Bertemu.
“Assalamualaikum ....”
“Wa–wa’laikum salam, Kak.” jawab Vania tergagap kaget. Menggoyang-goyangkan tubuh Keyla yang tertidur di atas sajadah di sebelahnya. Perempuan itu kelelahan setelah menempuh perjalanan panjang.
Mereka baru lunas menunaikan salat asar, benar-benar baru selesai. Masih di masjid, masih di sisi masjid bagian jamaah perempuan, bahkan belum lepas mukena putih yang mereka kenakan untuk salat.
Sementara goyangan tangan Vania seketika membangunkan Keyla. Gelagapan membenahi mukena sekenanya, duduk dengan cepat, menatap perempuan yang berdiri merunduk di depan mereka berdua.
Perempuan yang perawakannya jauh lebih cantik dari mereka. Senyum yang manis lengkap dengan lesung pipi. Kulit kuning langsat dengan mata sipit.
Jika bukan bertemu di masjid mereka pasti Ke akan mengira bahwa perempuan ini bukan pemeluk agama Islam. Pasti juga akan mengira bahwa perempuan di depannya ini keturunan Chinesse saking putih dan cantik parasnya.
“Gu–gue boleh duduk di sini kan?” ucap perempuan itu.
“Oh silakan, Kak. Silakan,” jawab Vania ramah. Menggeser tubuhnya hingga kini mereka bertiga tampak seperti melingkar.
Keyla yang sudah kembali seratus persen kesadarannya menatap lamat-lamat perempuan itu. “Kaka habis salat asar juga? Saya kok tidak lihat di deretan jamaah tadi?” tanya Keyla.
Perempuan itu mengangguk, tersenyum. “Iya gue tadi ketinggalan jamaah karena urusan dokumen di kampus nggak selesai-selesai.”
Vania dan Keyla seketika memutar wajah, saling berhadapan, hingga mata mereka bertemu.
“Jadi kaka ini mahasiswa baru?” tanya Vania.
Perempuan itu mengangguk. “Kenapa memangnya?”
“Astaga, saya kira mahasiswa lama di sini Kak,” jawab Vania sambil menepuk jidatnya.
“Iya sama. Aku kira kakak tuh mahasiswa lama di sini. Eh kok ya ternyata kita tu satu angkatan toh,” sambung Keyla dengan logat Rambugunungnya yang masih kental.
“Iya gue baru kok di kampus UP. Kalian sama kan? Jurusan apa kalian?” tanya perempuan itu antusias. “Eh, jangan panggil kak dong. Kenalin, nama gue Clara. Fakultas ilmu ekonomi,” lanjutnya sambil mengajukan tangannya.
Mendengar kata terakhir Keyla langsung menyambar tangan Clara. Menjabatnya erat sambil menggoyang-goyangkannya. Bahkan mungkin sekarang sedang ada pesta kembang api yang sangat meriah di dalam hatinya.
Tampak cerah sekali wajahnya. Senang bukan main setelah akhirnya menemukan teman yang fakultasnya sama dengan dirinya. Bahkan mungkin satu kelas juga bisa jadi.
“Saya Keyla, Kak. Eh, Clara maksudnya. Namaku Keyla, Ra. Salam kenal, kita fakultasnya sama loh,” jawabnya dengan penuh rasa gembira. Menatap Vania yang hanya sanggup tersenyum kecut di sebelahnya.
Ya mau bagaimana pun ia pasti merasa iri pada sahabatnya itu. Ingin juga rasanya menemukan teman yang sama satu fakultas dengan dirinya.
“Argggh .... kenapa hidup selalu tidak adil pada orang yang lebih miskin,” dengusnya di dalam hati.
“Oh iya kah? Wah kebetulan sekali kita bertemu sekarang ya,” jawab Clara sambil meregangkan jabat tangannya. “Lalu kalau kakak? Siapa namanya?” Berpindah menyodorkan telapak tangannya ke arah Vania.
“Vania, namaku Vania, Ra. Salam kenal ya. Saya dari fakultas sastra Inggris,” jawab Vania datar. Menyambut jabat tangan Clara dengan tak bersemangat meski tetap memasang senyum terpaksanya.
“Salam kenal juga, Van. Kalian ini dari luar kota ya? Kok rasanya baru sekali lihat kalian salat di masjid ini,” tanya Clara lagi sambil melepaskan jabat tangannya. “Lagian logatnya juga beda. Kelihatan beda banget sama gue.”
“Cih ...!! Sombong banget baru kenal juga,” batin Vania lagi. Seketika entah kenapa ia jadi semakin tidak suka dengan gadis satu ini. Jujur saja, perempuan di depannya bernama Clara ini mulai terkesan tidak mengenakkan bagi Vania.
Namun sebagaimana seorang pendatang, Vania tetap saja mengangguk. Mengikuti anggukan Keyla yang duduk di sebelahnya. Bedanya, Keyla tersenyum dengan penuh antusias. Sementara Vania tersenyum malas.
“Iya benar, Ra. Kebetulan banget hari ini baru sampai di Kota Gani. Kalau kamu?” tanya Keyla balik.
“Oh gue asli dari kota ini sih. Em ... tapi,” Kalimatnya terpotong, menekuk wajah terlihat gundah.
“Tapi apa Ra?” potong Keyla cepat, penasaran.
Perempuan itu tampak bersimpatik dengan wanita yang kini sekaligus akan jadi teman satu fakultasnya itu.
Perempuan yang tampilannya sangat jauh dari mereka berdua. Rambut yang diwarna pirang di ujungnya. Wajah dan tubuh yang tampak sekali terawat dengan baik.
Bahkan hingga sekilas mata mereka tak dapat menemukan bekas luka atau satu pun jerawat di wajah dan tubuh Clara. Belum lagi pakaian bermerek mahal dengan bahan terbaik. Hanya melihatnya saja dua wanita itu bisa merasakan kelembutan bahannya.
Sudah tentu jauh berbeda dengan Keyla, apalagi Vania. Mereka dari desa, bagi mereka berdua penampilan sama sekali tidak penting. Apalagi soal pakaian mahal dengan brand ternama.
Ah, mereka berdua mana tahu soal itu.
Mereka berdua lebih paham dan hafal nama-nama makanan tradisional di daerah mereka daripada brand pakaian ternama. Seperti geplak, lemper, golang-galing, onde-onde, tape ketan dan teman-temannya. Tanya saja ke mereka soal makanan. Mereka punya wawasan yang sangat luas.
“Ya begitulah,” jawab Clara sambil memaksakan bibirnya tersenyum. Seperti menelan pil pahit rasanya. “Masalah antara remaja dan orang tuanya. Itu kenapa sepertinya aku harus cari kosan untuk sementara waktu,” lanjutnya sambil menelan ludah.
Vania bisa menangkap dengan jelas tenggorokan perempuan itu bergerak. Perasaan nelangsa seakan ikut merayap di hatinya. Ikut merasa kasihan.
Tapi tetap saja ia tak suka Clara. Perempuan sombong itu, oh ayolah. Jangan bilang Keyla tak menyadari itu. Perempuan ini terlihat aneh. Sok kenal dengan mereka berdua. Mungkin ada maksud lain yang disembunyikannya.
Apa pun itu mulai sekarang Vania harus lebih hati-hati. Ini bukan di Rambugunung. Desa itu ada di puluhan bahkan ratusan kilometer jauhnya dari sini. Tidak ada orang yang akan membantu jika mereka kenapa-kenapa di Kota Gani. Tidak akan ada orang yang mau menolong mereka berdua.
Kenangan Vania melayang, jatuh di siang itu saat ia tergopoh masuk rumah. Berteriak memanggil bapak dan mamaknya. Memberi tahu mereka bahwa ia diterima kuliah.
Satu hal yang Vania ingat betul dan tahu posisinya sekarang.
Terjebak di satu mimpi dan dua orang hebat terkasihnya yang menyerah. Bagian terberat dari perjuangan. Meletakkan dua tumbal sekaligus untuk satu mimpi. Formula yang belum tentu berhasil untuk hidup yang dinamis.
“Wah kebetulan sekali bukan, Van?” pekik Keyla tiba-tiba. Membuat lamunan perempuan di sebelahnya buyar. Mengembalikan kenangannya berpendar cepat kembali jatuh di kenyataan.
“Hah? Gimana? Gimana, La?” jawabnya gelagapan bingung. “Keb–kebetulan apa weh?”
Keyla mengerutkan kening. Sementara Clara terkekeh melihat tingkah Vania yang mirip seperti mesin motor baru dinyalakan.
“Itu! Kos an, rumah, atau apa lah. Kita berdua emang lagi nyari kan? Kebetulan banget Clara juga sedang nyari,” jawab Keyla sebal. Kenapa penyakit sahabatnya satu ini mesti kumat di waktu yang tidak tepat.
“I–iya Ra, kebetulan banget. Hehehe .... sorry galpok. Gagal pokus tadi,” ujar Vania. Gelagapan susah payah menutupi salah tingkahnya.
“Fokus, Lay. Fokus, bukan Pokus. Ah, kamu ye bisa aja ngelawak. Eh gimana kalau kita nyari bareng aja bertiga. Syukur-syukur kan kalau bisa dapet satu rumah untuk bertiga,” jelas Keyla. Menelisik mata dua perempuan di sebelahnya bergantian. “Ya nggak? Ya nggak?”
“Nah Boleh banget! Ide bagus tuh,” sambar Clara. “Tapi sebenarnya gue ada satu rumah incaran sih. Buset incaran, udah kayak mau maling aja nih gue,” jawab Clara diiringi tawa dari dua orang di kiri kanannya.
“Eh tapi gue juga belum ke sana langsung buat lihat sih. Ceritanya sih ini rumah bude gue, ya kakak dari nyokap gitu deh. Tapi udah nggak ditempati. Eh, tapi nggak lama kok. Baru tiga harian yang lalu mereka pindah ke luar kota. Jangan bayangkan rumah tua penuh hantu ya. Kalau itu mah Clara juga nggak mau nempatin! Amit-amit,” lanjutnya sambil tertawa lagi.
Mendengar kalimat terakhir Clara dua orang di sebelahnya ikut tertawa lagi. Siapa juga yang mau tidur dengan para makhluk halus. Ada-ada saja Clara.
“Eh tapi mahal nggak Ra sewanya?” tanya Keyla terus terang. Keyla tidak mau kalau rasa senangnya kena PHP karena harga sewa yang mahal. Mana sudah beranjak semakin sore lagi. Tidak banyak waktu yang mereka punya.
“Em ... kalau itu sih gue belum tahu ya. Nanti deh biar gue yang tanyain langsung ke Bude. Itu soalnya kan rencananya hari ini gue cuma mau lihat lokasinya. Nah karena kebetulan hari ini kita ketemu, ya mau gimana lagi? Mungkin kalau cocok kita bisa langsung bersih-bersih terus kita tempatin bertiga deh. Gimana-gimana? Lay? Jangan diam doang dong,” protes Clara.
“Iya kan kamu lagi ngomong, Ra. Masa’ iya aku potong. Hehehe .....” Jawaban polos yang sebenarnya lebih menunjukkan bahwa mungkin pikiran buruk di kepala Vania ini memang ada benarnya.
“Gini Ra, aku cuma lagi mikir lokasinya itu. Jauh atau enggak sama kampus. Ya, secara kan kita berdua, aku dan Keyla tidak punya kendaraan transportasi jarak dekat seperti kamu. Kamu ada motor, kalian bisa berangkat bareng. Trus aku?” lanjut Vania.
Ayolah, semua orang juga tahu kalau itu bentuk penolakan halus. Bentuk protes verbal yang dikemas dengan alasan yang logis. Sudahlah, Vania intinya tidak suka dengan Clara sesering apa pun ia tersenyum pada perempuan itu.
Tadi sih katanya karena perempuan itu sombong tapi sekarang karena firasatnya. Dasar memang tidak bisa ditebak.
Terlepas dari firasatnya sekarang. Terlepas dari caranya melihat Clara, satu rumah untuk tiga orang seperti kata Keyla adalah ide paling bagus. Setidaknya sampai saat ini.
Setidaknya sampai ia sapat incaran tinggal lain agar bisa menjauh pelan-pelan dari Clara.
Bersambung ....