Tari sibuk di dapur. Sesekali memperhatikan Pandu yang berbincang dengan bundanya, membuat hatinya menghangat, tak pernah ada pria yang bisa sedekat itu dengan bundanya. Ah! Tari melupakan Rizky. Cincin yang melingkar di jari manis, diputar sampai beberapa kali, Tari enggan menceritakan ke bundanya. Pernah saat malam dia pulang sambil menangis, sudut bibirnya berdarah karena Rizky menamparnya cukup keras atas kesalahan yang tak sengaja dia lakukan, tapi saat akur seperti tadi siang, tak ada yang mengalahkan kasih sayang Rizky, itulah kenapa dirinya begitu sulit melepas Rizky. Sisi baik itu terus saja membuatnya ingin kembali ke pada sosok yang sama setiap hari.
“Biar aku yang membuka pintu!” Tari berteriak setelah mendengar bel rumahnya berbunyi. Dari pada dia di dapur memperhatian Pandu yang entah tulus atau hanya mencari perhatian saja dengan bundanya, lebih baik dia menemui tamunya sekarang. ‘Deg.’ Bukan main kagetnya, Rizky berdiri di depannya saat ini. Tari tetap tersenyum, memeluk Rizky, dan mencium bibir itu singkat, “Sayang? Ini kejutan?” memeluk Rizky lagi.
Rizky mengurai pelukan itu dengan cepat, mendorong Tari agak kentara untuk menciptakan jarak, ingin melihat seperti apa mimik wajah itu, “Apa Pandu di dalam?” todongnya ke Tari.
Tari mengerutkan kening, “Pandu? Pandu siapa?” Tari bingung memang, tapi dia yakin Pandu tak akan licik dengan menjebaknya seperti ini, itulah kenapa dia tak mau mengaku kalau Pandu memang di dalam sana bersama bundanya.
Rizky terkekeh, “Kamu mau membodohiku, huh?! Itu mobil siapa?!” membentak, dia hilang kesabaran rasanya.
Tari menggeleng, “Ada apa denganmu, Rizky? Pandu siapa? Jangan membuatku bingung?” Tari benar-benar berdebar sekarang. Kalau Pandu memang ke mari hanya untuk menjebaknya saja, dia akan membuat Pandu berlutut memohon ampun nanti.
“Kau?!—“
“Siapa, Tari?” bunda Tari ke luar saat mendengar kegaduhan, melihat pria di depan putrinya tegah mengangkat tangan, bunda Tari pun memelototkan mata, “Siapa kamu?!” tak gentar sedikit pun, membentak ke pria yang bahkan tak dia kenal asal usulnya ini.
Rizky menurunkan tangan, mendunduk hormat ke wanita yang bisa dia tebak ibunya Tari, mengulurkan tangan, “Tante, saya Rizky tunangannya Tari.” Nada bicaranya sudah biasa, dia tak menyangka kalau akan bertemu dengan ibunya Tari saat emosinya meninggi seperti tadi.
Bunda Tari tersenyum mengejek ke pria bernama Rizky itu, “Tunangan dari mana? Aku melihatmu saja baru malam ini?”
“Bunda, Tari bisa jelasin ini, Bunda.” Mendekat ke Rizky, berdiri dengan menghadap ke bundanya, Tari tak mau semua malah semakin runyam nanti.
Bunda Tari mengangkat tangan, ingin Rizky saja yang menjelaskan semuanya. Ditatapnya tajam pria di depannya ini.
Rizky menoleh ke Tari, mengulurkan tangan, setelah Tari memberikan tangannya, dia menunjukkan ke ibunya Tari, “Aku melamar putri Tante tadi siang.” Tersenyum bangga. Meski masih berdiri di depan rumah dan datang tak sopan sedikit pun, cintanya ke Tari tak pernah main-main.
Bunda Tari menarik tangan putrinya, melepas cincin itu dengan paksa, dan dikembalikan ke Rizky, “Aku tidak menerima pertunangan itu,” menarik tubuh Tari seutuhnya, mendekat hingga berdiri di belakangnya, menjauh dari Rizky, “terlebih ke pada pria yang berani mengangkat tangannya di depan mataku sendiri. Cari saja perempuan lain untuk kau nikahi.” berbalik, “Masuk!” mendorong Tari hingga ke dalam, ikut masuk sampai tak peduli dengan Rizky, menutup pintu rumah dengan kasar. Berdiri dengan menatap Tari tanpa peduli dengan pemuda yang masih saja berteriak seperti orang gila di depan rumahnya, “Bunda kecewa padamu.” Meninggalkan putrinya yang masih bingung akan merayu, dia yakin itu, terlihat jelas Tari sangat keberatan dengan keputusan yang dia ambil.
Pandu yang tadinya ingin ke luar saat mendengar keributan, tahu kalau Rizky yang datang, sengaja meminta tolong agar bunda Tari saja yang menemui Rizky. Kini malah tak dia bayangkan kejadiannya akan seperti ini. Tari yang masih mengetuk pintu kamar yang mungkin milik bunda Tari, membuatnya merasa tak enak. Setelah beberapa menit atau mungkin satu jam, Tari hanya duduk di depan pintu kamar dengan tetap memukul dengan lemas. Pandu mendekat, membantunya berdiri, duduk di sofa, dan segera mengambilkan air untuk Tari.
Setelah meneguk untuk menenangkan diri sendiri, Tari memeluk Pandu, dia sedang butuh pelukan sekarang. Dihukum tanpa diberi kesempatan untuk menjelaskan itu rasanya tidak nyaman, dan karena itulah Tari menangis di pelukan Pandu saat ini.
***
Tak ada yang makan semalam, pagi ini Tari bangun lebih dulu, tidur di sofa ruang tamu dengan posisi duduk, membuat tubuhnya serasa luar biasa. Pandu pun sama, bedanya Pandu masih memejamkan mata sekarang. Tari menggigit bibir bawah, perutnya kelaparan, dia yakin Pandu pun sama. Segera ke dapur, bahan yang harusnya dimakan semalam masih di tempat yang sama, Tari segera memasaknya, tak enak menyiksa anak orang hanya karena permasalahannya sendiri.
Bunda Tari ke luar dari kamar, dia baru saja mandi, akan berangkat berjualan dari pada terus melihat putrinya karena perasaannya masih kesal. Pandu masih memejamkan mata di sofa, seolah mencibut hatinya. Tapi acuh, bunda Tari tetap mendekat ke ruang makan, mengemas kue-kuenya, dan bersiap untuk berangkat.
“Tunggu setelah sarapan, Bunda. Gak enak sama Pandu.” ucap Tari setengah merayu.
Bunda Tari yang paham maksud putrinya, duduk, menurunkan egonya, “Jangan sembarangan mengambil keputusan, Tari.” tuturnya dan menoleh ke putrinya yang ternyata juga menatapnya saat ini, “Apa Rizky adalah orang yang sama dengan orang yang membuatmu pulang dengan bibir berdarah dulu?” anggukan dari Tari cukup meremukkan hati, “Bunda menyayangimu, Bunda gak mau putri Bunda disia-siakan oleh pria kurang ajar seperti Rizky, apa hal mudah seperti itu kamu gak ngerti, huh?!” entah terbuat dari apa otak putrinya itu.
“Maaf, Bunda. Tari hanya bingung kemarin, mangkanya Tari menerima cincin itu.” terang Tari.
“Jangan lagi.” berdiri, bunda Tari memilih untuk membangunkan Pandu dari pada terus bersitegang dengan Tari.
Lebih banyak diam. Pandu memutuskan untuk pulang setelah mandi dan sarapan, tak jadi membantu bunda Tari untuk berjualan. Sesekali menoleh ke Tari yang diam di kursi sebelahnya, Pandu tengah mengantar Tari ke rumah pemesan kue yang semalam dia kemas dengan bunda Tari.
Tari menghela napas panjang dan dalam, ingin mencari pemandangan lain untuk melepas penat, menemukan Pandu yang mengemudi di sebelahnya. Tari tersenyum, “Apa pakaiaan itu nyaman?” tanyanya karena Pandu memakai kaos kebesaran miliknya dan celana pendek milik mendiang ayahnya.
Pandu membalas senyuman itu, “Ya. Ini nyaman. Di mana rumahnya?” Pandu lupa di mana alamat tepat si pemesan kue itu.
“Di depan belok kiri, rumah nomor empat.” Tari bersiap untuk turun setelah sampai, “Aku sendiri saja, kamu—“
“Aku bantu.” Pandu menarik rem tangan, melepas sabuk pengaman dan turun. Mengambil beberapa mika besar kue dan dia berikan ke Tari, sedangkan dirinya sendiri juga membawa empat mika, mengekor di belakang Tari. Pandu akan menutup mulut, tak mengganggu pekerjaan Tari.
“Terima kasih, Bu. Uangnya pas, kalau Ibu ada acara lagi saya siap mengantar.” Tari berpamit dan mendekat ke mobil, tapi langkahnya terhenti saat Pandu menerima telepon, Tari menghadap ke Pandu, dia lupa bertanya apa mama Pandu tahu kalau Pandu tidur di rumahnya semalam.
“Ya?” Pandu menatap ke Tari, “Sekarang? Kalau nanti siang saja?” Pandu tak mungkin meninggalkan Tari begitu saja, “Baiklah. Aku ke sana.” menutup telepon itu dan menyimpan ponsel di saku celana, “Aku agak buru-buru, Tari. Sepertinya tidak bisa mengantarmu, aku harap kamu tidak keberatan untuk ikut, aku akan mengantarmu setelah urusan yang ini selesai.” Pandu juga tak mau Tari pulang sendirian.
“Ya, tidak masalah. Aku bisa menunggumu di mobil nanti.” Tari membiarkan perjalaan tak dilewati banyak obrolan, hingga mobil Pandu samapi di rumah besar yang Tari juga tidak tahu milik siapa. Saat Pandu mengajaknya turun dan menggandeng tangan, Tari hanya menurut, dia masih punya janji dengan mama Pandu akan menyelesaikan sandiwara ini, bisa saja ini rumah saudara Pandu, kan? Mangkanya Pandu menggandengnya begini.
Pandu tak mengetuk atau bahkan memencet bel rumah, segera membuka pintu, yakin kalau kehadirannya sudah ditunggu oleh seseorang di dalam rumah ini.
“Pandu?!”
Pandu terkejut saat Rio tiba-tiba menubruk dan langsung memeluknya. Tak mungkin hanya diam, tangan kiri yang tadinya menggenggam jemari Tari, dia lepas, memilih untuk membalas pelukan Rio. Pandu tak tega melihat Rio bersedih seperti ini.