‘Byurrrrr!’ Pandu baru saja melompat ke kolam. Dari ketinggian sepuluh meter, dia suka melompat seperti itu. Mendekat ke Rio yang masih saja melakukan pemanasan di tepi kolam, tak sabar, segera menyipratkan air ke Rio, membuat sosok itu mengerucutkan bibir dengan wajah yang terlihat lucu sekarang. “Hahahahaha.” Tawa Pandu terkelakar, “Ayo turun!” kembali berenang menjauh, ini adalah olahraga yang paling dia sukai.
Rio terkekeh melihat Pandu sudah di tengah kolam, ikut turun juga, berenang mendakat ke Pandu. Kini ke duanya tak berjarak, bersebelahan hingga di bibir kolam seberang. Kolam ini adalah kolam khusus, tak sembarang orang bisa masuk kalau bukan member dari tempat ini. Pandu yang berdiri sambil menata napas, Rio mendekatinya, memeluk sambil menempelkan kepala di punggung Pandu, “Aku mau ke Australia.” Lirihnya. Tangannya meraba d**a Pandu, melukis bentuk menonjol yang indah di tubuh Pandu.
Pandu terkekeh, “Kenapa mendadak? Kata Hendrik kamu harus sabar, kan? Kenapa terburu-buru?”
Rio mengecup punggung itu, melepas setelahnya, “Hendrik terlalu lama, aku tidak suka.” Berenang menjauh, dia malas kalau Pandu sudah membahas tentang Hendrik.
Pandu naik dari kolam, mendekat ke handuk miliknya, mengeringkan tubuh, dia mencari tasnya. Ponselnya yang tak didapati pesan dari siapa pun, Pandu malah mencari nama Hendrik sekarang, “Ya, aku berenag dengan Rio.”
Rio yang baru saja sampai di seberang, memicingkan mata melihat Pandu menelepon. Kembali berenang mendekat, dia akan mengambil ponsel itu dengan paksa sesampainya di sana nanti.
“Ya. Seminggu lagi, okey?” Pandu yang sedari tadi mengawasi Rio, tahu kalau sosok itu semakin dekat, hanya terkekeh melihat Rio yang tetap saja posesif, “Aku tutup dulu, dia akan datang sebentar lagi.” Menyimpan ponselnya di tasnya, berbaring di kursi santai sambil menyimpan ke dua tangannya di belakang kepala. Rio yang baru saja ke luar dari kolam, mendekatinya, membuat Pandu tertawa ringan.
“Siapa yang menelepon tadi, hm?! Hendrik?” tebaknya sangat yakin. Pandu yang terus saja tersenyum, membuat Rio sedikit kesal. Naik ke tubuh Pandu, duduk tepat di bawah perut, menempelkan apa yang berbentuk sama hanya dengan terhalang oleh dua kain tipis saja.
“Hahahahaha.” Pandu malah tertawa, menarik tangannya, menurunkan Rio karena tak mau miliknya terduduki, sangat menganggu, “Hendrik akan datang nanti malam. Jangan ke Australia dulu, kita akan ke Bali, setelah itu baru ke Australia, kenapa terburu-buru, hm?!”
Rio yang kini berganti duduk di paha Pandu, bermain dengan pusar itu, “Aku malas berdebat dengannya. Nanti malam tidurlah di rumahku.”
“Kau gila?! Ayolah ... mana mungkin aku tidur di rumahmu? Mama? Aku akan menjawabnya apa?” Pandu saja tak pernah menang dengan wanita sempurna yang satu itu.
“Lalu? Aku?” Rio menurunkan tubuhnya, memeluk Pandu, “Aku malas.” rengeknya manja.
Pandu pun mengusap rambut Rio, “Jangan manja. Kamu mau jadi model terkenal, kan? Menurutlah dengan Hendrik. Besok pagi aku akan ke sana, aku janji.” Mendapati kepala itu mengangguk, Pandu merasa begitu lega. Kembali mengajak Rio berenang beberapa kali, setelah lelah, segera mengajaknya mandi, kembali ke tempat gym yang kemarin, mengantar Rio agar mengambil mobilnya. “Kita makan di sini saja.” Ajak Pandu ke restoran dekat tempat gym.
“Aku akan pulang setelah ini, badanku sakit semua, aku tidak mau demam, apa lagi Hendrik nanti malam datang.” Rio menunjuk menu yang dia mau, dua porsi karena Pandu harus makan makanan yang sama dengannya.
Setelah makan, Pandu segera pulang. Dia pergi sedari pagi, tak mau mamanya kawatir, apa lagi tak ada pesan darinya sejak tadi. Baru saja melangkah masuk, mamanya yang saat ini ada di ruang keluarga sendirian, membuat Pandu tersenyum, ikut duduk di sana, menemani mamanya yang sendirian sambil membaca tabloid busana.
“Ke luar dengan Rio? Apa tidak ada orang lain?” tembak mama Pandu.
Pandu pun terkekeh, “Mama selalu begitu. Semua salah paham, Ma.” Pandu menurunkan kepala hingga berbantal di pangkuan mamanya.
“Kalau memang salah paham, kamu tidak akan jijik melihat Tari. Katakan ke Mama, apa kurangnya Tari, hm?! Cantik, pandai, ramah, pintar memasak, apa lagi?”
Pandu membuang napas kasar, “Baiklah. Sekarang apa yang Mama mau?”
Merasa menang, mama Pandu pun tersenyum, “Beri Mama alasan yang kuat untukmu menolak Tari, kalau tidak ... bawa saja perempuan ke rumah ini, nikahi, dan semuanya beres. Mudah, kan?”
“Okey.” Pandu bangun, mencium pipi kiri mamanya, ke kamar. Dia benar-benar harus menyelesaikan semua ini dengan segera. Cukup cepat hingga Pandu sudah siap dengan pakaian rapi dan parfumnya, turun dan menemukan mamanya tetap di tempat yang sama, “Ke mana papa, Ma?” tanyanya yang duduk di sebelah mamanya lagi, mengambil kue kering di meja, menikmatinya sambil menganguk karena rasanya memang enak.
“Papa meeting, mungkin sebentar lagi pulang. Mau ke mana?”
“Kencan.” Pandu terkekeh, mengecup pipi mamanya yang masih menatapnya penuh tanya, “Ayolah ... dia wanita, Ma. Aku berangkat dulu.” Pandu segera melesat dengan mobilnya. Bertamu ke tempat yang sedari tadi dia ingin temui si pemilik rumahnya.
“Dia keluar. Sebentar lagi pasti pulang. Anggap saja rumah sendiri.”
“Terima kasih, Bunda.” Pandu meraih teh itu, menikmatinya, berharap semua tak akan terlalu lama.
“Bunda, aku pulang—hey ... .” Tari terkejut menemukan Pandu di rumahnya. Dia pikir mobil di depan tadi tamu tetangganya karena rumah di sini berjajar dengan rumah tetangga lainnya.
“Pandu menunggu dari tadi, Sayang. Bunda ke dalam dulu, banyak pesanan untuk besok.” Bunda Tari yang mendengar putrinya pulang, kembali masuk, memberi ruang untuk dua anak muda itu.
Tari segera duduk di sebelah Pandu, mengingat cincin yang tersemat di jari manis, Tari menyembunyikannya, “Aku ... baru pulang.”
“Aku ingin mengajakmu ke luar. Makan malam. Boleh?” ucap Pandu, merasa berbincang di sini tidak akan nyaman.
“Maaf, aku sepertinya tidak bisa, aku baru saja pulang, aku ... lelah.” Tari merasa Pandu menjadi aneh setelah mendengar cerita dari Rizky tadi.
Pandu terkekeh. Hanya sejenak dan Tari seolah jadi orang asing saat ini.
“Aku masuk dulu, Pandu.” Tari berdiri, dia akan ke kamarnya.
Pandu dengan cepat mencekal tangan Tari, ikut berdiri, menemukan cincin di jari manis yang dia yakin tidak ada di pagi tadi.
Tari memutar pergelangan tangannya, berharap Pandu melepaskannya karena rasanya mengganggu. Tatapan itu, seolah mengejek atau bahkan menertawakannya, Tari tidak tahu.
“Kau ... akan berhenti begitu saja?” Pandu sangat tahu kalau itu pasti dari Rizky. Saat langkah kaki terdengar semakin dekat, Pandu pun juga mendekat ke Tari. Dengan kecepatan yang dia punya, bahkan tanpa permisi, Pandu segera menyambar bibir itu, setengah melumat, memberikan Tari apa yang selama ini belum ingin dia beri. Terus membuat Tari bingung dengan sikapnya, hingga bibir itu membuka dan mengajak lidah Tari untuk bertautan.
“Oh! Waktuku tidak tepat ternyata.”
Tari mendorong Pandu, “Bunda?” tidak menyangka kalau Pandu sengaja menciumnya tepat di depan bundanya.