Namun jawaban dari Vania barusan cukup untuk membuat dua orang perempuan di dekatnya seketika terdiam tak bergeming. Mereka yang sebelumnya tertawa-tawa seketika ikut prihatin. Apalagi Keyla yang tahu betul keadaan keluarga Vania. Perempuan dari keluarga tidak mampu yang sekarang sedang berjuang merubah nasibnya.
Jangankan motor, satu sepeda tua pun masih dipakai bergantian.
“Oh soal itu. Lihat gue deh!” ucap C dengan penuh percaya diri. Tiba-tiba mengambil kunci motor dari saku celananya. Membuka resleting tas kecil yang menggantung di bahunya. Melemparkan kunci dengan boneka Pororo kecil menggantung itu ke dalam tasnya kemudian mengancingkan kembali resleting tasnya.
“Jadi gimana? Mau jalan kapan? Biar adil nih ya kita bertiga jalan bareng. Biar semua tahu kalau tempatnya tuh deket pake banget dari sini. Ya .... kampus di depan sana kan sekitar sepuluh menit. Trus kita ke timur. Ke belakang masjid ini kurang lebih dua lima belas meter jalan kaki mungkin. Jadi gimana? Sepuluh menit ditambah jalan kaki kurang lebih lima belas meter,” tawar Clara.
Seketika wajah Vania yang tadinya cemas dikungkung perasaan takut sekaligus iri berubah jadi cerah. Menatap Keyla yang duduk di sebelahnya. Menyenggol lengannya dengan ujung siku kemudian sama-sama mengangguk.
Siapa juga yang akan menolak penawaran bagus seperti itu. Kapan lagi kuliah dengan biaya transportasi nol rupiah kan?
“Aku setuju sih,” jawab Keyla mengangguk. “Kita berangkat sekarang deh. Mumpung masih sore kan. Kalau pun harus bersih-bersih rumah kita masih ada waktu.”
“Mantap,” sahut Clara sambil mengacungkan jempol. “Lo sendiri Van? Masih bingung?”
Vania menggeleng tegas sambil tersenyum. “Keyla bener sih. Yok lah berangkat sekarang,” jawabnya sambil melucuti mukenanya. Melipatnya kembali dengan rapi memasukkannya ke dalam tas. Hal yang sama dilakukan juga dengan Keyla.
Sementara Clara masih mengacungkan dua jempolnya sambil meringis memamerkan dua gigi kelinci dan lesing pipinya. Betapa bahagianya perempuan itu kini mendapatkan dua sahabat baru.
Sebab tanpa Keyla dan Vania tahu, Clara tak punya satu pun teman di hidupnya. Sebab tanpa Keyla dan Vania tahu, Clara menyimpan satu rahasia besar tentang hidupnya.
“Eh kalian bawa barang banyak ya?” tanya Clara lagi setelah dua perempuan itu selesai dengan mukenanya.
“Eng–enggak sih, Ra. Cuma ini, satu koper besar milikku sama dua ransel milik Vania. Kenapa emangnya?” tanya Keyla balik.
“Em, gini deh biar kalian nggak kerepotan bawa tiga tas sekaligus. Koper Keyla tinggal di atas motor gue aja. Nanti biar gue yang bawa pulang sekalian ambil motor. Kalian bawa dua tas punya Vania aja,” usul Clara. “Tapi pastiin dulu kopernya nggak ada barang berharganya.”
Membuat dua sahabat itu kembali bertatapan, saling kebingungan, saling minta pendapat.
“Emang nggak hilang nanti Ra? Ya walaupun cuma baju kan itu juga berharga namanya,” protes Vania yang kemudian disusul anggukan Keyla mendukung pertanyaannya.
“Udah percaya aja deh sama gue. Nggak bakal ilang, gue janji. Orang gue malahan ninggalin motor tuh,” jawab Clara meyakinkan. Sambil menyusul mereka berdua berdiri. “Bawa dompet handphone sama barang penting aja udah yakin deh sama gue.”
Akhirnya, mau tidak mau mereka mematuhi Clara.
Lagi pula kalau dipikir-pikir juga akan merepotkan kalau harus menarik koper besar Keyla sambil berjalan melewati trotoar. Terlalu merepotkan juga kalau Vania harus membawa dua tasnya sekaligus. Mending mengalah salah satu. Dan harus mereka akui, usul Clara adalah keputusan terbaik meski berisiko tinggi juga.
Dipikir-pikir tak ada salahnya juga menuruti usul perempuan itu meski ini juga baru pertama mereka bertemu.
Ketiganya kemudian memutuskan memulai langkah pertama perjalanannya. Berjalan menembus pelataran masjid yang tak terlalu luas. Hanya cukup untuk dua baris motor. Pelataran yang sekaligus jadi kawasan parkir.
Kawasan parkir yang sekaligus wahana bermain anak kecil warga sekitar sini.
Langkah ketiganya seperti serampak. Bercakap, bergurau, seperti anak diujung umur menjelang dua puluh tahun yang beranjak dewasa pada umumnya. Berjalan meniti trotoar tepian jalan raya. Melewati beberapa rumah.
Mereka bertiga layaknya tiga angels di dalam box office movie hollywood yang terkenal itu. Tinggi yang tidak terlalu beda. Ketiganya sama-sama cantik.
Dua wajah oriental dan satu berwajah perpaduan Chinesse. Perbedaan yang mencolok dari ketiganya terlihat di perawakan mereka. Tentu saja selain pakaian yang mereka kenakan.
Vania tak mungkin bisa mengimbangi apa yang Keyla kenakan, apalagi yang Clara pakai. Kemeja yang ia pakai itu saja sudah yang terbaik yang ia punya. Tidak ada yang lebih baik dari itu.
Namun, perawakan Vania lebih bongsor di antara mereka bertiga. Tubuhnya lebih berisi. Lebih padat tidak seramping Keyla dan Clara. Setiap hari mengayuh sepeda tua peninggalan kakeknya. Setiap hari harus berkubang dengan terik matahari membantu bapak dan mamaknya di petak sawah.
Jelas berbeda dengan Keyla yang notabene putri semata wayang perangkat desa. Hidup dimanja, bergelimang harta, dan sangat dimanjakan oleh bapaknya. Jangan kan pergi ke sawah, menyapu lantai rumah saja gadis itu tak pernah. Bapaknya punya satu pembantu dan satu tukang kebun di rumah.
Apalagi Clara, anak kota itu mana pernah melihat sawah di kota ini. Hanya dengan sekilas melihatnya saja semua orang juga tahu kalau gadis itu punya hidup yang glamor. Bahkan sampai satu jerawat pun enggan menempel di wajahnya.
Dari tiga perempuan itu sudah jelas Clara yang paling cantik. Tapi Vania punya tubuh yang jauh di atas mereka berdua. Buktinya mata laki-laki keranjang yang kebetulan melihat mereka bertiga berjalan menyorot ke arah Vania. Menatap perempuan bertubuh menggoda itu dengan sorot mata yang seakan tak mau lepas.
Meski tertutup, meski jadi satu-satunya wanita yang mengenakan jilbab dan pakaian serba panjang di antara ketiganya.
“Tuh rumah di sebelah, yang pagarnya warna hitam,” tunjuk Clara setelah dekat dengan tujuan.
Keyla buru-buru membuka jam tangannya. Tidak sampai sepuluh menit, hanya sembilan setengah menit lebih sedikit. Bahkan jaraknya dari masjid lebih dekat daripada dari masjid ke kampus. Jika tak ada yang ganjil. Rumah ini adalah pilihan terbaik yang mereka punya. Rumah paling cocok untuk mereka bertiga tempati.
Pagar rumah yang tadinya tidak terlalu tampak kini tergambar sangat jelas. Hanya beberapa langkah lagi untuk sampai. Hingga kemudian Clara tiba-tiba memekik saat melihat ada mobil yang terparkir.
“Bude?” panggil Clara sambil berlari ke arah seorang wanita yang tengah menyapu teras rumah itu.
Sementara perempuan yang dipanggilkan itu seketika kaget. Mengerutkan kening, menyipitkan mata. Tak menyangka dengan seseorang yang dilihat dengan dua mata kepalanya.
Keyla yang seakan ingin ikut berlari mengejar Clara tiba-tiba tertahan. Tangan Vania dengan lembut menarik lengannya. Memutar bola matanya, membuat seketika Keyla mengurungkan niat untuk menyusul Clara yang sudah jauh. Sudah lebih dulu masuk pagar berlari ke arah perempuan yang dipanggilnya bude itu.
“Ak–aku punya firasat nggak baik deh,” bisik Vania di daun telinga Keyla yang ada di sebelahnya.
Kalimat yang seketika membuat Keyla mengerutkan kening. Heran, tak mengerti apa yang dimaksud temannya dari kampung satu ini.
“Soal apa?” bisik Keyla balik. Tak berani berbicara lebih keras. Tak ingin dua perempuan yang tengah berpelukan itu mendengar apa yang mereka berdua bicarakan. “Soal Clara? Soal budenya? Atau–atau rumah ini?”
Mata Keyla tak bisa untuk lepas dari mengamati semua penjuru rumah di depannya ini. Rumah yang tertutup gerbang setinggi hidungnya. Halaman rumah yang masih beralas tanah, tempat mobil sedan keluaran lama parkir. Tempat dipayungi pohon mangga besar yang baru berbunga. Sementara teras rumah yang tak terlalu luas diisi satu meja dengan empat kursi yang ditata melingkar.
“Iya semuanya, La. Nggak Clara, nggak budenya, nggak rumah ini,” jawab Vania. “Sumpah? Masa’ kamu nggak ngerasa aneh sama sekali?”
“Iya aneh sih,” balas Keyla. Mengusap dua lengan dengan dua telapak tangannya. “Hehehe ... rada angker ya rumahnya, serem.”
“Keyla ...!! Ih bukan itu,” pekik Vania sebal. Menepuk jidatnya sendiri. “Soal rumah, rumah ini lebih bagus dari rumahku sendiri. Tapi aku pengen kamu buka mata deh. Ada yang aneh loh sama Clara.”
Begitu kata terakhir itu keluar dari mulut Vania perempuan yang tengah berbincang dengan budenya itu sesaat menoleh. Sebelum akhirnya membuang muka lagi. Menyorot mata perempuan tua di depannya lagi.
“Ssstttt ...!!! Jangan kenceng-kenceng ntar dia denger. Udah mau magrib tau! Kita nggak bisa cari rumah lain kecuali besok pagi,” sergah Keyla sambil mengatupkan jari telunjuk di bibirnya.
Sementara Vania hanya bisa menelan ludah. Membayangkan berbagai hal buruk yang akan menimpa mereka berdua. Ketakutannya bukan tanpa alasan. Meski pada alasan itu belum cukup menjawab semua kebingungannya.
Sementara di tengah percakapan dua orang perempuan tunggal darah di depan sana.
“Siapa mereka?” tanya Bude Mey. Matanya menyorot tajam ke mata Clara. Menatap perempuan itu dari atas sampai bawah sambil menahan rasa kesal di dalam hatinya.
“Me–mereka?” balas Clara, sambil memutar pandangannya ke arah dua orang yang tengah berdiri menunggunya di tepi trotoar.
“Mereka emm ... cuma calon temen kampus Clara, Bude. Mereka baru datang dari kampung hari ini. Clara ketemu mereka di masjid tadi,” terang Clara sebisanya dengan suara yang bergetar takut.
Bude Mey ini satu-satunya orang yang paling ia takuti. Satu-satunya orang yang tahu rahasia besar di dalam hidup Clara. Sekaligus satu-satunya orang juga yang mau menolong perempuan itu setelah semua keluarga mencampakkannya termasuk bunda dan ayahnya sendiri.
“Lo jangan macem-macem ya sama Bude. Jangan coba-coba bohong sama Bude. Gua bisa hancurin lo orang hanya dengan sekali jentikan jari doang,” balas perempuan itu sambil mendengus kesal. Menyilangkan tangan di d**a, menatap perempuan di depan itu. Perempuan yang kini merunduk, mematung, tak berani mengangkat wajahnya.
“Sekarang lo jujur sama Bude, siapa mereka? Mau lo apain mereka berdua? Ohhh ... jadi ini kenapa lo mau banget pinjam rumah Bude? Iya? Ini sebabnya?” ketus perempuan itu lagi. Kali ini dengan muka garang yang tampak sangat kesal dengan Clara.
Sementara yang bisa dilakukan Clara hanya bisa menggeleng. “Ak–aku udah bilang Bude. Clara udah jujur.”
Hanya dua kalimat itu yang bisa keluar dari mulutnya. Itu pun dengan nada bicara yang terbata-bata. Menahan air mata yang pelan tapi pasti mulai merembes dari bola matanya.
“Dengerin! Lo itu kurang enak apa sih? Apa yang belum Bude kasih buat Lo? Lo minta Bude kasih pinjam rumah, silakan. Lo minta Bude kasih pinjam motor, silakan. Lo minta Bude kasih maaf buat kelakuan lo yang kayak binatang itu juga Bude kasih.” Kalimat perempuan itu terpotong.
“Sekarang lo bawa temen kemari. Emang gue nggak bisa mikir bakal lo apain dua perempuan itu, hah? Lo pikir Budemu ini bego? Jawab!” Perempuan yang jauh lebih tua dari Clara ini kini berkacak pinggang. Menghujani perempuan di depannya dengan berbagai pertanyaan.
“Tolong terima mereka,” jawab Clara datar. Suaranya dingin seperti tiba-tiba mengintimidasi perempuan di depannya. Seperti tiba-tiba membalikkan posisinya. Balik menyudutkan Bude Mey yang sedari tadi menghakiminya. “Tolong terima mereka. Berapa pun bakal Clara bayar asal Clara punya teman. Bude dengar?”
Clara yang sudah tidak tahan akhirnya mengangkat wajahnya. Menatap perempuan gendut di depannya dengan tatapan tajam. Tatapan singa yang baru lepas dari panggung sirkusnya. Tatapan buaya yang kelaparan. Tatapan yang membuat perempuan di depannya itu menelan ludah.
Clara, kau ini sebenarnya binatang macam apa?
Bersambung ....