Pandu baru saja sampai di rumah, membiarkan Tari langsung diajak mamanya ke dapur, sedangkan dirinya sendiri ke kamar. Berbaring, bermain dengan ponselnya. Dia melihat Rio yang baru saja mengunggah foto di media sosial pribadi, Pandu jadi mengingat kejadian beberapa jam yang lalu itu. Dirinya terlalu kasar tadi.
Dia tak mungkin pergi menemuai Rizky, ada Tari di rumah ini. Memikirkan hal tak penting membuatnya mengantuk juga, Pandu pun menaruh ponselnya, sejenak tidur untuk mengusir lelah. Entah berapa jam, Pandu terbangun saat tubuhnya terasa ada yang mengguncang pelan, Tari sudah tersenyum dengan piring di tangan. Pandu membuang napas kasar, “Siapa yang mengizinkanmu masuk ke sini?” tanyanya sambil mengucek mata, menghilangkan apa yang mungkin akan menjijikkan jika dipandang.
“Mamamu menyuruhku tidur di sini, sebentar lagi kita juga akan menikah, bukankah tidak masalah aku masuk ke mana pun aku mau?” Tari tetap menyodorkan kue yang baru saja dibuatnya bersama dengan mama Pandu.
Pandu menerima kue itu, “Bukan berarti kamu tidur di sini, banyak kamar di rumahku, pilih saja kamar lain yang kamu suka.” Melahap kue itu sebanyak yang dia bisa, membuat Pandu menoleh ke Tari di gigitan pertama.
Tari terkekeh, “Kue buatanku enak?” tanyanya penuh percaya diri, “Semua orang selalu berkata seperti itu, Pandu.” Tari ikut duduk di ranjang Pandu.
Pandu kembali mengunyah kue itu, berdiri, ke luar dari kamarnya. Andai Tari tetap ingin tinggal di kamarnya, biarkan saja, Pandu tidak peduli.
“Sayang, kue buatan Tari enak, kan?” mama Pandu yang saat ini tengah menikmati kue hangat bersama dengan suaminya itu, melihat Pandu bergabung dengan mulut mengunyah, membuatnya senang. Tari akan mengambil hati putranya sebentar lagi.
“Ya, enak.” Pandu mendorong kumpulan tepung dan gula di tenggorokannya dengan jus semangka yang diambilanya dari lemari pendingin. Membawa jus itu duduk di sebelah papanya, saat Tari ikut bergabung juga, Pandu pura-pura cuek, malas berurusan dengan Tari. “Papa, kapan aku ke kantor? Di rumah bosan.” Pandu berpikir kalau sibuk pasti punya banyak waktu untuk menghindari Tari dan perjodohan konyol ini.
“Papa saja tidak ke kantor? Kenapa kamu harus ke kantor? Kan ada karyawamn kita? Sekretaris? Asisten? Zaman sudah maju, tidak perlu ke kantor untuk menjalankan perusahaan kita, Pandu. Hahahaha.” Papa Pandu terbahak-bahak, menyenggol pundak istrinya, dia akan sangat kompak kalau urusan memojokan putranya.
Tari terkekeh, meski begitu dia juga menutupi mulutnya dengan tangan. Pandu yang menoleh ke arahnya, membuat Tari membuang muka sekarang.
“Sudah, jangan berdebat. Tari, cepat mandi, Mama mau ngajak kamu malam ini. Pandu,” mama Pandu pun menoleh ke putra semata wayangnya, “kamu bersiap juga. Ada acara makan malam yang harus dihadiri. Ayo, Pa!” menarik tangan suaminya, pergi ke kamar untuk bersiap-siap.
Pandu membuang napas kasar. Tari yang masih saja menertawakan dirinya, hanya dihadiahi lirikan saja oleh Pandu. “Tertawalah sebelum bibirmu kram.” Pandu berdiri, kembali ke kamarnya. Meninggalkan Tari yang bahkan tertawa sambil memegangi perut.
Waktu begitu cepat, Pandu sudah berada di pesta sekarang. Mama dan papanya bergandengan tangan, menyapa ke pemilik pesta, dengan dirinya yang harus terpaksa berjalan beriringan dengan Tari.
“Kamu tidak menggandengku? Pria seperti apa kamu ini?” Tari cukup kuwalahan mengimbangi langkah lebar Pandu.
Pandu berhenti, membuka lengan kirinya, membiarkan Tari menggandeng, dan berjalan lagi lebih pelan. Entah siapa yang menyiapkan gaun Tari, Pandu yakin tak ada gaun itu di rumahnya, kan?
“Ini pesta apa, Pandu?” Tari mengedarkan pandangan, merasa adanya panggung kecil dengan penyanyi di atasnya, hanya sebuah pesta untuk menghabiskan uang saja.
“Teman papa suka berpesta, entah merayakan apa.” Pandu saja bosan saat diajak ke pesta yang seperti ini.
“Kamu juga selalu diajak sama papa?”
“Ya, aku akan menolak kalau kamu tidak ikut tadi.”
“Kenapa sekarang mau?” Tari jadi penasaran.
“Ck!” Pandu melirik Tari tajam, “Bisakah diam saja? Pertanyaanmu tidak penting.” Pandu benar-benar tidak habis pikir, bagaimana bisa Rizky betah pacaran dengan Tari? Perempuan ini sangat menjengkelkan.
“Pandu?”
Ke duanya berhenti. Pandu segera menoleh, “Rio? Kamu di sini? Berangkat dengan siapa?” Pandu melepas tangan Tari, mendekat ke Rio, dan mencari seseorang yang mungkin dikenalnya di belakang Rio, tapi tetap tak menemukan siapa pun.
“Aku tamu istimewa, kamu akan tahu nanti. Ini pacarmu?” Rio mengulurkan tangan ke perempuan yang menggandeng Pandu tadi.
Tari menyambutnya, menjabat tangan itu erat, sambil tersenyum, “Tari.”
“Aku Rio, have fun, ya?” Rio tak ingin mengganggu Pandu dan perempuan bernama Tari itu. Melangkah pergi, segera meninggalkan pasangan yang terlihat bahagia itu.
“Temanmu tampan, Pandu.” Tari memuji Rio, memang begitu kenyataannya. Pandu dan Rio sama-sama keren, sepertinya Tari bisa menebak kalau itu teman gym Pandu. Mama Pandu sering bercerita kalau putranya itu suka olahraga.
“Aku ke kamar mandi dulu.” Pandu segera meninggalkan Tari. Tapi dia tidak ke kamar mandi, dia mendekat ke Rio, mencekal tangan itu, dan menyeretnya ke toilet pria meski tak terlalu menuntut. Sengaja menutup pintu toilet, dan menatap Rio nyalang, Pandu tidak suka dengan ucapan Rio saat bertemu dengan Tari tadi.
“Kau ... menyakiti tanganku, Pandu.” Rio masih memutar-mutar pergelangan tangannya sendiri, berharap dengan begitu cekalan Pandu terlepas.
“Tari bukan pacarku.” Desisnya yang tak beralih dari mata Rio. Pandu tak peduli dengan Rio yang meringis karena cengkeramannya. “Terlebih ... aku tidak menyukai pesta ini. Kenapa kamu menyuruhku untuk menikmati pestanya? Apa kamu meledekku?” imbuhnya lagi masih dengan tatapan yang sama.
“Tapi aku tahu kamu akan menyukainya, Pandu. Entah kapan, tapi itu pasti. Aku tahu itu.” Rio sangat yakin sekali. Terlebih Tari adalah perempuan yang mudah bergaul, sesuai dengan apa yang selama ini Pandu inginkan. Entah kenapa Pandu saat ini membenci, mungkin karena Tari masih memiliki sesuatu yang Rio belum tahu.
“Kalau kamu masih menganggap aku akan menyukai Tari, kamu salah Rio.” Pandu menekan pergelangan tangan Rio, sengaja melakukannya agar Rio tahu kalau dia marah. Setelahnya Pandu pun segera menghempas tangan itu, ke luar lebih dulu dari toilet meninggalkan Rio. Pandu akan benar-benar marah kalau Rio terus memojokannya.
Saat Pandu kembali, Tari terlihat berbincang dengan pemuda yang seumuran dengannya. Senyum perempuan itu secerah mentari, Pandu malah berhenti, menatap perempuan itu dengan segala tawa yang terpancar di wajah.
Rio ke luar, dia memang tamu istimewa malam ini. Di depan toilet Pandu masih di sana, Rio berhenti, mengikuti ke mana arah pandang itu. Di sana ada Tari, “Dia cantik, bukan?” lirihnya. Saat Pandu menoleh, mungkin siap untuk meluapkan emosinya lagi, Rio berjalan menjauh. Acara akan segera dimulai, Rio tak mau masalah personal ini merusak citranya di bidang bisnis yang dibangun dengan susah payahnya sendiri.