8. Love Threatment

1215 Words
Agnia tergerus mundur, punggungnya terpaksa menabrak d**a pria empat puluh tahun itu, karena Aarav sendiri yang menariknya tiba-tiba. Lantai yang licin akibat tempias air hujan menyebabkan Agnia tidak sengaja menumbangkannya sampai mereka akhirnya jatuh bersama, beruntung tubuh Agnia tak merasa sakit, dikarenakan terhalang oleh tubuh seseorang dibawah. Ya, dibalik keberuntungan Agnia, ada Aarav yang tertimpa musibah sebab tubuhnya terhempas jatuh ketanah cukup keras hingga menimbulkan suara gemertak tulang belulang yang juga tak kalah keras. Kriek "Astagfirullah, maaf pak!" Agnia bergegas mengangkat tubuhnya kemudian berpaling, dan iapun langsung disuguhi pemandangan miris saat Aarav tengah meringis sambil memegangi pinggang. "Ya ampun pak ... Bapak gak papa?" tanya Agnia khawatir, gadis itu memegangi pergelangan tangan Aarav, mencoba menarik tubuh kekar sang dokter walau tidak mudah. "Nggak kok, saya gak papa!" walau dengan susah payah, Aarav berusaha bangkit dan tersenyum pada Agnia. Namun, reaksi tubuh yang tidak bisa berdiri tegak serta raut wajah itu tak bisa bohong tentang rasa sakitnya. "Pak, pinggang bapak kenapa?" tanya Agnia khawatir. Yakali si bapak enggak apa-apa, orang bentukannya sudah jadi penggaris siku-siku, jelas ada yang tidak beres lagipula tangannya juga masih pegangan kepinggang, encok lah pasti. "Aaa..." Aarav tidak bisa berkata-kata, ditengah kerja kerasnya mencoba terlihat gagah dan berwibawa didepan Agnia tiba-tiba saja harus menerima keadaan memalukan seperti ini. Matanya mengerjap makin memerlihatkan sisi lemahnya, dan apalah daya Agnia sudah menyaksikan sendiri jika lelaki yang nampak tampan dan gagah perkasa itu tak lain hanyalah lelaki berumur yang juga sudah renta. "Yaudah pak, gausah ngomong dan gausah banyak gerak, kita kerumah sakit sekarang!" sela Agnia, ia bahkan sama sekali tidak memedulikan Aarav yang tengah malu setengah mati. Agnia terpaksa berteriak, memanggil beberapa orang karyawan cafe lalu meminta supir taksi itu membukakan pintu. Tak peduli dengan keadaan yang masih dirundung hujan deras, semua orang berusaha sesegera mungkin memberikan pertolongan pada Aarav. Sambil menahan sakit, Aarav digotong masuk kedalam mobil yang akhirnya membawa pria itu kerumah sakit terdekat. Ditemani Agnia, Aarav mendapatkan tindakan cepat hingga iapun diminta untuk beristirahat dan di opname. "Untungnya tulang tidak patah, cuma ada sedikit retak karena kondisi yang shock, tapi itupun sangat sedikit jadi saya harap bapak tidak usah khawatir." Perkataan Dokter yang menangani Aarav membuat keduanya mendesah lega, akhirnya pria itu tersenyum pada Agnia, ia berusaha meyakinkan sang gadis agar tidak perlu merasa bersalah. "Kamu dengar sendiri, kan? Saya gak apa-apa!" ucap Aarav menenangkan Agnia yang diam tertunduk meremas ujung baju. "Tapi gara-gara saya bapak jadi harus bedrest disini!" katanya penuh sesal. "Daripada kamu yang keserempet, malah saya yang merasa bersalah." Aarav menghibur. "Lagipula ini bagus, saya jadi bisa libur dari kesibukan yang membosankan itu!" lanjut Aaraf mengelak prasangka Agnia. Gadis itu mengangkat kepala sambil memandang Aarav dengan prihatin. Sungguh, ia tidak bisa berkata-kata, mereka baru saling kenal tapi pria itu sudah sangat peduli padanya. "Saya cuma butuh istirahat, Nia!" rayu Aarav dengan nada berayun, membuat Agnia yang tadinya murung kini bisa menyungging senyum walau masih dipaksakan. Drrtt Drttt Getar ponsel Agnia tiba-tiba menyela obrolan mereka, gadis itu langsung merogoh tasnya dan menemukan panggilan tak sabaran dari Anggara, gambar tangan berkualitas dengan nama kontak POLISI BOMBAY tanpa sadar membuat Agnia merinding. Tap Ia mematikan panggilan itu karena tak ingin Aarav terganggu. "Pak, apa ada nomor keluarga anda yang bisa dihubungi?" Belum sempat Aarav bertanya perkara panggilan yang tak diangkat, sang gadis sudah lebih dulu menanyainya. "Buat apa?" Aarav mengerutkan kening. "Buat ngasi kabar, kalau sekarang bapak ada dirumah sakit, biar mereka bisa datang kesini dan saya juga bisa pu-" "Saya sendirian disini, anak saya satu-satunya tinggal dengan kakek neneknya di Australia." sambar Aarav cepat, padahal Agnia belum tuntas berbicara. "Atau saudara bapak?" "Mereka juga diluar negeri!" pungkas Aarav. bukan ingin dikasihani tapi memang kenyataan takdirnya begitu memprihatinkan. "Kalau begitu, biar saya telpon istri bapak, saya akan jelaskan semuanya agar istri bapak tidak salah paham." tawar Agnia lagi. "Gak perlu!" sela Aarav cepat. Agnia pikir, Aarav pasti tidak ingin melibatkan dirinya. Maka iapun menemukan solusi terbaik, biarkan Aarav menghubungi istrinya sendiri. "Kalau begitu, silakan telpon istri bapak sekarang, dan setelah itu saya bisa langsung pulang!" kata Agnia melirik ponsel Aarav yang terletak diatas nakas. "Saya udah gak punya istri, dia kabur dengan laki-laki lain." Akhirnya, cerita miris yang selama ini disimpat rapat terungkit kembali didepan Agnia. "Oh... kalau begitu maaf, pak!" cicit Agnia sangat pelan, ia kembali tertunduk dilanda rasa bersalah. Bahunya merosot kebawah, bercampur rasa gelisah sebab Anggara pasti sudah menuntut tentang keberadaannya, apalagi sekarang pria itu mulai agak aneh, dan tidak menutup kemungkinan kalau dirinya akan diomeli habis-habisan setelah ini. "Kamu pulang saja, saya gak papa sendiri!" Aarav kembali buka suara, sepertinya pria itu sangat memahami raut kehawatiran Agnia. "Beneran gak papa?" sambar Agnia cepat penuh binar. Aarav mengangguk meyakinkan, membuat Agnia sangat lega dan cepat-cepat pamit. "Saya pesenin taksinya dulu!" ujar Aarav meraih ponsel miliknya, ia yang penuh pengertian semakin membuat Agnia terkagum dan haru. "Kalau gitu, saya permisi, cepat sehat ya pak!" seruan riang Agnia mengakhiri pertemuan kali ini setelah memastikan pesanan taksi sudah tiba didepan rumah sakit, Aarav pun membalasnya dengan mengangkat satu tangan sembari melambai ringan mengantarkan sang mahasiswi hingga menghilang dibalik pintu keluar. Dipekarangan rumah, Agnia turun dari taksi dengan tergesa-gesa, meski hujannya sudah reda, namun kondisi jalannya yang licin membuat gadis itu harus tetap waspada. Ia merambah naik dengan membuka sepatu terlebih dahulu, demi meminimalisir suara gaduh yang membuat para penghuni menyadari kedatangannya. "Darimana kamu?" Suara bariton yang tegas menghentikan langkah Agnia saat berjinjit sambil menenteng sepatunya masuk kedalam rumah. Yassalam, gadis itupun memutar tubuh dan menemukan sosok Anggara dengan pose bersedekap dengan wajah serius. "Om, tadi ada - " "Bersihin baju kamu, trus samperin kaka dikamar, dari tadi dia nyariin kamu terus." Anggara tak ingin mendengar alasan apapun, tanpa banyak omong, pria dewasa itu hanya meminta satu hal. Sesuai saran Aarav, ia tidak boleh terlalu keras, karena itulah Anggara berusaha menegur Agnia dengan lemah lembut walau aura panas berapi-api dalam dirinya tak mudah untuk disembunyikan. Glek "Baik om!" Agnia menelan saliva kelat, lalu mengangguk patuh. Ia sadar sebenarnya Anggara marah, tapi tumben, gak galak cuy! Tengok lagi ahh, siapa tahu polisi bombaynya lagi kesurupan. Leher Agnia berputar empat lima derajat, lalu berbalik lagi dengan cepat, ia memejamkan matanya rapat, dalam hatinya takut, gugup bercampur lega karena Anggara tinggak secerewet biasanya, walaupun bola matanya tetap membelo seperti burung hantu. Seeet... Astaga, hari sial emang gak ada di kalender. Padahal Agnia sudah hati-hati loh, malah kena juga gegara sepatu basah, mana sepatunya udah gak dipegangin. Serius, Agnia masih saja kepleset kena tetesan air dari sepatu yang dijinjing. Broken day banget, sumpah. "Makanya hati-hati!" Tak seperti Aarav yang sigap menahan tubuhnya, Anggara malah berdecak kesal ditambah sedikit peringatan keras. Kembali ke mode galak, kata sarkas itu sukses membuat hati sang istri yang selembut jadi lecet lagi. Kan, dia masih Anggara yang kemarin. "Ayo bangun!" sadar jika Agnia tersinggung pada ucapannya, Anggara berbaik hati mengulurkan tangan menunggu sang istri menerima bantuan. Namun, Agnia malah makin bungkam dan tertunduk kecewa dalam diam, ia seakan tidak berminat untuk bangkit dan masih betah duduk diposisi jatuh tanpa bergerak sedikitpun, bibirnya maju, semaju majunya. Anggara pun kembali berdecak dan menarik kembali tangannya yang tak digubris, yah dirayu kek, orang lagi ngambek! Akan tetapi, lelaki itu malah berjongkok membelakangi sang istri seolah memamerkan punggungnya yang bidang. "Cepet naik, saya anterin kamu sampai kamar!" Eeh.. bukannya yang begini malah lebih serem pemirsah....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD