18. Terbang Bersama

1069 Words
Jam tujuh malam, Agnia turun dari taksi online yang dipesan dari rumah. Sebelah tangannya memegang ponsel yang menunjukkan titik lokasi saat ini. Menurut petunjuk, ia sudah berada ditempat yang benar, sesuai arahan Anggara. Sementara itu, kepalanya mendongak melihat kearah bangunan tinggi didepan dengan pikiran kosong. Konon katanya Anggara sudah menunggu, tapi dimana pria itu? Sebelumnya, tepat dipagi yang sama, Anggara memintanya untuk datang kesana seorang diri, entah apa maksudnya Agnia pun diminta mengenakan baju yang paling bagus. Akan tetapi saat ini gadis itu malah lebih memilih mengenakan jaket hoddie yang dipasangkan dengan celana panjang cargo, karena menurutnya, tidak akan ada hal yang special ditempat tersebut. Lagipula ajakan Anggara sangat tidak jelas. Makanya, Agnia ragu untuk tampil cantik, ia malah berpikir dirinya akan dijebak, awas saja kalau ini memang prank, si g***n itu pasti akan terima pembalasan. "Mana ada orang ngajak candle light dinner ditempat kayak gini!" bibir Agnia mencebik seraya melangkah ragu memasuki gedung kosong yang terletak di salah satu tengah kota. Meskipun sunyi, tapi sekitaran gedung tersebut cukup terang hingga Agnia tak merasa takut untuk masuk kesana sendirian. Agnia celingukan mengedarkan pandangan, sementara tak menemukan Anggara, iapun memilih melakukan panggilan. "Awas aja kalo Dadsu ngeghosting, gada siapa-siapa disini!" seru Agnia langsung menyambar ketika panggilan suaranya diterima Anggara. "Gak usah bawel, terus aja naik tangga sampai ke rooftop!" perintah Anggara sebelum panggilan diputus sepihak. plak.. karena tidak sempat protes, malah layar ponselnya sendiri yang Agnia pukul. Ia mengikuti perintah Anggara walau sambil mengumpat sepanjang jalan. Setibanya di rooftop yang diminta, Agnia dibuat terkagum melihat sosok suami telah menunggu sambil memandang suasana malam tengah kota. Hembusan angin sepoy mengantarkannya melangkah pelan tanpa suara. Anggara masih berdiam dengan punggung tegap penuh wibawa, seolah tak menyadari jika yang ditunggu telah sampai dibelakang. "Dadsu!" panggil Agnia dengan suara bergetar, entah kenapa ia sangat gugup kali ini. Penampilan rapi sang suami sukses membuatnya teringat kembali pada moment dihari pernikahan. "Hemm!" Dengan tenang, Anggara memutar tubuh sembari membawa senyum terbaik kehadapan sang istri, namun ekspresi indah itu terpaksa ditarik Anggara kembali setelah melihat penampilan sang istri. "Ka-kamu!" Anggara terlihat syok saat tahu isti yang ditunggu-tunggu malah merusak ekspektasi. "Iya saya, rill!" "Bukan hantu!" lanjut gadis itu meyakinkan. "Ka-kamu, kok pakai baju ini?" tanya pria itu bingung. "Katanya harus pakai baju bagus, lah ini udah yang paling bagus, baru beli diskonan!" seru Agnia tanpa merasa bersalah. Ia merentangkan kedua belah tangan seolah sedang memamerkan baju baru dengan percaya diri. Fiuuhh Anggara mendengkus kasar, mau tidak mau ia memaklumi ketidakpekaan gadis itu. Marahpun tidak akan mengubah keadaan, Ia tidak ingin merusak moodnya sendiri dimalam romantis yang sudah susah payah ia ciptakan. Duk Duk Duk Duk Tanpa bisa berkata-kata, suara gemuruh sesuatu yang muncul dari langit meminta perhatian. Agnia menyipitkan mata, memastikan kedatangan benda besar itu mendekat. "Dadsu, apa Helikopter itu mau kesini?" tanya Agnia sambil menepuk-nepuk pundak Anggara heboh. "Hemm!" malas menanggapi, Anggara hanya menjawab dengan gumaman. Hijab Agnia mulai bergerak-gerak, ujungnya terhempas kasar karena angin kencang. Sementara itu, Anggara mulai merapikan jasnya lagi lalu menggenggam sebelah tangan Agnia disisi. Gadis itu terperanjat, ia tidak menyangka Anggara akan mengajaknya naik, ia menoleh memandang wajah datar itu tanpa memberi penjelasan apapun. Si capung besi sudah tiba dihadapan, kepalan tangan Agnia semakin erat dalam genggaman Anggara. Menyadari keadaan itu, Anggara sigap membuka tangan lalu perlahan menyelipkan jari-jarinya diantara kelima jemari Agnia hingga bertaut erat. "Kita dijemput pakai helikopter, memangnya mau kemana?" tanya Agnia menoleh dengan sedikit mendongak, ia terpaksa berteriak sebab suaranya pasti akan kalah ditelan suara angin dari gemuruh baling-baling. "Ikut saja, we are going somewhere?" kata Anggara sembali menggendikkan bahu. Bukannya menjawab, ia malah membuat Agnia makin penasaran. Dengan wajah cemberut, gadis itu kembali menatap si capung besi yang sudah terbuka pintunya. Tanpa diduga, Anggara mempersilakannya untuk naik lebih dulu. Untuk meyakinkan diri, Agnia melihat kearah Anggara sebelum membuka langkah memenaiki helikopter itu dengan kaki bergetar. "Om duluan!" iapun reflek kembali mundur menerjang Anggara. Harus diakui ia belum mampu melawan rasa takut, sebab baru kali pertama ia mendekat dan menyentuh transportasi mewah tersebut. "Ok," Dengan sebelah tangan yang masih berpegangan Anggara segera menukar posisi. Tanpa keraguan, ia menaiki helikopter lalu mengulurkan sebelah tangannya lagi untuk menuntun sang istri. Dalam keadaan kaku, gadis itu mengikuti arahan Anggara hingga iapun berhasil naik dan duduk disamping sang suami "Gausah takut!" bisik Anggara lembut diantara gerakan pintu yang tertutup otomatis. Sedangkan Agnia hanya menanggapi sambil menggigit bibir bawah, wajahnya mulai pucat pasi seiring dengan gerakan baling-baling yang semakin cepat bersiap lepas landas. Duguduk... guduk... guduk... guduk... duk.. duk. Benda besi berbentuk capung raksasa itu mulai terangkat, namun saat itu pula Agnia reflek melompat kepangkuan Anggara dan memeluk leher suaminya erat. Degh Aggara jelas terkaget, matanya membulat sempurna menyadari posisi Agnia begitu dekat dengannya, bahkan wangi parfum aroma roman wish yang digunakan sang istri sudah menyeruak memenuhi khayalan Anggara. Aku bergetar disentuh dia, mataku terbang sampai kelangit. Lama terdiam dengan posisi berpangkuan, Anggara akhirnya meminta Agnia membuka mata dan membuang rasa takut. "Nia, coba liat kesana!" ajak Anggara menepuk pelan pipi sang istri lalu menunjuk kearah lampu-lampu yang gemerlap dibawah sana. Mulanya, Agnia hanya membuka sebelah matan, akan tetapi seruan Anggara yang heboh membuatnya terpancing untuk mengikuti arahan lelaki itu. "Nia..." panggil Anggara sekali lagi, bibirnya meniup pelan wajah Agnia, hingga rasa geli dan gemetar dihatinya membuat Agnia akhirnya membuka mata. Binar matanya disambut cahaya kelap-kelip disekeliling, menciptakan sedikit penyesalan, kenapa ia baru menyadari keindahan itu sekarang. "Coba liat itu?" bisik Anggara lagi. Wajah Agnia mengikuti jari telunjuknya, iapun terkesiap melihat betapa indah pemandangan kediaman mereka melalui atas langit. "I-itu rumah om?" tanya Agnia tergagap takjub. "Hemm rumah kita, luas juga kalau dilihat-lihat dari sini." Anggara berkomentar bangga. Tanpa diduga gadis itu langsung menoleh dan menghadap Anggara, hingga tanpa sengaja mereka saling tatap dengan posisi wajah yang sangat dekat, hampir tak berjarak. Keduanya sama-sama terdiam diposisi itu, tatapan mata saling terkunci tanpa ada satupun diantaranya yang mampu mengalihkan pandangan. Apalagi saat ini Agnia masih betah dipangkuan Anggara, pria itu bisa lekas memegang pingganya saat helikopter sedikit terguncang. Keadaan berlangsung syahdu tanpa terasa, merekapun telah sampai ditempat tujuan dengan posisi yang sama. "Makasih udah ngajakin Nia keliling kota." ucap gadis itu bersuara pelan melawan rasa canggung. Sementara, ia masih betah duduk dipangkuan sang suami bahkan masih melingkarkan kedua tangannya dileher Anggara. "Kamu masih mau disini, atau turun?" Seru Anggara menyadarkan sang istri dari perasaan aneh yang sulit diartikan, entah kenapa gadis itu terus memandang wajah tampan suaminya tanpa berkedip. "Eh .. i.. iya!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD