19. Mengajak Honeymoon

1057 Words
"Dadsu, aku mau dibawa kemana?" sambil memegang sebucket bunga yang diberikan seorang pelayan sebagai tanda sambutan, gadis itu histeris karena tiba-tiba ia dipaksa mengikuti dua orang wanita asing untuk masuk kedalam sebuah ruangan. "Gak kemana-mana, udah ikuti saja!" Anggara kembali ke mode semula, ia benar-benar ingin Agnia terlihat sempurna seperti yang diharapkan. "Tapi Dadsu tetep nunggu disitu, kan? Janji!" pinta Agnia memohon disela menahan diri. "Iya, iya ... Cepetan Nia, keburu makanannya dingin, gak enak!" titah Anggara mendesak. Terpaksa, dengan langkah berat Agnia memasrahkan diri saat digandeng dua wanita bule itu masuk kesebuah ruang tertutup, yang ia sama sekali tak mengerti akan diapakan. Anggara memainkan ponsel sejenak, sembari menunggu sang istri dieksekusi, tak banyak yang ia lakukan sebab Agnia segera muncul setelah lima belas menit dengan penampilan yang berbeda. "Silakan duduk!" ujar salah seorang wanita yang digadang adalah penata rias khusus dengan logat bulenya, mengantarkan Agnia tiba dihadapan sang suami. Ia mempersilakan tamu istimewa itu untuk duduk tepat didepan Anggara, lalu mereka kembali ketempat semula karena tugasnya telah selesai. Dikeadaan yang sama, Anggara terlihat langsung menyimpan ponselnya, arah netranya terhipnotis untuk fokus pada satu titik, sosok gadis belia yang telah ia nikahi sejak dua tahun lalu kini disulap menjadi sosok wanita dewasa yang anggun dan berkelas. Anggara sampai pangling jika wanita berhijab didepannya itu adalah istri kecilnya, ia sangat puas pada hasil kerja dua wanita bule dan langsung menghadiahi mereka dengan lembaran cek kosong yang tentu nominalnya bisa diisi sesuka hati. Setelah dua wanita bule itu pergi, seorang pelayan datang menghampiri dan memberikan sebuah bucket bunga mawar lagi ketangan Anggara. Tanpa memberikan banyak kata, Anggara menyerahkan bucket bunga tersebut ketangan Agnia. Gaun hitam syar'i Agnia memang menyala-nyala, tapi tidak dengan situasi hatinya. Gadis itu dilanda kebingungan luar biasa. Ada apa, apa yang terjadi, dan apa sebenarnya yang Anggara inginkan setelah ini? "Dadsu, ini dalam rangka apa?" tak puas dengan praduganya sendiri, gadis itu akhirnya melontarkan pertanyaan. "Saya hanya ingin bahagiain kamu, memangnya kamu gak suka?" tanya Anggara mengerutkan kening penasaran. Agnia tak langsung menjawab, ia memindai kesekeliling restoran diatas gedung yang nampak sepi, bukankah di jam makan malam harusnya ada banyak tamu yang datang, dan harusnya tempat semewah dan sebagus ini tak mungkin sepi pengunjung. "Nyari siapa?" Anggara makin penasaran melihat ekspresi sang istri. "Nyari tamu di restoran ini, masa sih keadaan ekonomi dinegara kita udah merosot jauh banget, bahkan untuk orang-orang kelas atas aja udah kehilangan daya beli untuk makan direstoran mewah?" komentar Agnia berdasarkan logika. Gubraak Anggara dibuat terkesiap, bisa-bisanya Agnia berpikir kearah sana, tanpa mau memperhitungkan seberapa detail usahanya demi keintiman mereka berdua. "Dadsu, kok gak dijawab?" protes Agnia. "Harus banget saya jawab pertanyaan gak penting itu?" Anggara balas bertanya dengan nada ketus, kelegowoannya memperistri gadis dari kalangan gen-z benar-benar sedang diuji. "Penting banget, yakali seorang pengusaha gak tau situasi perekonomian." balas Agnia menyindir. Double kill Kedua tangan Anggara terkepal hingga memutih dan berbuku, dihari special dan momereble seperti sekarang harusnya bukan soal ekonomi yang mereka bahas, tak bisakah Agnia sedikit mengerti pada isyarat-isyarat manis yang telah ia susun sedemikian rupa. "Nia, bisa gak kita gausah ngomongin soal ini, saya udah muak banget bahasnya, gak dikantor, gak dirumah, gak sama klien, sama istri juga." Anggara mengoceh, tanpa terasa moodnya pun telah berubah. "Bisa kok, emmm... Dadsu bikin acara romantis ini khusus buat Nia ya?" tanya gadis itu pada akhirnya. "Nah itu tahu, napa pekanya baru sekarang, dasar lemot!" Berhubung mood Anggara sudah tak sesejuk saat di helikopter, sekalian saja ia menggunakan kembali mode galaknya. "Ya gak kenapa-napa sih, tadi tuh emang lagi nervest aja, makanya ngomong ngawur!" aku Agnia yang langsung membuat Anggara terdiam. Bisa-bisanya orang gugup mengakui kegugupannya, bukankah itu terdengar sangat konyol? Agnia kemudian menunduk memperhatikan gaun yang dia pakai, gadis itu juga memperhatikan jas yang dikenakan Anggara, ia tersenyum simpul menyadari jika mereka nampak serasi sebagai suami istri, kali ini tak ada kentara soal usia yang berbeda cukup jauh. "Terimakasih atas gaunnya, Nia gak nyangka kalo Dadsu bakal seromantis ini, padahal cuma ...!" "Shuut... Gausah banyak berkata-kata, yang buat acara ini adalah Caca, jadi gausah geer. Lagian nanti saya yang malu kalau istri direktur gak pernah sesekali diajak main ketempat mewah." sela Anggara memangkas ocehan kaku Agnia, sembari menyembunyikan perasaannya sendiri. "Hemm... " gadis itupun mengangguk patuh, ia tidak lagi banyak bicara, ia hanya takjub dengan pesona sekeliling. Sedikit membingungkan, sebab kali ini Agnia tak membantah sedikitpun, padahal gadis itu bisa saja marah mendengar ucapannya barusan. "Emm... Sebenarnya ada lagi permintaan Caca yang perlu saya sampaikan!" ucap Anggara perlahan, berusaha melupakan gejolak hatinya yang sempat meledak tak sesuai waktu dan tempat. Agnia pun menegakkan kepala seketika, namun ia berusaha menjaga ekspresi agar tetap terlihat biasa saja. "Aneh ya, biasanya kalo mau apa-apa Caca bisa minta langsung ke saya." gumam Agnia menanggapi. Anggara terkesiap cepat, takut sekali jika cerita karangannya hampir terbongkar, karena sebenarnya rangkaian acara malam ini tidak ada sangkut pautnya dengan sang putri. Melihat Agnia yang nampak berpikir keras, Anggara segera mengalihkan perhatian. Beruntung seorang pemain biola yang memang ditugaskan mengisi acara telah tampil dihadapan mereka. Senyuman manis Agnia kembali terukir, matanya terpejam menikmati alunan merdu dari dua benda yang digesek lembut. Jika gadis itu sudah bisa tersenyum, itu artinya kesempatan baik untuk mengajaknya bicara telah tiba. "Masih mau kan, dengar permintaan Caca yang tadi?" bisik Anggara tiba-tiba berdiri dibelakang kursi dan kedua tangannya berada dibahu sang istri. Sentuhan dan bisikan lembut itu berhasil membuka mata Agnia, ia merasakan tubuhnya menegang, sikap Anggara benar-benar berbeda saat ini. "Mau sih!" jawab Agnia meski ragu. Kemudian, pria itu segera berlutut sembari mengulurkan tangan, mengajak Agnia turun melangkah dan membimbingnya berjalan menuju dinding kaca untuk melihat pemandangan yang lebih menakjubkan. Didepan mereka atraksi drone mulai beraksi diudara. Sambil memeluk bucket bunga ditangan, Agnia terlihat antusias menerima kejutan apa yang sebenarnya ingin disampaikan Caca. Pertama-tama, sederet drone melayang diantara nuansa malam itu membentuk menara Eifell yang gemerlap ditengah kota Paris. Sontak Agnia bertepuk tangan dan memujinya heboh. Ia berseru riang pada Anggara, tanpa diberitahu pun ia yakin jika semuanya merupakan kejutan dari sang suami. Belum habis rasa takjub setelah melihat kemegahan menara Eifell, gadis itu kembali disuguhi performa luar biasa dengan terbentuknya bendungan Australia disusul bentuk patung singa yang menjadi maskot negara Singapura. Salah satu destinasi wisata yang masuk dalam list kota impiannya. Diujung penampilan, Agnia tiba-tiba disuguhkan dengan kalimat tanya berbahasa inggris yang membuatnya langsung terkesiap. "Where are we going on our honeymoon?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD