Ellina 3

1384 Words
Sinar matahari menembus jendela kamar ku, membuat ku sadar dari tidur nyenyak yang terasa amat panjang namun nyaman dan enggan untuk membuka mata. Tangan ku mencari cari sosok yang selalu kupeluk dipagi hari sebelum membuka mata ku, namun sosok itu tak ada. Seketika kubuka mata ku dengan niat mencari sosok itu,dan.. Aku tak tau ada dimana. Sepertinya aku masih bermimpi, karena aku tak mengenali sekeliling ku, mencoba berbaring kembali namun urung ku lakukan ketika mendengar ketukan pintu yang keras dan juga sayup ku dengar ada yang memanggil nama anak sulung ku. "Emilly, buka pintunya.. Tolong.." Hah? Emilly? Rupanya mimpi ini terasa nyata. 'Baiklah akan aku ladeni, anggap saja aku sedang latihan drama dengan anak ku.' Aku turun dari ranjang lalu menghampiri pintu yang berisik sedari tadi. "Ada apa?" Tanya ku. "Nyonya Victor terpeleset di taman rumahnya sudah tiga hari yang lalu, namun hingga kini belum juga beliau bisa kembali berjalan, bisa kah kau membantu Nyonya ku? Beliau bilang akan memberi imbalan sepadan bagi siapa yang bisa menyembuhkan kaki nya yang sakit." Ucap orang asing itu dengan wajah memelas. 'Hmm.. Tampaknya kaki Nyonya itu keseleo, itu sih gampang, aku akan coba kesana.' "Baiklah, Aku akan kesana. Kau tunggu disini kita kesana bersama. Aku akan bersiap terlebih dahulu." Kulihat senyum nya mengembang penuh harapan. "Terimakasih Emilly, kau memang baik." Ucap orang asing tersebut. Segera ku mencari dimana air dalam ruangan ini, kulihat ada semacam kendi tertutup, 'barangkali itu tempayan air.' Pikir ku. Ku buka, dan benar itu wadah air, aku mencari dimana gayung, namun yang ku temukan hanya batok kelapa. Stelah mencuci wajah, aku mencari pakaian di lemari. "Ya Tuhan.. Ini pakaian abad apa? Setidak nya pakaian ini lebih baik daripada milik orang tadi. " Segera ku pakai dengan cepat tanpa memperhatikan bagaimana bentuk badan ini, lalu menuju cermin yang tadi sekilas ku lihat saat akan hendak membuka pintu rumah. "What?! Wajah siapa ini? Berjerawat dan tembam namun lumayan manis, bahkan mimpi ini membuat wajah ku tampak jelek, Hahaha.. Luar biasa.." Aku terkekeh dengan penampakan wajah ku di cermin. Mendengar tawa renyah ku, orang asing tadi berteriak dari luar. "Emilly apa kau tak apa?“ Tanya nya khawatir. "Ya, aku tak apa, hanya merasa lucu." Lalu aku mencoba bercermin dari jauh ingin melihat penampilan dari jauh. "Hah? Gendut banget penampilan ku di badan ini, astaga.. Kalau mimpi ini masih panjang, Aku akan diet dan melakukan treatment agar menjadi cantik!" Saat Aku berputar, tak sengaja aku menjatuhkan sebuah buku.. Saat ku buka langsung ke halaman yang ada tulisan : "Aku lelah menjadi tukang masak, sepanjang hidup ku aku hanya memasak dan meramu. Itupun untuk orang lain. Sampai sampai badan ku bertambah gemuk kian hari. Jikalau Dewa memang benar adanya, aku ingin sekali merasakan menjadi cantik dan hidup mapan bukannya melulu di dapur seperti sekarang ini." #Emilly Matahari 1 Bulan 2# "Matahari 1 Bulan 2? Hmm, apa ini tanggal? Jangan jangan ini buku Harian." Aku mencoba berpikir. "Oh Dewa tolong aku, semoga ramuan kali ini berhasil mengubah ku menjadi orang berkecukupan dan hidup makmur selamanya." #Emilly Matahari 13 Bulan 2# Tunggu sebentar.. Tukang masak? Emilly? Seperti familiar. Bukankah ini Emilly tokoh dalam buku anak ku yang k*****a semalam bersama Emily dan Silvy sebagai penghantar tidur mereka? Wah mimpiku benar benar terasa nyata. Ku cubit pipi ku dan "Auww!