"Sekali lagi makasih ya sayang!" Jesika bergelayut manja dilengan mengantarkan Anggara hingga kedepan pintu. "Lain kali hati-hati!" Anggara berwejangan sebelum pergi. "Iya...!" wanita itu memasang wajah sendu. Cup Pipi Anggara menjadi merah kebasah-basahan, sisa bekas kecupan Jesika seperti mahakarya penuh kebanggaan. "Sering-sering kesini!" nada bicaranya berayun lembut dengan harapan besar. Anggara mengangguk kecil sebatas agar Jesika tak merasa terabaikan juga tak banyak menuntut. "Pergi dulu!" ujarnya melangkah maju tanpa menoleh lagi kebelakang. Sejujurnya, Jesika pun menyadari perubahan sikap itu, tapi ia tak mau ambil pusing. Baginya, sampai kapanpun ia akan tetap menang, ditangannya kartu As telah digenggam, hingga sejauh apapun Anggara melangkah, ia tetap akan kembali. Pere

