Waktuku kecil
Aku gak tau yang mungil-mungil
Daripada suntuk subuh-subuh menunggu pagi, akhirnya Agnia nekat keluar rumah dengan menaiki sepeda listrik baru tanpa meminta izin.
Memakai hoddie oversize sekaligus penutup kepala yang dirapatkan, membuatnya tampil seperti boneka beruang hidup yang lucu, gadis itu menggoyang-goyang sebelah tangan menyusuri jalanan lurus komplek yang masih sangat sepi.
Suasana dingin udara pagi buta membuatnya merasa lebih berkualitas.
Bodo amat kalau khusus hari ini ia tak membuatkan sarapan, sekalipun Anggara marah, penting kebahagiaannya tak tergusur, sesekali bolos makan sandwich tak masalah bukan?
Soal Hasya, tenang, masih ada MBG yang menanti, haha. Pokoknya, Agnia dalam mode malas kedapur dan hanya ingin naik sepeda listrik, kalau perlu mulai hari ini ia akan menjadikannya sebagai kegiatan rutin.
Braak
Belum sempat Agnia sampai, di persimpangan jalan ia malah dikagetkan dengan kemunculan Anggara yang sedang memulai Jogging.
Yassalam, devinisi dunia itu sempit. Sempat-sempatnya sosok yang paling dihindari itu tiba-tiba muncul, padahal jalannya sudah murus banget.
Alhasil Agnia kehilangan keseimbangan dan ia terjatuh menyamping bersama sepedanya. menyisakan kedua roda yang berputar cepat serta lampu yang berkedap-kedip tak mati.
"Nia!"
Anggara jelas ikut terkejut melihat sang istri yang sudah berseluncur bebas dijalanan.
"Om, kalau jalan disimpangan itu liat-liat, jangan asal lari." omel Agnia walau kondisinya masih belum bangkit.
"Kamu yang harusnya liat-liat, udah tau ada belokan, malah ngegas!" balas Anggara tak terima.
Meski begitu, ia tetap sigap mengulurkan tangan menarik sepeda listrik yang menimpa tubuh mungil sang istri.
"Tuh kan, baru beli udah lecet!" Anggara ikut mengomel tanpa berminat membantu Agnia yang masih tergeletak diatas aspal.
Demi apa, pria itu malah sibuk memeriksa kondisi sepeda listrik itu.
"Om bantuan!" rengek Agnia dengan nada berayun sambil mengulurkan tangan.
"Bantuin! ... kalo mau bantuan, silakan calling damkar!" Anggara meralat galak ucapan Agnia.
"Iya bantuin, masa cuma sepeda yang dibangunin, Nia enggak! Nangis nih!" rengeknya lagi makin menjadi, dengan kondisi bibir yang sudah menjebi-jebi Agnia mengancam.
Sementara Anggara mendengkus sambil memutar mata malas, lalu dengan terpaksa menarik sebelah tangan sang istri.
Merasa suara Agnia cukup melengking, pria itu menoleh kanan-kiri untuk memastikan sekitar. Akan kacau kalau sampai ada yang menyaksikan interaksi random mereka. Ia segera melepas tautan setelah Agnia berhasil berdiri dengan mantap.
"Om ngapain pagi-pagi udah disini?" tanya Agnia sambil menepuk-nepuk celana panjang model jogger yang kotor terkena debu.
Namun, Anggara tak langsung menjawab, ia malah salah fokus memperhatikan penampilan sang istri yang lucu dan menggemaskan, walau terlihat malas memakai setelan hijab, Agnia tetap menutup kepala dengan memanfaatkan penutup hoddie seperti orang kedinginan. Hal tersebut, cukup membuatnya insecure. Look Abg seperti itu, pantasnya jadi adik Anggara saja.
"Om!" panggil Agnia lagi karena Anggara malah terdiam seperti orang linglung.
"Iya, apasih bawel!" sahut Anggara galak pada akhirnya. Ia pura-pura sibuk memeriksa sepeda listrik milik Agnia.
"Om lagi jogging?" tanya gadis itu menebak.
"Iya, emang kenapa?" sahut Anggara sinis. Gantian, kini Anggara lah yang mendelik penasaran.
"Kenapa keluar rumah gak bilang-bilang?" pria itu balas mengintrogasi.
Agnia langsung terjengkit, ia lupa menyiapkan alasan agar tidak kena marah lagi, pasalnya ia memang sengaja diam-diam keluar tanpa memberitahu siapapun.
"Habisnya kalo bilang-bilang mau sepedaan, emang diizinin?" ucap gadis itu pelan sambil memajukan bibir.
(Bro, lu gak bisa memaksa dia buat jadi dewasa diusianya saat ini, meskipun dia sudah berhasil dengan perannya sebagai ibu sambung) kalimat yang pernah diucapkan Aarav tiba-tiba terngiang ditelinga Anggara.
"Saya gak pernah bilang gak ngizinin kamu pakai ini, tapi setidaknya saya mau pastiin dulu, kamu layak atau tidak untuk turun ke jalan." jelas Anggara sedikit kecewa.
"Nia udah bisa kok." cicit gadis itu merebut kembali sepeda listriknya yang sedari tadi dipegang Anggara.
Akan tetapi, gadis itu malah terlihat meringis dan kesulitan melangkah saat mengambil alih.
Anggara memiringkan kepala, ada yang tidak beres pada kaki sang istri.
"Kaki kamu terkilir?"
"Enggak!" lekas Agnia mengelak walaupun sedari tadi kakinya memang terasa sakit saat berdiri diposisi tertentu.
"Gausah bohong, ayo naik!" Anggara langsung mengambil posisi pengemudi sepeda listrik, sementara Agnia diminta duduk diboncengannya.
Meski wajahnya cemberut, tapi gadis itu masih bergerak patuh.
"Pegangan!" Anggara heran, kenapa Agnia memilih duduk diujung.
"Iih gamau, om keringetan, bau!" Agnia membuang muka seraya menutup hidung, ini alasannya.
"Cerewet, kamu mau saya tinggal?" Ancam Anggara geram.
"Hemmm!" dengan sangat terpaksa dan bibir yang mencebik, Agnia melingkarkan kedua tangan dipinggang suaminya, bahkan beberapa saat diperjalanan gadis itu sudah menyandarkan kepala dipinggang Anggara.
"Numpang nyender, ngantuk!"
Degh
Seruan kecil Agnia entah kenapa membuat Anggara menoleh sebentar, pria itu tiba-tiba diterpa rasa gugup luar biasa, ada hawa aneh yang menjalar keseluruh tubuh saat tangan lembut sang istri berpegang semakin erat diperutnya
(Sorry banget nih, kayaknya hampir semua problematik tentang rumah tangga kalian ada di elo) penuturan Aarav saat mengajaknya bertemu semalam kembali terngiang, bukankah Anggara terkesan terlalu memaksakan Agnia untuk segera dewasa dan ingin gadis itu bersikap s*****l seperti sugarbabynya.
(Dalam hal ini gua gak mau menghakimi walaupun gak suka sama cara lo, tapi kayaknya gua dapat tantangan untuk mencaritahu kenapa daya tarik sugar baby atau selingkuhan lo itu kayaknya kurang powerfull dan malah biasa aja... Bener banget, ini tuh ada yang gak beres, dan kita harus segera buktiin kalo lo gak belok) waktu Aarav bicara seperti itu, Anggara sempat mendelik tak terima, namun ia tak bisa marah sebab masih butuh saran dan pendapat dari sang psikolog.
Konyolnya Anggara seakan aji mumpung, memanfaatkan status hubungan terlarang itu demi memenuhi kekurangan yang tidak pernah ia dapatkan dari istrinya, andai ia mau bersabar dan pelan-pelan memberikan arahan, pastinya tidak menutup kemungkinan jika Agnia akan perlahan berubah menjadi sosok yang dia inginkan. Sekali lagi, pemikiran diatas adalah hasil diskusinya dengan Aarav. Tak terlalu rumit bagi yang hanya menyumbangkan pemikiran, namun hal itu cukup sulit untuk dijalani seorang Anggara.
Dalam hal itu Aarav akhirnya meminta Anggara untuk fokus, ia disarankan lebih meresapi lagi interaksinya dengan sang istri belakangan, lalu mulai menelusuri bagaimana perasaannya selama ini, apakah lebih condong nyaman dengan si sugarbaby, ataukah hubungan halalnya dengan istri akan tetap ia sia-siakan demi mengejar kesenangan sesaat.
Berhubung Anggara tergolong sosok yang idealis dan realistis, maka iapun mulai mencoba mengikuti saran tersebut dan mulai detik ini ia harus lebih peka pada perasaannya sendiri.
Degh
Seperti tersengat listrik, sekujur tubuh Anggara terasa berdenyut dalam pelukan hangat Agnia, selama dua tahun menjadi suami, baru kali ini mereka berjalan berdua, apalagi gadis itu sudah tak menunjukkan rasa canggung seperti ditahun-tahun pertama.
Pria itu menyapu keringat pada wajah dengan handuk kecil yang tersampir dileher, sebelum akhirnya berdehem beberapa kali untuk membangunkan sang istri.
"Ehmm... Ekhem!"
"Eh... su sudah sampai ya Om?" seru gadis itu terjengkit kaget. Namun, ia malah dibuat bingung karena tiba-tiba Anggara membawanya ke sebuah taman.
"Turun!" perintah Anggara galak.
"Ki-kita ngapain kesini, om?" tanya gadis itu gelagapan. Anggara memang urang smooth dalam hal ini, istrinya malah dipaksa langsung bangun dan mengandalkan otaknya untuk berpikir keras disaat nyawanya masih belum terkumpul.
"Tidur model apa itu, bisa-bisanya kamu tidur nyenyak diboncengan?" introgasi Anggara sementara bagian belakang tubuh sudah ia jatuhkan dikursi kayu dipinggir taman itu.
"Ditanya baik-baik malah ngelantur!" sang istri ikut duduk disamping Anggara sambil mencebik.
"Makanya, jangan panggil saya Om lagi." rupanya panggilan dari Agnia lah yang sedang dipermasalahkan Anggara.
"Hemm, kalau gitu mulai sekarang anda saya panggil Dadsu, gimana?" oceh Agnia secara spontan.
"Dadsu?" kening Anggara berkerut dalam.
"Sama kayak Paksu, Dadsu artinya Daddy Suami, Daddynya Caca, suami Agnia!"
Gadis itu malah terkikik sendiri dengan singkatan yang ia ciptakan, sedangkan Anggara terlihat mengurut pangkal hidung dengan pasrah.
"Gimana, deal gak?" tanya Agnia menyenggol bahu suaminya.
"Terserah, yang penting saya gak dipanggil om lagi." kata Anggara.
Agnia terlihat mengangguk setuju dan beralih menikmati suasana sejuk disekitar sebelum suaminya kembali buka suara.
"Nia, ada yang mau saya omongin!"