Dibawa orang

1100 Words
Tari pun berdiri berkacak pinggang dan melotot ke arah Pandu, “aku bukan cewek seperti itu ya, asal kamu tahu ...“ sedikit berjalan dan berniat mendekati Pandu untuk memakinya, tapi naas kakinya malah keplicuk oleh sandal hak tinggi yang dia kenakan sendiri, “akh!” pekiknya saat tubuhnya malah roboh dan menubruk Pandu. Pandu tentu saja menangkap Tari karena refleksnya yang tidak mungkin membiarkan Tari terjatuh ke tanah jika dia tidak menangkapnya. Saat netra mereka bertemu dan sangat dekat, Pandu merasakan hal yang lain. Tari terlihat lebih cantik dan ada nada manis di wajahnya, matanya besar dan hidungnya juga mancung, ada tahi lalat di ujung hidung itu, membuat Pandu merasa Tari sangat lucu, pasti akan menyenangkan jika memencet hidung itu saat Tari marah atau cemberut. Pandu merasa Tari mampu menyedot kewarasannya, entah di bagian mana tapi Pandu suka. Masih terlalu dini untuk mengartikan ini perasaan apa, tapi Pandu mulai berpikir, mungkin mengikuti permainan yang disarankan oleh Tari akan menyenangkan. Tari pun juga sama. Saat netranya bertemu seperti saat ini, Pandu terlihat lebih memesona. Tangannya yang memeluk pinggangnya erat seakan sangat menjaganya dan mengisyaratkan takut jika sampai tubuhnya ini jatuh ke tanah. Tari melihat bola mata Pandu yang berwarna kebiruan, sangat menarik perhatiannya, hidung mancungnya, rahang tegasnya. Pahatan itu lain dibanding dengan milik Rizky, kekasihnya. “Tari!” teriak seseorang membuyarkan pikiran ke duanya. 'Plak.' Satu tamparan mendarat tepat di pipi Tari. Tak ada yang mengatakan sepatah kata pun untuk membela diri mereka sendiri. Jantung Tari masih berdebar, bukan karena tamparan itu, tapi karena pikirannya mulai goyah akan sosok Pandu. Sedangkan Pandu juga tak mengatakan apa pun, temannya itu akan tetap marah jika masih terbakar seperti saat ini. “Kau menggoda Pandu, huh?!” segera ditariknya tangan Tari ke belakang tubuh itu, sedikit memelintirnya untuk menumpahkan amarah saat ini. Rizky percaya, seorang Pandu tidak akan pernah menggoda wanitanya, itu karena Pandu menyimpang selama ini, dan Rizky sangat yakin itu. Pandu hanya terkekeh, bersedekap da daa dan melihat drama di depannya, “apa kau tidak lihat sepatu Tari kotor? Tanah di Kafemu ini butuh pembaharuan, dia lembek saat hujan, itu membuat pengunjung terjatuh kalau tidak hati-hati.” ucapnya setelah menyerukan kekehan pelan. Rizky pun melepaskan pelintirannya, melihat ke sepatu berhak tinggi milik Tari, dan menjadi tidak enak saat melihat ada tanah basah yang cukup banyak untuk meninggalkan noda. “Bayangkan kalau itu tadi pelayanmu, dia membawa minuman dan membuat pakaianku kotor, aku bisa menuntutmu dengan beberapa juta ‘mungkin’.” Pandu meraih gelas yang dibawa pelayan yang membantu sahabatnya itu, dan meminumnya perlahan. Tak peduli dengan Tari atau bahkan Rizky yang akan berseteru atau bahkan baikkan setelah ini. “Maafkan aku, Sayang. Maafkan aku.” Rizky dengan cepat menarik tangan Tari memukul-mukulkannya ke pipinya sendiri dengan kekuatan yang cukup bertenaga, “tampar aku, Sayang. Lakukan apa saja untuk menghukumku malam ini.” “Ck!” Pandu pun berdiri, “kalian memuakkan!” desisnya seraya beranjak dari tempat itu. Ada muak melihat adegan tak berguna seperti itu. Melihat Pandu langsung pergi, membuat Tari merasa tidak enak. Rizky memang berlebihan saat ini, “aku mau pulang.” lirihnya ke Rizky. Perutnya yang tadi siap untuk menerima makanan lezat itu pun seakan langsung kenyang dengan perlakuan Rizky. “Maafkan aku, Sayang. Apa kau membenciku sekarang?” Tari menggeleng, “turunkan amarahmu, Rizky. Kadang apa yang kita lihat tidak selalu sama dengan kenyataannya.” Tari segera mengambil tasnya, dia pun akan pulang saja. Itu lebih baik karena kejadian tadi cukup membuatnya mala. Banyak yang memperhatikannya tadi. “Tari, maafkan aku. Maafkan aku, Tari. Tari?! Tari!!” entah, Rizky pun juga tidak berniat mengejarnya. Ada malu sudah menampar kekasihnya itu. “Ada yang lucu?!” bentaknya ke siapa pun yang masih memperhatikannya saat ini. Rizky kembali ke ruangannya, lebih baik dia main game seperti kebiasaan menyenangkan yang selalu dia mainkan hampir di setiap waktu senggangnya. 'Citttt.' Pandu segera menginjak pedal remnya dalam dan cepat. Ada marah di dalam da danya melihat sosok yang tiba-tiba berlari dan menghalangi laju mobilnya saat ini. “Buka pintunya.” Tari menepuk kap mobil tak terlalu keras. Seakan mengode agar pengemudi itu membuka kunci mobilnya. “Terima kasih.” segera memasang sabuk pengaman untuk dirinya sendiri. Tari segera masuk setelah Pandu menggerakkan kepalanya ke kiri sekali sebagai tanda sudah membukakan kunci, dan kini mobil pun melaju kembali meski tak teralu kencang. “Kau tidak punya uang?” Tari mengerutkan keningnya, ‘pertanyaan macam apa itu?’ batin Tari, “punya, kau mau pinjam uang?” mungkin saja Pandu tidak membawa uang tunai untuk membeli bahan bakar saat ini. Citttt. “Astaga!!” pekik Tari, segera memegangi dadanya yang berdebar karena Pandu mengerem mobilnya terlalu mendadak sampai tubuhnya terguyung ke depan. “Turun.” perintah Pandu pelan, ada ketegasan juga di dalamnya. Mobil itu sudah berhenti sempurna di depan halte bus yang tak jauh dari Kafe Rizky. Tari mengercitkan wajahnya, seakan tidak percaya dengan ucapan Pandu saat ini. “Kau punya uang kan? Aku tidak mau menumpangimu pulang.” “Bisakah aku naik taksi saja? Di sini sepi, kau tidak takut aku dibawa orang, huh?!” “Hahahahahaha.” Pandu terbahak-bahak, “kau? Dibawa orang? Hahahahaha.” terpingkal hingga memegangi perutnya yang bergerak naik turun, lucu sekali. “Siapa yang mau dengan wanita cere wet sepertimu, telinga mereka akan meledak setelah mendengarmu berbicara secepat lebah yang mendengung itu.” Pandu terus tertawa, sangat konyol rasanya. Tari mendengus. Segera mengambil tas yang tadi dibawanya dan ke luar dari mobil itu. Bagai mana bisa hidupnya akan dia habiskan dengan pria seperti Pandu? Membayangkannya saja sangat memuakkan. Pandu segera melajukan mobilnya kembali, membiarkan Tari yang sedari dulu tidak dikenalnya, dan dia pun juga tidak ingin terlibat ke dalam permainan yang Tari atau bahkan mamanya ciptakan. Lima menit, sepuluh menit, lima belas menit. “Ah! Sial!.” umpat Pandu. Nyatanya membiarkan anak orang sendirian dengan pakaian yang Tari kenakan tadi membuatnya memikirkan apa yang diucapkan oleh Tari. Pandu pun segera memutar kemudinya, kembali ke halte di mana dia meninggalkan Tari. Mau tak mau Pandu akan mengantarkannya pulang meski rasanya setengah jengkel dengan Tari yang mau mengikuti apa yang mamanya ingin. Jalan raya yang sedikit memutar membuat bus yang baru saja melaju tepat di depan mobil yang dikendarai Pandu, membawa wanita yang tadi sempat naik di kursi sebelahnya ini. Wanita itu masih berjalan saat bus mulai melaju tak cukup kencang, duduk di pinggir jendela dengan kepala yang terlihat menyadar di kaca. Sedikit senyum terbit di bibir Pandu, ada lega melihatnya tak dibawa oleh orang lain seperti yang sempat ditakutkannya tadi. Meski begitu Pandu tetap membuntutinya, memastikan kalau wanita itu akan sampai di rumahnya dengan selamat untuk malam ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD