Melayani Tiga Malam.

1977 Words
“Maaf?” suara yang keluar dari bibir Alana mengagetkan dua orang yang tengah berseteru itu. Dua orang yang saking sengitnya sampai tak sadar bahwa Keyla dan Vania sudah berdiri di sebelahnya. Sudah tidak lagi menunggu di pinggir jalan. Sudah masuk melewati pagar. Berdiri tepat di depan mobil sedan putih klasik milik Bude Mey yang terparkir. “La, ada masalah?” tanya Keyla ke arah perempuan yang kini merundukkan kepala. Mendengus, meremas tangannya sendiri. “Kalau misal enggak boleh, nggak apa kok. Aku sama Vania bisa cari kos-kosan lain. Tadi banyak rumah kos yang masih kosong sepanjang jalan.” Bude Mey menatap dua orang asing yang ada di depannya. Menatap keduanya dari bawah sampai atas. Menatap dengan benar semua detail mereka. Hanya dari itu saja perempuan paruh baya ini tahu bahwa mereka bukan lah orang kota. Mereka lah yang seharusnya ia tolong, bukan Clara. “Eh, enggak kok Nak. Enggak,” balas Bude Mey dengan menarik senyum terbaik di bibirnya. “Ini tadi kan Clara janjian dari pagi. Eh ternyata baru dateng sore. Makanya ini tadi Bude marahin dia, biar tahu rasa. Duh, maaf ya udah bikin salah paham.” Keyla tersenyum. Tak membayangkan akan seramah itu perempuan yang dari tadi tampak marah-marah ke Clara. “Oh begitu ya tante. Eh iya kenalkan tante,” balas Keyla sambil menjulurkan telapak tangan. Bude Mey kembali tersenyum, menjulurkan tangannya juga, menjabat tangan Keyla. “Saya Keyla, dan perempuan di sebelah saya ini namanya Vania,” ucap Keyla sambil memperkenalkan diri. Menggoyangkan tangan Bude Mey, setelah itu melepaskannya. “Vania, Tante.” Senyum yang hangat terukir jelas di bibir Vania saat menyambut uluran tangan Bude Mey. “Kenalin saya Bude Mey. Ya kalau agak susah, panggil Bude saja tidak apa. Kalian ini dari daerah mana? Kayak dari luar kota ya? Mana mirip lagi udah seperti kakak beradik kalian berdua itu,” tanya Bude Mey. “Iya Bude, jadi kami kebetulan dari desa. Desa Rambugunung namanya, mau kuliah di UP ceritanya Bude,” terang Vania polos. Sudah mengesampingkan firasat buruknya dari tadi sebelum melangkah masuk. Tersenyum lebar, tidak tampak lagi raut curiga di wajahnya. Mau bagaimanapun Bude Mey menyambut mereka berdua dengan baik bukan? Dan itu yang sangat Vania hargai. “Oh jadi begitu ceritanya.” Bude Mey mengangguk-anggukan kepala. “Eh mari-mari silakan masuk,” lanjutnya kemudian. Tentu saja Keyla dan Vania langsung antusias. Mengekor tubuh perempuan bertubuh gemuk itu dari belakang. Menaiki satu anak tangga kecil sebelum tiba di pintu masuk. Namun mata Vania belum bisa lepas dari Clara. Perempuan itu masih berdiri mematung di tempatnya. Menundukkan wajahnya, membiarkan tiga orang lainnya melewati tubuhnya begitu saja. Siapa yang tidak merasa aneh melihat itu. Tubuhnya baru bergerak setelah semua orang masuk ke dalam rumah. Setelah membuang muka ke jalan raya, menghela napas panjang dan tangannya mengusap wajah. Seperti tengah menghapus air mata. Baru kemudian berbalik, tersenyum ke arah Vania. Menyusul mereka masuk. “Ya beginilah rumah Bude, Nak Vania dan Nak Keyla. Rumahnya sudah lumayan tua. Tapi masih terawat semua kok. Listrik air dan semua fasilas lengkap. Kurangnya, rumah ini hanya punya dua kamar tidur, sedangkan kalian bertiga,” terang Bude Mey. Tubuhnya baru muncul lagi dari dalam kamar dengan dua toples makanan ringan di tangannya. Duduk dengan tenang di ruang tamu, bergabung dengan tiga perempuan yang usianya jauh lebih muda itu. “Bagus kok Bude, Keyla suka. Mana dingin rumahnya nggak panas. Tapi Bude, emm ... itu,” ucap Keyla ragu. Menyenggol lutut Vania yang ada di sebelahnya, memberi kode. “Ehehehe .... soal harga Bude.” Vania meneruskan kalimat Keyla. Sahabatnya satu itu memang sering menyusahkan. “Kalau boleh tahu berapa harga sewa rumah ini satu tahunnya Bude?” “Oh soal harga ya. Begini, karena kalian bertiga, sementara tempat ini sangat strategis. Dekat dengan kota, bahkan kalian juga cukup berjalan kaki kalau ingin ke kampus. Rumah ini saya sewakan lima juta pertahun.” Kalimat Bude Mey terpotong. Menyorot mata tiga orang perempuan di depannya. Terutama Vania dan Keyla, yang kini berbinar-binar senang dengan angka yang barusan mereka dengar itu. “Oh maaf-maaf, maksud saya lima belas juta. Barusan saya salah ngomong. Saya baru ingat tadi suami saya mengirim pesan, dan ya. Harga itu yang benar, lima belas juta per tahun. Hehehe ...,” lanjut Bude Mey. Kalimat yang seketika merubah mimik muka Keyla dan Vania bersamaan. Menjadi terlipat, kaget sekaligus bingung. “Hehehe .... Bude pasti sedang bercanda kan? Masa’ dari lima juta tiba-tiba jadi lima belas juta?” jawab Keyla refleks. Bude Mey tersenyum miring. “Oh tidak, Nak Keyla. Saya tidak pernah bercanda soal nominal. Dan saya juga punya beberapa kenalan pemilik rumah kos di sekitar sini kok kalau kalian keberatan dengan nominal itu.” Keyla dan Vania seketika menelan ludah. Perempuan di depannya ini? Bukankah tadi sangat ramah kepada mereka? Tapi kenapa tiba-tiba jadi mengerikan? Kenapa jadi merubah angka sewa jadi sangat jauh perbandingannya? Keyla dan Vania hanya bisa saling tatap satu sama lain. Angka sebesar itu sangat mustahil mereka dapatkan dalam satu tahun. Tidak mungkin ia paksakan juga. Sementara wajah Bude Mey serius. Dari kalimatnya saja perempuan itu tidak sedang bergurau. Ia sudah pasti tidak akan pernah menerima tawar menawar. “Deal!” jawab Clara tiba-tiba. Perempuan yang sedari tadi hanya terdiam itu kini ikut angkat suara. Membuat kaget tiga orang perempuan lainnya. Membuat mereka bertiga memutar kepalanya. Menatap heran ke arah Clara yang masih belum juga menurunkan tangannya. “Ayo bikin janji Bude. Lima belas juta, deal? Kalian berdua tak usah bingung. Aku akan tanggung tiga belas jutanya. Kalian berdua dua juta sisanya,” lanjut Clara. Menatap tajam Bude Mey dengan bola matanya yang sipit. Tersenyum miring seakan tak ingin dikalahkan. Clara tahu betul apa yang direncanakan Bude Mey. Dan memang hanya dia yang tahu. Angka lima belas juta itu hanya karangan perempuan di depannya itu agar Keyla dan Vania tak jadi tinggal di tempat ini. Angka lima belas juta itu dengan mudah akan memukul mundur Keyla dan Vania bersamaan setelah ia tahu mereka berdua hanya lah anak muda yang datang dari desa. “Kenapa jadi ragu Bude? Salah nyebut nominal lagi ya? Cek HP dulu deh mending. Kali aja harganya ganti lagi. Uang segitu kecil bagi saya,” jawab Clara. Kalimatnya terdengar pedas bagi Keyla dan Vania. Ada apa ini sebenarnya? Kenapa dua orang yang katanya ponakan dan Bude ini jadi berseteru? Bagaimana pun kehidupan di desa mengajari mereka untuk selalu hormat dengan orang yang umurnya jauh di atas kita. Tapi yang barusan ini? Mendengar pertanyaan Clara, Bude Mey justru terkekeh. “Tidak. Tidak ada yang salah,” jawabnya sambil meraih tangan Zeline. Mereka berdua berjabat tangan. “Deal! Rumah ini dan semua barang di dalamnya saya sewakan pada kalian bertiga dengan harga lima belas juta. Kalian bisa menempati rumah ini sejak detik ini juga.” “Alhamdulillahhh .... !!!” Semua orang bersorak, terlebih Keyla dan Vania. Kalimat itu yang dari tadi ingin sekali mereka dengar. Akhirnya mereka tak harus kebingungan lagi ke mana harus menginap malam ini. Akhirnya mereka menemukan tempat tinggal sekaligus teman baru di kota ini. Tapi sorakan itu hanya sesaat saja bagi Vania. Perempuan itu semakin merasa aneh dengan Clara. Siapa sebenarnya wanita ini? Siapa sebenarnya Clara ini? Uang sewa tiga belas juta dalam satu tahun ia tanggung sendiri. Perbincangan mereka di ruang tamu berakhir saat terdengar adzan maghrib berkumandang. Vania dan Keyla meminta izin untuk lebih dulu menunaikan Ibadah Salat Maghrib. Sementara Clara harus kembali ke masjid mengambil motor dan koper milik Keyla sekaligus menunaikan ibadah Salat Maghribnya di sana. Hingga waktu bergerak semakin cepat. Cahaya matahari sempurna tenggelam di ufuk langit sisi barat. Sinar matahari berganti sinar lampu yang mulai menyala. Menerangi rumah, menerangi jalan, menerangi kehidupan manusia-manusia malam. Bude Mey pamit pulang setelah sebelumnya ikut bersantap malam dengan tiga perempuan yang kini tinggal di rumahnya. Suara mobilnya menyalak, kencang. Keempat rodanya berputar keluar pagar, kemudian meninggalkan rumahnya. “Kalian malam ini aku tinggal dulu ya,” ucap Clara tiba-tiba. Mereka bertiga tengah berkumpul di dalam satu kamar. Satu kamar yang mereka sepakati bersama jadi kamar tidur. Dan satu kamar sisanya jadi tempat beribadah sekaligus tempat tas-tas kosong mereka. “Lah, mau ke mana, Ra?” tanya Keyla. “Iya, baru juga belum ada satu hari di sini. Kok udah mau pergi aja,” timpal Vania. Mereka berdua sedang sibuk membongkar barang bawaan mereka. Memasukkan satu per satu baju dan pakaian lainnya ke dalam almari. “Ye ... kan cuma gua di sini yang belum ambil baju ganti. Gua mesti pulang dulu. Ambil pakaian seperti kalian,” jawab Clara santai sambil memasukkan ponselnya kembali ke dalam tas. Berdiri ringan, meraih kunci motornya. “Udah dulu ya, gua cabut dulu.” Dan begitulah, Clara pergi begitu saja. Meninggalkan Keyla dan Vania yang kini saling tatap. Keyla mengangkat bahu bingung. Tapi sesaat kemudian sudah kembali sibuk dengan tumpukan baju yang ada di depannya. Toh lagi pula itu alasan yang jelas bukan? Clara perlu baju ganti untuk besok. Namun berbeda dengan Vania. Perempuan itu masih larut dalam tanda tanya besar di atas kepalanya. Tidak mungkin perempuan itu kalau hanya mengambil pakaian. Apalagi ini sudah malam. Keperluannya itu tidaklah mendadak bukan? Bahkan bisa ia lakukan esok hari. Ada yang tidak beres dengan Clara. Ada sesuatu yang perempuan itu sembunyikan dari mereka berdua. Sementara itu tubuh Clara yang menunggangi motornya sudah melesat jauh. Bergerak melewati padatnya jalanan kota. Dua roda motornya terus berputar. Membawa tubuhnya di sebuah gedung besar berlantai lima. Tubuh ramping tinggi dengan wajah yang cantik itu berjalan cepat. Mengabaikan meja resepsionis. Menuju lift yang kemudian sudah mengantarkannya hingga lantai paling atas gedung apartemen mewah ini. Menggesekkan kartu ke kunci yang ada di sebelah pintu. Hingga membuat pintu mewah di depannya terbuka otomatis. Seorang laki-laki yang umurnya mungkin tak jauh dari umur Bude Mey tampak sedang menikmati waktu menonton TV. Kepalanya berputar, seketika mendengar pintu terbuka. Tersenyum lebar, melihat tubuh Clara yang berjalan ke arahnya dengan muka tertekuk. “Oh sayang kau sudah kembali. Hey, kenapa kamu? Apa yang terjadi? Siapa yang membuatmu sedih sayang?” ucapnya sambil masih belum berpindah di tempatnya. Masih duduk di sofa menghadap televisi dengan tubuh setengah telanjang. Hanya berbalut selembar handuk, di pinggang hingga lututnya. Clara melompat ke pelukan laki-laki itu. Menyentuh tubuh telanjangnya dengan jari-jarinya. “Clara lagi sedih Om Firman. Sedih banget,” ucapnya mengiba. Bermain-main di bagian sensitif tubuh laki-laki itu yang sudah tak tertutup handuk. “Kasian ... sedih kenapa sih sayang?” tanya pria itu. Melingkarkan tangannya, menghujani kening Clara dengan kecupan-kecupan lembut. “Em ... Om Firman ada uang lima belas juta nggak? Clara mau pinjam buat sewa rumah. Kan Clara mau kuliah. Nggak mungkin dong kalau terus tinggal di sini. Kan jauh kampus ke sini,” terang Clara. Membuat laki-laki itu terkekeh. Membuat kepalanya ikut bergoyang mengikuti gerakan naik turun d**a telanjang yang kepalanya sandari. “Buat apa, sayang?” tanya laki-laki itu lagi di ujung tawanya. “Ih Om Firman! Kan Clara udah bilang tadi uangnya mau buat apa. Kok tanya lagi sih,” protes Clara. Semakin menekuk sebal wajahnya. Tapi lagi-lagi pria itu justru tertawa. “Bukan itu maksudku sayang. Buat apa harus pinjam kalau kau bisa dapetin itu sekarang juga?” Kalimat laki-laki itu barusan seketika membuat Clara kaget. Duduk dengan muka cerah penuh antusias. “Yang bener? Ih Om Firman jangan bohong ya. Awas bohong!” Laki-laki bernama Firman itu mengangguk mantap. Melepas kaca mata tebal yang menggantung di daun telinganya. “Tapi ada syaratnya?” “Jangan susah-susah,” protes Clara lagi. “Enggak,” jawab laki-laki itu singkat lagi. Tangannya bergerak meraih ujung ikatan handuknya. Menariknya, membiarkan kain itu lolos dari tubuhnya. Membiarkan tubuhnya telanjang bulat di depan Clara. “Tiga malam, layani aku tiga malam sampai pagi.” Clara, menelan ludah. Ia sering melayani laki-laki di depannya ini. Tapi tiga malam berturut-turut? Tapi ia tak punya pilihan lain. Sama tak punya pilihannya seperti tangannya yang sudah bergerak ke arah pangkal paha laki-laki bertubuh tambun itu. Bersambung ...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD