“Ssssstttt! Hey, ada apa?” Pandu terus mengusap punggung Rio.
Tari membatu di tempatnya, pemandangan macam apa ini? Pergi atau kembali juga tidak mungkin, Tari hanya menggigit bibir bawah dan bermain dengan tali tas selempangnya.
“Kau tahu, Pandu?” Rio mengurai pelukan itu, mengusap wajahnya karena terasa berair saat ini, “Hendra pergi begitu saja, bahkan di tengah permainan itu, aku—aku tidak bisa menyelesaikannya sendiri, aku—“
“Sssssttttt!” Pandu memeluk Rio lagi, hanya sebentar, lalu mengurai kembali, “Kau sudah makan?”
“Hm!” Tari berdehem karena tak bisa bertahan lebih lama lagi dari pada ini, “Aku akan—“
Pandu segera menarik tangan Tari, “Dia Tari, yang bertemu dengan kita di pesta. Tari, ini Rio.”
Tari mengulurkan tangan, kalau sudah diangap ada begini, Tari tak bisa lari.
Rio hanya melihat tangan Tari, segera berbalik dan masuk, membiarkan tamunya, dan duduk di depan TV.
“Apa dia tidak menerimaku?” Tari seolah di tempat yang salah rasanya.
Pandu menggeleng, ”Hm ... banyak bahan makanan di sini, bisakan kamu membuatkanku sesuatu? Kumohon.” Pandu tak bisa mengacuhkan Rio, tapi dia juga tak bisa meninggalkan Tari.
“Arggggh ... baiklah, di mana dapurnya?” Tari benar-benar diuji.
Pandu tersenyum, segera memeluk dan mengecup kening Tari cepat, menarik tangan itu ke dapur, “Anggap saja rumah sendiri, ini rumahku juga.”
“Whatttt!” Tari tidak percaya dengan semua yang dia dengar.
“Ayolah, Tari! Kau sudah dewasa, kan?” Pandu membuka ke dua tangannya di udara, mencebikkan bibir, lalu meninggalkan Tari sendirian di dapur mewah ini. Dia terus memikirkan Rio, tak suka melihat Rio bersedih.
“What the Fucckk, Pandu. Fuckk!” Tari membuang napas kasar setelah berteriak ke udara kosong karena Pandu sudah pergi meninggalkan dapur. Tari mulai membuka semua pintu lemari yang ada di depan kaki dan yang menggantung di atas juga, mencari apa pun yang bisa disatukan menjadi sebuah makanan yang layak. Semarah apa dia, mana bisa pergi setelah terjepit.
Pandu ke ruang TV, Rio masih diam, duduk memandangi TV yang gelap, tanpa kedipan, tanpa suara. Pandu duduk di sebelahnya, menarik Rio agar menyandar di dadanya, “Kapan Hendra pergi?”
“Semalam.” Rio mengatakannya selirih dia bisa.
“Apa yang dia katakan?”
“Ada telepon penting, dia memakai bajunya dan pergi.”
Pandu menghela napas panjang dan dalam, mencari ponselnya, dan menelepon Hendra. Tak perlu waktu lama, hanya dua dering dan diangkat dari seberang sana, “Di mana?”
“Aku tidak bisa mengabaikan ini, aku akan kembali, sebentar lagi semua beres, apa kau menemui Rio?”
“Ya, tebakanmu benar. Dia ... sangat sedih.” Pandu terus mengusap lengan Rio yang masih memeluknya.
“Oh! Jaga dia untukku, tak akan lama, kau bisa menyelesaikan sesuatu? Aku terus memikirkannya sejak semalam.”
Pandu menghela napas lagi, bahkan lebih berat dari yang tadi, “Cepat kembali.” Menutup telepon itu, bahkan membiarkannya tergeletak di meja. Pandu menatap Rio, menarik wajahnya agar menatap dirinya.
“Pandu.” Rio tak tahu harus mengatakan apa.
Pandu lebih dulu melumat bibir Rio, tak membiarkannya pergi, tak mau Rio terus bersedih begini.
Rio menerima ciuman itu, menikmatinya dengan segenap rasa, dan terus melakukannya hingga apa yang sempat tertunda kembali naik. Tak mungkin tetap di sini, dia masih sangat ingat kalau ada Tari di dapur, tak bisa melakukan di sembarang tempat karena Tari. Rio membuat jarak antara bibirnya dan bibir Pandu, “Aku ... .” malu mengatakan apa yang menjadi masalah dalam otaknya.
Pandu tersenyum, “Ayo!” segera menarik tangan Rio, mengajaknya ke kamar, Tari masih lama, Pandu yakin itu. Dia akan menyelesaikannya dengan cepat, bahkan sebelum Tari selesai nanti.
Tari tersenyum, menghias kue bolu hitamnya dengan fla s**u. Meski ini adalah makanan kesukaan mamanya Pandu, dia tetap menyajikannya juga untuk Rio. Ah! Mengingat nama itu, Tari menghentikan gerakan tangannya, “Ada apa dengan Rio dan Pandu? Apa aku benar-benar harus mencari tahu? Rizky?” satu nama yang selalu membuatnya waspada, jangan sampai Rizky marah karena bagaimana pun Rizky tetap kekasihnya. Ada satu sisi di mana Tari begitu mencintai Rizky, sangat sulit untuk pergi begitu saja.
“Hm ... sepertinya ada buah naga di kulkas.” Tari dengan segala kreatifitasnya pun membuat minuman segar untuk teman kue bolu hitam ini. Setelah kue cukup hangat, tak sepanas tadi, Tari membawanya ke ruang TV, tahu kalau Pandu dan Rio ada di sana. Tari meletakkan nampan di meja, ”Ke mana?” monolognya sendiri, mengedarkan pandangan, rumah ini dua lantai, Tari mencoba mencari Pandu di mana pun. Kolam renang, halaman, dan ada ruang gym di sini, tetap saja kosong. Tari berpikir mungkin Pandu di lantai atas, dia pun ke sana, hanya ada sebuah kamar dan ruang baca tanpa dinding, langsung menghadap ke jendela besar dengan pemandangan kolam dan halaman samping. Pintu kamar itu juga terbuka, tak ada siapa pun di sana, Tari turun kembali.
“Pandu?!” tak tahu harus melakukan apa jika tak dia temukan di pemilik rumah. Saat dia melewati sebuah kamar, Pandu membukanya, tersenyum ke arahnya. Meski begitu Tari tak simpati, Rio terlihat di atas ranjang, terlelap dengan punggung telanjang. “Kuenya sudah matang.” Tari berjalan lebih dulu ke ruang TV, duduk dan menyambar remot TV, mencari tayangan apa pun yang bisa mengalihkan pikirannya dari rasa kesal.
Pandu segera menuang jus berwarna merah, menghabiskannya segelas penuh dan ternyata rasa buah naga, mengambil dua potong kue bolu hitam, mengangguk, semua makanan dari tangan Tari enak di lidahnya.
“Kamu sepertinya kelelahan? Apa aku perlu pulang sendiri? Rio tidur, aku yakin kamu tidak mau meninggalkannya.” Tari terus mencari tayangan yang pas untuknya. Jujur saja, Rio yang tidur telanjang seolah di layar TV saat ini.
Pandu terkekeh, “Aku akan ke kafe, setelah itu baru pulang, mama menyuruhku mengajakmu ke sana.”
“Maksudmu?” Tari menoleh, tak paham dengan apa yang diucapkan Pandu.
Terkekeh, “Kenapa kamu bingung? Bukannya kamu sendiri yang ingin permainan ini berlanjut? Mama sakit kanker dan kamu tidak mau mama kenapa-kenapa? Begitu, kan?” Pandu mengambil kue lagi, perutnya seolah punya banyak tempat untuk diisi kue itu.
Tari tak kalah keras menyuarakan tawanya, “Kamu? Kenapa? Untuk menyembunyikan Rio?” menggeleng, Pandu salah orang menurutnya.
“Kamu belum tahu siapa Rio.”
“Kamu? Tahu siapa Rio?”
“Ck!” Pandu berhenti mengunyah, padahal mulutnya masih lumayan penuh, “Ada apa denganmu? Kesurupan?” mengunyah kuenya dengan cepat, menelan, dan segera mendoronganya dengan jus buah naga agar tidak tersendat di tenggorokan.
Tari mendekatkan diri ke Pandu, menatapnya dengan penuh amarah, “Aku melihat Rio, kamu tidak bisa menyembunyikan apa pun, Pandu. Apa pun!”
“Aaaaah! Kau ini ... memangnya aku menyembunyikan apa?” Pandu berdiri, ponsel yang tadi dia tinggalkan, dia kantongi lagi, “Ikut ke kafe apa di sini saja, huh?!” Pandu bertanya sambil melangkah.
Tari hanya membuang napas kasar, mengambil tasnya, dan menyusul Pandu, dia juga ingin bertemu Rizky setelah kejadian semalam. Tak banyak yang dia bicarakan, hingga mobil Pandu behenti di dekat kafe Rizky, “Aku turun di sini, masuklah dulu.”
Pandu hanya mengacungkan jempol, setelahnya menginjak gas lagi, dia tak mau Rizky tahu, sama dengan keinginan Tari dulu. “Hey! Ada apa dengan mukamu?” Pandu meninju lengan Rizky pelan, duduk di sebelahnya, dan meminum minuman Rizky yang tinggal separuh dan setengah dingin.
“Kau semalam di mana?” Rizky yang membaca tabloid chef dunia, segera melipat, menunggu Pandu akan menjawab pertanyaannya bagaimana.
“Aku? Tentu saja aku tidur di ruamh Rio, kau lupa? Hilang ingatan?” tertawa, Pandu tak peduli dengan tatapan Rizky yang masih memojokkannya.
“Hendra ke sini dengan Rio, apa kau di rumah Rio sendirian? Bersolo karier?”
‘Oh, sial!’ batin Pandu, “Aku belum berangkat saat Rio ke sini, aku yang memakan masakanmu semalam, aku sedang malas jadi ponselnya kutinggal di meja.” Pandu mengatakannya tanpa menatap Rizky, menyibukkan diri dengan kudapan di depannya, sepertinya juga milik Rizky.
Rizky baru saja akan berargumen, Tari tersenyum dan mendekat, Rizky pun berdiri, lebih tertarik menyambut Tari dari pada mengoceh dengan Pandu, “Hey, Sayang.” membuka tangan untuk memeluk Tari.
“Sudah makan, Sayang?” mencium bibir itu cepat dan singkat. Setelah Rizky mengurai pelukan, Tari menatap sinis Pandu dan duduk di sebelahnya.
“Sudah. Kenapa aku mencium vanili? Kamu ... membuat kue tadi?” tanya Rizky dengan segala insting detektifnya.
Tari menggeleng, padahal jantungnya gugup saat ini, melupakan kalau Rizky sangat teliti, Tari menyesal kenapa tidak mandi dulu sebelum ke sini tadi?
Rizky menggeleng juga, “Tidak, Tari. Ini aroma vanili.” Rizky mengulurkan tangan ke punggung Tari, mengusap hanya sebentar, dan terus ke lengan, dan meremas lengan itu keras, “Apa kau menyembunyikan sesuatu?”
“Akh! Sakit, Rizky.” Tari meringis, lengannya seolah remuk.
“Hm ...” Pandu menyandarkan punggungnya, “bisakah kalian diam? Aku lapar, lebih baik kamu memasak untukku.” Pandu mengambil ponselnya, berselancar di dunia maya, dan mengacuhkan Rizky dan Tari yang berseteru.
Rizky segera melepas cengkeraman lengan itu, ke dapur karena biasanya dia sendiri yang memasak saat Pandu ingin makan di sini.
Tari mengusap lengannya, “Terima kasih, Pandu.”
Pandu melirik, “Kalau aku jadi kamu, aku sudah pergi dari dulu.” cukup paham seperti apa sifat Rizky sedari dulu.
Tari menggeleng, “Ada hal yang sulit untuk dimengerti, Pandu. Aku ke belakang dulu.” Tari menyusul Rizky, tak mau dengan tetap di sini dengan Pandu, Rizky semakin salah paham dan marah. Saat baru saja sampai di dapur, tersenyum ke Rizky yang bermain dengan teflon dengan udang di dalamnya. Tari lebih banyak diam, setelahnya memeluk Rizky dari belakang, “Jangan terus menganggapku buruk, Sayang. Pekerjaanku selalu memakai vanili, hanya sedikit aroma yang sama, kamu sampai seperti ini? Bagaimana dengan bundaku nanti? Kamu mau berjuang, kan?” Tari yakin Rizky paham dengan ucapannya.
Masakan yang sudah matang, Rizky pun mematikan kompor dan berbalik, “Aku tidak mau kamu pergi, kemarin saat aku melihat mobil Pandu di depan rumahmu saja aku marah, padahal itu bukan miliknya, aku takut kehilanganmu, Tari.” memeluk Tari erat, hanya Tari yang mengerti akan dirinya selama ini.
Tari mengusap punggung Rizky, menggeleng dalam pelukan Rizky, “Tidak akan, sungguh.”
Rizky menghela napas panjang dan dalam, “Pandu juga tidak akan tertarik padamu, dia tidak suka dengan perempuan, kamu berbeda dengan Rio.” lega dengan janji Tari yang tak akan pergi menjauh.
‘Rio? Nama itu lagi?’ Tari hanya bisa membatin, dia harus benar-benar mencari tahu tentang Rio mulai hari ini.