“Puas?!” Tari mendorong Pandu hingga terjatuh ke sofa. Segera ke kamar karena malas dengan Pandu yang seolah membuatnya malu di depan bundanya.
Pandu hanya tertawa, mendekat ke bunda Tari. Seperti kata mamanya, dia akan mencoba membuka diri, selama ini terlalu lama kuliah di luar negeri, membuatnya minder, lupa dengan teman-temannya, dan merasa tak bisa mengimbangi apa yang kadang dibicarakan. Saat ini saja, dia hanya tersenyum saat bunda Tari menatapnya, mendekat ke ruang makan, dan duduk di kursi sebelah bunda Tari.
“Mau ke luar?” tanya bunda Tari, menyodorkan plastik, kalau Pandu mau membantu, bunda Tari akan membiarkannya, andai pun tidak juga tak masalah.
Pandu mengangguk, mengambil plastik klip, kue pastel di wadah, dan membantu mengemasnya. “Bunda ... besok sama siapa ngantar kuenya?” setahu Pandu, Tari juga mengangguran, tidak ada mobil atau motor di rumah ini, Pandu yakin kalau bunda Tari akan kerepotan.
“Mereka mengambilnya, Sayang. Tari menjualnnya via on line, setiap pagi Bunda juga bergabung dengan garai di depan, bersama dengan teman-teman Bunda. Kamu mau ikut?”
Pandu tersenyum, “Aku ... tidak tahu akan melakukan apa di sana.” jujur Pandu.
“Melakukan apa? Tentu saja membantu Bunda menjual kue. Tari yang lebih muda sebagai kurir, mereka suka memesan mendadak, dan Tari yang bertanggung jawab di rumah.”
Pandu mengerutkan kening, tak paham dengan apa yang dikatakan oleh bunda Tari. “Kurir? Dengan apa?” tanyanya.
Bunda Tari menunjuk sepeda onthel di ruang belakang, terkekeh, “Jangan dipikirkan, Sayang. Besok kamu akan tahu.”
Pandu tersenyum, bunda Tari sama dengan mamanya, kasih sayang itu terlihat melimpah. “Bunda ... di mana kenal dengan mama?” bunda Tari berbeda tentang kasta, Pandu saja heran karena mamanya memilihkan gadis biasa, bukan yang sama-sama kaya seperti papanya.
“Kami dulu teman kursus, mamamu tidak suka, tapi harus ikut karena nenekmu memaksa, tentu saja kita akrab karena mamamu suka dengan makanan manis.”
“Ya, Bunda benar.” Pandu tidak memungkiri itu. Terus bertukar cerita hingga pastel yang ada di lima loyang hampir habis dibungkus dengan rapi. Pandu yang lama-lama tergoda, mencomot satu pastel, menggigitnya, memang tangan ajaib bunda Tari tidak diragukan lagi. Kalau mamanya lebih pintar memasak lauk, bunda Tari malah memberinya manis yang tak tergantikan. Dua kombinasi yang tepat untuk sepasang sahabat.
Tari yang tadi mandi, berniat membantu bundanya juga. “Ck!” tidak menyangka kalau Pandu belum juga pergi dari rumahnya.
“Kok belum siap? Katanya mau makan di luar?” tanya bunda Tari melihat putrinya memakai baju tidur dengan rambut yang masih basah.
“Katanya Pandu mau makan di rumah, Bunda. Jadi aku tidak bersiap-siap.” Sengaja mengatakannya agar Pandu tak mengajaknya ke luar.
Pandu pun terkekeh, “Ya. Masak yang enak, aku akan membantu Bunda mengemas kue-kue ini.”
Tari membuang napas kasar, tidak menyangka kalau Pandu tak terintimidasi oleh ucapannya.
Rizky...
Dari tadi memikirkan mobil milik tetangga Tari, “Siapa? Seperti mobil Pandu, tapi kenapa dia di sana? Apa mereka bermain di belakangku?” monolognya sambil memainkan ponsel. Tak tahan, segera menelepon Pandu untuk memastikan di mana sahabatnya itu.
Pandu mengerutkan kening saat Rizky menelepon, segera menerimanya, “Ya? Aku sedang sibuk sekarang.” Pandu menoleh ke bunda Tari, tersenyum saat wanita sebaya dengan mamanya itu menggeleng menertawakannya.
