Masih di pagi yang sama ketika aku tiba di tempat kerja ku, Semua Terapis ku menyambut dengan hangat namun tetap hormat.
"Selamat pagi bu Ellina, Semoga hari ibu menyenangkan." Dua puluh terapis ku menyapa ku kompak dengan senyum yang lebar nan tulus.
"Selamat pagi semua..,Apa semua sudah sarapan pagi, ingat kita tidak boleh skip sarapan pagi ya.." Aku membalas sapa mereka.
"Sudah bu Ellina, Siap!" Jawab mereka kompak.
"Tasya, Ikut ke ruangan saya sekarang!" Titah ku pada sekretaris ku di kantor.
"Baik bu Ellina." Tasya mengekor di belakang ku.
Jika kalian membaca dengan seksama, kenapa aku memiliki banyak terapis?
Tentu saja karena aku pemilik usaha tempat ini.
ELLINA BEAUTY SPA
Adalah salah satu cabang usaha dari EA Group di bidang kecantikan, masih ada lagi selain tempat SPA, kami juga memiliki perusahaan kosmetika pula memiliki pabrik kami sendiri. Tentu saja produk produk yang kami pakai di ELLINA BEAUTY SPA berasal dari pabrik ini juga.
Perusahaan ini sudah ku kelola sebelum aku menikah dengan Aaron. Karena memang aku sangat menyukai apapun tentang kecantikan jadi orangtua ku mempercayakan Aku untuk melanjutkan usaha ini. Lalu setelah menikah dengan Aaron, kami menyatukan kekuatan perusahaan kami agar semakin kuat dan berkembang. Lalu kami sepakat menamai nya EA yang artinya Ellina Aaron. Tentu saja nama ini diambil dan di setujui berdasarkan keputusan bersama semua pihak yang terkait.
Bidang Usaha EA Group lain nya adalah Culinary & Foods yang masih di pegang oleh ayah ku sendiri, Edward Sanjaya serta orang orang kepercayaan nya.
Ada juga Elite Furniture yang selalu berinovasi seiring perkembangan zaman, dan ini di kelola oleh Ayah Aaron, Paul Agusto. Beliau memang mencintai seni design furniture yang unik dan menjamin mutu kualitas perabot keluaran pabrik nya.
Sedangkan suami ku sendiri sibuk mengurusi bisnis konstruksi yang dia bangun sebelum menikah dengan ku.
Aaron pernah bercerita pada ku bahwa bisnis kontruksi yang saat ini ia kelola adalah bisnis yang berhasil membesarkan nama nya dan ia memulai nya dari nol. Orangtua Aaron selalu mendukung ide ide anak nya yang menurut mereka patut di kembangkan untuk kemajuan perusahaan.
Yah, Aku memiliki mertua yang visioner dan tidak kolot. Aku bersyukur untuk itu.
"Tasya, bagaimana kemajuan penyelidikan mu? Apa kamu sudah menemukan dimana masalah yang kita bahas kemarin?" Tanya ku pada Tasya setelah aku duduk di sofa dalam ruangan ku.
"Sudah bu. Saya berhasil menemukan sumber masalah kemarin. Ternyata bahan bahan yang di gunakan saat proses pembuatan di pabrik mengalami penurunan kualitas. Padahal kita selalu di supply dari tempat yang sama seperti tahun tahun sebelum nya." Tasya menjelaskan padaku dengan tenang.
Masalah yang kami hadapi sebenarnya tidak menjadi masalah bagi orang lain. Hanya saja aku orang yang perfectionist bila menyangkut masalah kualitas produk yang ku pakai disini maupun yang di edarkan kepada semua pelanggan kami.
"Baiklah Tasya, terimakasih atas investigasi mu. Saya akan menangani masalah ini dengan cara saya. Bila nanti saya membutuhkan bantuan, Saya akan memanggil mu. Silakan kamu lanjutkan pekerjaan mu. Good job Tasya!" Aku memberikan senyum tulus dan dua jempol pada Tasya. Tasya pun mengangguk dan merespon.
"Siap bu, Terimakasih." Jawab Tasya.Lalu dia berlalu keluar dari ruangan ku.
Tasya adalah orang kepercayaan ku. Aku suka dengan kinerja Tasya yang cepat tanggap dan Profesional. Dia juga termasuk golongan perempuan yang agak dingin namun tidak terlalu cuek. So, yang paling aku suka karena dia bukan tipe perempuan genit dan merepotkan.
Dia gesit, tangguh, mandiri, disiplin, rapi terorganisir. Sangat cocok mendampingiku untuk urusan kerja. Ya dia sekretaris ku yang juga merangkap sebagai leader semua terapis disini.
Cepat sekali waktu berlalu, sekarang jam tangan ku menunjukkan pukul sebelas lewat tiga puluh menit.
"Suami dan anak-anak ku lagi apa ya.. Kangen mereka." Gumam ku.
Sudah lama aku tidak mengecek ruangan yang ada disini. Aku akan melihat lihat sekalian menyapa para pelanggan setia ku.
Lantai Satu
Aku bergerak menuju vip lounge , ku jumpai beberapa pelanggan vip ku.
"Good morning Madam Anette, Madam Cisca, and Madam Mela." Sapa ku dengan senyum lebar dan menjabat tangan mereka masing masing.
"Good Morning Ellina." Balas mereka dengan riang dan bersamaan.
"Apa masih lama ya kami harus menunggu di sini?" Tanya Madam Mela cepat setelah membalas sapa.
"Iya loh, padahal kami kan sudah booking untuk treatment bareng di VIP room. Ya kan sistahh?" Ucap Madam Cisca sambil menatap teman teman nya seolah ingin mendapat pengukuhan atas ucapan nya.
Rupanya mereka janjian akan treatment bareng. Tapi aneh, VIP room untuk grup yang berisi maksimal 5 orang kan ada banyak. Masa iya penuh semua apalagi mereka sudah booking jauh hari.
"Madam Cisca, saya akan cek kenapa Madam madam sekalian belum bisa mulai treatment. Saya akan segera kembali." Aku menyampaikan dengan sopan dan senyum yang menenangkan mereka.
Aku berjalan menuju meja penerima tamu. Ku dapati Tasya ada disana.
"Tasya, Apa sekarang ini Vip Room kita yang untuk grup penuh semua?"
"Ada dua yang kosong bu dan yang satu sedang di siapkan Audy. Saya tau informasi ini dari Nina." Jawab Tasya.
Lalu Nina yang tak jauh dari kami pun ikut menimpali. "Iya bu Audy sudah sepuluh menit yang lalu pergi bersiap. Tapi belum juga turun untuk menjemput tamu VIP kita bu."
"Terapis kita yang kosong ada berapa?" Aku bertanya pada Nina.
"Ada tiga bu."Jawab Nina.
"Suruh mereka menyiapkan vip room dan segera melayani tiga Madam yang ada di vip lounge!" Titah ku pada Nina.
"Baik bu." Jawab Nina cepat dan segera mengontak terapis yang aku minta.
"Tasya,kamu temani Madam Madam itu, Saya akan mencari Audy."
"Baik bu." Tasya mengangguk patuh.
Segera aku naik ke lantai dua, tiba ku di depan vip room. Ruangan ini ada di paling pojok dan yang paling di favorit kan customers kami,karena hening dan bisa melihat pemandangan kota saat berendam dengan air bunga.
Belum tangan ku mencapai gagang pintu sayup ku mendengar lenguhan wanita dan suara cecapan di balik pintu ini.
Langsung ku tempelkan telingaku, mencoba mendengar dengan seksama.
"Enghh. Stop Tuan. Enghh.. Ini tidak boleh..Enghh Tuan. Jangaan.. Jangan Tuan."
"Ternyata kamu masih perawan ya berapa harga yang kamu minta? Saya siap membayar mu."
"Apa, aahh. Maksud tuan? Saya bukan perempuan murahan!"
"Jangan berlagak suci kamu! Saya tau kamu menyukai sentuhan saya kan, sampai sampai kamu becek seperti ini. Sudah jawab saja, berapa yang kamu minta? Apa kamu ingin memberi gratis? Saya sudah tidak tahan ingin merudal perawan cantik nan sexy macam kamu, Mumpung disini sepi sunyi. Teman teman mu disini beberapa sudah berhasil aku jebol, dan itu tidak gratis..Tau kamu! "
"Huhuhu,Tuan jangan saya.. Eenggh.. Ohh.. Jangan tuan saya bukan mereka yang mudah tuan tiduri. Aahhh.."
"Jangan apa? Jangan ragu ragu ya? Oh sayang ku, teruslah melenguh nikmat seperti itu, kau membuat ku semakin membara."
"Apa di dalam Ada Audy? Apa Audy yang menangis di dalam?" Batin ku.
Ku coba membuka pintu, berharap tidak di kunci dan berharap aku salah dengar.
#jglak
Hah. Pemandangan apa ini. Dua orang sedang tanpa busana yang satu berurai air mata yang satu nampak m***m.
Sudah berumur tidak tau malu, berusaha memperkaos anak perawan milik orangtuanya.
Langsung ku tarik p****************g ini, dan ku hempas ke lantai. Walau tubuh ku langsing seperti ini aku pernah juara lomba Karate tingkat nasional maupun internasional, Banyak medali emas ku, kalian boleh lihat di kamar dirumah orangtua ku. Semua itu berhasil ku jalani karena orangtua ku ingin aku bisa menjaga diri saat keadaan genting, bukan kemauan ku, namun ku turuti perintah mereka karena pikir ku tidak ada ruginya. Setelah ku perhatikan wajah nya di ruang temaram ini, ternyata pria busuk ini salah satu member Vip.
"Bu Ellina Tolong saya bu, Huhuhuhu.. Huhuhuhu. Tuan ini sudah bersikap tidak sopan pada saya bu." Tangis Audy sesenggukan dan dia terlihat ketakutan sangat jelas.
"Pak Erik? Anda Pak Erik kan? Apa yang bapak lakukan disini?“ Tanya ku penuh selidik.
"Audy cepat kenakan pakaian mu kembali dan segera turun, panggil Tasya kemari. Cepat!"
Audy tergopoh gopoh masih dengan air mata.
"Pak Erik, Maaf, apa anda ingin saya laporkan kepada pihak berwajib? Atau kita bisa berdamai? Tapi ada syarat nya jika ingin berdamai." Kata ku dengan berjongkok di depan wajah pria busuk ini.
"Apa syarat nya?"
"Mudah, bapak sebutkan siapa siapa saja nama wanita yang sudah bapak tiduri disini?"
"Apa kamu dengar semuanya?" Tanya pak Erik dengan wajah cemas.
"Tentu saja,bahkan saya merekam nya untuk dijadikan bukti. Jadi lebih baik pak Erik sebutkan saja nama-nama yang pernah bapak sentuh. Itupun jika bapak mau berdamai dengan kami."
"Apa urusan mu ingin tau nama-nama itu?" Pak Erik heran.
"Tentu menjadi urusan saya,karena mereka adalah orang-orang yang bekerja dengan saya."
"Hah, apa kamu juga mau sentuhan saya? saya jamin kamu akan ketagihan seperti wanita-wanita disini yang tidak menolak tawaran uang jumlah besar dan barang saya yang juga memang besar mampu memuaskan mereka sampai mereka mau lebih dari 4 kali pertemuan." Ucap pak Erik percaya diri.
"Hahahahahahaha...yang benar saja.. ternyata berbicara dengan Anda membuang-buang waktu berharga saya."
Tawa ku pecah memenuhi ruangan.
ku ambil telepon genggam untuk menghubungi Tasya.
"Tasya, tolong urus hal yang terjadi di atas sini." Perintah ku pada Tasya.
Ku kirim semua bukti ke Tasya untuk di proses.
Lalu kembali tatapan ku pada pak Erik.
"Maaf pak Erik saya tidak ada waktu meladeni omong kosong bapak yang tidak sopan. Saya berubah pikiran,tidak ada jalur damai dengan bapak."
Aku berlalu meninggalkan pak Erik ,dan Tasya yang datang mendekat.
***
"Mamaaa .." Emily dan Silvy menyambut ku.
"Mama.. Mama kenapa Ma? kenapa wajah mama terlihat lesu? Mama sakit?" Silvy bertanya.
"Mama baik-baik aja sayang,hanya lelah sedikit..hehe..anak Mama perhatian banget." Ku kecup kening dan pipi Silvy gemas.
"Iiih Mama,masa adek Silvy aja yang di kiss, kakak kan juga mau Maa." Emily pura-pura cemberut.
"Sini sayang nya Mama." Aku mencium pipi dan kening Emily,lalu ku peluk mereka berdua dengan hangat.
"Mama sayang kalian berdua." Aku tersenyum lebar sambil mengelus kepala mereka berdua.
"Ma,kita kapan beli buku lanjutan nya? ada dua season loh Ma yang keluar." Ungkap Emily dengan semangat.
"Iya Mama tau,kita beli sore ini ya sayang,Mama mandi dulu..okay!"
"Okay Maa." Jawab Emily dan Silvy kompak.
***
"Wah seru banget yah Ma tadi itu..ya kan Dik?" ucap Emily.
"Iya loh kak,hampir kakak gak kebagian buku kesayangan kakak itu." Silvy mengiyakan kakak nya.
"Nah,siapa yang mau di bacain cerita dari buku perburuan kita tadi? sebelum tidur kita baca bareng yuk." Ajak ku pada anak-anak.
"Mauuu.." Emily dan Silvy kompak dan antusias.
"Sekarang bantu mama siapin makan malam sepesial dulu yuk,sebelum papa pulang."
"Makan malam kita apa Ma hari ini?" Tanya Emily.
"Gulai kambing dan sate kambing sayang..kita tinggal menghidangkan aja di meja makan karena bibi sudah masakin."
"Asyikk.. udah lama kakak gak makan gulai kambing bibi.."
"Kalau Silvy kangen banget sama sate kambing bibi Ma..empuk,gampang gigit nya."
Aku hanya tersenyum mendengar celoteh Emily dan Silvy.
Pikiran ku masih mencerna,kejadian di toko buku tadi..apa aku salah lihat? halusinasi? entahlah.