20. Kejutan Diatas Kejutan

1272 Words
"Jadi ini alasan Dadsu merubah penampilanku? apakah sudah saatnya aku menjadi wanita dewasa dan istri yang sempurna?" tanya Agnia lirih disisi sang suami. Tatapannya masih lurus memandang cahaya lampu yang turun satu persatu, dan tulisan diatas langit itu perlahan memudar. "Setidaknya, kamu sadar telah berstatus seorang istri?" balas Anggara dingin. "Seandainya aku menolak, apa Dadsu akan menceraikan aku dan mengakhiri semuanya?" gadis itu menoleh dan memperhatikan ekspresi suaminya. Anggara mengerjap, dengan mulut sedikit terbuka ia membalas tatapan Agnia. "Tidak semudah itu, begini-begini saya masih memikirkan kebahagiaan Hasya?" setelah cukup lama terdiam Anggara akhirnya memberi jawaban singkat. Pandangan mereka yang sempat menyatu kini saling berpaling, sekalipun sama-sama butuh penjelasan, tapi keduanya memilih untuk bungkam dan membiarkan segalanya mengalir tanpa campur tangan dan usaha berarti. "Aku mau, tapi jangan paksa aku jika belum siap?" Siapapun tahu, dibalik kata honeymoon ada artian yang lebih mendalam, bukan sekedar perjalanan berdua atau piknik semata, honeymoon adalah tentang hubungan antara dua insan yang telah memilih untuk hidup bersama, bagaimana cara mereka menyampaikan perasaan, memberi keyakinan untuk terus bersama, dan cara membahagiakan pasangan masing-masing, serta menyamakan tujuan dalam setiap langkah kehidupan yang terus bergulir. Kualitas keintiman dimulai disini. Sedangkan mereka berdua sama-sama tahu, sejak awal hubungan yang mereka ambil bukan berdasarkan tujuan pernikahan sebenarnya. Pada kenyataannya, Anggara dan Agnia memiliki alasan yang berbeda, maka bisa dipastikan harusnya mereka tidak butuh kata honeymoon, apalagi selama dua tahun menjalani pernikahan, semuanya berjalan baik-baik saja. Jawaban Agnia sontak membuat Anggara menghela napas lega, sesak didadanya seakan melonggar perlahan dan iapun tak ingin menjadi egois, setidaknya gadis muda itu sudah menunjukkan itikad baik demi rumah tangga mereka. Secercah harapan muncul ditengah hubungan yang kian terasa hambar, Anggara menarik Agnia, meminta gadis itu untuk melihat wajahnya dalam-dalam. Pipinya merona, Tatapan mereka bertemu, Agnia seolah mengerti maksud sang suami, meski didalam hatinya ingin berontak, tapi respon tubuhnya berkata lain, ia membiarkan Anggara terus menyatukan pandangan, mengunci dan menelan anak kuncinya itu hingga ia tak bisa lepas untuk kemanapun. Tubuhnya mematung, tegang dan kaku. Seketika, pemain biola menghentikan permainan, pria berjas kupu-kupu itu sedikit demi sedikit melangkah mundur, membiarkan dua orang disisi baground langit malam menikmati irama jantungnya sendiri. Tepat disaat pemain biola itu berpaling, Anggara merapatkan pelukan sebelah tangan dipinggang Agnia. Kissing Kecupan singkat telah berhasil mendarat sempurna sebagai ciuman pertama. Kedua mata Agnia terbelalak, membulat menggambarkan tidak terduganya tindakan Anggara. Seolah belum puas dengan aksinya, ia makin mencondongkan wajah sembari memejamkan mata, sangat kentara jika Anggara menginginkan hal lebih dimalam itu, membiarkan langit hitam pekat bertabur bintang menjadi saksinya. Dalam kebungkaman dan kebisuan, Anggara telah bertekuk lutut pada pesona istri kecilnya. Kissing kedua belum sempat terjadi, namun Agnia telah buru-buru memalingkan wajah, dalam keraguannya ia menolak halus ajakan sang suami rasa takut mulai menyelimuti, gambaran sikap makin liar Anggara tak mampu ia bayangkan, tembok pertahanan telah dibangun saat itu juga, terlebih Agnia dilanda panas dingin sendiri saat pikirannya berandai-andai tentang sebuah kenyataan. Tidak, mana mungkin mereka bisa tiba-tiba berciuman tanpa ada ungkapan perasaan cinta. "Big no! jangan sampai Dadsu benar-benar memberikan lingerie itu padaku dan memaksa aku memakainya!" Gadis itu bergidik sendiri, disaat batinnya berbicara. Ya... kalimat itu tidak salah, karena sebelum memenuhi undangan Anggara, ia sempat menemukan tanda bukti pembelian lingerie mewah, kertas itu jatuh tepat dibawah mobil sang suami ketika Agnia mengendap ingin mengeluarkan sepeda listriknya dan dari situlah rasa takut dan gelisahnya dimulai, sebab Agnia mengira Anggara telah mempersiapkan pakaian dinas untuknya sebelum mengajaknya berbulan madu. Huft Wajah Anggara yang makin mendekat dan bibir yang hampir menempel nyatanya segera ditepis Agnia, ia meletakkan jari telunjuk tepat diantara pertemuan dua bibir, hal tersebut otomatis memaksa Anggara untuk membuka matanya, dilihatnya wajah takut Agnia dengan kening berkerut. "Maaf," ucap pria itu serak. Berbalut rasa canggung dan malu, Anggara melepaskan pelukan, membiarkan tubuh mungil sang istri terpisah darinya, itu lebih baik daripada ia terkesan memaksa, bukan. "Dadsu makan yuk, Nia udah laper!" Agnia merengek tak kalah manja seperti Hasya, demi mengusir kecanggungan. Anggara mengangguk lalu memanggil pelayan, ia meminta semua jenis makanan untuk disuguhkan pada istrinya. Dan ya, ia tahu gadis itu sangat suka makan, sangat wajar bagi yang masih dalam masa pertumbuhan. "Ini apa namanya?" tanya gadis itu, polos. Ia menunjuk dengan garpu jenis makanan yang disuguhkan didalam wadah berukuran sedang, beralas aluminium foil dan diisi dengan lelehan keju mozarella diatasnya. "Itu lasagna!" jawab Anggara sembari memotong steik dengan pisau kecil sebelum akhirnya menusuk dengan garpu lalu disodorkan kedepan mulut sang istri. "Oh ... bagaimana, enak tidak?" tanyanya lagi, disaat mulut penuh mengunyah daging dari Anggara ditambah sayuran yang ia masukkan. "Kenapa tidak dicoba?" Anggara kembali berbaik hati mengambilkan potongan makanan khas eropa itu untuk disuapkan kemulut Agnia. "Hemm, lumayan tapi.. hueeek-" "Eh-" Anggara terpekik ketika sang istri melepeh kecil karena kemungkinan tidak menyukai makanan tersebut. "Maaf Dadsu, ada jamurnya, aku gak suka!" seru Agnia heboh sembari menyapu bibir dengan tisyu dan membersihkan sendiri bagian meja yang sempat ia kotori. "Gausah, biar mereka aja yang bersihin!" namun, Anggara segera menghentikannya, disusul gerakan sigap dua orang pelayan yang langsung mensterilkan meja tersebut bahkan sampai ke pakaian mereka berdua. "Gacor ya, restoran orang kaya memang beda." Agnia reflek menyerukan kekaguman terhadap service dari pihak resto yang memperlakukan tamunya seperti raja dan ratu. "Ish, sempat-sempatnya mempermalukan diri sendiri." Anggara malah menggerutu, Sementara Agnia panik dan berusaha menghalangi sang suami yang menikmati hidangan menggunakan sendok bekas mulutnya. Situasi demikian dianggap menggemaskan oleh dua orang pelayan yang menyelesaikan tugas disekitar mereka. Setelah menghabiskan malam panjang dan indah bersama, Agnia mendesak Anggara untuk segera pulang dengan alasan ingin segera menceritakan pengalamannya kepada sang putri. Akan tetapi, Anggara tidak serta merta menyetujui, sebab ia tak ingin cerita karangannya terbongkar begitu saja, tanpa sepengetahuan Agnia, Anggara merubah rute dan membuat perjalanan mereka semakin jauh dan lama. "Dadsu, kapan kita berangkat?" tanya gadis itu membuka obrolan. Anggara menoleh, ia pikir Agnia akan mengantuk, namun ternyata istrinya malah terlihat segar dan masih ceria sekali. "Berangkat kemana?" Anggara mengangkat satu alis. "Ke yang tadi, Paris, Singapura, dan Autralia!" seru Agnia antusias. Oh tidak, kini Anggara lah yang dibuat berdebar, tak disangka Agnia seperti sudah tidak sabar ingin berduaan dengannya. "Gabisa langsung ketiga-tiganya begitu, kamu cuma boleh pilih salah satu." sentak Anggara ketus. Sebenarnya ia sedang menutupi kekakuan. "Hemm gitu ya... sebenarnya aku ingin kenegara yang ada saljunya!" seru Agnia heboh mendamba. "Diparis sedang musim panas, tidak ada salju!" sahut Anggara bergeleng kepala. "Kalau begitu, kita kenegara yang dekat dengan kutub utara saja, Finlandia misalnya!" "Saya pikir-pikir dulu!" Anggara mendengkus. "Kalau biayanya mahal mending gak usah deh, seterjangkaunya Dadsu aja!" gumam gadis itu sambil mendelik. "Heh, kamu pikir saya direktur nanggung?" sang suami malah tersinggung. "Enggak, bukan gitu!" Ciiit... Tanpa disadari, ternyata mereka telah sampai dipekarangan rumah, Anggara memarkir mobilnya sembarang setelah mengerem mendadak, lalu pria itu segera melepas setbelt dan membanting pintunya kasar setelah berhasil keluar. "Kenapa Dadsu jadi tantruman sekarang!" gumam Agnia sembari berusaha melepaskan seatbelt miliknya, sepeninggal Anggara suasana mobil tentu terasa sepi, namun seberkas cahaya diiringi dentingan notifikasi dilayar ponsel menyita perhatiannya. Ponsel Anggara tertinggal di atas dashboard, sementara Agnia berniat memberikan pada si pemilik. Otomatis gadis itu harus mengambilnya, bukan. Tapi, ketika ponsel tersebut sudah berada ditangan, notifikasi kedua kembali menyusul berisi gambar dan beberapa patah kata yang menyayat. [Om, aku suka banget lingerienya, nanti beliin lagi, oh iya kalau om mau nginep dis >>>] isi spesannya terpotong, karena ia hanya mampu dilihat pada bagian jendela atas sementara. Layarpun kembali gelap sebab sejak dulu ponsel Anggara memang mengaktifkan mode buka kunci. "Jesika!" lirih Agnia dengan suara bergetar. Entah kenapa dugaannya langsung mengarah pada nama itu, meski kontak si pengirim sudah tertulis Tukang Service. Bibirnya ikut bergetar diiringi setetes air mata yang membentuk tanpa terasa. ~Ku cemburu, namun hanya sebatas itu~
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD