarav yang membuat hatinya berbunga.
Sedangkan, dokter Aarav yang ternyata sejak tadi salah fokus padanya ikut menyembunyikan wajah, tak ingin ekspresi malunya ketahuan dan membuat gadis itu tak nyaman.
"Aamm, sorry keceplosan!" kata Aarav canggung tak berani mengangkat wajah.
"Bapak keterlaluan!" seru Agnia menanggapi.
"Kenapa cuma menyadari kecantikan saya, harusnya anda juga bisa menilai tingkat kecerdasan saya!" lanjut Angnia yang sukses membuat Aarav yang sempat gugup setengah mati akhirnya menghela napas lega.
"Ya... ya... saya kasi nilai seratus deh buat kamu!" Aarav terkekeh bermurah hati.
Senyuman lebar Agnia entah mengapa membuatnya begitu terhibur ditengah hari-harinya yang mulai membosankan karena terlalu banyak menampung permasalahan orang lain, bahkan sang Dokter hampir ingin pindah keluar negeri demi mencari ketenangan sejenak. Apalagi, entah mengapa ia bisa langsung menjadi sangat akrab dan nyaman ketika bersama gadis itu.
Obrolan ringan dengan Agnia kembali berlanjut, tak jauh-jauh dari pembahasan sebelumnya saat wawancara. Karena itu, keduanya tak menyadari jika telah menghabiskan waktu selama dua jam berada di cafe tersebut.
Byuurr.
Drrttt..
Beriringan dengan getar ponsel Agnia yang menerima sebuah panggilan, perhatiannya malah teralihkan karena hujan diluar yang tiba-tiba turun, sehingga gadis itu mengabaikan telepon dari Anggara.
"Ya... kok tiba-tiba hujan!"
"Namanya juga musim hujan." komentar Aarav.
"Masa sih, emang sekarang bulan berapa?" tanya Agnia serius.
"Bulan merindu!" Aarav kembali bergumam tidak jelas yang membuat Agnia pun kembali mengulas senyuman malu-malu kucing.
"Bapak ada ada aja!" kekehnya menanggapi.
"Lagipula, kenapa kalau hujan, panik gitu!" sebagai seorang yang terbiasa menerima segelintir masalah, otomatis Aarav bisa dengan mudah membaca raut muka seseorang.
"Saya gak bisa pulang pak!" jujur Agnia.
"Soal itu, biar saya yang antar!" tawar Aarav.
"Eh... jangan! Jangan pak!"
Mendengar tawaran Aarav, Agnia langsung terbelalak dan memohon agar sang dokter tidak memaksanya, bukan bermaksud tak menghargai, tapi soal ini, ia memang harus berhati-hati.
Hal tersebut membuat Aarav mengerutkan kening.
"Atau saya pesankan taksi online saja?" Aarav kembali menawarkan.
Agnia mengetuk dagu dengan jari lalu ia cengengesan malu-malu.
"Ditempat bapak ada payung tidak? saya mau pulang jalan kaki aja!"
"Jalan kaki?" Aarav tentu tak habis pikir.
"Kenapa tidak...-"
"Saya gak punya uang buat bayar taksinya pak, kecuali bapak mau pinjemin saya dulu." terpaksa Agnia menyela perkataan Aarav dan merendahkan harga diri dengan berhutang.
Prrrtttt... bwahahaha... Asem, disaat Agnia susah payah buang-buangin rasa canggung Aarav malah terpingkal.
"Soal itu gausah dipikirkan!"
Singkat cerita, keduanya kini berada dipelataran cafe sambil menunggu datangnya taksi yang dipesan, meski ditengah hujan deras yang menderu.
"Pokoknya nanti pasti saya bayar, pak!" Agnia meyakinkan.
Aarav hanya mengangguk sambil tersenyum tipis tak terlalu menanggapi. Apalah arti uang lima puluh ribu dibanding dengan tawa riang seorang gadis.
"Gampang, asalkan kamu sudah simpen nomer ponsel saya." kata Aarav.
"Udah kok pak!"
Senyum lebar Agnia makin menggemaskan dan lucu.
Taksi yang ditunggu-tunggu telah tiba dan Agnia segera pamit sembari bersiap memeluk tas agar tidak basah saat menerobos hujan menuju mobil.
Ia sudah bersiap melangkah namun Aarav tiba-tiba menarik tubuhnya tepat sebelum sebuah motor melintas sangat kencang tepat dijalur Agnia.
"Maaf pak!!"