“Kamu di mana? Bisakah ke sini sekarang?” Rizky akan mempertimbangkan jawaban Pandu.
“Aku sedang bersama Rio, bagaimana dengan besok malam? Aku sibuk.”
Tari mendengar ucapan Pandu, membuatnya bertanya dalam hati, apakah yang dikatakan Rizky tadi siang adalah benar? Seolah Rio begitu spesial untuk Pandu.
“Baiklah. Have fun.” Risky menutup sambungan telepon itu, turun ke lantai satu, dia ingin melihat keramaian di kafenya malam ini. Banyak pengunjung seperti biasanya, Rizky tak pernah salah dengan menu dan juga semua fasilitas yang selalu diperbarui hampir setiap tahunnya.
“Hey ... .”
Rizky menoleh, mengerutkan kening setelah melihat rekan lama di kafenya ini, “Hendra?” memeluknya, menepuk punggung itu beberapa kali, kejutan di malam yang hampir saja membuatnya penat. “Kapan datang? Bukankah kamu di Australia?” Rizky tahu apa pekerjaan temannya ini.
“Ya. Aku hanya rindu kampung halamanku. Oiya, buatkan aku steak terbaik, aku akan memberikannya kepada orang yang spesial malam ini. Dia akan datang.” Hendra membisikkannya ke Rizky. Melihat Rizky terkekeh dan menganguk, Hendra lega melihatnya. Duduk sendirian di kafe, sesekali melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Agak jengah, apakah benar-benar akan datang?
“Maaf ... aku terlambat.”
Hendra menoleh, tersenyum, memeluk sejenak, mengajakanya duduk kemudian, “Rio, bagaimana kabarmu?” tanyanya setelah Rio duduk di depannya. Wajah itu cukup lama tak dia lihat.
Rio membuang muka, “Baik. Aku tidak suka di sini, kenapa tidak makan di tempat lain atau di rumahku saja? Kata Pandu kamu akan menginap?” protesnya.
Hendra terkekeh, “Sesuai keinginanmu, Rio.” Mengatakan ke pelayan agar steak yang dia pesan dikemas saja, tak ingin Rio terus cemberut seperti itu di pertemuan pertamanya ini.
Rizky sengaja memasak dua menu, Hendra jarang pulang ke Indonesia, Rizky akan memberi apa yang terbaik. Setelah semua siap, kembali ke meja Hendra, terkejut karena ada Rio di sana. “Rio? Kamu di sini?” tanyanya sambil meletakkan kotak makan untuk Hendra.
“Ya. Hendra yang menyuruhku.”
“Oh! Bukan itu. Aku pikir kamu dengan Pandu, dia bilang sedang denganmu tadi?” Rizky yakin, hanya Rio ini saja teman Pandu.
Rio berdiri, mengajak Hendra pergi. Dia tak terlalu suka dengan Rizky yang selalu ingin tahu, “Tidak, kami hanya berenang tadi siang. Ayo, Hendra!” rengeknya.
Hendra pun tertawa, meninggalkan beberapa lembar uang tanpa bertanya kembaliannya, segera mengajak Rio untuk pergi, wajah kusut itu membutanya terganggu.
Rizky mengambil ponselnya lagi, mencari nama Pandu, dia akan memaki sahabatnya itu. Tapi urung, sepertinya akan percuma saja. Rizky pun menyimpan ponselnya lagi, mengambil kunci mobilnya, dia akan ke rumah Pandu. Di sana dia akan menemukan kebenaran, apa yang membuat sahabatnya itu membohonginya. “Ada apa denganmu? Bahkan Rio ke kafeku tadi?” monolognya sambil melajukan mobil. Baru saja di tengah perjalanan, Rizky sudah berubah pikiran. Mencari tempat yang tepat untuk memutar balik, segera ke rumah Tari. Dia merasa ke sana akan lebih mudah mendapatkan jawaban, apakah mobil di depan rumah Tari adalah mobil Pandu, atau bukan.
“Lihat saja, kalau sampai kecurigaanku benar, aku tidak akan segan menghukummu dengan sangat berat, Pandu. Sangat berat.” Terus memacu mobilnya, menginjak pedal gas sedalam dia suka, tak sabar menangkap basah dua pengkhianat dengan tangannya sendiri.