Pandu ke tempat gym biasanya pagi ini. Setelah melakukan pemanasan untuk meregangkan otot agar tidak kaku, mengawali olahraga dengan berlari kecil. Menurutnya ini pilihan bagus sebelum angkat beban di tengah latihan nanti.
“Hey, Pandu. Sarapan apa tadi?”
Pandu terkekeh, “Biasa, paha ayam dua sama s**u protein.” Pandu merasa setiap kali di tempat gym, seolah mendapatkan kenyamanan tersendiri, “Ada s**u baru, katanya protein lebih tinggi, kamu sudah coba, Rio?” Rio adalah teman gym terasyik yang dia punya.
“Belom. Nanti siang coba bareng.” Ke duanya berlari bersebelahan, bertukar cerita tentang tubuh dan juga otot hingga menghabiskan beberapa menit. “Ayo, turun!” Rio lebih dulu, mematikan treadmill dan mendekat ke Lat Pulldown Machine, duduk di sana, menyetel sesuai dengan kekuatan tangan, dan mulai menarik beban itu.
Pandu terkekeh, “Ototmu bagus.” Meraba lengan yang tengah bekerja dengan baik milik Rio. Dia suka dengan otot yang menonjol padat, tak terlalu besar, pas dengan tubuh Rio.
“Ya, aku rajin ke sini, hampir setiap hari.” jawab Rio tanpa menghentikan gerakannya, setelah dua puluh kali, barulah dia melepas alat itu, “Coba kamu, aku ingin tahu. Apa ototmu masih kencang? Hahahaha.”
Pandu tertawa juga, bergaya dengan ke dua tangan yang dia lipat agar tonjolan otot di lengannya kentara, memamerkannya ke Rio karena tetap kekar. “Kamu akan melihatnya.” Pandu menambah beban, mulai menarik perlahan sambil tersenyum ke Rio, “Lihat ini.” pamernya dengan gerakan indah.
“W.O.W! parah, parah, parah, parah. Otot ini sempurna.” Rio memegang lengan Pandu, bahkan saat Pandu masih menarik beban itu, “Bagaimana dengan dadanya?” menyusur ke d**a Pandu, meraba sisi kiri dan kanan, merasakan liat dan sempurna d**a Pandu. “Gila! Kamu gila, Pandu.” Tertawa, Pandu sungguh sempurna.
“Hahahahaha.” Pandu menyelesaikan dua puluh tarikan, melepas alat itu, dan turun. Membuang baju basah karena keringat, bergaya dengan memperlihatkan otot perutnya sekarang. Rio yang terus memuji, membuat Pandu bersenang hati.
“Hey pasangan gila! Hahahahaha.”
Pandu dan Rio menoleh, tahu itu teman resek ke duanya, Pandu ikut tertawa juga. Pandu menghabiskan banyak waktu di gym, sampai dia merasa cukup dan membersihkan diri. Rio yang ikut mandi juga bersamanya, membuat acara mandi ini tak sepi. “Habis ini kita ke mana?” tanya Pandu. Dia tengah keramas di bawah guyuran air dari shower.
“Ada restoran baru, kamu ikut gak?”
“Boleh. Aku ganti dulu.” Pandu menyabun dengan cepat, segera ke luar dan mencari baju ganti. Tak lama Rio juga bergabung di ruang ganti. Pandu sudah mengenakan celana dan kaos, tinggal menyisir rambut dan parfum saja.
Rio pun mendekat, mengusap punggung Pandu perlahan, “Mama kamu masih nyuruh cepet-cepet nikah?”
Pandu mengangguk, “Lupakan saja.” Berbalik dan tersenyum ke Rio, “Cepat pakai baju, meski aku nganggur jangan anggap aku punya banyak waktu.”
Rio menghela napas, memakai bajunya sambil menatap ke cermin, melihat Pandu yang ke luar lebih dulu dari kamar ganti itu.
Pandu menunggu Rio, saat temannya ke luar, Pandu segera membunyikan klakson mobilnya, memacu kendaraan ke restoran yang disebut oleh Rio tanpa banyak bicara.
“Pandu—“
‘Drrrtttttt.’ Pandu mengangkat tangan, menghentikan ucapan Rio, ponselnya berdering, dan itu adalah nada khusus untuk mamanya, “Iya, Ma?” setelah menekan earphone di telinga kirinya.
“Di mana?” tanya mama Pandu, putranya itu pergi sejak pagi dan belum pulang juga.
“Ini cari makan, habis makan pulang. Mama, mau Pandu beliin sesuatu?”
Mama Pandu menghela napas panjang dan dalam, “Tari tadi bikin kue, itu resep baru. Mama sudah telepon tadi, nanti jemput dulu, Mama mau makan kuenya, biasanya resep mama Tari pasti enak dan legit.”
Pandu hanya bergumam untuk menjawab permintaan yang tak terlalu dia sukai itu.
“Ya sudah, Mama tutup dulu. Nanti jangan lupa.”
‘Tut.’ Pandu membuang napas kasar, mamanya belum berhenti juga ternyata.
“Siapa, Pandu?” Rio yang melihat perubahan mood itu, bisa menebak kalau telepon itu pasti membicarakan tentang pernikahan.
Pandu menoleh, tersenyum karena tak ingin Rio canggung dengan emosinya yang naik turun saat berhadapan dengan Tari.
“Aku tahu, mamamu pasti mau yang terbaik. Kalau kita tetap seperti ini—“
“Bisa gak, gak usah bahas itu?!” Pandu menaikkan nada bicaranya. “Aku gak suka kamu bahas itu!” Menginjak pedal gas lebih dalam, ingin segera sampai di restoran yang dituju. Setelah sampai sana, Pandu mempersilahan Rio untuk memesankan untuknya, makan dengan cepat, bahkan hanya dengan sedikit obrolan, mengantar Rio pulang, tak peduli dengan kendaraan Rio yang masih tertinggal di tempat gym. Pandu belum juga membuka kunci pintu mobilnya setelah sampai di rumah Rio, menarik napas dan menoleh ke Rio yang banyak diam juga, “Sorry ... aku hanya gak suka bahas soal pernikahan. Kamu tahu aku, kan?” rasanya sangat bersalah saat Rio hanya diam saja sedari tadi.
Rio tersenyum, “Aku yang minta maaf, Pandu. Jangan dipikirkan. Besok jemput aku kalau gym, mobilku masih di sana, kan?”
Pandu tersenyum juga, lega Rio tak cemberut lagi, “Aku akan menjemputmu besok.” Menekan kunci agar pintu bisa dibuka, menurunkan kaca mobilnya, mengangguk ke Rio yang masih tersenyum ke arahnya, “Aku pulang dulu.” Memutar mobil, pergi ke rumah Tari untuk mengambil apa yang dipesankan mamanya tadi. Pandu tak tahu, rencana mamanya dan mama Tari mungkin dipoles dengan bagus dan sempurna, tapi Pandu tak akan menyerah secepat itu. Bahkan sesampainya di rumah Tari, mendapatkan sambutan hangat dari mama Tari, Pandu tetap merasa pantang menerima perjodohan aneh itu.
“Aku ganti baju sebentar.” Tari yang baru saja berjibaku di dapur, segera melepas celemeknya, berjalan ke kamar.
“Bukankah aku hanya mengambil kue itu saja?” Pandu mengatakannya sebelum Tari masuk ke kamar.
Tari berbalik, “Mama kamu memintaku membuat kue di sana, aku tidak akan lama, tunggulah.”
Pandu membuang napas kasar untuk ke sekian kalinya, mamanya benar-benar luar biasa. Tak pernah mengira jebakan demi jebakan tetap di berikan untuknya. Pandu pun memilih untuk memejamkan mata sambil menyandarkan punggung, mambiarkan mama Tari sibuk sendiri dengan kue-kue yang entah sudah ada pembelinya atau belum itu, sedangkan dirinya sendiri akan mencoba untuk pergi ke pulau mimpi. Saat lengannya terguncang oleh sesuatu, Pandu membuka mata, Tari tersenyum di depannya dengan wajah yang lebih segar. Parfum itu membuatnya ingin muntah, segera berdiri, berpamit, dan mengajak Tari ke mobilnya.
Tari segera memasang sabuk pengaman untuk dirinya sendiri, “Aku merasa kamu terlalu jijik denganku.” Keluhnya mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan dari Pandu.
Pandu terkekeh, “Kamu mau apa memang? Aku memperlakukanmu dengan baik meski aku tahu kamu kekasih Rizky? Harusnya kamu menolak semua permainan ini, Tari ... kecuali kalau kamu yang menginginkanku lebih dulu.”
“Anggap saja begitu, aku menginginkanmu dan mencintaimu lebih dulu.”
‘Deg.’ Pandu menoleh ke Tari, bagaimana bisa ada wanita menjijikkan seperti Tari di dunia ini?