“ Aku mengaduh kesakitan. Jadi ini bukan mimpi? Tunggu.. Lalu ini apa? Siapa yang bisa menjelaskan pada ku? Apa aku masuk kedalam dunia buku? Seperti dalam kisah kisah dongeng yang sering aku baca saat kecil? Jikalau ini bukan mimpi, dan berdasarkan cerita buku, maka orang asing tadi adalah Grace. Iya Grace, pelayan Nyonya Victor. Tidak salah lagi. Baiklah Ellina bersikap lah tenang jangan panik, karena kamu sudah tau cerita nya maka ini akan berjalan lancar. Tunggu dulu, dalam buku Emilly menolak karena dia takut salah. Ketika aku membaca buku itu aku mencibir tokoh Emilly karena tidak tau hal semudah itu. Kenapa aku malah menerima, apa yang akan terjadi jika aku mengubah alur cerita di buku? Apa yang akan terjadi pada ku kalau aku salah? Apa aku akan terbangun dari kegilaan ini,atau justru aku selamanya terjebak di dunia buku ini? aaargghh..bisa gila aku terlalu banyak pertanyaan yang belum bisa terjawab. okay,tenang Ellina di buku Emilly nyonya Victor hanya keseleo dan bengkak. Aku harus memeriksa rumah ini,apakah ada minyak yang bisa di gunakan untuk keseleo dan bengkak.dan akhirnya aku menemukan beberapa minyak yang sepertinya alami. "Hmm..sepertinya ini minyak Cendana,lumayan dapat membantu meredekan bengkak." Gumam ku. "Ada minyak kelapa juga.okay segini aja cukup ya." Aku membuka pintu setelah semuanya kupikir cukup untuk ku bawa saja yang kira-kira berguna nanti. "Ayo ,Grace saya sudah siap."aku tersenyum ramah. *** tok tok tok "Nyonya Victor, ini Saya datang bersama Nona Emilly." Seru Grace. "Suruh dia masuk kamar ku sekarang Grace." Perintah nyonya Victor. "Silahkan masuk nona." Grace mempersilahkan ku masuk ke kamar Nyonya Victor dengan sopan. "Permisi, Selamat pagi Nyonya,saya dengar anda membutuhkan bantuan untuk kaki anda yang sedang sakit,boleh saya mendekat untuk memeriksa lebih lanjut?" "Ya benar, mendekat lah..kaki ku terasa sangat tidak nyaman." "Baik, maaf saya izin menyentuh kulit nyonya.. hmm.. dari yang saya lihat ini tidak apa nyonya,hanya harus di luruskan sedikit,harap nyonya dapat menahan rasa sakit sebentar saja,saya janji kaki nyonya akan membaik setelah nya." "Baiklah, ku harap kau berkata benar,aku frustasi tak dapat beraktivitas dengan leluasa karena rasa sakit ini." Nyonya Victor pasrah. kretek! "Aarghh..!!!" Nyonya Victor meringis kesakitan. "Nah,sudah selesai." Aku tersenyum puas. "Sakit..eh,eh..loh kenapa sakit nya hilang.?" Nyonya Victor keheranan,sambil menggerak-gerakkan kakinya. 'Syukurlah berhasil' "Sangat luar biasa, sungguh sangat luar biasa,aku sudah merasa sembuh total..nah ini imbalan untuk mu Emilly, saya pikir jumlahnya sepadan dengan kesembuhan ini.." Nyonya Victor menyerahkan kantung yang ber gemerincing seperti suara koin saat di serahkan pada ku. "Terima kasih Nyonya,ini sudah sangat cukup,maaf, jika sudah tidak ada lagi yang bisa saya bantu ,saya mohon undur diri." Aku menundukkan kepalaku sedikit. 'Ah aku hampir lupa, minyak nya!' "Nyonya,saya melupakan sesuatu yang penting,ini adalah minyak yang bagus untuk di oleskan di pergelangan kaki Nyonya yang cidera, saya akan mengoleskan nya sekarang, dan nanti nyonya bisa oleskan lagi sebelum tidur." "Baiklah Emilly, sekali lagi terima kasih untuk bantuan mu, sepertinya kamu sangat sibuk, aku tidak akan menyita waktu mu lebih lama,dan maaf sudah merepotkan mu pagi-pagi begini,Grace akan mengantar mu keluar agar kamu tidak tersesat dirumah ini." ucap Nyonya Victor dengan senyum tulus. Grace mengantarkan ku keluar rumah,selama perjalanan aku melewati lorong-lorong yang menurut ku rumit,aku pun berpikir mungkin saja ada lorong rahasia di rumah ini, pandangan ku sibuk memperhatikan kanan kiri sangat takjub dengan pernak pernik didalam rumah ini ,tampak mewah elegant berkelas, klasik dan sangat kental dengan seni. 'hmm..selera nya cukup bagus' "Selamat pagi Tuan Victor." Ucap Grace dengan suara lembut dan senyum manis. Tunggu,aku melihat gelagat aneh pada senyum Grace, seperti tersipu malu. aku pun akhirnya memandangi orang didepan ku dengan seksama. 'hmm..Tinggi,sekilas tampak tampan,d**a bidang, rambut bergelombang berwarna Deep Brown , berjanggut tipis rapi,bola mata coklat , kulit putih bersih,, yah serasi lah ya dengan nyonya Victor yang juga sangat cantik.' Tuan Victor tersenyum padaku 'Eh, apa-apa an senyum Tuan Victor ini?? damage banget!,dia senyumin aku? aakkh silau sekali senyum nya, syukur ini suara hatiku jadi tak ada yang tau aku berteriak saat melihat senyum menghanyutkan hati barusan' Aku pun membalas senyuman nya dengan tulus. "Nama mu Emilly?" Tuan Victor bertanya padaku sopan. "Iya tuan." aku menjawab gugup. Netra nya sempat beradu dengan milikku, kulihat manik mata nya sarat memandangi ku dari bawah hingga atas lalu kebawah lagi,seolah sedang melucuti pakaian ku, aku bergidik ngeri. 'Ternyata m***m juga ini orang.' "Maaf tuan saya harus segera pulang." Kataku sopan. "Ah, Emilly,apa kau tidak tertarik untuk jadi pelayan di rumah ini,aku dengar nama mu sangat terkenal karena masakan mu yang lezat?" Rayu tuan Victor. 'Hah, yang jago masak kan Emilly bukan aku,aku bisa masak tapi aku bukan orang yang mahir,aku hanya pandai membuat cake atau roti manis,aku harus menolaknya karena bisa kacau kalau aku menerima seperti alur di buku, aku kan Ellina bukan Emilly.' "Maaf Tuan Victor,saya sedang fokus dengan hal yang sedang saya tekuni saat ini,semoga Tuan Victor tidak tersinggung." Tolak ku sopan. "Begitu, baiklah aku tidak bisa memaksa mu, tapi jika kau berubah pikiran, tawaran ku tidak berubah untuk mu." "Terima kasih tuan." Tuan Victor pun berlalu meninggalkan banyak pertanyaan dalam kepalaku. 'Jangan-jangan Grace tersipu karena terkena serangan senyum maut tadi." ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD