Pandu baru saja menghabiskan makanannya dan Rizky bercanda seperti biasa dengan Tari. Sesekali matanya tak lelah melihat Rizky yang mengajak Tari berciuman di tempat umum, seperti malu sendiri karena Rizky tak melepas walau hanya sebentar saja, ingin memberi cap kalau Tari benar-benar kekasih Rizky. Minuman dingin di depannya juga langsung dia habiskan, Pandu sangat terganggu, “Aku pulang dulu.” ucapnya membuat sepasang kekasih langsung menoleh ke arahnya.
“Kenapa buru-buru?” tanya Rizky yang berdiri untuk mengantar Pandu ke luar kafenya.
“Aku akan ke gym, kau mau ikut? Ototmu akan lebih kekar nanti.” Terkekeh, Pandu memang sering menggoda seperti itu ke Rizky.
“Aku? Untuk apa?” Rizky tidak membutuhkan semua alat-alat aneh itu, “Tari sudah menerimaku tanpa enam kotak yang tidak ada fungsinya itu. Hahahaha.” Mendekati Tari. Merangkul sambil mengusap lengan Tari juga.
Tari hanya melempar senyum, Rizky benar, kekar atau tidak dia sudah mencintai Rizky apa adanya.
“Kau akan lebih sehat, Rizky. Makananmu kan tidak pernah bagus.” Pandu terkekeh lagi, “Aku pulang.” imbuhnya sambil membuka mobil, dia pun pergi dengan kecepatan tak terlalu laju. Bukan langsung ke rumah, dia berhenti di persimpangan, menunggu Tari yang tetap akan dia ajak pulang.
“Maaf menunggumu lama, Pandu.” Tari langsung memasang sabuk pengaman untuknya sendiri.
Pandu hanya menghela napas panjang dan dalam, “Alasanmu apa?” tanyanya setelah diam agak lama.
“Banyak pesanan, aku tidak bisa meninggalkan bunda terlalu lama.”
“Dia tidak ingin mengantarmu?” Pandu penasaran, Rizky itu sangat posesif, tapi Rizky juga jarang mengantar Tari ke mana pun kalau tidak ingin, cukup aneh untuknya.
“Banyak pesanan, ada tamu penting, aku tidak mau mengganggunya.” Memang tadi itu yang Rizky katakan, Tari tidak akan banyak protes, tahu akan pekerjaannya dan juga Rizky.
Pandu mengangguk, “Kalau aku jadi kamu, aku sudah pergi dari dulu.”
“Maksudmu?” Tari tidak paham dengan apa yang dikatakan Pandu, sangat ambigu.
“Lenganmu tidak sakit?”
Tari pun menghela napas, “Pandu. Rizky melakukan semuanya karena dia mencintaiku, dia sayang, dan dia kawatir denganku, aku paham tentang itu. Kau tahu? Dia melamarku kemarin.” Tari tersenyum, sangat manis kalau diingat Rizky kemarin.
“Melamar? Kamu akan menikah dengannya?” Pandu tertawa sambil menggeleng, “Apa yang akan kamu dapat? Hanya tamparan dan cengkeraman seperti tadi, kalau aku jadi kamu aku akan menendang bokongnya.” Pandu terus tertawa, menoleh, mendapati Tari yang cemberut seolah geram dengannya, Pandu malah semakin terbahak-bahak.
“Mana kamu paham dengan cinta, Pandu? Terkadang hal yang membuat kita sakit atau bahkan tidak enak makan saja, kalau sudah cinta yang cinta saja.” Tari membuang muka, dia tahu Pandu tak akan pernah mengerti karena seleranya berbeda—ah! Tari jadi ingat dengan Rio. Mobil yang ditumpanginya baru saja sampai di rumah Pandu, Tari segera turun, memeluk mama Pandu yang saat ini menyambutnya.
“Apa Pandu tidur di rumahmu semalam?” tanya mama Pandu.
“Iya, Ma. Maaf bunda gak ngasih oleh-oleh, pesanan hari ini membuatku dan bunda lupa.” Tari tersenyum, dia bahkan tak ingat sama sekali karena kejadian semalam.
“Gak apa-apa, Sayang. Oiya, tadi Mama sudah telepon bunda, bunda sudah ngasih izin, jadi kamu ikut sama Mama ke Bali, okey?” mama Pandu mengajak Tari sampai di kamarnya. Mengemas apa pun yang kiranya akan dibawa ke Bali.
“Tapi aku gak bawa baju, Ma. Nanti—“
“Jangan dipikir, kan ada Pandu.”
Tari mengangguk, dia juga tidak mungkin menolak permintaan itu, apa lagi bundanya sudah mengizinkan. Selesai berkemas, Tari mencari Pandu, dia ingin tanya apa Pandu juga ikut ke Bali karena Rio dalam keadaan yang tidak baik tadi, tapi saat Tari ingin ke kamar, Pandu tengah berenang, Tari pun ke sana, duduk di kursi santai yang berjajar dua dengan satu kursi ada handuk yang tersampir, jus jeruk, dan buah melon serta apel, Pandu sepertinya sangat menjaga asupan makanan. Saat Pandu naik dari kolam, Tari melihat semua kulit itu, hanya celana renang yang membuat Pandu terlihat indah, Tari pernah berenang dengan Rizky, tapi tidak seperti tubuh Pandu, itulah kenapa Pandu selalu mengajak Rizky ke gym, mungkin karena ini. “Mama sudah bilang kalau aku akan ikut ke Bali?” tanya Tari saat Pandu sudah berada di depannya, mengusap tubuh dengan handuk, dan minum jus jeruk yang mengembun di tepi gelas.
“Ya, kita berangkat nanti malam setelah papa pulang dari rapat, kita akan sekamar, tapi jangan kawatir, aku tidak akan mengganggumu.” Pandu merebahkan diri di kursi santai, menutupi miliknya dengan handuk yang setengah basah.
“Rio? Apa dia di sana juga?”
Pandu menoleh, “Kamu ingin mengajaknya?”
“Aaaaa,” Tari menggeleng, “bukan seperti itu, dia tadi pagi sangat sedih, kalau kamu—“
“Bukan urusanmu.” Pandu kembali membuang muka, lebih baik dengan melihat air yang menyisakan gelombang kecil setelah dia tinggal dari pada mengobrol dengan Tari.
“Yaaa ... aku memang bukan apa pun dibanding dengan Rio, tapi aku—“ Tari terdiam.
Pandu yang malas mendengar Tari terus saja mengocehkan tentang Rio dari tadi, kini membekap mulut Tari, menatap mata yang terlihat gugup di bawahnya. “Jangan membawa Rio.” Setelah Tari mengangguk, Pandu pun menurunkan kepala, membuka tangannya yang menutupi mulut Tari, dan memagut bibir itu. Tari hanya diam, tapi dia tidak peduli, kalau hanya soal ciuman saja Pandu jangan ditanya, dia bisa lebih jago dari Rizky. Sangat yakin karena kini Tari pun mengajaknya berebut lidah dan bertukar liur, Pandu tak akan mengecewakan Tari soal ciuman saja.
“Papa, sudah di jalan?” tanya mama Pandu saat suaminya menelepon.
[Pandu suruh siap-siap, Ma. Setelah ini kita berangkat, nanti malam Papa gak mau terlambat, malu nanti kita.]
“Yaaaa, Mama bilang ke Pandu dulu, Mama tutup ya, Pa?” segera memutus sambungan telepon itu. Tahu kalau putranya sedang berenang, dia pun ke sana, menyampaikan apa pesan dari suaminya. Untung tidak berteriak, dia melihat putranya berciuman dengan Tari, putri sahabatnya sendiri, mama Pandu pun membuka ponselnya, merekam apa yang Pandu dan Tari lakukan, menyimpannya, dan berbalik untuk pergi. “Mama sangat yakin kamu kepincut dengan Tari.” Gumamnya sendiri sambil melihat hasil rekaman video yang diambilnya baru saja. Dia akan memamerkannya ke suaminya setelah suaminya tiba nanti.
Pandu mengambil jarak, tahu kalau Tari sangat menikmati perbuatannya barusan, tangannya mengusap bibir Tari yang basah, membuat Tari yang sedari tadi memejamkan mata, kini menatap setengah tak percaya ke padanya. Pandu terkekeh, “Kau suka?”
Tari segera membuang muka, “Tidak.” Mendorong tubuh Pandu, berdiri, Tari berjalan tergesa meninggalkan Pandu yang bahkan kekehannya masih terdengar di telinga.
“Aku tahu kau menikmatinya, Tari!” teriak Pandu agar Tari mendengar ucapannya meski jaraknya dan Tari terus semakin jauh. Terkekeh lagi, Pandu kembali melompat ke kolam, satu putaran, dan dia akan segera mandi setelah ini.
Papa Pandu ke dapur setelah membersihkan diri, dia baru datang dan mandi, mencari pisang, istrinya juga di dapur sedang mengisi rak camilan, “Kamu sudah bersiap, Ma?”
“Sudah, Pa. Langsung berangkat?” tanya mama Pandu sambil memasukkan beberapa macam camilan yang sudah disimpan di toples ke lemari snack.
“Boleh, nanti Papa istirahat di Bali saja, acaranya nanti jam dua belas, Ma.”
“Iyaaa.” Mama Pandu segera menelepon putranya yang entah ada di mana, dia tidak mau mengganggu secara langsung. Tak lama dan putranya pun turun sendirian, mama Pandu kembali menelepon Tari agar cepat turun juga, dan berangkat setelah ini.
Pandu yang tahu papanya makan pisang, dia ikut mengambil dan segera menggigitnya, “Kurang matang, Pa. Agak asam.” Protesnya meski mulutnya terus mengunyah.
“Yaaaa, kalau sama bibirnya Tari ya jauh, Pandu.”
Hampir saja tersedak, untung Pandu bisa menahan pisang yang belum halus itu untuk masuk sendiri ke tenggorokannya, “Papa!” tidak menyangka kalau papanya yang dia yakin baru pulang kantor ini, tahu akan kejadian tadi siang. Siapa lagi kalau bukan mamanya, Pandu pun menoleh ke mamanya yang saat ini hanya mengacungkan jari telunjuk dan tengah bersamaan.
“Mama gak sengaja, mangkanya kalo mau pacaran itu jangan di tempat umum, kayak gak ada kamar saja.” Ledek mama Pandu.
Pandu tidak ingin protes, hanya membuang napas kasar karena dia melihat Tari sudah turun dari tangga. Lebih dulu ke mobil, menunggu di sana lebih baik menurutnya. Ponsel itu pun berdering, Pandu mengerutkan kening saat nama Rio tertera, segera menerimanya, nada suara panik terdengar dari seberang saja.
[Hen—Hendra tidak ke sini? Bahkan dia tidak meneleponku seharian ini, apa dia tidak tahu aku tidak tidur seharian? Tidak ke gym, tidak makan, aku juga tidak mandi, ada apa dengannya, Pandu?]
Pandu terkekeh, “Jangan egois, kamu bisa meneleponku, aku berenang, jadi aku tidak mengajakmu ke gym, aku juga makam buah tadi sing, tidak lapar dan tidak menanyaimu sudah makan atau belum, sekarang kamu bisa bicara denganku, kan?” Pandu tidak suka Rio yang sering berlebihan.
[Ke sini, Pandu. Aku tidak bisa tidur, aku tidak punya teman, rumah ini sangat sepi, aku tidak suka.] rengek Rio manja.
“Tidak bisa, Sayang. Aku akan ke Bali.”
Tari yang menyusul Pandu, membuka pintu dan langsung mendengar kalimat barusan, oh, sial!
“Ya, kenapa tidak? Datang saja, ada mama dan papa, tapi aku akan menemanimu, okey? Jangan ngambek, jangan cemberut, kau tidak tampan kalau cemberut begitu.”
‘Tampan? Sayang?’ Tari menggeleng setelah membatin dan menghubungkan apa yang dia dengar dan tebaknya pasti benar. Kalau siapa yang ditelepon Pandu adalah Rio, sepertinya dia harus segera bertindak, jangan sampai semua perjodohan ini hanya digunakan untuk menyelimuti hubungan yang sudah lama bobrok. Tari tidak akan sudi.
“Ya, ya, cepatlah makan, aku tidak mau kamu sakit, aku tutup dulu, okey?” Pandu terkekeh sambil menatap layar ponselnya. Tak lama papa dan mamanya datang, bergabung di mobil yang sama. Pandu segera menyimpan ponselnya, menoleh dan tersenyum ke Tari yang ternyata sudah duduk di sebelahnya, “Sejak kapan?” tanyanya heran.
Tari hanya meringis, “Jangan dipikirkan, aku baru saja masuk.” Tidak akan dia bongkar sendiri dirinya yang mulai dalam mode memata-matai Pandu.
Pandu hanya mengangguk-anggukkan kepala. Mobil yang melaju dan sia membawanya ke Bali, Pandu memasang sabuk mengaman dan bantal leher, “Aku tidur dulu, bangunkan kalau sudah sampai.” Memejamkan mata karena malas mengobrol dengan Tari.
Tari membuang napas kasar. Pandu penuh dengan teka-teki, sekejap sangat hangat dan lembut, sekejap sangat asing. Membuat Tari memikirkan kalimat Rizky, ‘Pandu tidak akan pernah tertarik padamu, apa lagi kamu perempuan, kamu sangat berbeda dengan Rio.’ Seolah menggema dan membuatnya semakin penasaran, apa yang terjadi di antara semua ini?